emergency.
———
"WE MARKED IT! PENGHUNINYA CUMA LANSIA DAN ANAK KECIL! KENAPA MASIH LU INCER?!"
di bawah cahaya redup lampu jalan di kegelapan malam, seorang pemuda bersurai pirang mencengkeram kerah pemuda lain berkepala biru dengan penuh amarah.
mengabaikan posisinya yang terpojok ke dinding dan darah yang menetes dari sudut bibirnya, pemilik surai biru panjang itu dengan berani meludahi lawan bicaranya.
"JANGAN SOK SUCI, ANJING! NGERAMPOK DARI KORUPTOR GAK BIKIN LU LEBIH BAIK! LU TETEP RAMPOK!"
itulah kata-kata terakhirnya malam itu sebelum sang lawan menghantam rahangnya sekali lagi, membuatnya kehilangan kesadaran.
salah satu rekan si biru yang terlibat bentrok dengan kelompok si pirang langsung menjauh dari arena bentrokan setelah melihat rekannya tergeletak di aspal tak sadarkan diri.
"HEAT!"
di saat yang sama, suara sirine polisi yang memekakkan telinga tiba-tiba terdengar entah dari mana—membungkam keributan di arena bentrokan malam itu. munculnya tanda bahaya membuat kedua kelompok yang terlibat bentrok segera berhenti dan berpencar untuk menyelamatkan diri.
di tengah kekacauan tersebut, seorang pemuda bertopi jerami meniup peluitnya sebanyak tiga kali untuk menyampaikan pesan kepada keempat anggotanya.
kita akan berkumpul di markas dalam tiga jam.
———
———&———
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co