Truyen3h.Co

AFTER

12

authoriya

"Aku berharap banyak padamu untuk proyek ini, Mr. Yang." Myungsoo menjabat tangan Sejong dengan seulas senyum formal.

"Bluzt Co. Bisa mempercayai aku dan tim ku," tukas Sejong penuh percaya diri.

Myungsoo melirik jam tangan dipergelangan tangan kirinya, kemudian kembali menatap rekannya, "Asisten Baek akan mengantar anda ke Daegu untuk melihat lokasinya."

Sejong mengangguk, "Baiklah."

"Aku harus kembali ke ruanganku, seseorang telah menungguku disana," Myungsoo tersenyum, kemudian melanjutkan kalimatnya secara eksplisit, "Dia bisa mengamuk jika aku terlalu lama membuatnya menunggu."

Sejong terkekeh, mengerti apa yang dimaksud oleh Myungsoo barusan, "Kutebak pasti perempuan."

"Ya. Kekasihku."

Lagi, Sejong mengangguk. "Baiklah, Mr. Kim."

Myungsoo lalu berjalan mendekati pintu keluar, namun seolah teringat sesuatu kakinya berhenti dan tubuhnya berbalik mengarah menghadap Sejong dan asistennya yang kini sedang membereskan dokumen-dokumen penting mereka, "Ah, Mr. Yang?"

Sejong menoleh, "Ya?"

"Bluzt co. Sudah menyiapkan penginapan untukmu yang dekat dengan lokasi selama proyek ini berlangsung. Jadi, kau tidak perlu repot untuk bolak-balik antara Daegu-Seoul."

Sejong tercenung beberapa saat sebelum mengulas senyumnya, "Ne khamsahamnida, Mr. Kim."

Myungsoo kembali berbalik arah dengan sudut bibir yang terangkat ke atas. Kemudian kembali berjalan menuju lift untuk menghantarkannya kepada wanita yang sudah menunggunya di ruang kerjanya.

***

Suzy menatap pemandangan kota Seoul dari dalam ruang kerja Myungsoo dengan ke kaguman. Ini adalah kali keduanya menginjakan kaki di sarang lelaki itu setelah jeda cukup lama. Sebenarnya, ia juga sedikit tidak percaya akan apa yang terjadi dalam hidupnya ini. Jika bukan karena Jo Kwon yang memaksanya menggantikan lelaki itu untuk mewawancarai CEO Bluzt mungkin sampai saat ini dia dan Myungsoo belum bertemu.

Tidak, mungkin saja mereka bertemu di pesta pertunangan Jiyong dan Lisa. Dan, mungkin dia akan berakhir seperti ini juga meskipun dengan awal yang berbeda.

Tubuh Suzy menegang saat merasakan tangan seseorang melingkari perutnya dengan hembusan napas yang terasa menyalurkan udara menggigil di telinga kanannya.

"Maafkan aku membuatmu menunggu lama..."

Suara itu...

Itu adalah suara bass milik Myungsoo. Dengan kaku, Suzy menoleh ke samping, segera kedua manik mata mereka berdua bertemu.

"A-apa yang kau lakukan?!" Ucap Suzy tercekat.

Tangannya beralih keatas punggung tangan Myungsoo. Mencoba untuk menyingkirkan tangan kekar itu jauh-jauh dari dirinya karena efek yang di timbulkannya begitu terasa panas , juga aneh menurut Suzy. Tapi, kedua tangan yang melingkar itu mengerat, menandakan bahwa si empunya tangan enggan untuk mengindahkan keinginan Suzy.

"Hm, so relaxing." Gumam Myungsoo sambil mengeratkan pelukannya. Suzy berdiri kaku ketika merasakan kepala Myungsoo menyusup diantara lekukan lehernya. "Wangimu seperti sumber air di gurun pasir. Menyejukkan."

