Truyen3h.Co

Statue Love

16. List

nanayyyg_

Dimatanya kini hanya tersisa taburan indahnya bintang malam yang berkelap-kelip. Sembari menatap kearah langit gadis itu bersenandung indah. Walau hanya senandung lembut tanpa lirik, yang pasti bisa dirasakan oleh sang lelaki bahwa gadis didepannya kini memiliki suara yang bagus, sungguh layak untuk menjadi peserta audisi pencarian bakat.

"Suara Lo bagus ya," Gumam lelaki itu memandangi sang gadis.

Yang disebut malah tertawa, "Terimakasih Pangeran atas pujiannya," jawabnya anggun menoleh kearah belakang.

Diatas Rooftop rumah milik Arzeno yang tak terlalu besar, kedua insan itu kembali diam sibuk dengan dirinya sendiri. Navan yang masih setia menemani Katharina sampai Arzeno pulang kini tengah sibuk didepan laptop, mengerjakan berbagai laporan praktek yang begitu banyak, dan Katharina sama seperti biasanya, dia tak melakukan apapun, hanya memandangi langit.

Katharina suka ketika melihat suasana sunyi nan tenang, rasanya seakan dunia dalam beberapa menit menjadi hanyut terbawa kesunyian, tak ada bising, tak ada keramaian yang membuat pusing, dan tak ada pertengkaran antara manusia satu dan manusia lainnya.

"Pangeran, kenapa dulu kamu sangat mengenalku, dan bahkan sampai jatuh cinta? Jujur aku kebingungan memikirkan hal itu," Tanya gadis itu.

"Siapa sih yang gak kenal Katharina Belleazure? Eh Lebih tepatnya Vanandra yang tahu Rin, dia tahu lebih banyak tentang Lo. Dulu semua orang tersanjung karena kecantikan seorang putri dari kerajaan azuranus, ah adalagi, putri mana yang rela menyamar jadi rakyat jelata demi memberantas kejahatan? Mereka sampe bilang kalau Lo tuh Dewi, Lo suka bantu rakyat, gak perduli rakyat itu dari kerajaan manapun, pasti selalu Lo bantu." Jawab Navan dengan seringai, mengingat betapa jelas alur di dalam mimpinya.

Gadis itu tertawa, "Ternyata mimpimu hanya menjelaskan kebaikan ku pangeran, aku tidak seistimewa itu, kamu terlalu baik mengatakan hal itu."

"Dan seorang pangeran Vanandra juga gak sebaik itu Katharina,"

"Pangeran... Bisakah kamu membantuku?"

"Cari nenek tua yang kasih kalungnya ke Arzeno?"

Gadis itu membelalakkan matanya, bagaimana bisa Navan mengertahui hal itu? "Darimana kamu tahu pangeran?"

"Gua akan bantu Rin, gua akan berusaha sebaik mungkin,"

"Pangeran aku tidak tahu harus mengatakan apalagi, tapi Terimakasih banyak,"

"No need to thanks Rin, tanpa diminta pun gua akan bantuin Lo," Jawabnya sembari tersenyum manis, menatap dalam gadis cantik didepannya, gadis bersurai panjang nan indah layaknya bulan yang bersinar.

Ting!

"Maaf pangeran, sepertinya ada yang mengirimkan aku pesan,"

"Iya Rin."

[Katharina cantik banget euy]

Haikal mengundang anda ke dalam grup

Haikal
Oy friend, Wellcome to the zoo

Raihan
Iya yang isinya Haikal monyet
Sama Raihan ganteng

Wah apa ini?
Ternyata mengirim
pesan dizaman ini bisa
langsung diberikan kepada beberapa orang ya?

Haikal
Buset ngomongin zaman
padahal kayanya kita seumuran

Raihan
Curiga dia nenek moyang kita

Ah😞 bahkan Zeno pun
mengatakan bahwa aku nenek
moyang :(

Haikal
Eh jangan cemberut
gitu dong geulis
Mana ada nenek moyang
secantik lo
Seharusnya Raihan tuh
yang disebut Kakek moyang
dia tukang marah-marah
mukanya dikit lagi keriputan

Raihan
Kata gua Lo sih kek anjing

Anjing hewan yang lucu

Haikal
iya bener Rin, berarti gua
lucu juga yak

Raihan
Lucu
kek boneka dakocan

Haikal
Anying yang bener aja

Kalian ada apa mengirim
pesan kepadaku?

