4
SUZY
Vincent dan Soojung benar-benar tidak setia kawan. Ugh!
Bagaimana bisa mereka lebih memilih pergi ke Mall menghadiri festival makanan gratis, dibandingkan menepati janji mereka untuk menemaniku masuk di kelas tambahan Bahasa Inggris. Padahal semalam di group chat, mereka sudah setuju soal kelas tambahan. Maka, aku mengambil ranselku dengan cepat setelah Guru Park menyelesaikan kelas kami. Ya, untung saja ada beberapa orang yang juga mengikuti kelas ini jadi aku tidak merasa terlalu nelangsa.
Aku mengambil langkah cepat menuruni undakan tangga satu persatu bersamaan dengan beberapa siswa lain yang juga mengikuti kelas tambahan ini. Merogoh saku, aku mendapati HP-ku mati. Ah, karena keasyikan membaca ensiklopedia semalam aku sampai lupa kalau aku belum mengisi daya batrai ku. Alhasil, sejak jam 12 siang tadi HP-ku sudah mati total.
"Aku tidak bisa menghubungi Ayah ataupun Ibu." Gumamku pelan sembari memasukkan HP ke dalam rompi seragam.
Aku telah sampai di halte bus depan sekolahku, mengedarkan pandanganku kesekitar dan aku tidak menemukan siapapun disana. Ugh, jangan-jangan bus terakhir sudah pergi?
"Oh Tuhan, tidak mungkin aku berjalan sampai ke rumah kan?" Aku mendesah. Melirik kursi panjang di halte itu sekilas, lalu mendudukan bokongku disana.
Ya ampun, ini adalah malam termenyebalkan yang pernah ada. Sebenarnya aku tidak mau meruntuki guru bahasa inggrisku itu, namun kalau sampai aku tidak bisa pulang, atau bagaimana kalau aku bertemu preman jalanan dan mereka berniat jahat kepadaku? Oh tidak.
Aku menggeleng cepat, menghilangkan segala macam hal yang tidak-tidak yang kini bergelayutan di pikiranku. Tidak, aku akan baik-baik saja. Ayah akan menyadari bahwa aku belum pulang dan dia akan menyusulku ke sekolah. Ya. Aku yakin itu.
Perutku berbunyi lagi. Oh tuhan, aku membawa tanganku mengelus perutku pelan. Kasihan sekali food baby ku telat diisi asupan gizi. Terakhir aku makan adalah siang tadi, yang mana berarti sudah 7 jam terlewati. Oh, tidak adakah orang rumah yang datang?
"Gosh!" Aku berjengkit kebelakang saking kagetnya ketika mendengar suara klakson mobil begitu keras. Lalu, sinar lampu mobil itu semakin dekat hingga berhenti tepat di depan halte.
Mobil sport berwarna biru yang...
Siapa coba? Jangan-jangan pria hidung belang yang suka memangsa anak remaja?! Dan, jangan-jangan dia mengira aku adalah perempuan murahan yang sengaja menunggu jemputan? Geez, ya tuhan lindungi ak—
"Ayo masuk."
—Myungsoo?
Masih terdiam ditempatku, aku bisa melihat wajah tampan nya—Duh, apa sekarang aku suka menilai wajah orang?—sedang menatapku dengan santai. Pandangannya tajam, masih memakai baju seragam dan rambutnya sedikit acak-acakan.
"Kau ingin masuk, atau tidak?"
"Mau!" Jawabku buru-buru. Mengambil langkah cepat kemudian mengitari mobil depan dan langsung masuk ke dalam mobil BMW i8 yang ntah milik siapa.
Wow, bagaimana aku bisa mengetahui merek dan jenis mobil sport ini? Tentu saja karena majalah-majalah yang tergeletak di rumahku. Just in case kalau kalian lupa, bahwa Ibuku adalah kaum sosialita—katanya—dan akan selalu dikelilingi oleh hal-hal tak berguna. Maksudnya adalah, bagaimana bisa dia menghabiskan uang ayahku hanya untuk membeli berlian ketika perjalan ke Hong Kong bersama teman-temannya, juga menukar-beli mobil yang menurutku sangat mubadzir. Ugh!
"Ini mobil baruku."
Well, aku tidak bertanya, omong-omong. Tapi, karena Myungsoo sudah menyelamatkanku malam ini, sepertinya sedikit rasa antusias dirasa baik.