Suzy menahan napasnya. Busana yang dipakainya kali ini tidak seperti kemarin. Dress tanpa lengan setinggi lutut bewarna hitam dengan bagian bawah yang sedikit mengembang yang di padukan dengan parka bewarna abu-abu. Tubuhnya masih menegang sampai Myungsoo menjauhkan diri dari dirinya.

Suzy menghembuskan napas yang sedari tadi sulit untuk dikeluarkannya, "Yya, kau tidak boleh asal begitu!" Protes Suzy.

"Apa?"

"Memelukku, dan menaruh wajahmu di bagian-bagian tubuhku! Aku hampir mati karena tidak bisa bernapas!" Gerutu Suzy.

Myungsoo tersenyum miring, ditariknya kedua tangan Suzy sampai tubuh itu menabrak tubuhnya, dengan tetap memegang pergelangan tangan Suzy, Myungsoo berbicara, "Kenapa kau tidak bisa bernapas, Suzy? Hm?"

Suzy menelan salivanya. Lagi, bisa-bisa nya dia selalu keceplosan dan asal bicara seperti ini. Paboya! Kata gadis batinnya menghardik Suzy.

"Aniyo! Aku tidak berbicara begitu." Ucap Suzy dengan cepat setelah memikirkan jawaban apa yang harus dikeluarkannya.

Karena untuk memilih jujur kepada Myungsoo jelas akan membuat lelaki itu menjadi besar kepala dan jelas akan mempermalukan dirinya sendiri.

But, he is Myungsoo. Jika dengan Sejong waktu itu Suzy bisa mendapatkan ketenangan karena Sejong selalu mengalah kepadanya, kali ini berbeda.

"You said that, Suzy."

She doesn't know why, tetapi Suzy menyukai aksen Italy Myungsoo saat mengucapkan kalimat berbahasa inggris. Jantung Suzy tiba-tiba berdebar kencang dengan ritme yang sama sekali tidak selaras.

Kepada Sejong, Suzy selalu membenci jika lelaki itu sudah mulai menggunakan bahasa asing dalam percakapan mereka. Suzy sangat menyukai apapun tentang kota kelahirannya ini dan dia sangat menyenangi berbahasa korea ketimbang menggunakan bahasa asing di percakapan sehari-harinya kecuali jika memang di perlukan. Menurut Suzy, Bahasa adalah identitas dari suatu negara itu sendiri. Jadi, jika bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi?

Tapi... Ritme jantungnya selalu berbeda ketika mendengar suara berat Myungsoo mengucapkan kalimat dengan berbahasa inggris. Dia tidak paham, mungkin karena Myungsoo begitu lama tinggal di Italy sehingga aksen negara sana begitu melekat diri lelaki itu.

Suzy tidak menyadari jika sejak tadi dirinya menahan napasnya kembali. Myungsoo menatap wanita didepannya lamat-lamat, lalu seulas senyum miring tercetak diwajah tampannya. Dengan gerakan impulsif, bibirnya langsung bertemu dengan bibir Suzy. Ciuman itu hanya sekitar lima detik saja karena Myungsoo langsung menegakkan kembali tubuhnya yang semula menunduk untuk mengecup Suzy.

"Kau bisa bernapas sekarang."

Seperti tersadar, Suzy lalu segera menghembuskan napas yang ditahannya sejak tadi.

Myungsoo terkekeh. Kemudian berjalan menuju sofa panjang diruang kerja nya itu dan duduk disana. Tangannya mulai membuka dokumen-dokumen yang diberikan asistennya tadi pagi sebelum melakukan meeting.

"Duduklah, Suzy." Ucap Myungsoo kepada Suzy sambil memakai kacamatanya kembali.

"Aniyo. Aku datang kesini hanya ingin bertanya suatu hal padamu." Suzy menolak.

"Kau bisa menyimpan pertanyaanmu sampai pekerjaanku selesai, bukan? Aku harus memahami dokumen-dokumen ini, Suzy." Myungsoo berkata tanpa melihat kearah Suzy.

