14. Pangeran
Seperti janji sebelumnya yang ia katakan kepada Chendra, kini Zeno kembali datang ke kafe bersama dengan gadis yang ditunggu-tunggu kedua bocah SMA itu. Melihat mereka kegirangan saat bertemu Katharina, sama seperti melihat seorang anal kecil yang berhasil menemukan ibunya. "Kaya anak kecil," Gumam Zeno menatap kejadian aneh yang terjadi didepan matanya.
Navan yang ada di samping Zeno melirik kearah lelaki itu. Ia sedikit terkekeh melihat raut wajah Zeno yang tiba-tiba berubah menjadi jelek. "Lo beneran gak pacaran sama Katharina?" Tanya Navan tiba-tiba.
"Gak ada pertanyaan lain?" Kesalnya sembari berdecak.
"Gua serius Zen."
Kini Zeno yang menatap Navan dengan aneh, tak biasanya Navan seperti ini, apalagi membawa kata serius dalam kalimatnya. "Kenapa? Lo suka sama Katharina?" Tanya Zeno balik.
"B-bukan,"
"Terus?"
"Gua ngerasa ada yang aneh aja, tapi gua sendiri juga gak paham itu apa."
"Lo ngomong apa sih? Kalau Lo suka sama Katharina, terserah Lo,"
"Lo serius? Lo beneran gak suka atau fall in love with her?"
"Enggak."
"So? Is that okay kalau gua deketin dia?" Tanya Navan hanya sebagai pacuan agar melihat reaksi Arzeno selanjutnya. "Awas aja kalau Lo nyesel Zen."
"Enggak. Terserah Lo Van, cuma pesan gua, jangan pernah sakitin dia, kalau Lo sakitin dia, gua akan maju." Navan mengangguk.
Awalnya Navan kira Zeno menyukai gadis itu, ah bahkan mungkin mencintai nya, namun? ternyata jawaban dari Zeno sangat berbalik arah, dia bahkan membiarkan Navan untuk mendekati Katharina.
Tak mau ambil pusing lagi dengan jawaban Zeno, Navan lebih memilih menghampiri Katharina yang terlihat sibuk berbincang dengan Chendra dan juga Aji. "Eh bocil, gantian dulu dong. Gua mau ngobrol juga sama neng geulis," Usir Navan kepada dua bocah itu.
"Ck. Ganggu aja, nanti lah Bang, antri, kita masih ngobrol."
"Astaga gak bisa diatur banget bocil. Gua suruh bapak gua potong gaji Lo nih,"
"Terserah sih, soalnya uang jajan gua juga lebih banyak daripada gaji disini." Sombong Chendra.
Okay, Navan mengangkat tangannya, dia menyerah menangani bocil sombong yang satu ini. "Ck. Chen, ayolah mending kita layanin yang lain dulu, kita udah dari tadi ngobrol sama Kak Karin, sekarang gantian bang Navan." Ajak Aji sembari menarik tangan Chendra.
"Karin?" Bingung Navan.
"Nama panggilan baru dari kita bang, abis namanya panjang banget. Tapi kak Karin juga suka nama panggilannya, iya kan Kak?" Balas Aji tersenyum menatap Katharina.
"Iya aku suka, itu panggilan yang bagus,"
"Yaudah sana dulu kalian, ada yang mau gua omongin sama Karin."
"Ih-ih apaan masa nama panggilannya ngikutin," Marah Chendra menatap sinis Navan.
"Anying nyebelin juga ya Lo lama-lama. Ji, mending urus temen Lo deh, "
"Chendra ayo udah, biarin mereka pdkt." Dengan cepat Aji menarik tangan Chendra walaupun nampak terpaksa tapi mau tak mau Chendra mengikuti langkah Aji.
Keduanya kini duduk berhadapan, dengan tatapan aneh Navan memperhatikan lamat-lamat wajah Katharina, dari bagian hidung, mata, rambut, dan juga bibir. "Semuanya sama." Celetuk Navan tiba-tiba.
"A-apa yang sama?" Bingungnya mengerjakan mata.
"Lo."
"A-aku? Sama dengan siapa?"