"Umm, kapan kau membelinya?" Tanyaku basa-basi.
"Tadi. Bagaimana menurutmu?" Myungsoo menoleh sebentar kearahku.
Pertanyaan apa pula ini...
"Bagus. Tapi terlalu... Mewah?" Kataku. Malah terlihat seperti menaruh pertanyaan di pernyataanku. Bad, Suzy.
Aku mengusap ujung hidungku pelan ketika AC mobil semakin terasa dingin. Umm, aku membenci dingin karena aku akan mengeluarkan bintik-bintik merah setelahnya. Mengusap pelan lenganku sambil membenarkan letak kacamataku, lalu aku kembali menoleh kearah Myungsoo yang kini sedang menatapku.
"Kau kedinginan?"
Aku meringis. "Sebenarnya aku tidak terlalu bisa terkena dingin. Sekujur tubuhku akan langsung mengalami bintik-bintik merah." Jelasku. Well, mungkin kali ini Myungsoo akan semakin menganggapku aneh. Bagaimana bisa perempuan jelek memiliki penyakit yang sama jeleknya. Ugh, aku tidak pedu—
Ha? Kenapa AC nya jadi mati? Aku melirik tangan Myungsoo yang selesai menekan salah satu tombol pada mobil itu dan menatap kearah matanya kembali, "Kenapa—"
"Hanya membuatmu nyaman." Ujarnya sambil mengeluarkan smirk.
Aku tidak mengerti, untuk apa dia memikirkanku? Sesaat, aku seperti melihat sisi yang berbeda dari seorang anak populer di sekolah. Maksudku, anak-anak populer yang biasanya hanya bisa membully dan membuat orang lain sakit hati dengan perkataannya, dan juga yang hanya bisa menghabiskan uang orang tua mereka. Namun, kalimat Myungsoo selanjutnya membuatku memangkas habis pikiran-pikiran baikku tadi.
"Kau tahu, semua anak perempuan di sekolah kita, akan membunuhmu jika tau kalau kau dan aku tinggal bersama." Ucapnya dengan lugas. Dan, aku tahu kalau itu seratus persen benar.
Mendengus kecil, aku membawa pandanganku keluar jendela. Malas sekali rasanya melihat seringaian yang menyebalkan itu. "Maka, jangan sampai mereka tahu." Ucapku dengan dingin.
"Apa kau tidak berniat memberitahu orang-orang?" Myungsoo kembali menolehkan kepalanya padaku. Ujung sudut bibir kanan nya tertarik keatas.
"Tidak."
"Kenapa?"
Mwoya, apa menurutnya itu adalah hal yang penting? Serius? Heol.
"Kenapa aku harus memberitahu mereka semua?" Tanyaku balik.
"For attention?"
Tubuhku menegang. Aku bersumpah kalau aku benar-benar membenci laki-laki populer yang sedang menyetir ini. Whooa, apakah yang ada di pikirannya selama ini hanya soal 'perhatian'? Atau, apakah dia mengira aku akan menyebarkan rumor bahwa dia tinggal bersama keluargaku demi menarik 'perhatian' ? Kalau itu iya, Well... You're wrong, dude.
"Dengar, mungkin kau berfikir bahwa aku mungkin sama seperti perempuan-perempuan lainnya. Tapi, aku tidak. Aku sama sekali tidak tertarik dalam duniamu itu, Kim Myungsoo." Ucapku berbarengan dengan mobilnya yang memasuki pelataran rumah dan berhenti tepat di carport. Menatap Myungsoo sekali lagi, aku kemudian mengucapkan terima kasih dan lantas keluar dari dalam mobil itu tanpa menoleh.
Dasar menyebalkan!
***
"Suzy sayaaang, ajak Myungsoo turun. Kita makan malam bersama!" Seruan Ibu yang berasal dari lantai bawah nampak melengking seiring dengan aku selesai mengancingkan kancing paling atas pada piyama tidurku berwarna ungu. Setelah menggelung rambutku secara asal, aku kemudian beranjak meraih handle pintu kamar dan—
Astaga! Aku masih tidak bisa terbiasa dengan orang asing di sebelah kamarku ini. Apa yang dipikirkan orang tua ku ketika menaruh laki-laki remaja asing di sebelah kamarku, bukannya di kamar tamu di lantai bawah. Atau, di sebelah kamar mereka di sayap kiri. Kenapa mal—
"Suzy, aku—"
"Umm, Ibu dan Ayah sudah menunggu dibawah. Ayo." Aku menyela apapun yang mau diucapkannya. Tidak, aku tidak akan membiarkan dia menghinaku lagi. Ugh!
