Truyen3h.Co

Dare or Dare

Munafik

nanayyyg_

guys disini bahasanya campur2 ya , ada yang baku sama non baku hehe hehe

Dare or Dare

"Yeon," Somi memanggil Siyeon yang masih terdiam di tempat duduknya. "Yeon..., Jangan gitu Yeon. Kita bisa minta penjelasan Karina, belum tentu yang kita lihat tadi bener kan?,"

"Tapi Lo liat sendiri kan Som?, Lu liat tadi mereka pelukan, bukan cuma Karina tapi Jeno juga balas pelukan itu Som..."

"Yeon tapi kan..."

"Kalau kaya gini kenyataanya, gw jadi paham kenapa Jeno kemarin suruh gw untuk menjauh dan hilangin perasaan ini."

"Yeon ... Jangan ngomong gitu."

"Emang gitu kenyataanya Som. Gw benci Jeno! Gw benci dia!" Siyeon menunduk menutup mukanya kemudian  menangis deras.

Kelas yang tadinya sepi sunyi kini hanya diisi tangisan Siyeon yang sangat pilu. Hati Siyeon sakit, rasanya seperti tertusuk dari belakang ketika melihat sahabatnya berpelukan dengan orang yang ia cintai.

Dare or Dare

"Eh guys, btw ini si mba Karina sama mas Jeno kemana ya? Kayanya dari kemarin ngilangnya barengan terus." Celetuk Haechan.

"Eh Boneng kalau ngomong tuh liat situasi dan kondisi dong," ujar Lia yang paham akan raut wajah Siyeon.

Layaknya hari biasa, mereka selalu berkumpul setelah pulang sekolah. Entah hanya bermain atau juga belajar bersama ketika mendekati hari ujian. "Yang," panggil Jaemin.

"Ayolah jangan galau-galau begini. Tuh liat anak monyet udah siap ngajakin ngadu ikan cupang." Ujar Jaemin berusaha menghibur Yangyang.

"Yeu bang, sori-sori nih, gw mainnya bukan ikang cupang, " balas Sungchan.

"Ikan apa dong?," Tanya Taro.

"Ikannot live with you in my life," ujar Sungchan menatap Winter.

"Yeu si Bambang ngerdus Mulu." Kesal Giselle yang udah mau nimpuk Sungchan pake sepatu mahal Chenle.

"Sabar kawan-kawan harap sabar..." Jawab Haechan. "Mending ngadu ayam sama gw deh,"

"Ayam apaan nih bang?," Tanya Ji-Sung.

"Ayam falling in love with you," baru tadi mereka tenang dengan jiwa kardus Sungchan, eh ini si Haechan malah ikut-ikutan.

Plak

"Akhirnya jiwa gw tenang, setelah nimpuk orang pakai sepatu," Giselle merapihkan rambutnya.

"Yah Boneng, pala lu benjol neng," ujar Ryujin terus ngakak sekebon.

"Wah butuh tindakan lebih lanjut nih!. Ayang ayo kita ke rumah sakit," ujar Somi yang udah aba-aba mau seret Haechan ke rumah sakit.

Semua pada ketawa banget liat kelakuan satu sama lain yang gaada habisnya. "Le, mereka lucu ya..." Ujar Yiren masih ketawa ngakak.

"Lo lebih lucu Ci," tuhkan Chenle, anak orang jadi salting. Hayoloh Chenle hayoloh. "Gemesh banget sih mukanya jadi merah gitu."

"Mamiಥ‿ಥ jantung anakmu kayanya gak sehat mih,"

"Hai guys, maaf banget gw telat. "Karina dateng buat suasana yang tadinya ramai kini jadi sepi banget. "Eh iya Kak Rin gapapa," balas Ningning.

"Duduk dulu Rin," dengan arahan gisell Karina langsung mendirikan dirinya di bangku kosong samping Siyeon.

"Som, gw mau ke belakang dulu ya," ujar Siyeon, yang Karina udah paham banget kalau Siyeon kaya gini pasti dia lagi marah sama seseorang.

"Iya Yeon..."

"Siyeon kenapa?" Tanya Karina namun gak ada satupun yang bisa menjawab termasuk Somi yang mengetahui tentang apa yang telah terjadi.

"Selle, Som, gw mau kebelakang." Balas Karina dengan cepet dia hampirin Siyeon.

