Truyen3h.Co

Spring Blooming #1

17. He is...

authoriya

Sepasang bola mata hitam Myungsoo memerhatikan dengan pandangan datar pada dua gadis yang memiliki warna rambut sama di depannya. Begitupun dengan Ellen yang memandang dengan kesal pada tangan yang saling bertautan tanpa malu-malu itu. Ellen membawa kedua tangannya ke depan dada, dengan coat broken white yang menutupi sampai lututnya.

"Suzy, kau lupa apa yang kukatakan?" Satu kalimat bernada datar yang keluar dari mulut Ellen nyatanya mampu membuat jantung Suzy hampir lepas dari tubuhnya. Suzy mencoba melepaskan tangan yang digenggam lelaki disebelahnya ini, namun berakhir dengan sia-sia. Semakin dicobanya untuk terlepas, semakin kuat pula genggaman pada tangannya.

"Aku selama ini salah orang, Ellen. Bukan kau yang kumau. Kau harus bisa merelakan aku bersama adikmu, Suzy." Myungsoo berucap dengan nada tegas.

Tatapan sinis Ellen kembali menghujam. Jika tatapan bisa membunuh, Suzy yakin laki-laki disebelahnya ini sudah sekarat. Ellen tersenyum miring, membuatnya semakin terlihat menyeramkan. "Kau ingin mati, ya?"

"Tidak." Myungsoo menjawab cepat, "Aku ingin Suzy." Lanjutnya.

Kening Ellen mengernyit kesal. Sebenarnya, tidak ada alasan bagi Ellen untuk melarang Myungsoo mendekati Suzy. Hanya saja, Ellen tidak menyukai laki-laki itu. Myungsoo pintar, tapi dia suka mabuk dan merokok. Masalah dia menyukai pesta atau semacamnya, baiklah, remaja mana yang tidak menyukai party dan berjoget, bukan? Tetapi... Yah, hanya itu. Yang jelas, Ellen tidak menyukai Myungsoo. Just that.

Ellen mendengus, "Aku tidak peduli kau salah orang atau kau ingin mengejar siapapun, selama bukan Suzy."

"Kenapa kau begitu menentang kalau aku mendekati Suzy?" Myungsoo mengernyitkan keningnya penasaran. Membuat Ellen lagi-lagi menghujami nya dengan tatapan membunuh, "Karena aku tidak menyukaimu."

Dulu, jauh sebelum mengenal Minho. Ellen memiliki kekasih. Tampan, kaya dan pintar, dan memiliki dunia yang sama dengan dunia Ellen. Maksudnya--menyukai party dan ke klub malam. Sebuah perpaduan yang sempurna untuk seorang Bae Ellen yang cantik dan seorang model. Tetapi, lambat laun Ellen menyadari kalau dia di duakan oleh sang kekasih. Hubungan mereka kandas saat Ellen memergoki kekasihnya bercumbu di pesta yang diadakan teman sekelas mereka bersama gadis yang dibencinya. Ellen menolak untuk menyebutkan siapa nama mantan kekasihnya itu, yang jelas dia memiliki marga yang sama dengan laki-laki yang kini menggandeng tangan Suzy. Kim.

Ellen mendesah keras-keras, kemudian menoleh kearah Soojung, "Apa aku bawa Suzy kembali saja ke New York ya, Jung?" Ellen bertanya kepada Soojung, namun dengan suara yang seolah membiarkan sekitar juga mendengarnya.

Soojung nampak berfikir dengan jari telunjuk yang mengetuk daerah dagu nya, "Sebenarnya aku pasti akan sedih, tapi jika itu bisa menjauhkan sahabatku dari laki-laki bermarga Kim, aku sih yes." (Mas anang kali ah)

Kedua bola mata Suzy membulat, "Leen, kalau aku ke New York, bagaimana dengan silabusmu disini?"

"Aku bisa memohon cuti, Suzy." Ucap Ellen, "Lebih baik daripada akhirnya kau merengek sepanjang malam karena dia menyakitimu."