Baru saja aku hendak berjalan, tiba-tiba satu tangan Myungsoo terulur dan menarikku hingga membuat punggungku menyentuh dinding diantara pintu kamarku dan kamarnya. Beberapa rambutku yang tak ikut dalam gelungan menghempas pelan hingga menempel di pipi. Myungsoo menatapku dengan kedua tangannya yang masih mengunciku.
Aku meruntuki diriku yang tiba-tiba menjadi pengecut seperti ini, mau tak mau kejadian di busway tadi pagi kembali menghantamku. Apakah dia mau melecehkan aku lagi?
Aku tidak akan membiar—
"Aku minta maaf."
Ha?
"Apa?" Aku mengerutkan kening bingung. Nada suara Myungsoo yang dalam dan pelan, sama sekali tidak menampilkan senyuman menjengkelkannya. "Maksud—"
"Aku tidak bermaksud berbicara seperti tadi. Tapi, aku tidak tahu kenapa aku malah berbicara seperti tadi," kulihat Myungsoo mengernyitkan keningnya, lalu kembali meneruskan kalimatnya, "Aku tidak pernah menganggapmu sama seperti perempuan-perempuan di sekolah kita. Kau berbeda."
Aku memutar bola mataku. Tentu saja, aku seorang nerd! Dia tidak seharusnya memperjelas hal itu.
"Tentu saja, perempuan cupu sepertiku tidak pantas disamakan dengan perempuan-perempuan itu." Ujarku sarkas.
"Tidak. Bukan itu maksudku."
"Lalu?" Aku bertanya dengan nada malas. Kepalaku menoleh kearah koridor penghubung tangga sambil mencoba melepaskan cekalan tangannya pada tanganku.
"Kau cantik. Dan aku menyukai wangimu."
Namun, aku merasakan napasku langsung berhenti ketika mendengar suaranya mengalun lembut di telinga kananku. Membuatku menoleh kaku dan mendapati manik mata tajamnya hanya berjarak beberapa senti dari mataku. Serius, ini jarak lebih dekat daripada yang di busway tadi. Oh tuhan!
Aku menelan salivaku gugup. Matanya mengarah kearah bibirku, lalu aku melihat kepala Myungsoo semakin mendekat kepadaku. Astaga! Apa yang hendak dilakukannya?! Aku—
"Ayo." Ucapku. Lalu, dengan penuh keberanian aku mendorong tubuh Myungsoo menjauh dan dengan langkah cepat, aku langsung berlari terbirit menuruni tangga dan segera melesat ke dapur.
***
"Anakku yang tampan, bagaimana tadi di sekolah?"
Pertanyaan Ibu yang jelas sekali bukan ditunjukan untukku. Tentu saja, kalau masalah gender, aku masih masuk kedalam clustering cantik 'kan? Jadi, untuk kalian yang menebak ucapan bernada manis itu untuk seseorang yang kini duduk tepat di kursi sebelahku. Kalian benar. Ugh.
Aku memerhatikan wajah Ibu yang di polesi make up tebal dengan bibir merah merona, plus sanggul kepala yang sudah hampir sebesar ban mobil itu dengan seksama. Hampir 18 tahun umurku, Ibu bahkan tidak pernah bertanya soal sekolahku. Maksudku, pertanyaan yang sama dengan yang tadi ditanyakannya kepada Myungsoo.
"Baik, Ma." Jawab Myungsoo sambil mengulas senyum. Tentu saja jenis senyuman ramah dan super sopan. Uh, perempuan-perempuan di sekolahku tidak akan percaya kalau Myungsoo bisa tersenyum sopan seperti ini.
Wel—
"Kau tahu, semua anak perempuan di sekolah kita, akan membunuhmu jika tau kau dan aku tinggal bersama."
Tiba-tiba kalimat laknat Myungsoo tadi kembali bernyanyi-nyanyi di kepalaku seolah sedang mengejekku. Astaga!
Berhenti memikirkan Myungsoo dan dunianya, Suzy.
