Truyen3h.Co

AFTER

06

authoriya

"Yya, pakai bajumu!" Suzy menutup seluruh wajahnya dengan sepuluh jari karena pemandangan asing di depannya. Wajahnya memanas, tentu saja.

Jika di telaah lebih dalam, Wanita mana yang tidak terkejut setengah mati jika di suguhi pemandangan seperti itu di depannya. Ditambah, keadaan Suzy yang setengah sadar karena ia baru saja bangun dari tidurnya.

Wajah Suzy memberengut dalam naungan kesepuluh jemarinya. Tidak habis pikir mengapa Myungsoo bertingkah seolah-olah hanya lelaki itu yang berada di kamar ini. Padahal, ada dirinya dan juga Hana disini. Kepala Suzy langsung menoleh cepat dengan tangan yang masih berusaha menutupi pandangan matanya di depan, keningnya seketika berkerut saat menyadari kalau di atas ranjang itu hanya tinggal dirinya saja.

"Dimana Hana?" Suzy bertanya. Tanpa melihat kearah Myungsoo.

Myungsoo menoleh. Jemari tangannya yang sedang mengancingkan kemeja bewarna putih berlengan panjang bergerak cekatan, sedikit senyum terukir di wajah datarnya saat melihat Suzy yang masih berusaha menutupi wajahnya. "Dia sedang memakan roti panggangnya di depan televisi." Myungsoo mengambil jasnya yang tersampir dalam lemari dan memakainya. Setelah itu berjalan mendekat dengan lamat-lamat.

"Apa kau sudah memakai bajumu?" Suzy kembali bertanya.

Hening. Membuat Suzy kembali menggerutu. Di ulanginya lagi kalimat itu bernada sebal, "Kim Myungsoo, apa kau sudah memakai baju?"

Myungsoo berhenti tepat disamping ranjang, kakinya bahkan menyentuh tiang penyangga di ranjang itu. Mata tajamnya memerhatikan wanita yang saat ini duduk di atas ranjang tempat tidur kamar hotelnya dengan selimut yang melingkar pada sekitar pinggul wanita itu. Rambut nya terlihat messy dan wangi khas yang menguar dari tubuh Suzy masih sama seperti dulu. Tidak pernah berubah sedikitpun.

"Kenapa kau tidak—" Suzy menjauhkan kedua tangannya dari depan wajah dengan kesal berniat ingin menyemburkan cacian kepada Myungsoo, namun, niat nya langsung menciut saat menyadari lelaki itu hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.

Lelaki itu memandangnya dengan menunduk. Diam tanpa kata, dan hanya memandangnya saja.

Suzy menelan salivanya. "M-mwo?" Tanya Suzy.

Mengernyitkan kening saat melihat arah pandang lelaki itu. Suzy mengikuti dan seketika memanas karena apa yang di pandang Myungsoo. Dengan cepat Suzy mengambil selimut dan menutupi bagian depan floral dress nya yang tanpa disadari olehnya satu tali yang sudah melorot ke bawah. Lalu dengan gerakan yang bahkan satuan detik pun tidak dapat menghitung, Suzy melompat turun dengan selimut yang membungkus tubuhnya, "Yya, apa yang kau lihat? dasar mesum!" Semprotnya. Lalu berjalan masuk kekamar mandi.

Sebelum ia menutup pintu kamar mandi itu, Suzy kembali menatap Myungsoo dengan pandangan kesal, "Kalau kau mengintip, aku akan mengadukannya kepada kakakku!"

Di susul dengan bantingan pintu yang tertutup rapat.

Myungsoo terkekeh. Suzy masih saja sama seperti Suzy nya yang dahulu. Tetap menggebu-gebu dan ramai. Suzy yang ditinggalkannya beserta kenangan mereka karena lelaki itu harus pindah ke luar negeri.

Apa tadi katanya? Mengadukan pada Bae Jiyong?

Myungsoo menyeringai. Jika itu terjadi, kira-kira apa yang dilakukan Jiyong? Bahkan Myungsoo berani bertaruh kalau Jiyong akan mendukung Myungsoo seratus ribu persen. Karena jauh sebelum mereka bertemu, Jiyong pernah mengatakan ingin mengenalkan adik kesayangan nya yang tinggal di Seoul kepadanya. Tentu saja Myungsoo tidak merespon pada saat itu. Lelaki itu telah memiliki anak dari wanita yang bahkan tidak bisa disebut seorang istri ataupun Ibu, karena wanita itu bahkan tanpa berpikir dua kali rela meninggalkan mereka berdua dan memilih mengembangkan karir modelingnya yang sedang melesat di Spain.

***

"Apa kita akan membeli gelatto lagi, Saem?" Tanya Hana, kepalanya mendongak menatap Suzy dengan mata berbinar.

