Truyen3h.Co

Dare or Dare

Duduk Berdua

nanayyyg_

Semuanya lagi kumpul di depan bus Chenle yang baru banget di parkirkan tak jauh dari perkemahan mereka.

Mark berjalan paling belakang, sembari menghitung jumlah orang nya dengan tepat agar tak ada yang tertinggal nanti.

"Woy kok cuma 19 orang, satu lagi siapa?," tanya Mark kepada yang lain.

"Lu udah itung diri lu sendiri belum bang?," tanya Jisung.

"Udah lah. Ini siapa sih satu lagi?, ribet banget pake ilang-ilangan." Kesal Ningning.

"Aduh Skinker Wony luntur deh, kalau kelamaan di bawah matahari gini," ujar Wony menutupi kepalanya dengan  tangan nya.

"Jishooong tolong pacarnya di lindungi dari sengatan matahari ya....," ujar Ryunjin, kemudian Jisung memberikan hoodie nya ke Wony.

"Nih tutupin pala lo," ujar Jisung.

"Makasih Jisung, makasih juga ka Ryu sudah membuat Jisung peka." jawab Wony senyum.

"Sama-sama wahai anak muda,"

"Eh ini satu lagi siapa woy?," tanya Renjun.

"Tinggal aja deh kelamaan." Celetuk Jaemin.

"Jangan kasian dia, nanti pulang naik apa?," memang yang punya hati nurani kayanya cuma Shotaro.

"Naik grab bisa," balas Giselle.

"Mana ada abang grab di tengah hutan begini bodoh," kesal Karina.

"Tadi kalau ga salah, si Haechan lagi di kamar mandi deh, kebelet boker." Jawab Yangyang mengingat kejadian sebelumnya.

"Perut nya boneng emang ga tau waktu kalau mau boker." Ujar Jaemin.

"Emang boker bisa diatur waktunya bang?," tanya Chenle.

"Bisa kali, kalau pake stopwatch," celetuk Yangyang.

"Punya temen goblok semua heran gw," ujar Sungchan.

"Yang pinter di sini kan cuma gw," tambah Jeno, yang masih sibuk dengan buku di tangannya.

"Iyaa Jeno emang suka gitu. Memuji diri sendiri secara perlahan," celetuk Ryunjin sembari memainkan res sleting tas Jaemin.

"Mba pacar tangan lu gabut atau gimana sih?, jangan dibuka tutup gitu res sletingnya. Kalau rusak emak gw ngomel." Ujar Jaemin.

"Ntar gw beliin baru," balas Ryunjin.

"Som, samperin gih si Boneng, takutnya dia nyasar, hp boneng juga ada di gw." ujar Renjun memberikan kompas kepada Somi.

"Kok gw?,"

"Kan lo pacarnya Somikkk," balas Lia

"Lahk, kann..---"

"Udah sono, kasian dia kalau nyasar gaada yang mau nolongin," paksa Giselle mendorong bahu Somi.

"Gw aja ogah nolongin," ujar Siyeon

"Tunggu-tunggu...,  kalau gw sama dia nyasar berdua gimana maemunah?,"

"Yaudah kita tinggal." Balas Siyeon

"Jahat lo jenab!."

"Nanti kalau lo berdua nyasar, chat kita aja di grup Som," ucap Winter.

"Yaudah deh, tapi awas aja lo kalau gaada yang nyariin gw, pas gw nyasar nanti."

"Iya tenang elah, sana pergi." Usir Sungchan.

"Iye iye...,"

"Som, kasih pesan-pesan terakhir dulu sebelum pergi," teriak Jaemin.

Brugg

"Lu kira gw mau mati!," kesal Somi melempar batu kecil ke kepala Yangyang.

"Ini cowo nyusahin banget sih!. Bisa ga sih dia sehari tanpa nyusahin orang di sekitar." Oceh Somi seorang diri sembari melewati jalan berbatu.

Brukk

"AaaRGhh. " rintihnya terjatuh.

Somi merutuki kekesalanya terhadap Haechan, ia menyalahkan semua ini kepada Haechan. Intinya Haechan sumber masalah bagi hidup Somi.

Seandainya cowo itu ga boker  pasti dia ga akan susah-susah nyamperin ke tempat toilet yang lumayan jauh dari bus tadi.

Somi udah mau nangis aja rasanya karena pas gerakin kakinya kerasa sakit banget. Pas dia buka sepatu nya sedikit dan  liat kakinya, udah ada tanda besar membiru .

Dia ambil ponselnya sigap, berusaha menguhubungi salah satu temanya.

"Yahhh..., Anjir batre gw abis sial!. Gimana dong ini?!. Haechan Bangsattttt!." Kesalnya kemudian menangis dengan segala keadaan yang ada.

"S-sakit banget hiks," rintihnya saat berusaha berdiri.