"Ayahmu sedang bertanya padamu, Suzy." Aku sontak menjauhkan tubuhku ketika merasakan ada bisikan halus di telingaku. Kepalaku menoleh, menatap dengan horor laki-laki yang sedang mengunyah kentang goreng dengan santai. Aish, kenapa dia terus saja membuatku panik, uh?
Mengganti fokus, aku kemudian mengarahkan pandanganku kepada ayah yang sedang membawa gelas ke mulutnya. "Ya, Ayah? Aku tadi sedang tidak fokus."
"Apa yang kau pikirkan? Kau sakit?" Tanya ayah khawatir. Oh, I love you, daddy!
"Tidak. Aku hanya sedikit tidak mengerti satu rumus kimia, padahal besok aku ada ulangan." Aku menggeleng guna menghilangkan pikiran aneh yang kini berkecamuk dalam benak Ayahku. Menyendokkan potongan daging panggang dari piringku ke mulut hingga merasakan sensasi nikmat di lidahku.
"Sudah menyontek saja, sayang. Ibu juga dulu suka menyontek dengan ayahmu ketika di SMA."
"Sayang," ayah menegur.
Kulihat Ibu memajukan bibirnya yang merona hingga tiga senti ke depan, "Aku kan hanya memberi ide."
Astaga. Aku mencoba untuk tidak terpancing dengan saran asal dari Ibuku. Tenang Suzy, kau selalu bisa menghadapi Ibumu yang seperti ini. Bersabarlah Suzy... Aku terus merepalkan mantra ampuh agar tidak mengumpat dan membuat dosa. Belakangan ini aku sudah keseringan mengumpat, mungkin itu juga akan berimbas dengan nilaiku yang menurun. Oh tidak!
"Aku bisa mengajari Suzy."
Uh, apa lagi kata Ibu— Kepalaku kembali menoleh kearah Myungsoo dengan tatapan horor. Dia? Mengajariku?
"Oh benar, kudengar Myungsoo sangat pintar di mata pelajaran hitung menghitung, Nak." Suara Ayah kembali terdengar. Kali ini bernada seolah baru menemukan sesuatu yang berharga. "Kau bisa mengajari Suzy, Myungsoo?" Tanya ayah kepada laki-laki populer itu.
"Omo, bagaimana bisa Tuhan menciptakan laki-laki setampanmu tanpa celah, sayang." Ujar Ibuku dengan kedua tangan terpaut di depan dada. Melalui gaya bicara dan tubuhnya, dapat dipastikan kalau Ibuku begitu terbuai dan terpesona dengan fakta yang baru diterima otaknya itu.
Myungsoo tersenyum. Kemudian menatap tepat ke dalam mataku, "Aku bisa membantu Suzy, paman."
"Tidak, aku bisa—"
"Tidak baik menolak rezeki, Suzy. Aigoo..." Ibu menyela kalimatku dengan semaunya. Lalu, ia memamerkan senyumnya untuk siapa lagi kalau bukan Myungsoo. "Kalian bisa belajar di kamar Suzy."
"Sayang, kupikir belajar di ruang—"
"Tidak, diluar bising sekali. Lagipula, AC di ruang santai di lantai dua juga sedang rusak, sayangku. Kasian jika mereka kepanasan nanti." Ibu menyela ucapan Ayah. Sepertinya Ibuku sangat suka menyela apapun yang hendak dikatakan oleh orang lain malam ini.
Membuang napas lagi, aku yang baru saja hendak menyatakan keberatanku langsung kembali bungkam ketika Ibu memberiku ekspresi yang... Kira-kira begini; Menurutlah, ini demi kebaikanmu.
***
Kukira, saat Myungsoo mengatakan kalau dia pandai tentang Kimia itu hanyalah sebuah bualan semata. Tetapi, tidak.
Oh my god. Aku tidak pernah tahu jika ada rumus yang lebih mudah dari yang diajarkan guru di kelas.
"Jadi, kau tinggal mencari ini dengan rumus yang kuajarkan, " Myungsoo menunjuk tulisan di lembaran catatanku. "Dan kau akan menemukan hasil dari ini." Lanjutnya.
Whoaaaa!
Aku langsung mencoba pada soal yang membuatku pusing sejak kemarin itu dengan cepat. Dan, tak lebih dari dua menit soal itu berhasil kukerjakan. Wow.
Senyumanku otomatis mengembang di wajah. Mendongak dari buku yang kugeluti itu, Aku menatap Myungsoo dari balik kacamata. "Terima kasih." Ujarku sungguh-sungguh.