Keduanya berjalan bergandengan di St 1941 Anderson Ave, Mahattan. Cukup ramai, dan lumayan banyak pejalan kaki namun tidak sampai berdesakan seperti saat weekend.

Suzy tersenyum, "Ayahmu akan memarahi saem jika kau sakit akibat gelatto, sayang."

Hana cemberut, "Aku ingin makan gelatto, saem..." Ucapnya dengan nada merajuk.

Ia menimang sebentar. Sebab, Suzy tidak mungkin membelikan gelatto itu lagi untuk Hana, gadis kecil itu bisa terkena flu akibat suhu dingin dari gelatto yang dimakannya. Selain itu, Suzy tidak bisa membayangkan bagaimana Myungsoo—the hottest guy menurut versi Jo—akan memakinya karena membuat anaknya sakit. Tiba-tiba saja Suzy bergedik.

"Hana menyukai burger?"

Anggukan Hana membuat Suzy tersenyum, "Baiklah. Kita akan bertemu teman saem di Houlihan's, mereka bilang disana ada burger yang lumayan enak."

"Yeay!" Seru Hana senang. Kemudian keduanya berjalan memasuki sebuah resto yang dimaksud.

***

"Mereka dimana?" Myungsoo bertanya ulang. Matanya masih sibuk menatap layar iPad yang menampilkan beberapa file contoh-contoh desain 3d trick art yang di emailkan oleh rekannya.

"Menurut alat pelacak yang ada di tas kecil nona Hana dan Ibu Suzy, mereka saat ini sedang berada di Houlihan's resto."

Barulah Myungsoo memalingkan pandangannya. "Apa yang dilakukan mereka disana?"

Asisten Baek tampak memerhatikan layar IPad yang selalu dipegangnya. Lalu berbicara lagi, "Mereka tampak memasuki sebuah restoran."

Kening Myungsoo berkerut. Tadi pagi sebelum ia pergi, Suzy sempat mengatakan padanya kalau hari ini ia akan mengajak Hana pergi menemui temannya—yang Myungsoo yakini kalau itu adalah kekasih wanita itu—. Tiba-tiba perasaan tidak suka menyeruak dari dada nya memikirkan Suzy bersama dengan lelaki lain. Tapi, memang dia siapa?

***

"Kau sudah lama menunggu?" Suara Suzy terdengar.

Kaki jenjang milik Suzy melangkah serta membawa Hana dalam gandengan tangannya sampai kedua nya berada didepan meja yang berada di sudut ruangan dengan desain yang hangat dan nyaman. Beberapa lukisan bergaya mediterania nampak menghiasi dinding-dinding ruangan bagian dalam. Dan terdapat meja Bar di bagian kiri dekat panggung live music. Namun Suzy tidak melihat pemain band maupun penyanyi disekitar mereka, jadi ia berpikir kalau live music itu hanya dikhususkan pada hari tertentu atau di jam tertentu.

Suzy menggeser satu kursi kayu bergaya moderen bewarna biru muda, dan mempersilahkan Hana untuk duduk disana, lalu dirinya ikut duduk pada kursi tepat berhadapan dengan seseorang yang disapa nya tadi.

Lelaki itu tersenyum, lalu menaruh tab nya diatas meja. "Menunggumu tidak pernah terasa lama, Suzy." Tuturnya.

Suzy tersipu, tangannya bergerak menyampirkan helaian rambut kebelakang telinganya. Ketika ia menatap mata milik lelaki didepannya yang menatap Hana dengan pandangan bertanya kepada Suzy, wanita itu buru-buru menjelaskan, "Ini Hana, Kim Hana. Dia anaknya..." Suzy diam sesaat, tidak mungkin dia mengatakan kalau Hana adalah anaknya Myungsoo karena kekasihnya ini tidak mengetahui jika Suzy tinggal disini bersama seorang pria. Kekasihnya hanya mengetahui jika Suzy akan menyewa hotel di sekitar Manhattan sebelum ia kembali pulang ke Seoul. Setelah menemukan kata yang tepat, Suzy kembali melanjutkan, "Hana adalah muridku dan kebetulan juga anak dari temanku."

Mata Suzy beralih ke Hana, "Sayang, beri salam kepada paman ini..."

Hana memandang lelaki itu dengan tatapan menyipit, namun kemudian menunduk pelan, "Annyeonghaseo, Aku Hana. Tujuh tahun."

Lelaki itu tersenyum, "Kau cantik dan pintar sekali, Hana."

Hana tersenyum sekilas, kemudian matanya beralih kepada Suzy, "Saem, aku lapar..."