Raihan
Arzen ada dirumah gak Rin?

Dia sore tadi pergi ke kampus
dan belum pulang

Haikal
Yaudah kita ke sana ya
sekalian numpang main PS

Raihan
Lah emang Arzen punya Ps?

Haikal
Kagak anying, ini gua minjem
punya Chendra, yang anak cafe nya Arzen sama Navan

Kalian datang saja, disini juga ada Pangeran ヽ(。◕o◕。)ノ.

Raihan
Ha? Siapa pangeran?

Haikal
Pangeran? Gua maksud Lo Rin?

Bukan,
maksudku, Navan dia ada disini

Haikal
wah anjir kalah gocek gua

Raihan
diam-diam Navan menghanyutkan

Haikal
Diam ternyata suhu bos
Yaudah gua Otw rumah Arzen deh
Nanti gua bawain makanan Rin tenang aja
Soalnya yang bayar Raihan

Raihan
Bangke kok gua anjing

Hahaha sudah kalian hentikan
pertengkaran ini, datang kesini saja, sembari menunggu Arzen pulang

Haikal
Siap tuan putri

Raihan
Gua bawain boba nanti Rin

Ah terimakasih banyak Raihan

Haikal
Sama-sama sayang

Raihan
🖕

Katharina tak henti-hentinya tertawa saat membaca grup chat milik mereka bertiga. Navan yang tadi sibuk dengan laptop kini atensinya beralih pada gadis itu, memandang aneh gadis bersurai panjang yang tertawa dimalam seperti ini. "Kenapa Rin? Kayanya asik banget liat hp,"

"Ini Navan, Haikal dan Raihan bilang ingin datang kesini,"

"Ngapain si tuh pasukan cacing kepanasan dateng, ganggu orang aja,"

"Mereka mau bermain disini."

"Tapi berisik kalau ada mereka, apalagi Haikal,"

Gadis itu menertawakan ucapan Navan, tapi memang benar adanya bahwa diantara Zeno, Raihan, Haikal dan Navan, yang paling berisik adalah Haikal. Tapi walaupun begitu Katharina suka, ia jadi punya teman berbicara, dan tak merasa bosan seharian. "Tidak apa Pangeran, aku senang mereka datang, rumah ini jadi terlihat ada lebih ramai dari biasanya."

"Iya deh, terserah Lo Rin,"

"Pangeran, tapi apa yang kamu lakukan sejak tadi? Kamu sama seperti Zeno yang selalu sibuk dengan pekerjaannya,"

Navan menatap gadis itu, kemudian ia terkekeh. Lambai-lambai tangannya bergerak menyuruh sang gadis duduk dikursi rotan samping yang terlihat kosong. "Liat deh."

"Wah apaitu?!" Ujarnya dengan mata berbinar. "Eh bukankah itu gambar tubuh dan organ manusia?"

"Iya, bener. Ini gua lagi kerjain tugas skripsi,"

"Apa begini orang di zaman sekarang bersekolah? Mereka selalu menggunakan teknologi, Ku lihat kemarin Zeno juga mengerjakan tugas nya di benda yang bernama lapatop ini."

Astaga Navan tertawa terbahak-bahak "Laptop Rin... Tapi bener, seiring berjalannya waktu teknologi itu semakin berkembang, semakin juga bantu manusia dalam kegiatan sehari-hari. Nih gua kerjain tugas skripsian di laptop, gak bisa kebayang deh gua kalau skripsian ditulis tangan, mana tulisan gua kaya ceker ayam, suka typo juga."

Katharina mengangguk paham, ternyata benar yang Navan bilang, teknologi dizaman ini sangat membantu manusia, berbanding jauh dengan zaman nya dahulu, yang mengirim surat saja harus lewat burung merpati, dan ditulis dengan kertas yang jumlahnya terbatas, dengan pena tinta.

Dalam beberapa detik Katharina berpikir. "Pangeran, tapi yang kamu kerjakan itu untuk apa?"

