Nirwana.
Semilir angin membelai lembut wajahnya, meninggalkan sensasi geli di kulit putihnya, dahinya mengerut tak suka karna tidurnya terganggu, ia membuka matanya perlahan, memperlihatkan kedua bola yang warnanya sepekat malam itu.
Hal pertama yang ditangkap oleh kedua matanya adalah, langit biru yang begitu jernih dengan awan putih menggantung menghiasinya.
Ia bangun dari tidurnya, mendudukkan dirinya, dan baru menyadari bahwa dirinya, tertidur ditengah padang rumput yang begitu luas, dengan beberapa pepohonan yang jaraknya cukup berjauhan antara satu dengan yang lain.
Ia menolehkan pandangannya ke sekitar, sebelum kemudian mendongakkan kepalanya, kembali memejamkan mata dan menghirup nafas panjang, membuangnya perlahan.
Ia merasa begitu ringan, seolah seluruh beban, pikiran, serta rasa bersalahnya selama ini hilang begitu saja, perlahan ia membuka kembali kedua matanya dan tersenyum.
Dirinya tidak pernah merasa seperti ini sejak beberapa tahun terakhir.
Tersenyum tanpa beban.
Ia pun tidak merasa menyesal ataupun takut di setiap nafas yang ia hirup atau pun keluarkan.
Dulu dirinya selalu nerpikir bahwa tidur adalah solusi terbaik untuk melupakan masalahnya, melupakan setiap beban, pikir, serta rasa bersalahnya, untuk sesaat ia merasa tenang.
Tetapi ketika dia kembali terbangun, beban itu kembali, membuatnya berkali-kali menjadi lebih sesak dari sebelumnya.
Dan berpikir, dia ingin tidur yang sangat panjang, tidak ingin sekali terbangun karna itu akan membuatnya semakin sakit.
Dulu ia selalu berangan-angan, dia ingin sekali ketika terbangun, semua orang melupakannya, ia terbangun di tempat yang begitu asing baginya tetapi memberikan ke tentraman bagi hatinya.
Ia meninggalkan semuanya tetapi tidak merasakan beban apapun karna orang-orang telah melupakannya hanya ada dirinya sendiri di tengah bumi yang begitu asri dan menenangkan.
Itulah definisi nirwana baginya, dimana ia terbangun dan tidak merasakan sakit lagi, dimana setiap nafasnya ia mengucapkan terima kasih dan tersenyum.
Dan sekarang, dirinya telah mendapatkan nirwananya itu.
🌼🌼🌼
Doyoung bangkit dari posisinya, ia baru menyadari bahwa ia menggenakan pakaian serba putih bukan pakaian yang terakhir dia gunakan—seingatnya.
Tapi Doyoung tidak mempedulikan itu, ia berdiri, berjalan menjauh, semakin turun dari lereng padang rumput itu.
Ia ini adalah nirwananya.
🌼🌼🌼
© achetyl
Behind,
December, 20th 2019
さようなら version
ended.
🌼🌼🌼
Note : Hiatus lama tiba-tiba tamat, megecewakan sekali :(
Tapi dont be worry ges, Behind aku putusin buat punya 2 ending :)
Klo kalian suka yg sad ending maka bagian "Nirwana" ini adalah endingnya, ia Doyoung sudah tidak merasa sakit lagi, ia telah menemukan "tempat" yang ia cari selama ini, 'surga'nya.
Iya Doyoung mati :)
Buat happy endingnya, maka book ini masih to be continue dan sampai jumpa di bagian yang lain!🙋
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co