Truyen3h.Co

JENO!

Prolog

authoriya



SENYUMAN Fira mengembang, dress berwarna nude yang ia kenakan malam ini benar-benar membuatnya semakin terlihat menawan. Hari ini adalah hari yang spesial, bukan baginya, melainkan bagi pasangan pengantin yang baru saja selesai mengucapkan janji suci pernikahan. Dengan jabatan tangan dan diawali dengan Bismillah, dalam satu napas panjang sebuah ijab telah merubah status seseorang. Cepat dan tepat.

Setelah yakin kalau penampilannya sudah sempurna, Fira buru-buru memesan taksi online untuk menjemputnya. Kalau masalah pulang nanti, bisa diatur. Dia bisa nebeng satu dari tiga sahabatnya di SMA yang sampai sekarang masih keep in touch meskipun sudah jarang ketemu. Bahkan, salah satu ada yang sudah ganti domisili.

Setelah menunggu sekitar tujuh menit, taksi online yang dipesan Fira sampai di depan gang rumahnya. Karena ukuran gang itu yang lumayan sempit dan susah buat cari tempat muter kecuali nebeng ke halaman rumah tetangga, Fira sudah mewanti-wanti agar sopir taksi online yang ia pesan berhenti saja tepat di muka gang. Lalu, dia akan keluar.

Yang punya taksi online itu menurut.

"Ke Gedung Krakatau ya, kak?" tanya si sopir taksi online itu saat Fira sudah masuk ke dalam taksinya.

"Iya, mas." Fira mengangguk, sambil membenarkan duduk agar dress yang dikenakannya nggak kusut.

Nggak lama, taksi online itu sudah melesat dan bergabung dengan puluhan mobil lainnya yang memadati jalan raya. Menuju Gedung tempat diselenggarakannya pesta pernikahan seorang teman lama itu.

Ini memang bukan undangan pecah telor diantara teman sekelas Fira dulu di SMA. Beberapa teman SMA-nya dulu sudah banyak yang berumah tangga, beberapa menyebar undangan, beberapa hanya diam tak memberi kabar. Tapi, masalahnya, hari ini tuh rasanya beda. Karena ini adalah undangan dari cowok yang... pernah jadi spesial. Dulu. Sekarang sudah nggak.

Seperti kutipan dari banyak quote yang beredar di lini masa, kalau sejatinya, hubungan itu hanya punya dua akhir. Kesatu, berakhir di pelaminan. Kedua, berakhir jadi tamu undangan.

Dan Fira sedang ada diantara kedua ending itu sekarang. Taksi online itu sedang membawanya menuju pelepasan yang paling tinggi. Sebuah taraf yang benar-benar perlu dilupakan. Jika sebelumnya, dalam lamunannya di sore hari atau tengah malam, masih bisa membayangkan "Gimana ya kalo misalnya dia tuh jodoh gue? Kalo kami balik lagi kayak dulu?", tapi, mulai sekarang sudah nggak bisa.

Seseorang itu sudah jadi milik orang lain. Dan rasanya dosa banget kalo masih mikirin mantan. Walaupun Fira sama sekali nggak pernah ada niatan pengin balikan. Tapi, tetap saja, kisah cintanya dulu bersama Jeno benar-benar sulit dihilangkan. Ibaratnya, memori itu menetap, selalu ada di dalam ingatan dan nggak akan pernah bisa hilang.

"Firaaaa!" seruan Tata terdengar sayup dari kejauhan saat Fira baru saja turun dari taksi online yang mengantarnya.

Fira menutup pintu taksi online itu setelah mengucapkan terima kasih—sudah bayar menggunakan e-money—lalu, menoleh ke sumber suara. Nggak jauh dari tempatnya berdiri, sudah ada Tata dan Kia yang sedang melambai-lambai ke arahnya. Fira tersenyum, lantas membawa tungkainya melangkah mendekat ke kedua sahabatnya itu.

"Gila ya, satu domisili aja susah bener kita mau ketemu." Ucap Fira saat sudah berada dalam jarak sentuh dari dua sahabatnya itu.

"Parah!" Kia mengangguk, menyetujui. "Dulu waktu kuliah, padahal gue di luar kota, pas libur masih bisa tuh ketemuan."