"Tolonggggg!!!!, tolonggggg!!!, hikss gaada yang mau nolongin hiks cewe cantik kaya  gw apa ya?hiksss, "

"Woy mba, ngapain rebahan disitu?," mata Somi terbelalak besar saat melihat orang yang ia cari akhirnya datang.

"Haechan bangsat! Anjing! Goblog!, Bego bego bego. " teriaknya saat melihat Haechan.

Di sisi lain Haechan cuma diam kebingungan, baru juga dateng abis boker dengan tenang, kok langsung di kasarin begini, ada masalah apa sebenarnya si cewe di depannya ini.

"Lo kenapa sih Som?,"

"Lo kemana sih hiks, gw cariin lo anjir hiks. Boker gatau waktu banget sih lo?!."

"Lo nyariin gw sampe nangis-nangis begini?," tanya Haechan terharu.

"Ya enggaklah!, liat tuh kaki gw keseleo gara-gara nyariin lo."

Haechan melirik ke kaki Somi, dan benar aja mata kaki Somi udah bener-bener membiru, Haechan yang liatnya ngilu sendiri.

"K-kok bisa?,"

"Ya bisalah!. Bantuin gw cepet!."

"Bentar-bentar, biar sepatu lu gw copot dulu." Haechan melepas sepatu Somi dengan perlahan.

"Masih bisa berdiri ga?," tanya Haechan dan Somi menggeleng cemberut.

Haechan membalikkan badanya, kemudian berjongkok di depan Somi.

"Naik." Ujar Haechan.

"Serius?, emang lo kuat?." Ragu Somi.

"Lu meragukan gw?," Somi menaiki punggung Haechan perlahan, kemudian tangannya mengalung di leher Haechan.

Haechan berusaha bangkit sembari membawa sepatu Somi di tangan kirinya.

"Sini sepatunya gw aja yang pegang," ujar  Somi melihat betapa susahnya Haechan saat ini.

"Gausah gw aja."

"Ck, terserah,"

Mereka berjalan terdiam sepanjang jalan, ah tidak. Tepatnya hanya Haechan yang berjalan.

Tak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu, rasanya masih sangat canggung bagi mereka berdua.

"Chan badan gw berat ya?," tanya Somi membuka suara.

"Iya, keberatan dosa."

"Chan, gw masih sabar  untuk gak mukul kepala lo nih!."

"Kasar banget sih lo jadi cewek"

"Haruslah, biar ga keliatan lemah di mata cowo kardus. Kaya lo!,"

"Sejak kapan coba gw jadi tukang ngardus."

"Sejak kelas 11 pas  ada anak baru di kelas kita," ujar Somi malah membuat Haechan tersenyum.

"Oh Lami?," tanya Haechan.

"Hmm."

"Dia mah saudara gw, makanya gw deket,"

"Lah? Kok  ga mirip mukanya!,"  Somi heran, karena jujur menurut Somi si lami tuh cantik banget, ya walaupun baginya masih cantikan diri nya sendiri.

"Kan beda emak bapak pinter."

"Oh iya ya...,"

"Eh tapi btw, lo kok nyadar gw deket sama lami pas kelas 11, padahal anak-anak yang lain aja ga terlalu perduli."

" Oh atau...., lu diem-diem perhatiin gw ya dikelas?,"

"Ih ih ih apaan sih,  ga level perhatiin manusia kaya lo , gw cuma ga sengaja liat kalian berdua," jawab Somi

"Ohh gitu ya..., padahal gw berharapnya lo beneran perhatiin gw Som," gumam Haechan.

"H-hah? Ngomong apa?," tanya Somi yang tak mendengar jelas Ucapan Haechan.

"Ngomong, gak nyangka gw terlahir ganteng banget kaya gini," ujar Haechan selanjutnya dengan nada keras.

"Iyakan saja, biar anak bunda bahagia." Balas Somi.

"Makasih bunda,"

"Iya ayah..., eh?!," kaget Somi saat mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.

"Tuhkan, fix inimah lo beneran suka perhatiin gw di kelas."

"Dih ga sudi gw ngerusak mata  dengan perhatiin lu doang!."

"Lahk! Somi tadi lu misuh-misuh gamau nyariin Haechan, kok sekarang malah gendong-gendongan mesra begitu udah kaya anak monyet." Ujar Siyeon melihat Haechan dan Somi yang sudah sampai di parkiran.

"Kaki gw keseleo anjir,"

"Kisah cinta juleha dan jaenal menyedihkann banget kayanya ." Ujar Giselle.

"Yaudah semuanya masuk langsung aja ke dalam mobil, biar nanti kakinya Somi sekalian diobatin pas perjalanan," ujar Mark dan semuanya menurut.

"Ehh tunggu dulu!."

"Apalagi sih mak lampir," kesal Chenle.