Aku bisa melihat Myungsoo menyunggingkan senyum menyebalkannya. Namun, aku mencoba tidak memutar bola mataku. Hari ini dia sungguh berjasa—disamping kelakuannya di koridor tadi, dan omongannya yang menyebalkan—karena Myungsoo membantuku dalam mengerjakan tugasku.
Tapi, omong-omong, bagaimana dia tahu soal Kimia? Setahuku, Myungsoo tidak mengambil kelas Kimia. Sekedar Informasi, bahwa di sekolah kami ada Mata Pelajaran khusus yang bisa diambil setelah mata pelajaran umum. Jadi, pembelajaran di Mata pelajaran khusus itu akan dilakukan pada hari Jumat, dan ketika itu kita tidak akan satu kelas dengan teman-teman kita yang biasanya. Ya kecuali jika mereka mengambil kelas khusus dengan mata pelajaran yang sama.
Nah, kelas Khusus di Mata Pelajaran Kimia ini hanya ada satu kelas dan aku benar-benar yakin kalau tidak ada nama Myungsoo di absensi kelas itu.
"Bagaimana kau bisa paham soal Kimia, kau kan tidak mengambil mata pelajaran ini?" Tanyaku menyuarakan penasaranku.
"Karena aku pintar?" Myungsoo tersenyum miring.
Heol. Aku otomatis memutar bola mataku dengan malas. "Ya, karena kau pintar."
Terdengar kekehan Myungsoo sesaat, kemudian ia kembali bersuara santai dengan punggung disandarkan pada kepala kursi. "Sejak kecil aku memang lebih expert dalam hal hitung menghitung." Ia menjelaskan.
"Lalu?"
"Lalu?" Dia membeo. Kepalanya miring menatapku dengan alis terangkat.
Aku mengedikkan bahu. Membawa kedua tanganku terlipat diatas meja belajarku—sesuai intruksi Ibu yang aneh sekali karena menyuruh anak gadisnya belajar di kamar dengan laki-laki asing—aku menatap Myungsoo. "Kenapa kau tidak mengambil kelas Kimia atau Matematika atau Fisika?" Tanyaku.
"Bagaimana kau bisa tahu aku tidak mengambil ketiga kelas itu?" Myungsoo menyunggingkan smirknya lagi-lagi.
Wajahku sontak memerah. Sialan!
Dengan cepat, aku langsung membuang wajahku, menatap botol-botol parfume koleksiku yang berada di balik lemari kaca disudut kamar. "Jangan salah paham, Vincent dan Soojung seperti dispatch jika soal kelompokmu."
"Temanmu?"
Aku mengangguk. "Ya, kau tahu mereka sangat mengidolakan kalian—maksudku, Kau dan kedua temanmu. Apalagi Soojung dia begitu menyukai..." Kedua mataku membeliak saat menyadari apa yang hampir saja kuucapkan. "Tidak, lupakan."
"Siapa yang disukai Soojung?"
"Minhyuk."
Oh my god! Mulut bodohku ini mengapa selalu menjawab pertanyaan secara spontan. Ugh, aku melirik kaku kearah Myungsoo yang tepat seperti dugaanku, laki-laki itu sedang menatapku dengan senyuman miringnya. "Jangan katakan pada temanmu. Kumohon?" Pintaku.
Gawat. Gawat. Aku bisa dibunuh Soojung kalau Minhyuk sampai menyadari jika temanku itu menyimpan rasa kepada laki-laki itu. Terlebih, dilihat dari kepopuleran Minhyuk, tidak menutup kemungkinan jika laki-laki itu langsung bergidik ngeri dan malah membully Soojung seperti apa yang dilakukan anak-anak populer di sekolah...
Aku menggeleng pelan. Kemudian, menatap Myungsoo penuh harap. "Anggap saja kau tidak pernah mendengarnya. Ya?"
"Akan kulakukan jika kau mau menjawab pertanyaanku."
"Apa?" Kataku langsung.
Myungsoo menguraikan lipatan tangan di depan dadanya, lalu mencondongkan tubuhnya dan menunduk mendekatkan wajahnya kepadaku. Sontak saja aku segera menarik wajahku menjauh.
"A-apa?"
"Kau pernah berpacaran?"
