Truyen3h.Co

Brown Dwarf

2

authoriya

SUZY

"Tersenyumlah, sayang."

Aku merasakan satu tangan Ibuku menyenggolku secara beruntun, bibirnya tetap menyunggingkan senyuman kepada Paman David dan...uh, Myungsoo—Ya ampun, untuk menyebutkan namanya saja aku masih susah payah—sedangkan ia berbisik kearahku. Menyuruhku untuk tersenyum.

Ibuku benar-benar. Seolah tidak cukup dengan hal yang terjadi malam ini serta hal memalukan yang merusak ego ku karena tadi saat kami berdiri di depan apartemen elite yang roboh itu Ibu dengan menggebu-gebu bertanya apakah aku dan Myungsoo saling mengenal—dan kalian pasti tahu apa kelanjutannya—Ibu malah menyuruhku tersenyum kepada mereka. Apa coba maksudnya? Padahal, kedua pria berbeda umur itu sama sekali tidak peduli akan senyumanku, karena mereka sibuk mengobrol dengan Ayahku. Eug... Lebih tepatnya Paman David yang mengobrol. Sedangkan laki-laki itu...

Omo! Kenapa dia tidak berhenti melemparkan pandangan kepadaku? Sialan... Dengan wajah panas, aku langsung memalingkan pandanganku secepat kilat.

Tanganku mulai bergerak random menekan tombol pada HP-ku dan membuka galeri foto-platform KTalk-galeri foto-SNS-platform KTalk—sambil memikirkan apakah ada hal aneh di wajahku sehingga membuat Myungsoo terus menatapku dengan mata tajamnya.

"Setidaknya, Myungsoo saja yang tinggal disini sementara waktu kalau kau hendak menyusul Sooyeon di Roma."

What? Oh no! Jangan iyakan, paman... Jangan!

"Anak ini selalu mengumpulkan temannya. Dia akan merepotkan kalian jika tinggal disini." Ujar Paman David.

Ya! Benar! Dia akan merepotkan kami jika tinggal di—

"Oh, aku malah senang jika Myungsoo disini. Kau tahu, Suzy sama sekali tidak pernah mengadakan pesta, atau mengajak banyak teman ke rumah. Hanya dua orang yang sering kerumah ini. Aku sering kesepian." timpal Ibu dengan mendesah.

—disini. Ck, kenapa orang tua selalu membanding-bandingkan anak mereka dengan anak orang lain?

Menghela napas jengah, aku segera menatap Ibuku dengan pandangan satir, "Lagipula Ibu senang mengajak temanmu kemari. Kau tidak pernah kesepian."

"Beda, sayang. Jika Myungsoo tinggal disini, aku seperti memiliki anak laki-laki. Dan, memiliki anak laki-laki lebih menyenangkan dari pada anak perempuan karena pertemanan mereka lebih luas."

Jadi, dengan kata lain Ibu sedang mengatakan kalau memiliki anak sepertiku tidak menyenangkan, bukan begitu? Ya Tuhan, ampunilah aku jika mengumpati Ibuku sendiri.

"Aku tinggal di Hotel saja."

Suara berat Myungsoo membuatku langsung menolehkan kepala. Manik mataku menatap penuh binar kepada laki-laki itu. Oh tuhan, aku tidak menyangka dia akan menolak secepat ini. Asik!

"Dan menghabiskan uang keluargamu?" Suara Ibu kembali terdengar menginterupsi, kepalanya kemudian menoleh dengan gerakan terkoordinir kearah Paman David yang duduk berhadapan dengan Ayah. "Oh tuhan, bukankah pengerjaan rumah baru kalian akan selesai saat memasuki musim semi ini? Dua bulan lagi? Kenapa tidak disini saja? Aiyah, aku tidak mau menganggap kalian sahabat lagi kalau Myungsoo tidak tinggal di rumah kami." Ibuku melanjutkan, bibirnya yang dipoles lipstick merah merona memberucut, maju sekitar beberapa senti.

Dan, seakan turut mengamini kata-kata Ibu, Ayah berkomentar sama, "Kataku, Myungsoo disini saja selagi kau menyusul Sooyeon dan mengurus perihal bisnismu disana. Sekalian Aku membantu Myungsoo mengurus asuransi apartemen kalian, kenapa uangnya tidak kau berikan saja untuk tambahan uang bulanan anakmu, David? Atau, membeli mobil baru karena mobilnya rusak akibat tertimbun reruntuhan gedung, kan?"

Membeli mobil baru seperti ingin membeli roti di kedai cepat saji.

What the heck! Pembicaraan orang kaya memang beda dari kaum rakyat jelata sepertiku.

Aku kembali mencuri pandandang kearah Myungsoo yang sedang mengerutkan keningnya dan otomatis mendengus satire, tentu saja laki-laki itu tidak akan mau tinggal di rumah kami. Fakta bahwa setiap minggu dia dan kelompoknya selalu mengadakan pesta, maka tinggal dengan orang tua adalah hal yang patut dijauhi.

Jika aku belum mengatakannya, maka sekarang aku akan menjelaskan siapa Myungsoo sebenarnya.

