• ━━━ # 𝐸𝓂𝒾𝓁𝓎 〰︎ || 𝖢𝗈𝗋𝗍𝗂𝗌's 𝟨𝗍𝗁 𝖬𝖾mber
The Unexpected Debut
Sinar matahari siang menembus celah studio, menyinari Emily yang sibuk mengutak-atik aransemen lagu Seven milik Jungkook sunbaenim.
Beberapa staff baru saja masuk membawa kopi, sambil memuji transisi melodi yang ia buat.
Emily hanya tersenyum tipis, jemarinya tetap lincah di atas alat pengatur suara demi mengejar kesempurnaan vokal yang sedang ia kerjakan sejak pagi tanpa henti di ruangan kedap suara itu.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar
Konsentrasi Emily yang seketika terputus karena pesan mendadak yang di kirim manager.
Ia menyandarkan punggung ke kursi dengan lemas dan memejamkan mata sesaat karena merasa terganggu. "Aiss, jinjja.." gerutunya kesal sambil merapikan barang-barangnya.
Sebelum meninggalkan studio Emily berpamitan kepada para staff yang datang dan meminta untuk mengirimkan permintaan maaf kepada staff yang belum datang.
Setelah itu ia pergi, menuju ruangan lantai 4.
Emily melangkah cepat menyusuri koridor, matanya sesekali masih melirik layar ponsel untuk memastikan nomor ruangan yang diminta sang Manajer.
Karena terlalu terburu-buru mengejar waktu ke lantai 4, ia tidak menyadari ada seseorang yang muncul dari balik persimpangan lorong.
"Aduh!" Emily memekik pelan saat bahunya menabrak dada bidang seorang laki-laki yang badannya jauh lebih tinggi darinya, hingga ponsel di genggamannya nyaris saja tergelincir jatuh ke lantai.
Wajahnya memerah karena malu, Emily segera membungkukkan badannya tanpa berani menatap langsung wajah laki-laki itu.
"Ah, jeosonghamnida! Saya benar-benar tidak sengaja, saya sedang terburu-buru," ucapnya dengan nada penuh penyesalan sambil berusaha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat tabrakan tadi.
Laki-laki tinggi itu hanya berdiri mematung sejenak, begitu kesadarannya kembali matanya membelalak sambil telunjuknya mengarah tepat ke arah Emily. "Emily?!" serunya dengan nada tidak percaya.
Emily yang merasa tidak mengenali suara itu secara langsung mengernyitkan dahi.
Secara spontan Emily menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung yang kentara. "Ya? Anda memanggil saya?" jawabnya singkat, bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya laki-laki yang tampak sangat mengenalinya ini.
Laki-laki itu segera menurunkan telunjuknya dan membungkuk sopan dengan senyum canggung yang menghiasi wajahnya. "Ah, maaf! Ini aku, Martin Edward," ucapnya memperkenalkan diri.
"Huh?" Emily terdiam sejenak, memindai wajah laki-laki tinggi di depannya itu hingga sebuah ingatan muncul di kepalanya.
Ia langsung teringat bahwa laki-laki ini adalah sesama trainee yang sempat bekerja sama dengannya di beberapa proyek besar belakangan ini.
"Oh! Martin?" Emily berseru pelan, wajah bingungnya berganti dengan binar pengenalan.
[Laras : klarifikasi ya, kenapa Emily gak manggil Martin makai embel-embel oppa atau semacamnya, karena Martin sendiri yang nyuruh]
Emily ingat betul Martin adalah teman trainee nya saat mereka berada di LA.
"Maaf, aku benar-benar sedang melamun tadi. Jadi, kau sedang ada urusan di lantai ini?" tanya Emily sambil tersenyum tipis, merasa lega karena ternyata orang yang ia tabrak adalah wajah yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Aku disuruh Manajer untuk segera ke studio," ujar Martin sambil merapikan jaketnya.
Martin kemudian bertanya dengan penasaran, "Lalu, kamu sendiri mau ke mana sesore ini?"
Emily menghela napas dan menjawab bahwa ia justru diminta ke ruang D.15.
Mereka berbincang sejenak hingga Martin membocorkan tentang jadwal latihan tambahan yang padat.