"Oh, ayolah, kita bisa berbicara sebentar, Myungsoo."

"Tidak. Kau tidak mempergunakan waktumu tadi dengan baik."

Suzy menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil berdecak kesal, "Kau yang menggangguku duluan sampai aku lupa apa tujuanku kesini!"

Kepala Myungsoo mendongak, seulas seringaian tercetak diwajahnya, "Kau selalu bisa memilih apa yang harus kau perbuat pada dirimu, Suzy." Katanya dengan santai.

Suzy memandang Myungsoo dengan tatapan sebalnya. "Kau membuatku tidak bi—" ucapannya terhenti saat menyadari apa yang hendak ia katakan itu adalah dari hatinya sendiri.

"Tidak bi—?" Myungsoo menaikan alisnya.

"Lupakan. Aku akan menunggu sampai pekerjaanmu selesai!" Gerutu suzy. Lalu, wanita itu berjalan menuju sofa yang sama dengan yang diduduki oleh Myungsoo, kemudian menjatuhkan dirinya tepat disebelah Myungsoo.

That's true. Suzy selalu bisa memilih apa yang harus dilakukan oleh dirinya. Termasuk dalam memilih dimana wanita itu harus duduk, misalnya. Senyum Myungsoo tercetak tipis kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

***

Matahari sudah turun keperaduannya dan digantikan oleh sinar bintang dan rembulan yang tampak indah menghiasi langit-langit malam di iringi dengan lampu-lampu gedung pencakar langit atau sekadar rumah tinggal warna Seoul yang mulai menyala.

Pemandangan yang sungguh menyenangkan mata itu selalu bisa di saksikan oleh Myungsoo di ruang kerjanya tiap kali dirinya harus pulang malam karena urusan pekerjaan yang belum selesai.

Kepala Myungsoo menoleh saat menyadari sesuatu seperti terjatuh di bahunya, dan langsung mengetahui jikalau itu adalah kepala mungil Suzy. Tangan Myungsoo dengan spontan menahan pada sisi kepala Suzy agar kepala mungil itu tidak terhuyung kedepan.

Sejenak, dalam kesunyian suasana di gedung pencakar langit itu Myungsoo termangu. Fokus mata tajam itu terpatri pada wajah polos yang sebagian sisinya dititupi oleh rambut panjang itu mencuri perhatiannya sejak dulu sampai sekarang. Di hela nya sejumput rambut Suzy kebelakang telinga agar Myungsoo bisa melihat wajah itu penuh-penuh. Pandangannya kian meredum kala matanya terarah pada bibir ranum milik wanita itu. Myungsoo mendesah, sebelum otaknya tidak waras, ia langsung memalingkan kepalanya. Tangannya yang kemudian bergerak membereskan dokumen-dokumen yang tadi dibacanya. Ia sebenarnya sudah biasa pulang larut malam, toh anaknya juga sedang berada bersama kedua orangtua nya. Tapi malam ini berbeda karena diruangan ada satu wanita yang membuat libido nya turun naik. Demi menjaga kemaslahatan bersama, dan demi akal sehatnya, Myungsoo harus segera menyudahi kegiatannya ini. Kalau tidak napsu bisa saja merengut akal sehatnya saat malam semakin larut.

***

Yang pertama dipikirkan Suzy saat alam bawah sadarnya menggeliat meminta wanita itu untuk bangun adalah sebuah gajah berukuran besar saat ini sedang menimpahnya dan membuat Suzy kehilangan napas. Suzy bisa merasakan hembusan nafas gajah besar itu diantara tengkuknya dan juga—

Tiba-tiba mata Suzy terbuka sepenuhnya saat menyadari gajah itu sedang... menghisap lehernya!

Oh my god.

Oh my god.

Tunggu dulu! Otaknya bepikir. Jika yang sedang mencium dan menimpahnya ini adalah seekor gajah, kenapa ruangan ini terasa begitu familiar?