"Itu pertanyaanmu?" Keningku mengernyit.
Dia mengangguk.
"Tidak. Aku tidak tertarik." Jawabku.
"Apa disekolah ada yang kau sukai?"
Aku menggeleng.
"Bagaimana kalau aku?" Myungsoo menegakan tubuhnya, kedua mata tajamnya menatapku dengan senyuman di kedua mata itu.
Aku tertawa. "Tidaklah. Tidak mungkin terjadi."
Apa-apaan, apa dia sudah tidak waras? Mana mungkin aku menyukai laki-laki sepertinya. Uh, impianku jika memiliki kekasih nanti adalah laki-laki yang biasa saja, pintar dan sayang padaku. Karena kejadian yang menimpah sepupuku itu membuatku mengeri berdekatan dengan anak-anak populer.
Lantas, kenapa kau sekarang berdekatan dengan Myungsoo, bodoh? Aku menegang ketika gadis batinku gantian menertawakanku. Menarik kembali senyumanku, aku lantas menatap Myungsoo dengan pandangan datar. "Dengar, aku tidak berniat sedikitpun untuk menyukaimu. Selain karena kau sudah memiliki Naeun, aku memang tidak menyukai kelompok populer seperti kau dan teman-temanmu."
"Kami tidak berpacaran. Aku dan Naeun." Dia menjelaskan.
Oh, kaupikir aku peduli? Yang benar saja...
"Itu bukan urusanku," Aku tersenyum. Mendorong kursiku kebelakang dan berdiri. "Selamat malam." Ucapku. Mengusirnya secara halus dari kamarku.
***
"Suzyyy oh no! Oh no! Aku bisa mati kalau begini! Oh no!"
Ladies and Gentleman, please welcome... adalah Soojung dengan drama paginya. Aku tidak habis pikir sekali, bahkan belum juga dia menaruh tas gendong kulit berwarna hitam itu ke mejanya tapi tindakan histerisnya lah yang lebih dulu.
"Ohh yesss!" Kali ini adalah suara Vincent. Laki-laki tomboy itu sedang mengikis kukunya menggunakan alat.
"Aih, menyebalkan!" Soojung mendesis menatap Vincent. Lalu, kepala dengan bandana coklat itu kembali menghadapku, "Respon aku, tolong! Tolong, Tolong!"
"Dasar perempuan berlebihan. Ew." Lagi-lagi Vincent bersuara. Matanya memandang kesepuluh jemari hasil karyanya dengan senang. "Uw, cantik sekali!"
"Cen, kau jangan membuat Soojung kesal terus." Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa Vincent suka sekali membuat Soojung marah. Kata Vincent, ada kesenangan tersendiri melihat Soojung dengan meledak-ledak begitu. Well, aku sebenarnya juga sependapat dengannya.
"Oh tuhan, lihat ini!" Soojung menunjukkan sesuatu di ujung dahinya. Bulat, kecil, merah. Aku dan.Vincent kemudian saling tatap dan tertawa. Membuat Soojung menggerutu kesal. Perempuan itu lalu menghempaskan tubuhnya pada kursinya, menatap kami sambil mendesah. "Kalian saja tertawa, bagaimana jika Minhyuk melihatku nanti. Oh tidak! Astaga! Aku ingin pindah sekolah saja..."
Lalu, si ratu drama sahabatku itu langsung menangkupkan wajahnya kedalam telapak tangannya sambil beringsut.
"Well, sepengingatku Kang Minhyuk bahkan tidak pernah melirik ke meja kita. Um, atau lebih spesifiknya kearahmu." Kataku.
Vincent kembali tertawa. "Benar. Bahkan, mungkin saja si tampan itu tidak tahu kalau kau satu sekolah dengannya."
Uh, tambahan yang baik, Cen! Tapi, efek dari ucapan Vincent barusan adalah aku jadi mengingat kejadian saat pertama kali Myungsoo ke rumahku. Sialan, kalau dipikir-pikir tentu saja laki-laki itu dan teman-temannya tidak mengetahui siapa aku, juga teman-temanku. Yea, kecuali Vincent mungkin. Dia berbeda, you know what I mean.
Jadi, aku juga tidak bisa meruntuk marah soal itu 'kan? Karena Aku sendiri yang memang menyelimuti diriku dari orang-orang seperti mereka.
"Kalian benar-benar temanku." Soojung sarkas.