"Katharina Belleazure,"
"Iya?"
"Siapa Lo sebenernya?" pernyataan nya dari Navan yang terkesan sangat to the point, membuat Katharina gugup setengah mati.
Nafasnya menderu, fikiran yang aneh terus berdatangan, "Apa kamu mengetahui sesuatu tentangku Navan?" Tanya gadis itu.
Navan menatap gadis itu. "Gua gak yakin, tapi Lo selalu datang di mimpi gua, dan ini mimpi aneh yang terus berlanjut, gua tau pasti itu bukan mimpi biasa kan? Apalagi sekarang, Lo yang ada di mimpi gua, bisa gua lihat di dunia nyata,"
"Aku rasa itu hanya mimpi biasa, dan mungkin pertemuan kita hanya sekedar kebetulan." Sanggah gadis itu.
"Enggak Rin, gua tau ada yang aneh, gua paham."
Dengan ragu gadis itu menelan salibanya, menggerakan beberapa jarinya sembari berfikir apa yang harus ia lakukan saat ini. "Navan, akan ku jelaskan, tapi apa kamu akan percaya kata-kata ku?"
Navan mengangguk dengan pasti. "Iya gua percaya Rin, tolong jelasin ke gua, mimpi itu terus buat gua kepikiran Rin," risaunya. "Gua yakin, itu bukan sebuah kebetulan kan?"
"Navan, aku juga tidak yakin ini benar atau tidak. Tapi kamu, sangat mirip dengan seseorang di masa lalu," Perlahan Katharina meneliti setiap sudut wajah Navan. "Bahkan jika dilihat dari dekat semuanya masih sama,"
"Siapa? Mirip siapa Rin? Tapi gua juga penasaran sama kehadiran Lo, kenapa Lo bisa tahu kalau gua mirip orang di masa lalu? Emang Lo hidup di masa apa?"
Katharina menghembuskan nafasnya, mau tidak mau gadis itu menceritakan semuanya kepada Navan, bagaimanapun juga ia yakin bahwa Navan adalah orang yang tepat untuk mengetahui semua yang terjadi padanya.
Setelah mendengar cerita Katharina dari awal sampai akhir, kini lelaki itu terdiam, masih memikirkan apa yang terjadi saat ini hanya alur dalam mimpi semata atau memang benar adanya. "Jadi... Lo berubah jadi manusia semenjak ketemu Arzen?"
Dengan ragu Katharina menganggukan kepalanya. "Iya kamu benar, kamu ingat kalung yang dipakai Arzen? itu sama dengan milikku, sepertinya kalung itu yang membawaku kembali menjadi manusia."
"Tunggu. Sebentar Rin, gua masih sulit buat nerima semua kejadian aneh ini,"
"Navan, aku mengerti kamu pasti merasa kaget dengan ini semua. Tapi Navan, sepertinya mimpi mu juga berhubungan dengan hal ini,"
"Tapi siapa gua di masa lalu Rin? Kalau begitu, apa gua yang sekarang adalah reinkarnasi dari orang di masa lalu?"
"Aku rasa begitu, kamu yang di masa lalu adalah seorang pangeran,"
Ingatan lelaki itu berputar kehari kemarin, dimana ia mengingat saat pertama kali bertemu Katharina memanggilnya sebagai seorang pangeran. "Di dalam mimpi, gua lihat diri gua lagi tersesat di sebuah kerajaan, gua kira itu cuma mimpi biasa.... Tapi semakin lama malah semakin aneh,"
"Aku rasa mimpi itu akan terus menuntunmu untuk mengetahui masa lalu mu Pangeran,"
"Rin... tolong kasih tau. Siapa gua di masa lalu, Lo bahkan belum kasih tau gua sejak tadi,"
"Tapi..."
"Tolong, gua perlu tahu tentang semua ini,"
"K-kamu adalah Pangeran Mahkota dari kerajaan Vanazualla, aku mengenalmu karena kerajaan kami saling bekerja sama,"
"Terus siapa nama gua Rin?"