Mendengar hal itu, wajah Emily berubah kaget sebelum akhirnya ia tertawa kecil menanggapi situasi mereka yang sama-sama sibuk. "Well, I guess the studio is my official husband and sleep is just my toxic ex." candanya dalam bahasa Inggris yang membuat Martin terkekeh.
Emily terpaksa mengakhiri percakapan mereka, ia harus segera ke ruangan D.15 sebelum telinga nya berdarah dengan deras alias di ceramah i sama manager.
Namun, saat Emily hendak melangkah masuk ke dalam lift, Martin justru ikut masuk ke sampingnya. "Eh, kamu mau ke mana?" tanya Emily heran.
Martin tersenyum lebar sambil menekan tombol angka empat pada panel lift tersebut. "Studio yang harus kudatangi juga ada di lantai empat, Emily," ucapnya santai, membuat Emily hanya bisa menggelengkan kepala melihat kebetulan itu.
Mereka berada di depan pintu yang ingin mereka datangi, jujur saja... Mereka masih shock bahwa tempat yang akan mereka kunjungi ternyata sama.
Martin melirik ke Emily yang sedang terdiam, 'aku ingin tahu kenapa Emily di suruh ke studio? Apakah dia akan menjadi Produser untuk lagu grup ku-'
Martin terdiam beberapa saat, matanya membelalak. Ia baru sadar bahwa hari ini adalah hari dimana grup nya menerima anggota baru, 'ku rasa tidak mungkin jika Emily.. tapi.. jika memang Emily yang akan menjadi anggota baru.. aku tidak masalah.'
Pintu ruangan terbuka dari dalam, Manager melihat mereka berdua dengan satu alis ter angkat "kenapa kalian tidak masuk? Kami semua sudah menunggu kalian berdua."
Emily dan Martin meminta maaf bersamaan, mereka berdua masuk dan Emily duduk di sebelah Martin.
"Baiklah, karena kalian berdua sudah datang aku akan membacakan surat resmi yang di keluarkan Bang Pd."
Mereka semua menyimak isi surat tersebut "Secara Resmi Grup Cortis, bukan lagi menjadi Boy Band, melainkan Co-ed grup, yang artinya grup kalian resmi menjadi grup campuran antara wanita dan laki-laki."
Sunyi mendominasi ruangan tersebut, Emily yang kepekaan nya sangatlah tinggi dia berdiri dari tempat duduknya
"Anda bercanda ya? Saya ingin berbicara dengan PD-nim sekarang juga."
Manager menghela nafas "untuk sekarang beliau tidak bisa di temui-"
"Ada apa Emily-ssi? Apakah kamu keberatan?"
Mereka semua mengalihkan pandangan ke belakang manager, seseorang berbadan besar berada di depan pintu. PD-nim.
Emily maju dan menatap Pd-nim "Saya keberatan. Kenapa anda mengubah grup yang sudah matang secara tiba-tiba? Anda gila? Anda ingin mereka di caci maki oleh penggemar? Anda tahu apa yang akan terjadi jika grup ini di ubah menjadi grup campuran."
Suasana menjadi semakin hening, ke lima pemuda itu saling memandang, Martin sebagai leader berdiri dan memegang bahu Emily.
"Emily, tidak apa-apa. Sebenarnya kita sudah di beritahu oleh Pd-nim masalah ini-"
"And y'all haven't even given him an answer yet, have you?"
Martin terdiam, memang benar. Mereka belum memberikan jawaban yang tepat, mereka sendiri tidak ingin menjadi grup campuran, apalagi mereka sudah membuat lagu dan choreography nya.
"Saya menolak bergabung dengan mereka."
"Jika kau menolak mereka tidak akan debut, selamanya."
...
!!?
Emily menahan kemarahannya "Anda tahu, jangan karena anda adalah pendiri Hybe dan pendiri Big Hit, Anda bisa se enaknya memutuskan sesuatu yang belum di setujui oleh mereka.
"Saya sudah kasih tahu dengan mereka, saya sudah kasih mereka waktu seminggu untuk memikirkan, tapi mereka belum memberikan jawabannya sampai sekarang, jadi saya harus melakukan hal seperti ini."
"Oke.. jadi, nama kalian adalah?"
Martin berdiri, dia membungkuk kan badannya di depan Emily "Aku Edward Martin, aku lahir di tanggal 28 maret 2008. Dan aku adalah leader dari Cortis"
"Saya Kim Ju-hoon, saya lahir di tanggal 3 Januari 2008, salam kenal."