Suzy tersenyum sambil mengatakan sebentar, lalu di raih nya buku menu yang ada di atas meja. Setelah memilih menu apa yang akan mereka pesan, Suzy lantas memanggil seorang pelayan untuk mencatat menu mereka.

Tiga puluh menit berlalu, dan makanan diatas meja pun telah tandas. Lelaki itu memerhatikan Suzy yang menyeka dengan penuh perhatian mulut gadis kecil yang di ketahuinya bernama Hana itu.

Senyumnya terukir dengan lembut. Aura keibuan Suzy nampak kentara saat dihadapkan dengan seorang anak kecil. Mungkin karena itulah kekasihnya itu memilih menjadi seorang guru ketimbang mengikuti jejak keluarganya di bidang bisnis.

Suzy tumbuh dengan cantik. Lebih cantik dari saat ia mengenal Suzy ketika Sekolah dulu. Lelaki itu juga sangat menyayangi Suzy, tetapi ia tidak cukup berani memberontak dan menahan Suzy disisinya. Dia belum berani mengorbankan karir nya sebagai seniman untuk menikahi Suzy dan siap meninggalkan Mahanttan, New york. Walaupun ia tahu bahwa Suzy rela melakukan apapun serta berbohong kepada keluarganya hanya demi dirinya.

Lelaki itu menghela napas dengan berat. Suzy pantas bahagia. Dan dia pantas bahagia. Namun, keluarga Suzy menentang hubungan mereka. Dan lelaki itu tidak cukup nyali melawan. Kakak Suzy memiliki saham di perusahaan tempatnya bekerja, dan jika kakaknya sampai tahu ia dan Suzy masih berhubungan bisa tidak mungkin karirnya disini juga akan berakhir.

"Kau tampaknya sangat menyayangi anak temanmu itu, Sayang." Matanya menatap kepergian Hana kearah wastafel yang terletak di sudut belakang ruangan. Tadi, gadis kecil itu pamit untuk mencuci tangannya.

Suzy memerhatikan Hana dari belakang, lalu tersenyum menatap sang kekasih, "Benarkah? Mungkin karena dia juga adalah muridku atau, mungkin karena aku merasa kasihan kepada Hana..." Suara Suzy melemah.

"Kasihan? Memangnya apa yang terjadi pada gadis kecil itu?"

Suzy menggerutu dalam hatinya, hampir saja ia keceplosan, "Aniyo." Suzy buru-buru mengalihkan pembicaraan, "Jadi, bagaimana tentang project yang kau bilang itu, Sejong?"

Sejong, Yang Sejong lengkapnya. Adalah kekasih hati Suzy dan menjadi pusat kebahagiaan wanita itu selama bertahun-tahun. Rasa sayangnya terhadap pria itu jangan di tanyakan lagi seperti apa, karena kalimat panjangpun tak akan dapat menjelaskannya.

Sejong tersenyum senang, seperti baru mengingat kalau dia ingin memberikan kabar baik kepada kekasihnya itu, "Aku memiliki kabar baik, Suzy!"

"Dan, apakah kabar baik itu?"

"Aku memiliki project 3D art untuk sebuah museum dan taman bermain yang akan dibangun oleh salah satu perusahaan multinasional. Dan kabar baiknya adalah—" ucapan Sejong terhenti ketika dering ponsel milik Suzy berbunyi.

Wajah Suzy berubah kesal saat nama sang kakak yang menari-nari diatas layarnya, "Sebentar, ini kakak." Ucap Suzy tanpa nada sambil menunjukan layar ponselnya kearah Sejong. Sejong mengangguk dan membiarkan Suzy mengangkat panggilan itu.

"Halo, Ada apa?" Suara Suzy terdengar dibalik saluran telepon. Ada nada malas yang tidak berusaha untuk di tutupi oleh Suzy.

"Kau dimana?" Tanya Jiyong.

Suzy menggerutu, "Tentu saja di Seoul."

"Benarkah, Suzy?" Suara Jiyong terdengar tidak percaya. Membuat Suzy mengernyit. Tidak biasanya Jiyong bertanya dengan nada seperti ini kepadanya.

"Ada apa, Oppa?"

"Menolehlah keluar jendela sekarang."

Suzy otomatis menurut, lalu pada detik itu juga wajah Suzy memucat. Matanya langsung beralih melihat ponselnya, ia semakin menegang kaku saat melihat nomor yang sedang di telepon oleh Bae Jiyong adalah nomor luar negeri nya!

Dengan ngeri Suzy kembali mendongakkan kepala, membiarkan kedua manik mata coklatnya bertemu langsung dengan manik mata yang senada dengan milik wanita itu. Manik mata milik Bae Jiyong.

****

Di tayangkan ulang karena sudah di
-REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co