"Vanandra, kamu pangeran mahkota Vanandra,"
-Statue Love-
Akhir-akhir ini Arzeno kenyadari bahwa Katharina nampak berbeda dari biasanya, gadis itu lebih banyak diam dari biasanya, apa mungkin ini terjadi semenjak Katharina bertemu dengan Navan? Pikir Arzeno.
Di jalan trotoar mereka berdua melangkahkan kaki, malam ini terlihat sunyi, ibukota yang biasanya ramai hanya tersisah lampu-lampu jalan dan beberapa kendaraan yang jarang datang.
Grep
Tangan gadis itu berhasil digenggam Arzeno sebelum langkah kakinya menginjak batu besar didepan. "Kalau jalan jangan bengong." Suaranya.
Katharina menoleh, menatap lelaki disampingnya. "Maaf Zeno,"
"Kenapa?"
"Apa?"
"Lo dari tadi diem terus," Mendengar ucapan itu membuat Katharina tersenyum, ternyata lelaki dingin itu sejak tadi memperhatikan nya. "Ada masalah?"
Gelengan kepala ia berikan kepada pertanyaan Arzeno. "Bukan apa-apa Zeno,"
"Hm. Oke," Lelaki itu menjulurkan tangannya, "Cepet, biar gak kesandung batu. Lo kalau jalan kaya anak kecil, gak liat arah."
Kekehan dari Katahrina terdengar, segera ia menautkan tangannya dengan milik Arzeno. Kembali melangkah beriringan, menikmati hawa dinginnya malam yang dipenuhi bintang indah.
"Zeno, ada banyak bintang disana," Unjuknya kepada langit malam.
Arzeno mengangguk, benar adanya bahwa bintang disana terlihat indah tak terhitung jumlahnya. "Lo suka bintang?"
"Iya, aku suka bulan dan bintang, dikala bumi gelap, bulan dan bintang hadir menghiasi," Senyuman gadis itu berhasil menarik atensi Arzeno untuk menatapnya.
"Sesuka itu?" Bingung Arzeno.
Katharina tersenyum, menoleh ke arah Zeno. "Bulan dan bintang memiliki makna tersendiri untukku, dulu ada seorang yang bilang bahwa aku lebih indah dari bulan, apa benar itu Zeno?"
Surai Katharina yang tertiup angin terasa semakin menampakkan kecantikannya. Zeno setuju dengan orang yang mengatakan bahwa Katharina memanglah lebih indah dibandingkan bulan Silangit sana. "Enggak. Bagusan bulannya," Balas lelaki itu, kemudian menoleh kearah lain.
"Huft, memang apa yang aku bisa harapkan dari setiap kata-kata jahatmu Arzeno," ujarnya sedikit merasa jengkel.
"Ikut gua yuk."
"Mau kemana? Bukan kah kamu baru selesai kerja? Apa tidak lelah?"
Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, sang lelaki segera menarik tangan Katharina, menuju kesebuah pedagang kaki lima yang juga mendirikan sebuah tenda disamping jalan. "Zeno api apa itu?! Zeno sepertinya ada yang terbakar?! Zeno lihatlah asapnya ada dimana-mana, ayo cepat bantu sebelum api nya membesar!" Panik Katharina mencari air untuk memadamkan api.
"Rin, itu bukan kebakaran. Eh-eh ngapain narik selang, astaga itu bukan kebakaran, Woy taro lagi selangnya,"
"Tapi itu terbakar Zeno?!"
"Bukan astaga!" Dengan cepat Arzeno menghampiri gadis itu, menaruh kembali selang yang tadi gadis itu ambil entah dari mana. "Itu bukan kebakaran, itu orangnya lagi bakar sate,"
"Apa itu? tapi itu sama saja kebakaran." Kekehnya menatap Zeno.
"Bukan, itu dia lagi masak, ah ia dia juru masak, Lo tau kan? dia mirip Mang Atuy, cuma bedanya dia masak nya di bakar,"
Kemudian gadis itu ber-ohria, "Oh begitu, kenapa kamu tidak bilang sejak tadi?"
"Ya Lo nya udah keburu ngambil selang, astaga jangan bikin gua emosi ya," Lagi-lagi Zeno menarik tangan gadis itu, menyuruh sang gadis diam dan duduk dibangku plastik yang ada disana. "Bang sate dua porsi," Sahutnya kepada Sang pedagang.
