Bangunin Tidur
Pagi-pagi buta tepatnya jam 4 pagi Renjun udah bangun. Emang dari kecil dia selalu bangun jam segini sih, setelah bangun tidur Renjun buka hp nya sebentar, sembari ngumpulin nyawa yang masih ketinggalan di alam mimpi.
Dia buka room chatnya
Lia
lia|
Bgn|
siap2 slt subuh|
Woy, katanya mau di bangunin|
"Bang, bangun siap-siap salat," ujar Ningning dari luar kamar.
"Iya bentar.... eh Ning, sini dah,"
Ningning masuk ke kamar Renjun, nyeamperin abangnya yang masih di dalem selimut. "Apaan?, jangan bilang mau morotin Ningning lagi,"
"Suudzon mulu lo,"
"Terus apa?,"
"Anu... cara bangunin orang lewat hp gimana?,"
"Ya telpon lah, jangan di chat. Mana denger dia,"
"O-ohh oke, dah sono keluar."
"Dih aneh, emang mau bangunin siapa sih?,"
"Kepo."
"Oh Ningning tau!. Pasti kak L----,"
Bruk
Tepat sasaran muka Ningning kena lemparan bantal dari Renjun "pergi sono!."
"Ih bang Renjun!. Ningning aduin mama pokoknya!."
"Bodo."
"Mama bang Renjun punya pac--- mmm..,"
"20rb," ujarnya berusaha menyogok Ningning agar tutup mulut.
"Sorry, Ningning ga murahan."
"25rb,"
"Cih apaan itu,"
"Ck. Ketoprak bang jepri yang di depan komplek."
"Deal."
"Gi mirihin. Hilih bingsit. " ledek Renjun yang kesal sendiri, emang adeknya yang satu ini tuh suka buat emosi, padahal duit 25rb kan masih mending daripada ketoprak 12rb di warung bang jepri. Tapi yaudahlah, untung di dia juga kok.
"Yaudah Ningning mau ambil Wudhu, abang jangan lama-lama udah di tungguin yang lain buat salat jamaah,"
"Iya-iya, sono keluar."
Baru aja Renjun ambil ho lagi udah dapet ejekan dari adek laknatnya "Acie mau nelfon ka Lia ya?,"
"Apaansih!."
"Ahay asek asek icikiwir."
"Gini nih kalau kebanyakan bergaul sama Jaemin."
"Keluar dari kamar gw dalam 3 detik, atau ketoprak bang jepri akan menghilang...
1
"Eh eh kok gitu sih?!." Protes Ningning
2
Brak
Pintu tertutup kencang setelah Ningning keluar. Renjun bernafas lega, akhirnya bisa terlepas dari adek bobrok nya yang satu itu.
Renjun beralih dengan hp nya, teringat kata Ningning tadi, dia mikir sebentar masih ga yakin untuk nelfon Lia jam segini. Ini pertama kalinya dalam hidup seorang Renjun nelfon cewe di pagi buta, eh tapi emang biasanya ga pernah telfonan sama cewe sih, paling cuma mamanya kalau ga Ningning, itu juga yang nelfon duluan pasti mereka.
"Telfon ga ya?....
"Telfon ga ya....??????
"Tellllfonnn???..... ga?...ya??...
"Gausah deh,"
"Halo, siapa sih?, malem-malem gini nelfon, kurang kerjaan banget lo anj—! ."
Renjun tertegun sebentar, baru juga telfon nya nyambung, dia udah dapet marahan dari cewe di sebrang sana.
"Lia...,"
"Eh?, Renjun?!."
"Hooh. Bangun, siap-siap salat gih,"
"Emang jam berapa sekarang?,"
"Jam 4, siap-siap aja dulu."
"Nanti aja deh, biasanya Lia salat jam setengah enam,"
"He!. Itumah udah mau terang mataharinya, bangun sekarang!. Semalem katanya minta di bangunin, giliran di bangunin malah gamau, gimana sih?!."
"Ya Allah injun, galak banget. Tapi aku suka hehehe,"
"Serius Lia!."
"Iya injun, ini bangun nih bangun nih nih nih! ,"
"Mandi gih biar seger,"
"Iya siap bapak negara!."
"Yaudah gw juga mau mandi, lo jangan tidur lagi!."
"Iya astagfirullah, mas pacar galak banget,"
"Dah, gw tutup ya... "
"Iyaa njun, oh iyaa....,"
"Apa?,"
"Makasih ya udah bangunin,"
Ini Renjun kenapa jadi senyum-senyum sendiri kaya orang gila "iya, udah gw mau mandi."
"Okay injun, makasih love you, sarangek, saranghandagu, saranghandika!, neomu cincah cincah sarangek!!!"
