Truyen3h.Co

One Day in Summer #2

16. Finding dory

authoriya

"Aku masih tidak bisa melacaknya karena ponsel Suzy masih mati." Sunggyu, mendorong kursi roda yang di dudukinya kebelakang. Kedua tangannya memegang mouse dan keyboard komputer, sedangkan kepalanya mendongak menatap Myungsoo yang sedang berjalan gusar dengan terus menghubungi ponsel perempuannya.

Matahari diluar sana mulai menampakkan dirinya, memberikan sinar terang untuk menemani hari-hari seluruh penduduk Korea. Kantor polisi pagi itu pun sama sibuknya dengan pagi sebelumnya--banyak telepon berdering masuk akan keluhan, kejadian pencurian, bahkan ada yang juga salah sambung membuat suasana semakin panas-- untung saja, seluruh AC di dalam ruangan ini bekerja dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun.

"Nomornya masih tidak aktif." Myungsoo mendesah frustasi, satu tangannya mengurut pelipis dengan pelan. Sungguh, ini adalah hal yang benar-benar tak disukainya. Kenapa Suzy selalu saja membuatnya cemas?

Dengan cepat, Myungsoo menyambar kunci mobilnya di dalam laci meja pada kubikelnya. Langkahnya bergegas sambil mengatakan, "Aku titip pekerjaanku sebentar, hyung."

Melangkah menuju parkiran mobilnya, Myungsoo membawa mobil itu melaju ke kawasan rumah elit Soojung.

Dua puluh menit kemudian, mobil itu sudah berada tepat di depan rumah Soojung dan Minhyuk. Pagar rumah itu terbuka, membuat Myungsoo dengan mudah masuk ke dalamnya. Kemudian, tangannya mengetuk pintu utama bercat coklat ketika langkahnya sampai.

Myungsoo menunggu dengan perasaan was-was. Persetan dengan Ellen dan Soojung, dia hanya butuh tahu dimana keberadaan Suzy. Dia hanya butuh tahu keberadaan Suzy, syukur-syukur kalau ternyata Suzy ada di dalam rumah ini dan ternyata ponsel perempuan itu kehabisan batrei.

"Mau apa kau kesini?" Adalah suara sinis milik Ellen yang terdengar. Hampir saja ia mengira kalau itu adalah Suzy, jika saja tatapan sinis itu tidak langsung menusuknya.

Ellen, menggunakan dress bermotif putih sepanjang lutut melipat kedua tangannya di depan dada. Ponselnya di genggam pada salah satu tangan perempuan itu, sedangkan ada ekspresi lain yang jelas di sembunyikan perempuan itu sekarang. Dan, sayangnya hal itu tidak bisa di sembunyikannya dengan baik jika di depan Myungsoo. Karena latihan dan juga psikotes yang dilakukannya selama ini, Myungsoo paham situasi, dia mampu membaca gelagat aneh dari lawan bicaranya. Hanya saja--

"Yya, bicaralah, aku sedang sibuk!"

"Dimana Suzy?"

Myungsoo bisa melihat pergerakan Ellen berubah ketika ia menyebutkan nama saudara kembar perempuan itu. Namun, segera di sangkal Ellen dengan delikan mata, "Dia sedang tidur. Sana pergi!"

Ellen hendak menutup daun pintu di sampingnya, tapi gerakan tangan Myungsoo menahannya. Pria itu menatap Ellen dengan pandangan lurus dan tajam, "Katakan padaku yang sebenarnya, Ellen. Karena aku tidak bisa menghubunginya sejak tadi pagi. Padahal semalam aku sempat berkomunikasi dengan pacarku itu. Namun, Suzy pamit karena Sehun menelponnya." Myungsoo menjelaskan secara rinci, keningnya berkerut, "Kemudian, Suzy sempat mengirimiku pesan bahwa dia akan pergi menyusul pria itu di bar dekat rumah ini."

"Mwo?" Ellen melepaskan daun pintu itu tanpa sadar. Tubuhnya mundur selangkah. Penjelasan dari Myungsoo benar-benar membuatnya bingung, pasalnya, baru saja ia menghubungi Sehun dan pria itu mengatakan kalau ia masih berada di daerah tempat Ayah dan Ibu laki-laki itu tinggal. Dan akan segera kesini untuk menemukan Suzy. "Tapi, Sehun sedang berada di Gwangju sejak kemarin..."

"Kau mencoba berbohong padaku, ya?" Ellen menyipitkan matanya. Pikirnya langsung berkelana, jangan-jangan Myungsoo sedang mencoba mencuci otaknya supaya berprasangka buruk kepada Sehun.

"Kenapa tidak kau berfikir seperti itu kepada pria idaman kalian itu, eh?" Myungsoo mendengus. "Apa kau memiliki nomor ponsel orangtua Sehun? Aku ingin memastikan kepadamu soal bualan pria itu memang benar-benar sebuah bualan, dan kau berada di pihak yang salah selama ini."