"Beda kali, sis." Respons Tata setengah tertawa. "Dulu kan kita nggak mikirin cicilan."

Ketiganya langsung terkikik geli. Omongan Tata memang benar, sekarang tuh sibuk mengabdi pada kerjaan. Kerja, kerja, kerja, tau-tau dah tipes aja pokoknya.

Perputaran waktu cepat banget, mau kumpul di hari minggu pun rasanya sudah malas gerak, maunya rebahan aja karena sudah capek enam hari kerja full time. Ya, walaupun Fira yang seorang banker jam kerja-nya lebih teratur. Sabtu-minggu dia jelas libur. Tapi, lemburnya itu kadang sampai jam sembilan malam kalau lagi audit.

Ketiganya lantas berjalan memasuki gedung itu, lalu mencari tempat duduk sesuai arahan seorang cowok dengan pakaian seragam seperti beberapa orang yang mereka lihat juga. Pasti tim WO.

Fira, Tata, dan Kia mengambil tempat di salah satu meja bundar putih yang kosong. Terdapat empat bangku di sana dan semuanya masih kosong. Fira meletakkan tas tangannya diatas meja tersebut, lalu menatap ke sekeliling. Siapa tahu melihat teman-teman sekelasnya dulu. Atau, teman satu sekolah yang dia kenal. Tata dan Kia melakukan hal yang sama.

"Fir, gimana perasaan lo?" tanya Kia. Pertanyaan yang nggak perlu dijawab sebenarnya, karena tu anak udah nanyain pertanyaan itu sejak foto lamaran Jeno dan tunangannya—sekarang istrinya—nongol di feed Instagram. Bikin kaget, karena dari sekian banyak cowok di kelas mereka dulu, kenapa Jeno duluan yang nikah. Bukannya apa, tapi... ini Jeno. Jeno si playboy cap kunyuk yang sempat bucin sama satu cewek, yang lebih suka nyapu lapangan daripada disuruh belajar. Jago futsal, dan jadi idola di kalangan adik kelas dulu.

"Gimana, apanya?"

"Kia mulai lagi..." Tata geleng-geleng.

"Gue penasaran aja Ta, apa rasanya ditinggal mantan nikah." Kia nyengir ke Tata dan Fira. "Sakit atau kosong gitu?"

"Nggak ada akhlaknya bener lu ye," Fira menggerutu. Cewek itu mengeluarkan ponselnya dan memberi rating untuk taksi onlinenya tadi. Sambil tetap menghadap ke ponsel, Fira kembali bicara. "Nggak kerasa apa-apa, aneh aja, dikit, tapi ya gue ikut seneng gitu."

"Nggak kesel?"

"Kesel kenapa coba?" Fira mendongak, menatap heran. Kedua tangannya masih pegang ponsel.

"Kesel kayak, "Kok mantan nikah duluan ya daripada gue." Gitu, Fir." Ujarnya

"Bangcat!" Fira mengumpat.

Ketiganya lalu tertawa. Tawa itu hilang saat melihat pengantin mulai masuk melewati karpet merah yang digelar menuju pelaminan. Jeno nampak tersenyum, begitu juga pengantin wanitanya. Fira ingat namanya Bella. Nggak tahu anak mana, mungkin teman satu kantornya, atau mungkin nemu di tinder. Entahlah.

Melihat Jeno setelah... terakhir dua tahun lalu saat buka puasa bersama yang diadakan teman-teman sekelas mereka dulu—yang memang teman nongkrong aja—lalu, selebihnya cuma lihat di media sosial. Nggak pernah kasih komentar, tapi selalu ngelove dan ngeseen tiap kali salah satu dari mereka ada yang upload konten. Begitulah, karena yang pernah dekat pun pada akhirnya cuma jadi pengamat IG story aja.

Fira menahan napas sebentar, meruntuki pikirannya yang tiba-tiba dengan nggak tahu diri malah melayang sampai ke masa lalu;

Tempat di mana pertama kali Jeno dan cewek itu bertemu...

***
(COMING SOON)
Sedikit buka kisah masa-masa SMA, nggak dosa kan?:p

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co