"Uhuk Too,"
"EH NGOMONG APA TADI???,"
Tut
Renjun udah gila sendirian, ini kenapa tiba-tiba jantungnya jadi deg-degan, sama kaya pas mau ujian susulan seorang diri. Renjun mukul-mukul pipinya biar sadar, "ga mungkin gw jatuh cinta ke Lia kan?,"
Mungkin sih kalau menurut gw-author
"Gw kudu ruqiyah di ustad Taeil abis ini!." Ujarnya mendapati wajahnya yang gak berhenti tersenyum di depan cermin.
Shotaro pagi-pagi gini udah rapih sama seragam nya, rambutnya juga udah disisir bunda Nayeon serapih mungkin.
"Shotaro jangan lupa bawa bekalnya ya, oh iya bunda juga buatin untuk Giselle, jangan lupa di kasih,"
"Iya bunda, Shotaro berangkat dulu."
"Kamu naik apa?,"
"Sepeda kaya biasanya, nanti nyamper Jisung, sama Sungchan dulu."
"Oh yaudah, hati-hati ya... "
"Iya bunda, Shotaro pamit," ujarnya sembari salim ke tangan bunda Nayeon.
Shotaro ngambil sepedanya di garasi, kemudian melajukan nya ke rumah Sungchan terlebih dahulu, yang hanya beda blok dari rumah nya.
Baru aja mau teriakin nama Sungchan, ternyata lelaki itu udah keluar sendiri dari rumahnya sambil nyengir 3 jari.
"Pagi bang!."
"Pagi juga... kamu naik sepeda atau motor?,"
"Naik sepeda dong yang ramah lingkungan," Sungchan keluarin sepedanya.
"Nanti samper Winter dulu ya," tambah Sungchan.
"Iya sekalian samper Jisung sama Giselle,"
"Asek samper pacar nih ye," Shotaro cuma bisa nyengir doang, gatau mau ngomong apa, keburu malu duluan.
"Winter bawa sepeda juga?," tanya Shotaro ke Sungchan.
"Engga, kita boncengan biar soswit," Shotaro terkekeh, bagaimana bisa Sungchan seberani itu, atau emang benel kata Chenle, kalau urat malu Sungchan tuh udah putus?, Seperti sendal swallow hijau milik mang Atuy.
"Yaudah ayo berangkat ke rumah Jisung,"
Mereka berdua mengayuh sepedanya masing-masing, sekolah mereka kalau di tempuh dengan sepeda ya lumayan deket sih, jadi kadang pada males bawa motor.
Biasanya mereka yang pada naim sepeda, pagi-pagi udah ngumpul di depan rumah Jisung. Karena rumah Jisung itu pas di tengah-tengah komplek, jadi lumayan strategis untuk jadi titik pertemuan.
"Eh itu Shotaro sama Sungchan," ujar Ningning menunjuk ke arah kedua lelaki yang mulai mendekat.
"Tumben cepet, biasanya lama banget," cibir Winter.
"Eh Winter, tadi baru aku mau jemput, ternyata udah ada disini,"
"Nungguin lu yang jemput mah keburu ditutupin pager sekolah,"
"Yaudah gapapa, yang penting pager di hati aku selalu terbuka untuk kamu,"
"Ningning, punya kresek ga?, gw mau muntah anjir." Ujar Wony di atas sepedanya.
"Jangan ngadi-ngadi Won, gw gamau menampung muntahan lo," jawab Ningning berusaha menjauh.
"Woy kalian,"
"Eh jijel," sapa Winter
"Anjir cape banget gw lari-larian di kejar anjing," yang lain pada ketawa ngeliat Giselle.
"Lagi gabut banget sih Lo, ketauan ga punya temen buat diajak main, jadinya main sama anjing." Ujar Sungchan.
"Kan temen gw anjing semua. Kecuali Taro hehe." Balas Giselle.
"Nih," Shotaro dengan rasa perdulinya kasih tisu ke Giselle, untuk lap keringet yang udah bercucuran.
"Makasih Taro, emang Taro yang terbaik."
"Bucin najis!." Ejek Winter.
" ngaca ya dek."
"Eh kok udah pada ngumpul?," bingung Jisung yang baru keluar dari rumahnya.
"Lu nya yang kelamaan keluar," celetuk Wony, pasalnya dia udah nunggu di depan gerbang 15 menit, dia bukanya takut telat atau capek nunggu, tapi dia ketakutan skincare nya luntur.
Masa iya pagi-pagi udab rapih skincareann pas di sekolah buluk lagi, kan gak banget.
"Yaudah yuk berangkat," ajak Shotaro.
"Shotaro gw numpang ya?, sepeda gw bocor ban nya,"
"Lancar ya bun modusnya," ujar Winter memperhatikan mereka berdua.
