Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

11

authoriya

            DIA bukannya tidak memerhatikan. Berulang kali matanya melirik pada wanita yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya yang terlihat begitu gelisah itu. Myungsoo jadi ikutan gelisah, pikirannya mulai dipenuhi dengan praduga-praduga yang tak jelas. Bagaimana kalau ternyata seseorang yang ada di rumah sakit ini adalah... suami Suzy?

Tidak.

Na jelas dan tentu saja sudah tahu dan memberitahunya jika wanita cantik di sampingnya ini sudah punya suami. Dan... tidak mungkin Suzy membuka jasa sebagai kekasih sewaan seperti ini.

Yang satu itu jelas bukan.

Myungsoo menoleh sekali lagi saat terdengar helaan napas dari wanita di sebelahnya. Kali ini mobil yang dikendarainya sedang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Entah kenapa jalanan Seoul hari ini mendadak ramai dan macet, mungkin karena ini weekend. Semua orang memutuskan untuk bepergian dengan keluarga atau orang terkasih mereka, menghabiskan waktu hingga petang. Seperti yang sedang ia lakukan.

"Jalanan begitu macet, tidak biasanya." Suara Suzy terdengar. Sepertinya keheningan yang sekarang hadir memang harus dihilangkan.

Myungsoo mengangguk. "Semua orang memilih untuk keluar saat weekend."

"Mm," Suzy mengangguk. Lalu, menoleh kepada Myungsoo dan Ella dengan bergantian. "Maafkan aku karena merusak hari ini."

"Tidak, Suzy. Kau tidak merusaknya."

"Benar. Eomma jangan khawatir, aku sebenarnya sudah lelah dan ingin pulang," karena crush-ku juga sudah akan pulang... tambah Ella dalam hati.

"Padahal masih ada permainan yang belum kau coba..."

"Tidak apa-apa, Ibu." Ella tersenyum. "Kita bisa melakukan hal ini berulang kali tiap weekend, bukan?"

Suzy terbatuk. Lalu, tersenyum sedikit dipaksakan. Dia bahkan tidak yakin soal ini, sepertinya ada kesalahan di sini. Myungsoo dan dirinya harus mulai membahas soal yang satu ini. Karena Suzy sama sekali tidak menginginkan jika Ella terluka akibat kebohongan yang telah mereka lakukan.

Tidak... dia bahkan tidak tega.

"Ng... Myungsoo?" panggil Suzy dengan suara pelan. Mencoba agar Ella di bangku belakang tidak mencuri dengar.

"Ya?" Myungsoo melirik sebentar, sebelum fokus kembali menyetir saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau. Mengikuti mobil di depannya yang sudah mulai melaju satu persatu.

"Kurasa kita perlu membahas sesuatu nanti. Bagaimana kalau Ella diantar ke rumah orang tua-mu dulu?"

Myungsoo melirik melalui rare-mirror melihat Ella yang sedang menatap keluar dengan telinga tersumpal airpods. Lalu, menatap Suzy. "Siapa yang akan kau temui di Rumah Sakit?"

"Oh?" Suzy mengerjap. Tidak mengira jika pertanyaannya malah dibalas pertanyaan lain. Suzy memainkan kuku tangannya dengan gelisah, menghitung sampai tiga—apakah dia perlu memberitahu soal ini atau tidak—dan akhirnya memutuskan. "Jimin."

"Siapa?" ada ketegangan dalam suara Myungsoo. Dan Suzy dapat merasakannya, namun karena bingung kenapa, Suzy mencoba mengabaikan.

Kepala Suzy menunduk. Pertanyaan ini jelas teramat sangat berat, dia bahkan tidak tahu status Jimin sekarang ada di mana.

Teman kah?

Kekasih kah?

Atau... hanya seseorang yang ia kenal?

"Dia..."

"Baiklah, aku mengerti. Lain kali kita bahas soal yang kau ingin bahas itu." Myungsoo tersenyum. Memotong kalimat Suzy dengan cepat. Sejujurnya dia bahkan tidak kuat jika harus mendengar itu dari mulut Suzy langsung. Sial, seharusnya dia tahu jika Suzy sudah punya kekasih.

Kenapa dia begitu percaya diri kalau Suzy sedang sendiri? suatu hal yang mustahil jika wanita secantik Suzy yang bahkan sudah matang di segala hal berstatus single. Setidaknya, semua laki-laki jelas akan kelaparan melihat dewi secantik ini di depan mereka.

"Tidak sekarang saja? aku tidak akan lama...mungkin. Jimin memang sering kena serangan, aku yakin dia kuat."

Myungsoo benar-benar penasaran laki-laki brengsek nan beruntung mana yang bisa mendapatkan hati Suzy?

Sialan, kenapa dia terlambat...

"Aku tidak bisa. Aku lupa kalau kakek memintaku menemaninya bermain catur sore ini."

"Mendadak?"

"Tidak," Myungsoo mencoba tersenyum senatural mungkin. "sudah lama. Tapi, karena tahu hari ini kita akan pergi, aku memberitahu kakek kalau aku tidak bisa menemaninya main catur. Dia terlihat sedih, kau tahu orang sudah tua mudah sekali tersinggung dan sedih hatinya..."