"Saya Chao Yufan, tapi biasanya saya di panggil James. Saya yang tertua di grup ini saya lahir di tanggal 14 Oktober 2005, dan kewarganegaraan saya Thailand-taiwan."
"Thailand dan Taiwan? Nanti kita berbicara sebentar. Kalau kalian berdua?" Emily menunjuk ke dua bocah yang dari tadi gugup.
"A-ak- maksudnya saya, saya Eom Seoghyeon, saya lahir di tanggal 13 Januari 2009, saya- saya berteman dengan Martin- Martin Hyung saat kita menjadi Trainee."
Emily tersenyum lucu, "Hahaha, kenapa kamu gugup sekali? Santai saja kalau ngobrol sama aku. Aku juga baru ingat sama kamu Seoghyeon, kamu selalu mengikuti Martin ke manapun. Nah.. kalau kamu?"
"S-s-saya maknae- maksudnya, nama saya adalah Anh Keonho, saya maknae Cortis dan.. eum.. saya lahir di tanggal 14 februari 2009. Se-senang bertemu dengan anda."
Keonho menutup kembali perkenalan itu dengan membungkukkan tubuhnya secara formal.
Lagi-lagi Emily tersenyum, "Ehem, maaf jika tadi pembicaraan ku dengan Papa Bear membuat kalian tertekan, aku Emily, Emily Kirana Fēiyán. Aku lahir di tanggal 25 Desember 2008, aku Trainee sejak tahun 2020 dan kewarganegaraan ku adalah Rusia - China. Sama seperti James hyung, hanya saja aku China dan James hyung Taiwan."
"Jadi.. apakah kita perlu memanggil mu Nuna?" Pertanyaan polos dari Keonho membuat tawa Emily meledak.
"HAHAHAHAHAHA"
"HAHAHAHAH, ADUH!! PERUT AKU!! SEB- HAHAHAHAH"
Emily sudah mulai tenang, "ehem, maaf jika aku tadi tiba-tiba tertawa. Kalian tidak perlu memanggil ku Nuna kok, kalian bisa memanggil ku nama aja. Aku dan kalian hanya beda beberapa bulan dan satu tahun kan? Kecuali James Hyung."
James mengangguk kan kepalanya "Kalau kamu gak mau manggil aku Hyung juga gak papa kok."
"Eh? Boleh?"
"Boleh, soalnya mereka sendiri kadang memanggil diriku dengan nama saja tanpa embel-embel Hyung"
Namun, suasana tenang itu pecah seketika saat Martin, Seoghyeon, dan Keonho langsung bereaksi heboh mendengar ucapan James yang mereka anggap sebagai fitnah besar di depan anggota baru mereka.
"James Hyung, jangan berbohong! Kapan kami pernah memanggilmu tanpa embel-embel 'Hyung'?" protes Martin dengan wajah panik.
Sementara Seoghyeon dan Keonho ikut bersuara dengan nada tinggi menolak keras pernyataan itu.
"Kami sangat menjaga tata krama, Emily Nuna! Jangan percaya padanya, dia hanya ingin membuat kami terlihat tidak sopan!" seru Keonho dengan wajah memerah, membuat ruangan itu penuh dengan keributan kecil yang jenaka sementara James, Juhoon dan Emily hanya tertawa melihat reaksi mereka bertiga.
Baru beberapa jam mereka sudah akrab dan sekarang suasana akrab itu berubah menjadi suasana awkward.
"Jadi.. Emily akan tinggal satu dorm dengan kita?"
"Benar Juhoon, Emily besok akan tinggal dengan kalian, mulai besok dan seterusnya."
Emily diam saja, bukan berarti dia senang ya, dia emang diam karena dia gak tahu jalan pikir papa bear aja.
"Tapi Manager-ssi, kamar kita hanya dua..? Berarti itu artinya Emily akan tidur di salah satu kamar kita?" Tanya Martin.
Manajer terdiam sejenak, mengetuk-ngetuk dagunya sambil melirik anak-anak nya. Ia sadar betul bahwa pembagian kamar ini akan sedikit canggung bagi mereka yang baru saja resmi memiliki anggota perempuan.
"Eumm... begini saja," ujar Manajer sambil menatap Martin dan yang lainnya bergantian.