"Pokoknya kalian harus duduk sama pacar kalian ya!. Ini perintah hoho," senyum licik Ningning mulai tergambar di wajahnya.

"Gamau!." Tegas Karina menatap Yangyang.

"Apalagi gw!." Winter menambahkan.

"Gw sih mau-mau aja," ujar Giselle menatap Shotaro, trus dibalas eye smile sama lelaki itu.

Rasanya Giselle mau salto sebentar di tengah tol sebelum jantungnya berhenti berdetak karena senyum Shotaro.

"Yirene juga mau kok!."

"Wony juga mau!!!!."

"Mau juga deh," ujar Lia agak pelan.

"Lu gimana Kak Yeon?," tanya Ningning menatap Siyeon.

"Ah gw?, gw gapapa duduk sama siapa aja," ujar Siyeon yang emang udah pasrah gamau berharap lebih.

"Jawaban lu kaya udah gaada semangat hidup banget Yeon," ujar Ryunjin.

"Emang gaada." Balas Siyeon.

"Yaudah karena lebih banyak yang mau, jadi harus ikutin kata Ningning ya!."

"Renjun adek lu tinggal di tengah-tengah hutan aja deh, biar gak banyak bacot." Kesal Haechan.

"Mending Lo yang ditinggal sono berdua sama Somi. Karena kalian berdua lebih bacot. " ujar Jaemin menarik tangan Ryunjin untuk masuk ke dalam bis.

"Pojok aja ya Ryu,"

"Eh?!. Ngapain di pojok!. Gamau maunya di depan."

"Duduk doang lah bego, emang mau ngapain, kalau di depan khusus anak-anak bocah." Ujar Jaemin dan Ryunjin cuma angguk-angguk paham.

"Gw mau deket jendela!!!," ujar Wony kepada Jisung.

"Gw aja."

"Ih lu mah, gw kan mau liat pemandangan jalanan raya,"

"Itu kan jendela nya kebuka, nanti lu masuk angin." Ujar Jisung lalu membuat Wony diam.

Ini Wony boleh ga sih? meluk Jisung sekarang. Tumben banget nih cowok peka terhadap lingkungan sekitar.

"Yaudah deh karena lu khawatir, jadi gw nurut sama lu Ji,"

"Lele mau duduk dimana?," tanya Yirene

"Terserah."

Yiren berhenti di bangku kedua dari depan "Disini aja ya Le?, biar nanti turun nya gampang."

"Iya,"

"Lele, kamu gamau buat nama panggilan buat aku gitu?, masa aku doang yang bikin nama panggilan buat kamu."

"Alay ah, lu buat nama panggilan Lele, bagus dari mananya coba."

"Bagus tau, itu lucu."

"Lele kan nama ikan, yang hidup nya di empang terus makan tai. Masa lo samain gw kaya gitu."

"Ih le, tapi gak semua tentang ikan lele itu buruk. Walaupun ikan lele hidupnya di empang dan dekat dengan kotoran, tapi dia selalu bersyukur tuh dengan kehidupannya."

"Tapi kan gw ga tinggal di empang,"

"Iya Yiren tau Lele ga tinggal di empang, Lele hidup di keluarga yang berkecukupan,"

" Yiren tuh bangga sama Lele, karena Lele hidup selalu dengan rasa bersyukur, dan ga pernah membeda-bedakan orang lain. Lele juga suka membantu, orang yang lagi kesusahan."

Chenle udah terdiam kagum gabisa ngomong apa-apa saat melihat gadis di sampingnya ini.

"Cici," gumam Chenle.

"Ha?,"

"Nama panggilan lo,"

"Cici?, uwahh lucu banget. "

"alasanya apa kok bisa kepikiran panggil aku lucu begitu,"

"Harus pake alasan segala?,"

"Harus!."

"karena muka lo tuh mirip cici-cici tukang mas di pasar Minggu."

"Ihhh Leleeeeee!!!!."


"Duduk disini gapapa kan Jen?," tanya Siyeon.

"Hmm gapapa,"

Siyeon mengangguk paham, lalu alihin pandanganya ke jendela. Dia gamau ngeliat wajah ganteng Jeno lagi, takut hatinya tambah sakit.

Jeno masih sibuk baca buku  tentang nama-nama para  penemu . Siyeon ngambil airpod nya dan memasangkan di kupingnya.

ya menurutnya emang paling enak tuh, ngeliat pemandangan sambil denger lagu, tapi kali ini dia gamau denger lagu galau, karena takut nangis sendiri pas di samping Jeno.

"Mau denger juga," ujar Jeno mengambil satu airpod di kuping Siyeon.

"Eh? I-iya Jen..,"

Kan kan, hati Siyeon jadi dugun-dugun gak karuan lagi kalau deket-deket sama Jeno.

"L-lo baca apa Jen?," tanya Siyeon, kemudian Jeno nunjukin bukunya.

