Truyen3h.Co

BLUE JEANS

18

authoriya

SEPERTINYA aku memang tidak cocok sok jual mahal. Keinginanku untuk mengabaikan Myungsoo agar dia paham situasi sama sekali tidak berjalan dengan baik dan aku mendapati diriku malah terjebak dengan omongan Hayang. Tapi, kalau dipikir-pikir, apa yang si tulang lunak itu katakan memang ada benarnya sih...

Kalau Myungsoo sampai jatuh ke tangan orang lain—meskipun aku tahu dia cinta mati kepadaku—kan bisa gawat, ya.

Aku menatap Myungsoo yang mematikan mesin mobilnya, dia sudah memarkirkan mobilnya di basemen apartemenku. Seolah tahu kalau aku sejak tadi menatapnya, Myungsoo memergokiku dan langsung bicara. "Kau kenapa?"

"Aku kenapa?"

"Raut wajahmu seperti ingin mengatakan sesuatu. Atau aku salah?" tebaknya. Dia benar, tapi aku tidak mau mengakui.

Kugelengkan kepala dan mengajaknya untuk turun. Kami melangkah bersebelahan menuju lift di ujung sana dalam keheningan dan cahaya remang-remang basemen. Aku sibuk dengan pikiran di kepalaku sampai-sampai tidak tahu kalau aku hampir menabrak tiang kalau saja Myungsoo tidak menarik tanganku membuatku menghindar.

"Kau hampir membuat kepalamu terbentur."

"Benar." Aku menganggukkan kepala dan langsung memegang keningku dengan spontan. Oh my god, aku bisa kehilangan suasana hatiku jika keningku sampai benjol. Semua orang jelas langsung mempertanyakan kenapa keningku bisa berubah dalam satu malam, dan aku jadi pusat perhatian. Aku jelas senang, tapi jika karena kening benjol sih ya tidak dulu deh. Mana mungkin ada orang yang suka jika kening mereka benjol!

Kami sampai di dalam dan Myungsoo menekan tombol naik.

Aku menatap Myungsoo. "Kau ikut naik kan?"

"Aku harus pulang."

Aku langsung merasa kehilangan. Rasa ingin mengajaknya untuk menginap di apartemenku langsung naik, tapi aku sadar kalau aku seperti itu, aku jelas akan merusak harga diriku yang tersisa. Myungsoo tahu kalau aku tidak pernah merengek kepadanya, akan menjadi hal aneh jika tiba-tiba aku mengajaknya untuk naik dan... SIAL, tiba-tiba aku kembali membayangkan posisi di atas meja dapurku.

"Naiklah," ucap Myungsoo bersamaan dengan bunyi pintu lift yang terbuka. Myungsoo tersenyum dan mengusap puncak kepalaku.

"Kau tidak mau menginap?"

Sial. Aku kelepasan.

Myungsoo menatapku, aku buru-buru menambahkan. "Katanya mau makan malam denganku?"

"Yang tadi?"

Ah iya. Tapi, aku kembali memberikan alasan. "Tadi itu makan sore."

Aku memang pintar kalau soal adu mulut. Bakat yang luar biasa.

Kutatap Myungsoo yang menyunggingkan senyum, lalu menarik tengkukku dan menciumku. Kukatakan menciumku karena dia memang menciumku—bukan memberikan kecupan singkat—tapi, sebuah ciuman yang sedikit lebih lama.

Napasku terengah dan kurasakan wajahku memanas sekarang. Persetan!

"Kau tidak mau melanjutkannya di apartemen?"

Myungsoo tersenyum, dan kembali menarikku ke dalam ciumannya, kali ini sedikit lebih singkat sebelum ia kembali melepaskan. "Aku tidak ingin lepas kembali. Jadi lebih baik kita berpisah sampai di sini, besok pagi aku akan menjemputmu jadi kau bisa katakan pada temanmu supaya tidak perlu repot-repot menyusulmu ke sini. Okay?"

Ini benar-benar di luar ekspektasiku.

Kuanggukan kepala. "Hati-hati di jalan dan—" kuangkat alisku ketika melihat kotak hitam di telapak tangannya yang terulur ke arahku. "Apa itu?"

Myungsoo menarik napas , lalu membukanya. Mataku berbinar ketika melihat sepasang cincin di dalam kotak bludru berwarna hitam di tangan Myungsoo. Aku membawa mataku menatapnya.

Oh my god, jangan bilang kalau dia hendak melamarku?

Jantungku berpacu kencang. Aku tidak mempersiapkan hal ini akan terjadi dalam waktu dekat.

"Aku ingin memberikan ini lebih cepat tapi aku takut ini membebanimu," katanya dengan meraih satu tangan kananku. "kau bisa menganggap ini cincin pasangan, tapi aku akan sangat senang kalau kau mau mempertimbangkan ini sebagai lamaran." Lanjut Myungsoo, lalu memasang salah satu cincin itu ke jari manisku.

Detak jantungku tidak terkendali lagi. Aku benar-benar ingin teriak, tapi satu hal langsung membuatku tersadar. Kutatap sekelilingku sebentar, lalu kembali pada Myungsoo. "Kau melamarku di depan pintu lift?"

Oh my god. Bisa-bisanya aku tidak menyadari hal ini lebih awal? Sungguh tidak ada romantis-romantisnya!

Myungsoo menggaruk kepalanya yang aku yakin seratus persen tidak gatal, dan menjawab. "Aku tidak memprediksi jawabanmu, sejujurnya aku ingin melamarmu saat kita makan malam, tapi karena tadi tidak sesuai rencana, jadilah seperti ini."

"Tsk,"

"Kau mau kuulangi?"

Kutarik tanganku dari genggaman Myungsoo, lalu memandang berlian dari cincin yang amat sangat menyilaukan mata. "Lamaran itu tidak begitu penting karena acara pernikahan yang akan menjadi buah bibir. Jadi, kau tidak perlu mengulang."

"Jadi, kau menerima lamaranku?" Myungsoo bertanya setengah teriak, aku yakin dia pasti senang sekali. Wajahnya tidak bisa berbohong.

"Katamu aku bisa menganggap ini sebagai cincin pasangan saja?"

"Jadi?"

"Apa?"

Myungsoo mengesah. "Kau mau menikah denganku atau tidak?"

"Kau serius mengajakku menikah di sini?" aku mengangkat alis.

"Katamu tidak penting di mana saja,"

Benar juga...aku jelas belum begitu yakin, tapi aku ingin. Jika dengan menerima Myungsoo aku bisa menikmati semua nilai plus itu, maka tentu saja aku akan langsung menganggukan kepala. Lagipula, ini yang aku tunggu-tunggu kan sejak dulu?

Dan dia kembali bersama pernyataannya...

"Karena aku sudah mengenalmu dari lama dan aku tahu kalau kau menyukaiku, aku juga tidak ada pilihan atau alasan untuk menolakmu, lagipula ayah dan ibumu begitu baik kepadaku, fakta bahwa ibuku juga sangat menyukaimu, dan juga kau adalah ayah dari Dezy, jadi—" Myungsoo menungguku menyelesaikan kalimatku dengan sabar. Aku berdeham. "Well, sepertinya aku harus mempertimbangkan tawaranmu."

"So, yes?"

"Umm, maybe yes?"

Myungsoo tersenyum dan menarikku ke dalam pelukan eratnya. "Aku mencintaimu."

Aku tersenyum dan membalas pelukannya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co