"Woah, ternyata banyak penjual makanan ya Zeno, aku baru tahu." Kagumnya memperhatikan sepanjang jalan yang diisi berbagai pedagang kaki lima. "Tapi Zeno, mereka bekerja sampai malam?"
"Ya emang mereka bukanya pas malam doang," Balasnya membuat Katharina manggut-manggut paham. "Eh Rin, tadi Lo kenapa panggil Navan pangeran deh? Gua gak sengaja denger sih,"
Gadis itu tersenyum, menutupi wajah khawatir nya. "Ah... Itu... Karena..."
"Apa?"
"Wajahnya tampan, iya tampak seperti seorang pangeran."
"Trus maksud Lo gua gak cakep gitu? Kenapa Navan doang yang Lo panggil kaya gitu ha?" kini bukannya takut Katharina malah tertawa, yang benar saja wajah Arzeno terlihat seperti anak kecil yang merasa cemburu akan suatu hal!
"Haruskah aku memanggilmu pangeran Zeno?" Tanya gadis itu yang malah membuat Zeno gugup saat mendengarnya.
"Gak, gak usah, jelek. Udah dipakai buat panggil Navan,"
"Kamu lucu Zeno, kamu lebih cocok ku panggil bayi dibandingkan seorang pangeran." Masih terus dengan tawanya, Katharina tak bisa berhenti bahkan kini perutnya terasa sakit.
Lihatlah betapa lucu nya Arzeno mempoutkan bibirnya, karena merasa jengkel dengan perkataan Katharina. "Gua lebih ganteng dari Navan,"
"Utututu lucu sekali bayi besar ini." Godanya memainkan kedua pipi Arzeno. "Baiklah kamu bahkan lebih tampan dari Navan seratus kali lipat,"
"Gua mau nya seribu,"
"Astaga baiklah, seribu kali lipat. Zeno bahkan lebih tampan daripada seorang pangeran," Lelaki itu kini terdiam malu mendengar Katharina berucap, kupingnya terasa panas dan memerah.
"Ekhem, ya-yaudah. Gua udah tau,"
"Cih angkuh sekali, jika dikerajaan ku kamu bersikap seperti ini didepan para bangsawan pasti lidahmu sudah dipotong Zeno,"
"Tapi gua gak hidup di zaman Lo kan," Sambungnya lagi.
"Iya tapi kamu sangat menyebalkan,"
Ditengah perbincangan mereka, datang seorang anak kecil menggunakan baju lusuh sembari membawa ukulele ditangannya. "Halo kak, izin nyanyi yak," Ujar suaranya lantang.
Sebuah lagu yang Arzeno tak tahu judulnya dinyanyikan oleh anak itu. Jika didengar suaranya memang tak terlalu merdu, namun Arzeno malah tersenyum melihat betapa semangatnya sang anak bernyanyi sembari memainkan ukulelenya. "Suara aku bagus gak kak?" Tanya anak itu.
Katharina sontak bertepuk tangan. "Kamu hebat sekali, suaramu bagus, aku suka, terimakasih sudah bernyanyi untuk kami,"
Perlahan Zeno merogoh kantongnya, mencari selembaran uang disana. Kertas bewarna biru ia berikan kepada sang anak, dengan lembut tangannya mengelus rambut anak kecil itu. "Uang nya dibeli makanan ya," Ujarnya tersenyum tulus.
"Wah kak banyak banget, aku gak ada kembalian,"
Zeno menggelengkan kepalanya, "Ambil aja, beli makanan ya, terus kalau pulang hati-hati ini udah malam,"
Sang anak mengangguk lucu, "Iya kak, makasih banyak ya, semoga sehat terus sama pacarnya." senyuman nya mengarah pada Katharina. "Dah kak, aku mau pergi ngamen lagi," Anak itu berlarian , menghampiri temannya yang lain sembari bersorak dengan uang yang ia dapatkan. "Woy-woy ayo kita pulang beli makanan," Teriaknya terdengar jelas di kuping Katharina dan juga Zeno.