"Owh lu suka baca buku itu juga ternyata,"

"Lo juga?,"

"Iya, dulu pas Smp seneng banget baca buku penemu-penemu gitu,"

"Sama, gw juga suka semenjak smp,"

"Rata-rata dari mereka punya kisah sedih tersendiri, dibalik ke suksesannya banyak banget bagun dan jatuh yang mereka rasain." Ucap Siyeon.

"Iya, semuanya di awali  dengan proses, gaada orang yang tiba-tiba berhasil dan jadi pinter begitu aja." Ujar Jeno menutup bukunya.

"Tapi lo kayanya pinter dari lahir deh Jen," Jeno tertawa mendengar ucapan Siyeon.

"Semua butuh proses untuk sampai sekarang Yeon."

" Banyak rahasia dibalik diri gw yang selalu di anggap sempurna oleh orang lain."

"Padahal kenyataanya hidup gw gak se sempurna itu," ujar Jeno membuat Siyeon natap lelaki itu.

Siyeon gatau mau ngomong apa lagi, tapi Siyeon yakin 100% kalau Jeno menyembunyikan banyak rahasianya seorang diri selama bertahun-tahun.

"Kuat Jen,"

"lo udah sampai di titik ini, berarti lo udah hebat banget. Gw percaya 100% kalau semua orang di bumi pasti punya kisahnya masing-masing,"

"mereka punya rahasia yang harus selalu mereka tutupin untuk diri nya sendiri."

Siyeon mengambil satu tangan Jeno dan mengenggam tangan kekar lelaki itu.

"Kenyataan nya ga semua hal yang dilihat sempurna, ternyata benar-benar sempurna kan?, manusia itu tempatnya salah dan dosa, semua manusia gaada yang sempurna."

"Jangan terlalu mikirin bagaimana lu harus jadi sempurna di mata orang, karena kalau selamanya kita ikutin kata orang lain, kita ga akan merasa bahagia untuk diri kita sendiri Jen."

"Kalau orang itu adalah kedua  orang tua gw gimana Yeon?, apa gw juga boleh untuk ga dengerin kata-kata  mereka ?."

Perjalanan mereka sampai rumah masih lama banget, jadi banyak yang dari mereka memilih tidur selama perjalanan.

Tapi ada juga yang masih sibuk ribut rebutan bantal kaya sih Sungchan sama Winter. Ada juga yang lagi sibuk itungin jumlah skinkernya karena takut ketinggalan, ya siapa lagi kalau bukan pacarnya Jisung si Wony.

"Yang lo ga ngantuk?," tanya Karina ke Yangyang.

"Enggak, kenapa?"

"Bangunin gw kalau udah sampe,"

"Iya tenang nanti gw gak bangunin," Karina natap tajam Yangyang.

"Iya iya..., nanti gw bangunin elah, biasa aja dong matanya, nanti keluar loh,"

"Berisik!."

Yangyang pasang airpod di telinganya sembari ngeliatin jalan dan nikmatin udara.

Di sisi lain Karina masih tidur dengan posisi duduknya, jujur ini susah banget kalau lagi tidur di bus, karena pas ngerem nanti badanya bisa aja nabrak bangku depan.

Dukkk

"Pfttt haha" Yangyang ketawa liat pala Karina yang kebentur bangku depan pas bus lagi ngerem mendadak.

"Awww," rintih Karina mengusap jidatnya. "Jahat lo." Kesal Karina liat Yangyang ketawa.

"Sini," Yangyang nepuk-nepuk bahunya.

"Ngapain?,"

"Tidur di bahu gw, jangan geer ini cuma karena gw kasian sama lo, jadi gapapa gw pinjemin bahu berharga gw sebentar."

"Ogah, mending gw tidur kaya gini," Karina balik duduk dengan tenang dan memejamkan matanya.

Yangyang menggedikan bahunya "Terserah deh,"

Ini bus emang dari tadi jalannya kurang jelas, rem mendadak, ngegas mendadak, penumpang nya kan jadi kesel sendiri.

Yangyang liatin Karina yang masih tidur tenang, padahal badannya oleng dari tadi. Lelaki itu tersenyum "cantik" gumam nya .

Sedetik kemudian Yangyang sadar, ngatain dirinya sendiri. Kayanya dia hari ini lupa minum obat, sampai bisa-bisanya puji mak lampir kaya Si Karina.

"Ada ya cewe keras kepala kaya lo," gumamnya lagi.

Dengan rasa kasiannya, dan juga rasa baik hatinya, akhirnya Yangyang ambil pelan kepala Karina, dan menidurkan kepala gadis itu di bahunya.

"Jangan keras kepala Rin, nanti gw makin suka."

 ©nanayyyg_




Ig Cr: @jenrinalee

Apa ada yang satu kapal dengan saya?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co