Truyen3h.Co

Lakè

Jingga

aeraskyy



jingga, aku suka jingga.

"Untill today, i still remember our first convo"

sebuah pernyataan singkat dari yogi membuat pikiranku melayang jauh mundur, jauh jauhh sekali dari ingatanku. sebuah ingatan kecil yang terkubur dalam tumpukan tumpukan debu dalam lemari penyimpan memoriku. dalam samar, aku bisa melihat warna warna kejadian tersebut, melebur setiap warnanya menyatu, tapi aku ingat dominan warnanya, hijau, hijau tua daun. selain itu aku juga ingat suara kala itu, burung burung pingai bertengger di atas batang pohon tua tanjung yang sudah berdiri sejak dulu di halaman sekolah kami. selain itu, aku tidak mengingat jelas percakapan pertamaku dengan dirinya,

maka aku bertanya dengan ekpresi penasaran, "yang di bawah pohon, ya" ujarku

Yogi sedikit berfikir sebentar, jari-jarinya mengetuk ngetuk lututnya yang sedang di tekuk membiarkan tubuhnya bersender pada headbed, dari pandanganku melihat rambutnya jatuh tidak beraturan membuatku rasa kantuku sedikit hilang, kembali segar melihat yogi dengan dirinya yang dibalut pakaian santai. mungkin karena terlalu sering meliahatnya dalam setelan jaz dan rapih, melihatnya berbeda seperti ini membuat jantungku membuat pesta di dalam sana, bahkan dengan beraninya mengundang kupu kupu di perutku untuk menari-nari.

Yogi menoleh kepadaku, menunduk sambil tersenyum kecil. "di lapangan, ada perempuan marah-marah karena gak terima di marahin sama senior. obrolan pertama kita itu aku yang harus nenagin kamu yang brutal maki-maki orang. serem"

ah.. aku benar benar malu pada kejadian itu, ketika aku yang remaja benar benar tidak bisa mengendalikan emosiku terlebih amarah, jadi ketika senior mulai menyuruh kami anak anak baru bertingkah macam-macam, ubun ubunku panas. Yogi kala itu harus sial karena harus sekelompok dengan ku, itu juga asal mula kami bisa satu kelompok pertemanan selama tiga tahun kedepan, walau di akhir tahun perasaan itu berkembang menjadi bewarna merah muda, lalu karena suatu alasan kami benar benar berpisah tampa harus memastikan perasaan kami, berhenti begitu saja tampa penjelasan.

menangapi kalimat yogi, aku tertawa kecil. "kamu pintar mengingat-ngingat ya, Gi."

"kalau tentang kita, aku suka ingatnya."

menghela nafas panjang, aku mentapnya dengan ekpresi menahan amarahku. aku tahu yogi sedang iseng-iseng melontarkan kalimat seperti itu, sengaja ingin menggodaku, lihat saja ekpresinya yang mengejek dan matanya yang menunggu reaksiku. Karena tidak mau kalah, aku menaikan daguku untuk menantangnya. "kencan pertama?" tanyaku

"green garden, Lotus restaurant"

"warna baju yang aku pakai?"

"dress biru muda? biru atau unggu ya? warnanya mirip-mirip"

"ciuman pertama?"

"sekolah?? yang pertama kan? yang pertama di sekolah."

mendengar jawabanya salah, aku menyeringai lebar. "bukan, di danau rumah kamu tau!"

"itu yang kedua, ra. Di sekolah yang pertama"

aku menyipitkan mata, mendadak ragu. masa iya? seingatku di rumahnya dulu. "dimana?" tanyaku lagi,

"ruang klub matematika"

"sepatu yang aku pakai?"

"ra?" yogi tertawa lepas melihatku terus menyerangnya dengan pertanyaan. aku jadi geram mengetahui pria ini pintar mengingat-ngingat, mungkin juga aku salah menguji ingatanya untuk membuatnya kalah, sejenak aku lupa alasan dirinya bisa menjabat chairman dari media ternama di negri ini.

Mungkin memang aku harus kalah, dalam hal mengingat jelas aku kalah. Aku lebih gemar menyimpulkan suatu kejadian bedasarkan warnanya, membuat memori itu lebih ringkas agar mudah aku kenali, atau kadang jika aku tidak mengingat warnanya akan selalu ku ingat bentuk suaranya. Contohnya mungkin kejadian ketika aku berduka hebat atas kematian kelinci kesayanganku, aku tidak pernah ingat hal itu dengan rinci tapi aku mengingatnya dengan warna biru muda. Biru untuku adalah warna haru, identik dengan air mata.