"Aku sangat mengerti," Suzy mengangguk paham. Ia ingat almarhum kakeknya juga seperti itu dulu. Suzy lantas menambahkan, "Baiklah, kalau begitu kau bisa menurunkanku di depan pintu masuk saja. tidak usah sampai dalam."

"Tidak, aku tetap akan mengantarmu sampai dalam, Suzy." Myungsoo bersikeras.

Suzy menghela napas, tahu kalau berdebat dengan Myungsoo soal yang ini ia tidak akan menang. Setelah palang Rumah Sakit terlihat, mobil hitam itu melaju masuk ke dalam dan berhenti di parkiran. Suzy melepas safetybelt-nya, dan menyerongkan tubuhnya. ditatapnya Ella di bangku belakang—yang juga sudah bersiap-siap turun, namun kini melengos karena Myungsoo mengatakan kalau mereka tidak ikut masuk—dengan wajah menyesal. "Kita berpisah sampai sini hari ini, okay?"

Ella mengangguk dengan wajah sedih. "Memangnya siapa yang ada di dalam hingga eomma harus menjenguknya?"

"Teman."

"Lalu, kenapa kita tidak ikut menjenguknya juga, ayah?" Ella bertanya, berharap agar ayahnya mau mengubah keputusan. Dia benar-benar masih ingin menghabiskan waktu dengan ibu-nya satu ini. mereka bahkan belum sempat berfoto tadi! astaga, bagaimana caranya untuk pamer dengan Eunbi besok di sekolah? Kenapa juga Ella lupa kalau mereka harus berfoto di photobooth, ini semua karena main arum jeram! Dasar arum jeram menyebalkan!

"Kita harus ke rumah besar. Kau tidak rindu nenek?"

"Tidak sama sekali." Ella menggeleng. "Aku sesungguhnya bosan berteman dengan orang tua, ayah. Aku bisa-bisa cepat tua." Ella mengembuskan napas. lalu menatap Suzy, "Eomma, bisakah aku ikut eomma saja?"

"Ella." tegur Myungsoo.

"Tsk!" Ella berdecak cemberut, lalu menghempaskan punggung di kursi. "Baiklah, baiklah. Aku mengalah. Aku tidak akan merengek seperti anak kecil."

"Kita pasti akan bertemu lagi, sayang." Suzy menggenggam tangan Ella dengan sayang. "Jadi anak yang penurut dan tidak mudah marah, okay?"

"Akan aku usahakan, eomma. Bagaimana aku tidak pemarah jika di Bumi ini isinya orang-orang menyebalkan kecuali keluarga Watermart dan eomma."

Suzy melirik Myungsoo setengah meringis. Laki-laki itu mengangguk memberikan isyarat.

"Terima kasih. Beritahu aku ketika kalian sudah sampai di rumah ya?" ucap Suzy setelah turun.

Myungsoo mengangguk. Menunggu hingga tubuh wanita itu menghilang di balik pintu, barulah ia mengendarai mobilnya keluar dari lingkungan Rumah Sakit itu. Dengan pikiran dan perasaan yang menghantui, Myungsoo berusaha agar dirinya tetap fokus menyetir.

***

Suzy langkah melewati koridor yang sudah sangat ia hafal itu dan langsung membuka pintu salah satu ruangan.

"Sus, apa yang—astaga!" kedua tangannya langsung menutup mulut. Melihat apa yang kini memenuhi indera penglihatannya itu.

"Jimin!" dengan cepat Suzy melangkah mendekat, air matanya turun seraya terus meyakinkan diri bahwa apa yang sedang dia lihat sekarang adalah suatu hal yang nyata. "Ini sungguh Jimin?"

Meskipun lemah, Jimin tersenyum.

"Dia belum bisa bicara sepenuhnya. Tapi, dia benar-benar Jimin, Suzy. Ini sungguhan."

"Aku tidak percaya..." tangis Suzy pecah, seolah beban yang selama ini memeluknya hingga sesak itu perlahan terangkat. "Aku senang sekali hingga menangis." ucapnya sambil menatap Jimin.

Kedua mata Jimin berair, lalu ikut menangis.

"Kenapa Suster tadi bicara seperti itu di telepon?"

"Agar kau panik," Suster tertawa renyah. "Maafkan aku ya. Aku ingin kau melihatnya secara langsung, makanya aku tidak langsung memberitahumu tadi."

"Astaga..." Suzy mengusap pipinya yang basah. Ditatapnya kembali Jimin dengan senang. "Kau berhasil melewati masa sulit. Aku lega kau akhirnya bangun."

"Terima kasih..." ucap Jimin tanpa suara.

Suzy mengangguk.

"Lalu, sekarang bagaimana, sus?"

"Jimin mungkin akan melakukan beberapa terapi jalan dan bicara. Nanti dokter akan kembali ke sini untuk memeriksa, dan membahas hal-hal lebih lanjut denganmu."

"Terima kasih, suster."

"Ya. Ingat pesanku, letakkan kebahagiaanmu diatas segalanya. Mengerti?" ucap suster itu sambil memeluk Suzy dengan kasih.

Suzy mengangguk dan menjawab lirih. "Akan aku ingat..."

***
Setiap orang yang komen dan vote boleh baca next chap-nya

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co