"Karena kamar kalian memang cuma dua, maka Emily akan tidur di kamar kedua bersama James dan Ju-hoon. Gwaenchana, kamarnya cukup luas untuk di tambahkan satu anggota kan?"
Melihat ekspresi kaget di wajah para anggota, Manajer segera menambahkan dengan nada tegas, "James, Juhoon, tolong bantu Emily, ne? Pastikan dia merasa nyaman. Lagipula, kalian berdua kan yang paling tenang dibandingkan trio rusuh Martin, Seoghyeon, dan Keonho."
James dan Juhoon mengangguk kan kepala mereka, berarti mereka harus tidur satu kamar dengan perempuan.
Masalah nya adalah.. James ini suka memakai celana pendek ketat dan singlet saat tidur, dia cuman takut bikin Emily gak nyaman aja.
Emily menatap James dan Ju-hoon bergantian dengan raut wajah yang sedikit tidak enak hati. "Kalian tidak keberatan? Maksudku, apa kalian tidak merasa terganggu kalau aku harus tinggal satu kamar dengan kalian?" tanya Emily, ingin memastikan bahwa kehadirannya tidak merusak kenyamanan pribadi mereka.
James langsung mengangguk santai sambil memberikan senyum yang menenangkan. "Tentu saja tidak masalah, Emily. Jangan merasa tidak enak begitu. Aku malah senang karena suasana kamar jadi lebih hidup, dan setidaknya ada orang waras tambahan yang bisa diajak bicara di sini," canda James sambil melirik ke arah Martin dan yang lainnya.
Juhoon pun ikut angkat bicara dengan gayanya yang tenang. "Iya, Emily. Kami bukan tipe orang yang berantakan atau berisik saat berada di kamar, jadi kurasa kita akan cepat terbiasa," ujarnya meyakinkan.
"Lagipula, kalau kamu ditaruh di kamar Martin, Seoghyeon, dan Keonho, aku yakin kamu tidak akan bisa tidur karena mereka pasti berisik sampai pagi," tambah Juhoon yang langsung memicu sorakan protes dari anggota lainnya.
Mendengar sindiran Juhoon dan James, Martin, Seoghyeon, dan Keonho langsung bereaksi kompak dengan wajah tidak terima.
Mereka bertiga bersorak heboh hingga suara mereka memenuhi ruangan, mencoba membela diri di depan Emily dan sang Manajer.
"Yakk! Juhoon, jangan bicara seolah-olah kami ini sekumpulan orang liar!" seru Martin sambil berkacak pinggang.
Seoghyeon ikut menimpali dengan nada kesal yang dibuat-buat, "Aisss, benar-benar ya! Kita bukannya rusuh atau berisik sendiri! Itu karena Martin Hyung yang banyak cerita!"
"HEI!" (Plis, aku ngebayangin ekspresi nya Martin waktu teriak gini 😭)
Sementara itu, si bungsu Keonho menggelengkan kepalanya dengan cepat ke arah Emily, "Aniyaaa! Itu tidak benar, Emily-ssi! Jangan percaya padanya, kami ini sebenarnya tidak seberisik itu kalau lagi di kamar!" seru Keonho yang langsung disambut tawa kecil oleh James melihat tingkah kompak mereka.
Manajer menggelengkan kepalanya berkali-kali, merasa pusing melihat tingkah trio rusuh yang tidak kunjung berhenti berdebat.
Ia segera menepuk telapak tangannya dengan keras untuk mengambil alih perhatian semua orang di ruangan itu agar suasana kembali kondusif.
"Sudah, sudah! Tugasku mengantar kalian sampai sini sudah selesai," ucapnya sambil melangkah mundur menuju pintu keluar.
Sambil memegang gagang pintu, Manajer memberikan instruksi terakhir kepada mereka.
"Kalian berdiskusi saja tentang pembagian tempat tidurnya, aku tidak mau ikut campur lagi. Pokoknya kalian bebas mau mengobrol atau langsung istirahat," tambahnya sebelum benar-benar berpamitan dan menutup pintu, meninggalkan Emily bersama lima laki-laki itu di dalam.
Emily melirik mereka. "Jadi..? Mau keluar?"
Keonho menatap Emily dengan binar mata blink blink.
"MAUUUU!!"
Emily tertawa pelan. "AYO KELUAR!!!"
"IIIYEEYY! LESGOOO!!"
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co