Hal itu juga terjadi ketika aku mengingat ngingat meeting kemarin kemarin, jika aku mengingatnya dengan warna merah artinya berjalan tidak baik, lalu ketika aku mengingatnya bewarna putih bertanda berjalan dengan sesuai rencana.

Khusus memori yang berkatian dengan yogi, cenderung memiliki warna warna pohon, tidak jauh dari coklat, hijau tua daun, kuning dan merah muda.

Saat merasakan sebuah guncangan kecil dari sebelahku, melamunku hilang tergantikan perhatianku yang menoleh pada penghuni space di sebelahku. Dengan kaos abu-abunya, ia masih memainkan ipadnya untuk menonton film jepang kartun yang mari kita sebut anime.

diam diam, yogi adalah otaku, penggemar serial serial anime dari jepang. Boleh jujur, banyak anime anime yang aku gemari juga, dan seharusnya kami bisa saja menonton bersama, tapi si yogi ini jarang menyetel anime yang terdapat translate di layarnya. Keluarga bastoro adalah keluarga campuran indonesia dan jepang, sejak kecil yogi selalu di biasakan mengunakan bahasa satu itu agar tidak melupakanya, kadang malah kalau ada kode kode sandi rahasia antara dirinya dan Hadin, mereka berdua berkomunikasi dengan bahasa itu.

"Ra, lihat deh." Yogi sedikit menyampingkam layar ipadnya kepadaku.

aku asal menganguk saja, mendekatkan diriku kepadanya untuk menaruh daguku di atas pundaknya. Hendak tidur karena letih seharian mengurusi projek projek acara program baru yang tak kunjung usai, kalau di pikir pikir sumber masalahku ini adalah pria ini, si yogi yang banyak menuntut, karena tuntutanya itu membuat Danny harus bekerja detail melihat program acaraku dan merevisinya habis habisan. Aduh apa aku pukul saja kepalanya untuk balas dendam? Apa aku ancam saja supaya meloloskan acara projek terbaruku?

Mungkin melihat responku acuh, ia menolehkan wajahnya kepadaku yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya sendiri. "Kamu kenapa?" ia bertanya khawatir, tangan satunya kini mengusap pangkal kepalaku dengan lembut.

Geram sekali ia bertanya ada apa denganku di pukul 12 malam, TENTU SAJA AKU MENGANTUK, bodoh.

Untungnya aku tidak cukup tenaga untuk melotarkan kalimat itu, atau menjitak kepalanya karena kesal. "ngantuk, gi." jawabku lembut, kuputuskan untuk memaafkanya.

Yogi kembali menatap layar ipadnya, tanganya masih mengelus pucuk kepalaku. Dari jarak sedekat ini, aku sadar ekpresinya yang terlihat berfikir, yogi pasti merasa bersalah.

betul apa pemikiraanku, segera ia mematikan ipadnya, menaruhnya di tempat aman di sebelah kasur. ia juga meredupkan lampu kuning temaram yang sudah menjadi lampu tidurnya.

ia mendekatkan wajahnya kepadaku, mencium pipiku sekilas, belum berhenti disana wajahnya terhenti di depan telingaku, membisikan sebuah kalimat paling lembut yang aku dengar hari ini.

"selamat tidur ya."

"You're special, my favorite, i love you and i will love you for ever and ever, in infinity. Segala hal yang terbaik untuk mu, Ra."

Yogi bukan lah pria dengan rasa cinta yang selalu ia tuangkan dalam kata-kata, namun beberapa waktu yogi akan berubah menjadi seperti ini, sebuah tindakan dari penyesalanya dahulu, Saat kakek kesayanganya meninggal, dan yogi yang tidak sempat mengucapkan betapa ia sayang kakeknya karena ia merasa malu untuk melakukan itu.

Hadinata menyadarkanya setelah itu,

"tidak ada yang salah dari mencintai, bang. Menyukai atau mencintai itu bukan hal memalukan!  harus bangga! Love u bang yogi! Hadin sayang abang banyak banyak!"

aku memeluknya, melingkari tangan kiriku untuk memeluk tubuhnya dengan erat. Malam ini, malam panjang yang begitu hangat.

"Kamu suka jingga, gi?"

yogi menganguk, "suka."

baiklah, memori kali ini bewarna orange ke merah mudaan, di tambah suara deru nafas yogi dan detak jantungnya yang sedang melakukan pesta juga sepertinya.

Aku bertekad mulai sekarang ingin membuat memori memori bewarna jingga lagi dengan yogi.

jingga terbentuk dari perpaduan antara warna merah dan kuning, untuk kasusku ia adalah perpaduan rasa sukaku dan yogi yang bergerumbul terbang di udara, membuat kami sama sama menghangat terlapisi oleh atmosphere yang kami ciptakan sendiri.

jingga, aku suka jingga.

______

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co