"Iya gapapa, mumpung sepeda aku ada boncengan belakangnya,"
"Okay makasih Taro,"
"Let's go berangkat!!!!!!," seru Sungchan semangat 45.
Persahabatan mereka memang tak seperti orang-orang lain yang menghabiskan waktu persahabatannya dengan menghamburkan uang agar terlihat mewah dan elegan. Persahabatan mereka hanyalah sebatas melakukan hal kecil nan sederhana namun sangat bermakna.
Kalau mereka yang pada naik sepeda nunggu di rumah Jisung, beda cerita lagi dengan mereka yang berangkat ke sekolah naik motor. Biasanya mereka lebih milih ngumpul di rumah Chenle, bukan karena rumah Chenle deket, tapi karena rumah Chenle banyak makanan. Jadi lumayan bisa numpang sarapan.
Sebenernya mereka bisa aja sih langsung berangkat ke sekolah tanpa ngumpul dulu, tapi entah kenapa rasanya udah terbiasa untuk melakukan semuanya bersama.
"Ya Allah mba pacar tas lu bawa apaan sih berat banget?," tanya Jaemin ke Ryu
"Bawa barbel," mata Jaemin langsung melotot.
"Yang bener aja anjir, lo mau work out di sekolah gitu?,"
"Ya enggak lah, itu barbel punya pak Johny, waktu itu bapak gw minjem,"
"Lah bapak lu kenal sama pak Johny?,"
"Sohib dari smp katanya,"
"Eh btw Jeno Siyeon mana tuh?," tanya Lia
"Jeno Siyeon mah berangkatnya sendiri-sendiri. Mana peka si Jeno buat jemput cewenya," jawab Somi yang masih sibuk makan roti, yang dia ambil dari rumah Chenle.
"Guys, Yiren udah desain baju seragaman untuk kita nanti pas acara, kalian tinggal chat aja ya ukuran nya apa,"
"Ci, emang bisa cepet jadinya?," tanya Chenle.
"Bisa kok, itu langsung di buat di butik mami Yiren."
Somi yang masih makan roti langsung keselek "Ya Ampun mbul lu kalo makan pelan-pelan dikit napa," ujar Haechan kasih air putih di botol.
"Ren. Lu sekaya apa anjir, jangan bilang sekolah kita juga punya keluarga lo?," tanya Lia ke Yiren.
"Iya, itu sekolah punya keluarga aku juga, cuma yang jalanin saudara sih,"
"AANJIR!!!."
"Sumpah dah, padahal kalau diliat lo biasa aja, eh maksudnya kaya sederhana ga suka umbar-umbar kemewahan." Tambah Karina.
"Sebenernya Yiren punya banyak barang mewah, cuma aku ngerasa ga nyaman aja kalau di pakai ke sekolah. Takut ada yang katain sombong atau sebagainya, makanya jarang Yiren pake kak,"
"Yaelah, gausah di dengerin anak-anak cecurut kaya begitu, bilang ke gw kalau ada yang jahatin lo Ren, biar gw labrak." Ujar Ryunjin yang termakan emosi.
"Iya ci, bilang sama gw kalau ada yang ganggu lagi,"ujar Chenle.
"Enggak kok, usah gaada tenang aja."
"Yaudah yuk berangkat!." Ajak Jaemin semangat.
"Tumben semangat Jaem, biasanya lama-lamaan datengnya, biar telat." Ujar Lia.
"Kali-kali mau rasain jadi anak rajin dan taat peraturan." Balasnya kemudian menggandeng tangan Ryunjin.
Ngeliat Ryunjin dan Jaemin yang udah pergi Haechan langsung ikutan narik tangan Somi. "Mbul ayo mbul berangkat."
"Sabar— ehh bentar itu gw bawa Snack nya dulu. Biar hemat gausah jajan lagi pas di sekolah."
"Subhanallah, calon istriku pemikirannya pandai banget, yaudah lah bawa sekardus-kardusnya aja mbul. Sekalian kita jualin di sekolah." Ajak Haechan.
"Nah boleh juga tuh."
Lia langsung geleng kepala, "kasian rakyat jelata."
"Hush kalau ngomong," koreksi Renjun.
"Iya-iya maaf ustadz Renjun."
HAPPY BIRTHDAY MAS INJUN🥳🥳🥳
Sorry I can't give u somethin' special, But..., Njun..., banyak orang bilang, kalau hadiah paling berharga adalah sebuah doa. Disini banyak yang berdoa untuk kamu disana yang sedang berjuang. Intinya semangat terus, jangan terlalu di pikirkan kata" negatif dri orang" jahat:(.
Anjay
Sekali lagi happy birthday mas Injun (panggilan kesayangan wgwgw)
Dari istrimu tercinta
-nanayyyg
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co