Aku dan Vincent sama-sama tersenyum dan menjawab, "Kami mencintaimu!" Berikut dengan finger hearts yang kami berikan untuknya.
"Omong-omong, kau tahu kalau sekolah kita akan mengadakan camping untuk angkatan kita?" Vincent memasukkan alat yang meni-pedinya ke dalam laci meja. Kemudian, menatap kami.
Dua dari kami menggeleng.
"Aku mendengarnya tadi pagi ketika melewati ruang kepala sekolah. Oh my god! Kita akan bermalam di hutan belantara bersama pria-pria tampan."
"Apa Minhyuk ikut?" Soojung mengerutkan keningnya. "Oh Tuhan, aku harus mengubur jerawatku ini kalau tid—"
"Hentikan itu, Jung," Vincent menggerutu. "Minhyuk tidak akan satu kelompok dengan kita. Kau tahu, pembagian kelompok berdasarkan kelas dan masing-masing berjumlah lima orang. Dan sekali lagi, dia tidak akan melirikmu."
Aku tidak memperdulikan perdebatan Vincent dan Soojung karena yang sekarang mulai bergelayut di otakku adalah soal acara camping menyebalkan ini. Ugh, Membayangkannya saja aku sudah pusing duluan. Karena, Aku sama sekali tidak tertarik soal belajar hidup di alam bebas seperti itu. Dan, aku benci dingin. Oh... "Tidak bisakah jika kita tidak ikut?"
"Aku setuju. Aku juga malas ikut jika jerawatku seperti ini." Ucap Soojung sambil memerhatikan wajahnya pada kaca berwarna merah mudanya.
"Sayang sekali, yeorobun. Ini untuk menambah nilai olahraga." Vincent menaik-turunkan kedua alisnya. "Lagian, akan ada jalan malam dengan kelompok yang dibagi. Siapa tahu kita beruntung bisa bersama para laki-laki tampan itu... Oh tuhan, aku tidak sabar!"
"Yang benar? Oh my god, aku benar-benar harus facial! Suzy, nanti temani aku ke salon ya?" Soojung menggebu-gebu.
Well, jika kalian ingin melihat orang dengan pemikiran yang berubah-ubah, Soojung-lah orangnya. Menarik napas sekali, segera meraih HP-ku ketika merasakan HP itu bergetar di laci meja.
Pesan dari nomor asing.
Chat itu muncul dibawah chat dari nomor yang sama, yang kemarin menghubungiku juga. That is, Myungsoo. Yang nomornya bahkan belum kusimpan.
"Ada apa dengannya..." Gumamku.
"Kenapa, kenapa, kenapa?" Soojung langsung mendekatkan tubuhnya padaku, membuatku tidak sempat menyembunyikan isi pesan itu. "Wow, siapa yang mengirimu pesan? Katakan!"
"Kenapa? Siapa?" Vincent dengan semena-mena menarik HP-ku. Kedua alisnya menyatu saat membaca pesan itu. "My Goddess! Myungsoo mengirimimu pesan?!"
Lalu, aku melihat jemari Vincent menari-nari di layar HP-ku. "Akan kubalas pesannya. Oh Tuhan, aku tidak menyangka aku bisa membalas pesan Myungsoo!" Ujarnya histeris.
Aih! Aku kadang menyesal mengenal Vincent dan mulutnya itu. Karena sekarang, aku bisa melihat beberapa teman sekelasku yang sudah datang kini menolehkan kepala mereka ke bangku ku.
Mendelikan mata tajam, aku segera merebut HP-ku kembali dengan kesal.
Vincent memamerkan deretan giginya, "Maaf, maaf. Aku keceplosan."
"Tidak pa-pa, anak-anak di sekolah kita akan iri padamu, Suzy." Soojung menepuk-nepuk bahuku dengan ekspresi riangnya.
Uh, itu adalah hal yang kubenci. Aku tidak ingin mereka iri denganku atau malah membenciku. Aku hanya ingin kehidupan normal di sekolah hingga—
Kedua manik mataku lantas terkunci ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu kelas sambil menatap ke arah meja kami. Tidak, lebih tepatnya adalah ke arahku.
Naeun dan teman-temannya.
Perempuan-perempuan dengan make up tebal itu kini menatapku dengan ekspresi dan gaya yang sama. Uh, apa mereka juga mendengar apa yang dikatakan Vincent tadi?
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co