Tubuhnya menegang dan pandangannya meremang saat menyadari kalau kaki yang menimpah setengah tubuhnya ini bukanlah gajah melainkan seseorang. Dan matanya sukses terasa akan copot dari tempatnya ketika menyadari siapa pemilik kamar ini.

Jantungnya berdegup dengan kencang sembari tangannya bergerak menyibak selimut coklat yang membalut tubuhnya itu, namun Suzy bisa bernapas lega ketika menyadari pakaiannya masih utuh sama seperti kemarin.

Kemarin? Jadi, kenapa bisa ia berakhir disini? Batin Suzy.

"Kau sudah bangun?" Suara serak yang langsung menyambut Suzy disertai oleh kepala yang semakin menelusup di lekukan leher Suzy membuatnya menegang.

Posisi tubuhnya yang kini sudah terlentang bukan lagi miring kesamping semakin membuat kepala itu menemukan spot nyamannya. Suzy tanpa sadar menahan nafasnya ketika—lagi—bibir Myungsoo kembali menyentuh lehernya. Dan kini tangan lelaki itu bahkan dengan beraninya menyusup dibalik dress bagian bawahnya.

Matanya meremang. Napasnya terasa sesak, namun Suzy tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya ketika dalam keadaan begini.

Setengah dari kesadaran otaknya terengut dan membuat Suzy sulit berpikir. Jika dalam keadaan normal yang harus dilakukan Suzy adalah mendorong jauh-jauh Myungsoo darinya tetapi sekarang bahkan tangannya sulit untuk digerakkan.

Suzy memejamkan matanya selama lima detik, mencoba menarik keaadarannya kembali dan ketika dirinya membuka mata—

"Yya!" Suzy berteriak. Ia bangun, dan tangannya langsung bergerak menampar Myungsoo.

"Aw! Sakit, Suzy." Gerutu Myungsoo sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan Suzy.

"Kenapa aku bisa berada disini?!" Sembur Suzy dengan suara marah. Napas wanita itu terengah dan wajahnya memerah, namun Myungsoo bisa meyakini seratus ribu persen kalau itu bukan karena efek dari kemurkaan Suzy, tetapi dari perbuatan Myungsoo sebelumnya.

Myungsoo menguap, "Kau yang merengek tidak mau pulang, Suzy."

Suzy melotot, "Yya, jangan mengada-ada!"

"Aku tidak mengada-ada."

"Mana mungkin aku merengek meminta untuk tidur disini!"

"Yes, you are, baby. Aku membangunkanmu ketika kita akan pulang dari kantorku. Tapi, kau malah memeluk pinggangku menggunakan kedua lenganmu itu dan—"

"Molla! Molla! Aku tidak mau mendengarnya!" Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutup telinga. Ia masih tidak percaya jika dirinya bisa melakukan hal murahan seperti itu.

Tubuhnya kemudian berdiri, membuat Myungsoo bertanya, "Kemana?"

Suzy menoleh dengan raut wajah judesnya, "Ke kamar mandi!" Lalu dihentakannya kakinya berjalan menuju kamar mandi di kamar itu.

"Kau mau kutemani?" Tanya Myungsoo menggoda.

"Dalam mimpimu!"

Myungsoo terkekeh. Jika setiap pagi ia bisa mencium wangi Suzy dan menelusuri bagian-bagian yang tertutup milik wanita itu, Myungsoo rela harus mendapat tamparan tiap harinya.

Kakinya baru saja menapaki lantai marmer dibawahnya saat suara ponsel Suzy yang berada didalam tas wanita itu berbunyi. Dengan gerakan cepat bercampur rasa penasarannya, Myungsoo merogoh ponsel itu dan mendapati satu id caller yang langsung membuatnya menyeringai nakal.

Ibu jari Myungsoo bergerak menggeser ikon hijau pada layar, lalu mengarahkan benda persegi itu ketelinga kanannya,

"Ya, Jiyong?"

***

Di tayangkan ulang karena sudah di
-REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co