"Aku tidak akan menyakiti, Suzy."

"You will." Tukas Ellen dengan cepat. Kedua matanya melirik kearah genggaman tangan Myungsoo yang sedikit merenggang, lalu dengan gerakan cepat Ellen langsung menarik Suzy bersamanya. Matanya menatap Suzy, "Kalau kau memang ingin membantuku. Fokus pada materi di silabusku dan jangan berhubungan dengan lelaki bermarga Kim ini. Deal?"

Suzy melirik Myungsoo yang sekarang menatapnya dengan sorotan mata tajamnya, dengan menelan saliva nya pelan-pelan, Suzy menghela napas perlahan, "Aku akan membantumu sampai musim semi berakhir."

Ellen tersenyum puas, ditatapnya Myungsoo dengan kedua alis terangkat dengan gaya mengejek, kemudian mengajak Suzy serta Soojung untuk masuk kedalam mobilnya. Meninggalkan Myungsoo yang berdiri mematung disana.

***

"Oh my god! She is a mirror of you, Ellen! Oh my god! Oh my g-"

"Stop it! Menyebalkan!" Ellen menggerutu kesal karena suara cempreng milik pria bertulang lunak yang biasa di sapa oleh orang-orang dengan panggilan Pinkie.

"Kalau bukan karena sudah langganan, aku pasti sudah memotong pita suaramu itu!" Kali ini Soojung yang bersuara. Kepalanya benar-benar pusing tiap kali mendengar Pinkie menjadi bawel seperti ini. Jika suara milik boyband Exo bisa membuat telinga terasa diberkati, maka suara milik Pinkie membuat orang yang sedang sekarat langsung mendapat kematiannya.

Pinkie mengatupkan mulutnya rapat-rapat setelah menggerutu kecil sebelumnya. Kedua gadis cantik yang sudah berlangganan di salonnya sebagai pelanggan tetap ini memiliki mulut yang pedas, namun Pinkie sama sekali tidak tersinggung karena ucapan mereka. Suzy tersenyum kecil melihat bibir Pinkie yang sedikit manyun itu.

"Senyummu cantik." Ucap Pinkie dengan riang ketika melihat Suzy tersenyum dari pantulan kaca didepannya. "Ellen dan Soojung tidak pernah tersenyum seperti ini. Hanya kau yang normal diantara mereka." Bisik Pinkie.

"Aku mendengarmu, banci." Ucap Ellen.

"Nado." Soojung menambahi.

Pinkie memutar bola matanya, kesepuluh jemarinya meratakan bagian rambut Suzy kedepan, "Kau suka rambut pendek?"

"Tidak."

"Jangan coba mengguntingnya, Pinkie!"

"Mati kau sampai menggunting rambutnya, Pinkie!"

Lagi-lagi, Pinkie menggerutu. Menatap raut wajah ketiga gadis itu satu per satu. Dua diantara ketiga gadis itu bahkan memberikan pandangan membunuh kearah Pinkie membuat laki-laki itu berjengit sedikit, Kemudian mendesah, "Baik... aku hanya bertanya, Ellen, Soojung. Kalian bisa mengganti raut wajah kalian sekarang."

Ellen dan Soojung sama-sama memainkan rambut mereka menggunakan jari tangan ketika Pinkie kembali memberi pertanyaan, "Jadi, apa yang harus kulakukan dengan si cantik Suzy ini, yeorobun?"

"Warnai saja rambutnya seperti warna kami." Ucap Ellen sambil menunjuk Soojung dan dirinya sendiri secara bergantian.

"Ellen, aku tidak suka di warnai." Suzy membantah.

Astaga, dia sama sekali tidak pernah berfikir harus mewarnai rambutnya dengan warna itu. Meskipun tidak mencolok, tetap saja rasanya aneh.