Dia adalah laki-laki incaran di sekolahku. Tidak heran, dengan ketampanan seperti itu dan tinggi yang juga seperti itu—perempuan-perempuan seumuranku—yang lebih memilih operasi plastik daripada liburan ke hawaii—dan ber-makeup tebal di sekolahku rela saling menyikut demi bisa berjalan di sebelahnya. Well, sebenarnya bukan hanya Myungsoo. Tapi, dengan kedua temannya juga. Namun, seperti yang kukatakan waktu itu bahwa Myungsoo ibaratkan bintang Sirius yang bersinar terang seolah berdiri sendiri tanpa siapapun. Maka, dua sahabatnya itu akan langsung dibuang dari daftar ketika mengetahui Myungsoo masih sendiri. Atau, ketika perempuan-perempuan di sekolahku dengan tak tahu malu dan berani berhadapan dengan macan sekolah. Naeun.

Ugh! Aku kadang berfikir, kenapa mereka semua menurunkan harga diri mereka hanya demi laki-laki. Yang mana, hal itu tidak akan pernah aku lakukan. Seumur hidupku. Dan informasi terak—

"Baiklah aku setuju."

—hir. Tunggu! Siapa yang mengatakan setuju tadi? Setuju soal apa?

"Omona, kau memilih hal yang benar sayang..." Ibuku berdiri, membuat jok sofa yang ringsek langsung kembali seperti semula. Dengan langkah manja, Ibu berjalan kearah Myungsoo lalu memeluk laki-laki itu dengan erat.

Eugh, aku bahkan bisa melihat Myungsoo yang terkejut atas tindakan Ibu dan berupaya tetap tenang namun ntah kenapa aku bisa merasakan kalau laki-laki itu sedikit risih karena pelukan mendadak Ibu.

Oh Tuhan, semoga pada kehidupan yang akan datang sikap Ibu tidak seperti sekarang lagi. Amen.

"Sayang, kau membuat Myungsoo sulit bernapas dengan pelukanmu itu." Seperti menyadari kebenaran dari perkataan Ayah, Ibu langsung mengurai pelukannya.

"Maafkan aku sayang, aku terlalu bersemangat."

Aku melihat Myungsoo tersenyum sopan dan mengangguk. "Tidak apa-apa, Bibi."

"Aiyah! No, no, no. Call me Má."

What the...

Aku tidak bisa berhenti mengumpat karena Ibuku. Astaga... Ma? Ibu kira Myungsoo anaknya? Astag—

"Baiklah, Ma." Ucapnya sambil tersenyum.

—astaga.

***

Aku merenggangkan otot-otot tubuhku yang kaku karena habis tertidur semalaman. Mataku—tanpa dilapisi kacamata tentu saja—memandang riak air kolam dari balkon kamarku kebagian bawah, bersamaan dengan udara pagi yang menyejukkan pikiranku aku bisa memulai senin pagi ini deng—

"Omo!" Gerakan tanganku langsung berhenti ketika melihat sosok Myungsoo berdiri dengan setelan kaus putih polos dan celana tidur milik Ayah—yang kubelikan sebagai hadiah ulang tahub ayahku tetapi kekecilan—yang malah terlihat pas sekali jika ia yang mengenakannya. Sialan, bahkan model laki-laki yang memakainya saja pada saat fashion week tidak sekeren ini. Bagaimana bisa ada orang yang terlahir tanpa cacat begini? Aku menggeleng pelan. Fokus, fokus... Ini bukan waktunya mempermasalahkan siapa yang lebih cocok dengan baju itu. Tapi, kenapa laki-laki ini ada di balkon kamar sebelah!

"Kenapa kau di kamar itu?!" Tanyaku bingung.

Myungsoo masih diam, menatapku dengan pandangan tak bisa kupelajari. Lalu, aku merasakan hawa panas ketika mata tajam itu memindai bagian tubuhku dari atas sampai bawah dan...

Aku refleks menutup bagian dadaku ketika menyadari aku hanya memakai baju kaus ketatku yang tipis. Aku segera berbalik, memunggungi Myungsoo, "Apa yang kau lihat?"

"Tidak ada."

"Ada!" Aku menggerutu. Jelas sekali kalau mata sialannya itu tadi menatap kearah dadaku. Aish! "Dasar mesum!" Aku lantas memberikan tatapan kesalku sekali, lalu berbalik badan.

Sebelum aku sempat menutup pintu penghubung balkon dan kamarku, aku sempat mendengar suara Myungsoo lengkap dengan nada satire. "Kita tinggal satu atap mulai semalam, kalau kau lupa. Jadi, perhatikan pakaianmu mulai saat ini kalau kau terganggu dengan tatapanku. Atau... kau memang sengaja untuk mencoba menggodaku, hm?"

Wajahku otomatis memerah. Sialan dia! Memangnya aku perempuan yang sama seperti yang mengejar-kejar dia, ha? Heol. Dengan cepat, aku melangkah masuk kemudian membanting pintu geser kaca penghubung antara balkon dan kamarku dengan kasar.

Pagiku bisa dipastikan akan dobel menjengkelkan mulai hari ini.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co