Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

2

authoriya

MATAHARI di langit sedang bersinar terang-terangnya saat Suzy melangkah keluar gedung apartemennya. Hari ini dia tidak menggunakan mobilnya karena satu dan lain hal. Sebenarnya kalau boleh jujur, Suzy memang lebih menikmati duduk di bangku paling belakang dalam busway yang akan mengantarnya sampai ke tujuan.

Tadi Soojung menelepon agar Suzy datang ke rumahnya, katanya mendesak, tidak bisa dibicarakan ditelepon, dan ia tidak bisa datang ke Apartemen Suzy karena keponakannya ada di rumahnya. Saat Soojung bicara soal keponakan, Suzy jelas tahu kalau yang dimaksud Soojung adalah Bian. Jung Bian, lebih tepatnya. Cucu pertama keluarga Jung yang...sungguh berjiwa ekstrovert. Tidak ada lelahnya, suka berkeliling kemana pun dan membuat darah tinggi—ini menurut Soojung.

Tapi, untuk apa kakaknya Soojung sampai terbang ke Seoul segala? Suzy tahu kalau kakaknya itu tinggal menetap di Jepang bersama anak dan istrinya. Soojung pernah mengatakan kalau Na Oppa memiliki jadwal tersendiri untuk pulang ke Korea Selatan. Adapun hal-hal mendesak dapat dipertimbangkan.

Pandangan Suzy menerawang menatap pejalan kaki yang terlihat sekelibat, lalu mengambil ponsel dan headset-nya, kemudian memilih membawa pikirannya masuk ke dalam lagu-lagu pada playlistnya. Warga di sini lebih memilih untuk tenggelam dalam jalan mereka masing-masing ketimbang sok akrab pada orang asing yang duduk di samping mereka. Begitu pula dengan Suzy.

***

"Aunty Suzy!" sapaan riang terdengar saat pelayan di rumah itu membukakan pintu untuk Suzy.

Suzy memandangi seorang anak laki-laki yang kini sedang berlari menghampirinya dengan senyuman di bibir dan di kedua matanya. Suzy balas tersenyum, membawa tungkainya maju dua langkah sebelum menumpukan lututnya pada lantai kayu di bawahnya sambil merentangkan tangan.

"Hai, sayang!" sapa Suzy saat tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya.

"Bian rindu aunty banyak-banyak!" ucapnya sambil mengeratkan pelukan pada leher Suzy.

"Aku juga." Suzy mengelus puncak kepala Bian dengan lembut. Kedua matanya mendapati Soojung sedang berdiri dengan tangan dilipat di depan dada, menggelengkan kepalanya seraya melangkah mendekat.

"Bian, aku cemburu tahu?" ucap Soojung pura-pura marah. "Aunty Jung saja tidak kau peluk sambil bilang rindu tadi malam."

"Sejujurnya aku memang tidak rindu dengan aunty Jung." jawabnya dengan ekspresi polos.

"Astaga, dia sama sekali persis ayahnya. Aku heran." Soojung geleng-geleng. Lalu, kembali menatap Suzy. "Ayo, kita ke taman belakang. Waktunya Bian berenang."

"Asik!" anak kecil itu langsung lompat-lompat kesenangan. Tanpa menunggu lama, Bian langsung berlari menuju taman belakang sambil berteriak minta diambilkan kacamata renang.

"Memangnya aku ini ahjumma-nya apa." gerutu Soojung saat mendengar teriakan sang keponakan.

"Well, kau memang ahjumma-nya kan?" Suzy menahan tawanya.

"Yeah, tapi tentu saja dalam konotasi yang berbeda." Soojung memutar bola mata, lalu membawa pandangan pada salah satu ART di rumahnya dan menyuruh bibi itu untuk mengambilkan kacamata renang di etalase, tak lupa memintanya untuk membawakan beberapa kudapan dan minuman dingin juga ke taman belakang.

***

"Kau tidak menyuruhku ke rumahmu hanya untuk melihati Bian berenang 'kan, Jung?" ucap Suzy saat tiga puluh menit waktu telah terlewat. Kedua matanya yang sejak tadi melihat ke arah Bian—yang sibuk berenang dari ujung ke ujung—berpaling menatap Soojung yang juga sedang melakukan hal yang sama—menatap keponakannya.

Soojung menoleh, meletakkan gelas berisi jus jeruk ke atas meja yang ada di antara mereka. Seolah lupa tentang apa yang membuatnya meminta Suzy datang kemari, Soojung menepuk dahi pelan. "Astaga, maaf aku sampai lupa!"

"Jadi?"

"Begini... sebentar." Soojung menggerakan satu tangannya ke depan, lalu berdiri. "Aku ke kamar dulu mengambil sesuatu." katanya yang memang tidak menunggu jawaban karena ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah melalui pintu geser kaca di sebelah kanan mereka.