"Ini tuh bisa dibilang tugas akhir gua Rin, kalau gua bisa selesaiin ini dan di acc sama dosen, gua udah boleh wisuda, Dan punya gelar Dokter, keren gak?"

Walaupun nampak kebingungan gadis itu hanya mengangguk, iya yakin yang dijelaskan Navan pasti mengenai sesuatu yang hebat, yang telah ia perjuangkan. "Sepertinya itu terdengar sangat hebat pangeran. Lalu setelah itu kamu akan bekerja?"

"Iya setelah gua koas. Tau gak? Kenapa gua mau jadi dokter?" Pertanyaan Navan sangat membuat gadis itu penasaran.

"Dulu gua sering nganterin bunda ke rumah sakit, dan waktu itu pas ada anak kecil seumuran gua dia kayanya korban tabrak lari, keluarganya udah nangis ketakutan, gua juga sempet takut karena darahnya udah dimana-mana, tapi pas gua sama bunda mau pulang, gua gak sengaja ketemu lagi sama keluarganya, dia bilang makasih ke dokter yang udah bantuin anaknya, "

"Dan dari situ kamu mau menjadi seorang dokter?"

Navan mengangguk. "Iya, gua yang kecil dulu ngerasa kalau jadi seorang dokter tuh hebat banget kaya pahlawan, ya walaupun mereka tau pada akhirnya semua yang mereka lakukan itu gak selalu berhasil, dan takdir yang jalanin semuanya. Tapi setidaknya mereka udah berusaha sebaik mungkin buat obati mereka yang terluka,"

Gadis itu tersenyum, dalam sejenak ia mengaggumi betapa hebatnya seorang Navandra. "Seperti yang kamu bilang tadi, kamu keren, kamu hebat sudah menggapai mimpimu pangeran,"

"Iya Rin,"

"Pasti banyak hal yang sudah kamu lewatin, banyak hal yang sudah kamu korbankan, tapi lihatlah semuanya tak pernah mengkhianati." Tutur lembutnya sembari tersenyum sungguh membuat seorang Navan merasa tenang.

Perlahan namun dengan gerakan yang pasti, Navan mengenggam tangan gadis itu. "Tapi ada mimpi gua yang belum tergapai Rin,"

"Apa itu pangeran?"

"Lo,"

"Aku?"

"Nama Lo jadi list mimpi gua selanjutnya, Katharina Belleazure."

-Statue Love-

Didalam sebuah toko kue donat, kedua mahasiswa arsitektur semester akhir itu tengah memilih rasa kue yang pasti untuk dibeli. Ah sebenarnya hanya sang gadis yang sibuk memilih, sedangkan sang lelaki hanya diam memikirkan hal lain.

Diam, merasa gusar, Arzeno teringat dengan tamu tak diundang yang beberapa hari terakhir ini datang kerumahnya, apa gadis itu sudah makan malam? ini sudah terlalu larut, pasti ia sangat kelaparan bukan?

"Oy Arzen, bengong mulu Lo. Hm, Lo mau rasa apa Zen?"

"Kok gua? Gua gak perlu Al, buat Lo aja sama ibu Lo, makasih sebelumnya udah nawarin gua,"

"Ih gapapa Zen, ini ucapan terimakasih gue karena Lo udah kasih tau toko kue ini, ayo please pilih rasa apa," Ujarnya memohon kepada Arzen.

"Hm, yaudahh coklat aja Al,"

"Okay! Bentar ya," Setelah memilih beberapa donat untuk ibunya dirumah dan juga Arzeno, sang gadis segera bergerak cepat mengantri dikasir.

Tanpa mengulur waktu lebih lama, apalagi mengingat hari sudah semakin larut, Alya memberikan satu kotak berisi beberapa donat kepada Arzeno. "Makasih ya Zen,"

"Eh gua yang seharusnya bilang makasih Al,"

"Gak elah, santai aja."

"Lo pulang naik bus? Ayo gua anter,"

"Eh? Gak usah Zen, gue udah biasa kok. Lagipula rumah kita beda arah, Lo emang gak capek abis kerjain persepektif interior tadi? Mending Lo pulang, istirahat, terus siapin mental buat sidang. Eh iya Lo mau sidang kapan?"