"Diam dan lihat saja hasilnya nanti, Suzy." Ellen mendesah, lalu menatap Pinkie kembali, "Lakukan sekarang. Aku dan Soojung akan mencari pakaian musim ini untuk kami dan akan kembali satu jam lagi."

***

Suzy menurunkan sedikit midi skirt yang di pakainya sedikit kebawah. Kedua matanya fokus pada dance floors dimana Ellen dan Soojung berada. Kedua gadis itu nampak sangat bersemangat mengikuti alunan musik disco dan kemerlap lampu. Suzy menghela napasnya, kemudian mengambil segelas Blue Moon diatas meja menggunakan tangan kanan dan menyesapnya.

"Bagaimana dia bisa membiarkan lelaki itu berjoget dengannya disaat dia sudah memiliki Choi Minho." Suzy bergumam kecil saat melihat Ellen bergoyang dengan santainya dan membiarkan satu laki-laki tak dikenal Suzy memegang pinggul Ellen.

"Kau tidak turun?"

"Astaga!" Suzy berjengkit kebelakang. Kedua matanya lantas menoleh kesamping dan mendapati satu laki-laki sejenis Pinkie sudah duduk santai disebelahnya.

"Ha?" Tanya Suzy bingung

Si laki-laki itu menggerakan tangan dan tubuhnya seperti sedang bergoyang sambil bergumam, "Bergoyang di bawah."

Suzy bergumam oh, kemudian menggeleng pelan, "Tidak. Aku disini saja."

Si laki-laki mengangguk dua kali, "Kufikir saat Ellen mengatakan kalau dia dan Jung Soojung akan kemari membawa kembarannya, gadis itu sedang bergurau." Ucapnya lagi. Kemudian laki-laki itu tersenyum mengulurkan tangannya, "Aku Joon."

Suzy tersenyum, membalas uluran tangan laki-laki bernama Joon itu, "Aku--"

"Suzy." Tembak Joon. Membuat Suzy terkekeh pelan, lalu mengiyakan, "Yes, Suzy."

"Senang melihat senyummu." Ucap Joon lagi. Kedua matanya melirik kearah dance floors sekilas, lalu kembali menatap Suzy, "Dua orang itu tidak pernah tersenyum. Kecuali saat bersama kekasih mereka. Namun, Jung Soojung sudah berakhir dengan kekasihnya."

"Siapa?"

"Kim Jongin. Kai. Kau tidak tahu?" Joon menaikkan kedua alisnya.

Suzy menggeleng, "Umm... Tidak."

Suzy mengernyitkan keningnya, seperti pernah mendengar nama Kai sebelumnya. Tapi...

Pemikirannya lantas terhenti saat merasakan ponselnya bergetar. Suzy mengambil ponsel itu dan melihat si penelpon. "Umm... Joon?"

"Ya?"

"Aku keluar sebentar, ya? Tolong katakan pada Ellen dan Soojung jika mereka sudah kembali kalau aku hendak mencari angin." Ucap Suzy seraya berdiri.

Joon mengangguk ragu, "Kau mau kutemani?"

"Tidak perlu. Aku tidak akan lama."

Joon mengangguk.

***

"Ya?" Ucap Suzy saat sudah mengangkat panggilan itu. Satu tangannya dimasukkan kedalam kantung coat berwarna broken white milik Ellen yang tadi diambilnya dari dalam mobil.

"Kau dimana?"

Suzy melirik ke sekitar, "Aku di parkiran." Ucapnya kemudian.

Terdengar helaan napas kasar dari ujung panggilang sebelum satu suara berat kembali berujar, "Maksudku bukan itu, Suzy. Kau sekarang berada dimana? Cafe? Bar? Pub?"

"Oh, maaf." Suzy meringis, "Aku di klub malam bersama Ellen dan Soojung." Lanjutnya.

Tubuhnya sedikit menggigil saat merasakan hembusan angin malam menyapu kulitnya yang tak tertutup. "Myungsoo, kau... Dimana?"

"Rumah Max." Ucap Myungsoo. "Aku akan kesana."