Kening Ellen masih berkerut. Mata bereyeliner itu menatap Myungsoo dengan pandangan tak suka, namun pada detik berikutnya ia tetap mencarikan nomor kontak kedua orang tua Sehun di ponselnya. Menemukan nomor itu, Ellen segera menghubungi.

Nada tunggu menyapa pendengaran Ellen dan Myungsoo ketika perempuan cantik itu menekan ikon pengeras suara. Keduanya masih berdiri di depan pintu, saling berhadapan. Dada yang berdetak sama kencangnya itu sama-sama menunggu hingga panggilan itu terhubung.

"Kediaman Oh disini. Ada yang bisa saya bantu?" Suara perempuan paruh baya terdengar menyapa ramah.

"Ya, umm... Aku Suzy." Ellen berbohong, kedua matanya melirik menantang kepada Myungsoo ketika pria itu memberinya tatapan tak suka karena memakai nama Suzy.

"Suzy! Yaampun, kapan kau dan Sehun datang kemari? Bibi sering sekali mendengar tentangmu dari Sehun."

"Umm, Sehun sudah mengajakku kesana, tapi ternyata dia malah duluan mengunjungi paman dan bibi." Ellen mulai mengeluarkan pancingannya.

"Apa? Kapan dia kesini? Kenapa tidak bilang padaku dulu... Anak itu,"

Dada Ellen langsung berdegup semakin kencang. Pupil matanya membesar, lalu menatap Myungsoo dengan kaku.

Myungsoo segera merebut ponsel Ellen, "Maaf nyonya Oh. Jadi, tidak ada Sehun disana sekarang?"

"Tidak. Kau siapa? Kenapa suara laki-laki? Memangnya Sehun kenapa?"

"Aku dari kepolisian Seoul. Kim Myungsoo."

...

Tidak ada suara jawaban.

"Nyonya Oh?"

"Apakah kau anaknya...," Ada jeda sebentar sebelum perempuan paruh baya itu kembali bersuara, "Jin Mi?"

Myungsoo mengernyit bingung, bagaimana bisa perempuan paruh baya ini mengetahui nama Ibundanya?

"Ya." Jawab Myungsoo.

Dan, tiba-tiba saja panggilan itu terputus.

***

"Kenapa Suzy terus-terusan membuat masalah sih!?" Ellen menggeram kesal di tempat duduknya, kedua matanya masih fokus pada gawai ditangannya, kemudian kembali mendial nomor telpon kembarannya.

Jalanan Seoul yang menyebalkan karena tiba-tiba saja mengalami kemacetan parah semakin membuat ubun-ubunnya mendidih. Di musim panas begini walaupun hari sudah menjelang malam, Ellen masih saja merasakan emosinya terus saja bertambah setiap harinya, apalagi semenjak kembarannya itu kembali berulah.

"Jangan menyalahkan kekasihku. Kau yang harusnya membuka matamu Ellen."

"Stop it!" Ellen menyela tajam. Diliriknya melalui rare-mirror Myungsoo yang duduk di belakang kemudi, kemudian menambahkan, "Kau fokus saja menyetir. Jangan sampai kau membuat masalah baru dengan menabrak kendaraan lain!"

Myungsoo memutar bola matanya. Benar-benar dua orang yang memiliki kepribadian berbeda. Myungsoo jadi semakin menyesalu hari-hari nya dulu yang sibuk mengejar perempuan bermulut pedas ini hanya karena salah orang. Ugh.

"Kufikir Myungsoo benar, Sayang." Suara Minho terdengar. Kedua tangannya sibuk mengusap pelan lengan Ellen agar perempuan itu sedikit tenang. "Aku bukannya ingin membela dia, tapi kurasa memang kita yang terlalu percaya dengan orang. Maksudku--"

"Jadi, kau lebih membela pria ini dari pada aku?"

"Bukan begitu..." Minho menghela napas. "Baik, ini bukan masalah penting. Yang terpenting sekarang adalah kita menemukan dimana Suzy berada."

Myungsoo mendial nomor Sunggyu, memasang earphone disalah satu cupingnya, menunggu panggilannya terhubung.

"Aku berhasil menemukannya! Aku melacak nomor Sehun! Daebak!"

"Dimana mereka?"

"Suatu villa milik Jang Tae Joon di Seocho." Jelas Sunggyu dibalik saluran telpon.

"Arraso, gomawo, hyung."

"Myungsoo...," Sunggyu menyela sebelum panggilan mereka benar-benar berakhir. Terdengar suara tarikan napas diujung sana sebelum suara milik seniornya itu kembali terdengar, "Jaga dirimu. Aku dan tim akan segera menyusul setelah introgasi selesai."

"Ne."

***

Jangan protes pendek. soalnya emng pendek wkwkwk. Ini pemanasan loh guys :') di maklumi ya?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co