"Yeon ..." Panggil Karina. "Lo kenapa? Lagi badmood Yeon? Yeon .... Kenapa? Lo bisa cerita ke gw."

Siyeon bukan nya jawab malah ketawa. "Hahaha lucu ya Rin hidup gw,"

"Maksudnya?, Gw gak ngerti Yeon. Jelasin ke gw, ini Lo kenapa? Atau karena Jeno ya?" Siyeon menggeleng. "Munafik juga ya Lo Rin."

Hati Karina sakit, "maksud Lo apa? Yeon cerita ke gw... Gw gak paham,"

"Hahahah lucu banget. Seru tau Rin, permainan Lo seru banget."

"Yeon.... Jelasin ke gw,"

"Diam! Mending Lo pergi Rin, gw gak mau ngeliat muka Lo. Gw.... Gw sakit Rin, gw capek di permainkan kaya gini," Siyeon meneteskan air matanya.

"Yeon, gw kenapa? Apa salah gw Yeon? Tolong kasih tau." Karina berusaha mendekatkan dirinya ke Siyeon.

"Menjauh dari gw Rin! Udah cukup! Jangan pura-pura bego. Cukup gw yang bego karena udah Lo bodohi,"

"Pergi sana Rin, pergi dan ambil Jeno sesuka Lo! Emang seharusnya sejak awal gw harus tau diri ya, bahwa gw gak pantas untuk bersanding dengan Jeno hahahha."

"Yeon... Lo salah paham, gw bisa jelas—,"

"Gak ada yang perlu di jelasin lagi Rin, yang gw lihat udah menjelaskan semuanya."

"Yeon. Gw gak gitu—,"

"Gw benci! Gw benci Lo dan Jeno!" Karina ikut meneteskan air matanya.

"Yeon... G-gw bisa jelasin...."

"Pergi Rina! Pergi! Udah cukup, hati gw udah terlalu sakit..."

"Yeon... Maaf..." Setelahnya Karina pergi, pergi menjauh dari rumah Chenle dengan deras air matanya.

Dare or Dare

Flashback

Kakinya bergerak cepat menghampiri lelaki yang tengah sibuk futsal nya di lapangan. kedatangan gadis itu memberhentikan kegiatan semua orang. Dengan segera gadis itu menarik tangan sang lelaki, membawanya jauh dari tempat itu. 

"Apasih?!" Gertak sang lelaki.

"Lo apain Siyeon! Lo ngomong apa ke dia!."

Lelaki itu dengan kasar melepaskan tangannya. "Lo gak perlu tau!"

"Gw berhak tau. Gw temennya!"

"Lo bisa diem gak sih?! Gw akan ngelakuin hal yang benar menurut gw! Lo urus hidup lo sendiri, dan jangan ikut campur dengan urusan hidup gw!"

"Tapi yang menurut lo bener, belum tentu menurut orang lain bener Jen!" Karina kembali menarik tangan Jeno. "Gw udah bilang ke lo, kita harus selesaiin semua ini secara perlahan biar gak terlalu menyakitkan mereka. Semua bisa di selesaikan secara baik-baik."

"Okay salahin gw! salahin aja gw!  Gw bernafas  juga sebuah kesalahan kan!" Jeno yang masih lelah dan rumit akan isi kepalanya kini ia makin membuat emosi nya meningkat. "Gw capek Rin!"

"Jen...,"

"Kita emang dijodohin, tapi gw udah bilang sebelumnya, urusin semua urusan lo, dan jangan ikut campur urusan gw. Gw suruh Siyeon untuk menjauh dari gw biar dia gak merasakan sakit lebih jauh rin, gw gak mau jadi cowok yang lebih bajingan dari ini."

"Jen... maafin gw. "

"Lo gak perlu minta maaf, ini semua udah terjadi Rin, takdir yang bahkan kita berdua gak pernah mau, takdir yang hanya terjadi karena arahan orang tua kita." 

"Jen..." Karina meneteskan air matanya. Jujur dari lubuk hatinya Karina juga tidak setuju dengan perjodohan ini, apalagi mengingat hati mereka berdua telah dimiliki orang lain, ini  terlalu sulit untuk mereka.

melihat Karina yang menangis, perlahan Jeno mendekat dan memeluk tubuh Karina. "udah Rin..."

"Gw juga capek Jen... gw takut, " 

Dare or Dare

Maaf guys, gak pandai membuat konflik:')

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co