"Jangan!" Jawab Suzy dengan cepat. Membuat Myungsoo mengernyitkan kening diujung sana, "Kenapa?"

"Aku sudah bilang agar kita berteman seperti ini saja, Myungsoo... Aku tidak ingin Ellen dan Soojung marah." Suzy menghembuskan napasnya perlahan, "Kalau kau kesini dan bertemu mereka, itu akan menimbulkan masalah lagi." Lanjut Suzy.

"Klub malam tidak baik untukmu, Suzy."

"Aku baik-baik saja. Disini tidak semenyeramkan yang kukira." Suzy mencoba menenangkan.

"Baiklah, baiklah. Tapi, langsung telpon Aku jika ada yang mengganggumu, mengerti?" Ucap Myungsoo dengan nada tegas.

Suzy tersenyum mendengarnya, "Iya, akan kuingat." Ucapnya. Suzy merasakan udara malam semakin dingin menusuk-nusuk tubuhnya, "Umm... Kau tahu Kai?"

"Kim Jongin? Kenapa kau menanyakannya?" Ada nada tak suka disuara Myungsoo, membuat Suzy meringis pelan, "Tidak. Tadi Joon mengatakan kalau dia mantannya Soojung. Apa benar?" Tanyanya.

"Hm, si tulang lunak itu benar."

"Kenapa mereka berakhir?"

"Kenapa tidak kau tanyakan langsung pada temanmu itu?" Myungsoo bertanya balik. Membuat Suzy menggembungkan kedua pipinya, "Arraso, aku akan bertanya langsung pada Soojung nanti."

Myungsoo terkekeh, "Kau dimana? Masih di parkiran?"

"Mm-Hm, tapi sepertinya aku harus masuk sekarang." Pikir Suzy.

Gadis itu lantas membalikkan tubuhnya untuk berjalan kembali kearah pintu. Matanya menatap kebawah sambil meniup-niup satu tangannya yang kosong untuk memberikan efek hangat,

"Aw!" Suzy meringis kesakitan ketika tanpa sengaja menabrak seseorang hingga membuatnya hampir terjungkir kalau saja tidak ada lengan yang menahannya.

"Kenapa, Suzy? Kau kenapa?" Tanya Myungsoo bernada panik diujung sana.

Suzy buru-buru menjawab, "T-tidak. Aku hanya hampir terjatuh, untung saja--"

"Bae Suzy?"

Satu suara yang membuat Suzy berhenti berbicara dan langsung menatap seseorang yang berada begitu dekat darinya itu. Seseorang yang sedang meletakkan tangannya dipinggul Suzy untuk menjaga agar tubuh gadis itu tidak terjatuh dan menghujam tanah.

Suzy mengerjapkan matanya perlahan, menatap wajah laki-laki yang sedikit samar diingatannya. Lalu, ia mendengar suara laki-laki itu kembali berkata padanya,

"Kau, Suzy kan? Suzy ku?"

***

Pertama: thx buat yg udah bantu pilihin laki buat di jadiin rival Myungsoo disini. Terharu sekali usernm asing bersliweran di komen bantu pilihin cast. Haha

Btw, Tenang aja, aku selalu menjadikan Myungsoo sebagai male lead nya kok. Jangan sedih. Jangan sedih.

Kedua: buat yg komen rada ga sreg karena chapter 16 kemarin, aku mau jelasin kalau Myungsoo itu badboy (disini) jadi utk ukuran cowok2 kek gtu, hal begitu udah lumrah. Kalo ga suka gausah dibaca, ya.

Ketiga: Ellen bukan penghalang untuk cinta Myungzy, tenang aja. Meskipun akan sangat jarang mereka berduaan, tapi akan selalu ada momennya.

Keempat: pasti lah kalian udh bisa nebak siapa cowok itu. Secara kalian dg brutalnya ngevote nama doi di pertanyaan aku sebelumnya 😂👍 pesona dia memang luar biasa. Oh my god.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co