"Zeno? Apa anak itu baru saja mencari uang dengan cara bernyanyi?" Zeno mengangguk sebagai jawaban. "Tapi dia masih terlalu kecil, dimana orang tuanya?"
"Gak tau, banyak anak kecil disini yang kerja jadi pengamen, rata-rata dari mereka ada yang disuruh orang tuanya, ada juga yang mau kerja ikut-ikutan temennya yang lain, atau hanya sekedar cari uang untuk makan,"
Entah rasanya hati Katharina terasa sangat mudah tersentuh, kini matanya berbinar. "Bahkan untuk makan saja mereka harus berjuang sejak kecil seperti ini, betapa tak bersyukur nya aku yang sejak dulu hidup mudah apalagi untuk sekedar makan sehari-hari,"
"Cengeng juga ya Lo."
"Ih Zeno, aku hanya terharu, mereka anak-anak hebat. Diumur mereka yang sekarang seharusnya mereka mendapatkan pendidikan yang bagus,"
"Menurut Lo mereka mampu sekolah dengan keadaan mereka yang seperti tadi?" Tanya Zeni kepada Katharina.
"Tidak sih... Tapi... Ah sudah aku merasa sedih Zeno,"
Zeno tertawa kemudian menyodorkan tisu kepada gadis itu. "Dunia terlalu kejam buat mereka, bahkan mereka masih terlalu kecil untuk hadapin beratnya cobaan dunia Rin. Seharusnya mereka dapat pendidikan yang layak, seharusnya mereka sekarang lagi seneng main bareng temen-temen nya, belajar disekolah, tapi dunia yang kejam ini malah merampas semua kebahagiaan yang seharusnya terjadi. "
Gadis itu masih berusaha menghapus air matanya, entah kenapa rasanya ia sangat merasa sensitif hari ini. "Zeno, apa kamu punya impian? atau cita-cita?" Tanya gadis itu membuat atensi Zeno tertuju padanya.
"Gua punya, tapi seiring berjalannya waktu gua jadi bingung Rin, kalau dulu rasanya gua semangat untuk kejar mimpi biar bisa buktiin ke kedua orang tua gua, tapi sekarang gua mau buktiin kesiapa?"
Dengan lembut Katharina mengelus tangan lelaki itu. "Setidaknya kamu bisa membuktikan kepada dirimu sendiri Zeno, semua orang selalu datang dan pergi, namun yang akan terus menetap hanyalah dirimu, kamu yang paling paham akan dirimu, bagaimanapun juga, semua yang telah kamu gapai tak boleh menjadi sia-sia, kata siapa kamu tidak bisa membuktikan kepada siapapun?"
"Kamu juga bisa Zeno, sekarang aku disini, berjanjilah kepadaku untuk menggapai mimpimu setinggi mungkin, aku akan jadi orang yang bangga akan setiap kerja kerasmu, lagi pun orang tua mu pasti akan melihat dari atas sana, mereka pasti tahu kamu bisa menggapai mimpi mu,"
Rasanya damai, damai ketika suara lembut Katharine menelisik telinganya. Semua tutur kata gadis itu selalu membuatnya merasa tenang, kini Zeno sadar, bahwa kehadiran Katharina ternyata adalah sebuah anugrah. "Katharina, gua janji akan gapai mimpi gua sebisa mungkin, gua mau Lo liat nanti gua jadi seorang arsitek yang sukses Rin, gua mau bangun rumah impian gua, rumah yang penuh kehangatan didalamnya, tapi janji juga ke gua ya Rin, Lo gak boleh pergi, tetap disini sama gua Rin..."
Katharina mulai terdiam, matanya menatap dalam seorang Arzeno Javierro. "Zeno, aku akan terus berada disisimu sebisa mungkin, aku mau lihat betapa hebatnya seorang Arzeno Javierro membuat rumah impiannya, menggapai semua impiannya, lalu hidup bahagia."
Dan ada satu lagi harapanku Zeno, aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi salah satu dari bagian impianmu.
-Statue Love-
©nanayyyg_
Navandra
Vanandrana
hayuk kemarin siapa yang berteori tentang Navan?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co