Tak lama, Soojung sudah kembali dengan ponsel dan sebuah kertas dalam genggamannya. Wanita itu kembali duduk, lalu memberikan kertas itu kepada Suzy.

"Klien baru." infonya.

Suzy mengambil kertas itu dan membaca sebuah riwayat hidup bersifat general di sana. kolom foto tidak ditempel, membuat Suzy mengerutkan dahi. "Fotonya tidak ada?"

"Na Oppa bilang cari saja di situs pencarian." jelas Soojung, lalu sibuk menekan ponselnya sebelum menyodorkan ponsel itu kepada Suzy. "Dan aku sudah mencarinya. Lihat, lihat, kau pasti terkejut!"

Suzy mengamati dengan serius seorang laki-laki yang gambarnya kini memenuhi layar ponsel Soojung itu. Menunggu dirinya agar terkejut seperti apa yang dikatakan Soojung barusan, tapi setelah beberapa saat terlewat ia sama sekali tidak terkejut. Pandangannya lalu beralih menatap Soojung. "Siapa dia?"

"Serius kau tidak tahu?"

Suzy menggeleng.

"Astaga!" Soojung mengurut keningnya. "Temanku benar-benar sudah hilang dari dunia ini, bagaimana bisa kau tidak tahu Myungsoo?"

"Dia artis?" tanya Suzy. Menduga-duga seberapa terkenalnya laki-laki ini sampai-sampai Soojung kelihatan frustasi saat dia bilang kalau dia tidak kenal orang itu.

Sejak sibuk bekerja dan mengurusi Jimin di Rumah Sakit, boleh dibilang kalau Suzy memang kehilangan dunia-nya. Dia sama sekali lupa caranya bahagia, entah lah, mungkin apa yang dikatakan Soojung waktu itu memang ada benarnya. Sepertinya, Jimin memang sudah menyita dunianya dalam sekejap.

"Uncle Myungsoo itu teman Ayah." Ucap Bian yang tahu-tahu sudah berada di pinggiran kolam renang. Kedua tangannya melipat di tepian kolam, sedangkan kacamata renangnya sudah nangkring di atas kepala.

Kedua wanita itu sontak menoleh. Tidak menyangka kalau Bian sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka. Soojung buru-buru mengangguk. "Benar, dia teman kakakku. Tapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah dia kakak tingkat kita yang populer itu."

"Kakak tingkat?" Suzy semakin bingung. Seingatnya, dia sama sekali tidak pernah mengetahui atau mengenal orang bernama Myungsoo itu. "Di Universitas maksudmu?"

"Tentu saja, Suzy. Augh, kita bahkan tidak satu SMA."

Benar.

"Kau masih tidak tahu?" tanya Soojung. Berpikir untuk memaki, bagaimana sahabatnya itu sama sekali tidak tahu orang itu. Padahal Myungsoo adalah teman mantan gebetannya Soojung saat sebelum ia berpaling dan menemukan pujaan hatinya.

Dengan berat hati Suzy menggeleng. Saat menemukan kalau Soojung mungkin akan memakannya, Suzy buru-buru berkata. "Baiklah, anggap saja aku tahu dia. Jadi?"

"Dia ingin memakai jasamu."

"Apa?"

Soojung tersenyum lebar. "Kau tahu kenapa Na Oppa dan keluarganya datang ke Seoul padahal belum jadwalnya?"

"Karena Ayah ingin pergi ke acara pernikahan terbesar tahun ini."

Soojung berdecak, menyuruh Bian untuk diam dan kembali berenang saja. Si kecil itu cemberut, tapi langsung menurut. Soojung kembali menatap Suzy. "Bian benar. Tapi, intinya kenapa dia ingin memakai jasamu adalah karena kakeknya usil sekali."

"Bernyanyi minta cucu?"

Soojung mengangguk. "Tepat sekali!"

"Lalu, tugasku? Kau tahu aku pekerjaannya seringnya menjadi selingkuhan bayaran dan teman kondangan, terkadang."

"Nah sekarang kau di minta untuk menjadi kekasih bayaran. Kau tidak perlu mendapatkan tamparan atau siraman air, tapi kau dibayar mahal! Oh my god, kalau aku kosong, aku jelas ingin memaksakan diri untuk jadi kekasihnya sungguhan." ucap Soojung menggebu.

"Sepanjang acara itu saja 'kan?"

"Entahlah, kakakku bilang kalau kau setuju dia akan merencanakan pertemuan kalian—maksudku Myungsoo dan kau. Bagaimana?"

"Baiklah. Beritahu aku saja nanti dimana kami harus bertemu."

"Asik! Aku akan ikut nanti. Tenang saja!" balas Soojung riang.

***
Kurang lho kemarin votenya. -8 tambah disini deh. Hehehe

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co