"Belum kepikiran, tapi gua harus selesaiin tugas dulu, masih banyak tagihan juga, kalau udah baru fokus sidang,"

"Hm, bener sih. Astaga nyesel jadi anak arsitektur gue. Capek nya gak waras!"

Arzeno terkekeh melihat wajah marah Alya, apalagi yang tengah memaki-maki jumlah tugas yang tak pernah berhenti. "Selesaiin tugas satu, tapi abis itu nambah lima tugas. Oh gosh gak kuat gue,"

"Lo ngomong gak kuat, tapi masih Lo lanjutin sampai di semester akhir sekarang. Bisa kok Al, sabar dikit lagi selesai,"

Dengan senyum terpaksa Alya berusaha menyemangati dirinya sendiri, setidaknya dia harus positif thinking walau aslinya sudah berkali-kali menyerah. "Yaudah Zen, gue balik ya, makasih udah anterin gue kesini."

"Iya Alya, sama-sama, take care, kalau udah sampai hubungin gua ya."

"Eh iya, okay Arzen, see u!" Semangatnya melambaikan tangan pada Arzeno.

"Too Al,"

"Kalau lagi senyum matanya ilang," gumam Arzeno menatap punggung Alya dari kejauhan. " i think I have hella feelings for her,"

-Statue Love-

Tok tok tok

Ketukan pintu semakin keras, berusaha membuat kesal sang pemilik rumah agar membukakan pintu. "Lo ngapain si Kal?"

"Boker. Ketuk pintu lah blegug, buta mata Lo!"

"Ya tapi biasa aja ngetuknya, jangan kaya tukang renternir nagih utang." Kesal Raihan yang berdiri disamping Haikal sembari membawa banyak plastik makanan. "Haikalsat. Pegel tangan gue, bantuin anjir, bantu pegang makanannya!"

"Ish, ngomel-ngomel mulu, Cepet tua Lo!"

"Diem ya nyet."

Cklek

"Hey geulis."

"Geli anjing."

"Sirik aja anaknya pak Budi. Rin, mana si Navan? Bisa-bisanya nya dia mulai start duluan, curang tuh dia." Protes Haikal yang tak mau kalah dengan Navan.

"Dia ada di atap, ayo kalian juga kesana,"

"Tuh anak dari tadi disini Rin?" Tanya Raihan.

"Sejak sore tadi, ya lumayan lama,"

"Lama banget itu, betah banget dia disini, kaya gak punya rumah aja. Pasti dia ganggu Lo ya Rin?"

"Ah enggak Raihan, dia tidak menganggu, aku senang ada teman bicara, kami banyak berbincang tadi, ayo kalian segera masuk."

Segera Katharina membantu Raihan membawa barang-barang nya, kembali keatap menemui Navan yang tadi sempat ia tinggalkan. "Woy calon dokter, ternyata buaya juga ya Lo,"

Navan menolehkan kepalanya, memandang aneh Haikal. "Kenapa sih Lo."

"Kata gue Lo monyet, bisa-bisanya berduaan disini sama Katharina, kata orang kalau berduaan nanti ketiganya setan."

"Iya setan nya Lo,"

"Anying. Maneh kalau mau ngajak gelut sini hayuk!"

Navan menggulung baju tangan panjangnya, memperlihatkan urat tangannya yang sudah mengepal. "Sini, hayuk!"

"Anying gua bercanda bego! Otot Lo lebih gede! Gak adil!"

"Halah, kalau ngomong aja kesana kesini, diajakin gelut gak mau."

"Ampun mang, masih mau lihat bunda dirumah," Jawab nya bersalaman dengan tangan Navan, meminta maaf dengan muka lusuh.

Melihat Katharina yang keberatan dengan bawaannya, tanpa ambil lama Navan yang peka membantu gadis itu, menaruh barang-barang tadi di meja kecil yang ada disana. "Terimakasih pangeran," Ucapnya tersenyum.

"Woah, keren ya Lo semua, ngadain pesta tanpa ada tuan rumahnya," Pekik Arzeno yang tiba-tiba datang.

"Eh-eh ingat moto kita? Satu untuk semua, jadi kalau Lo punya rumah, artinya rumah itu juga punya kita," Ujar Haikal menjelaskan.

Raihan menggelengkan kepalanya, kali ini ia membiarkan Haikal berbicara, karena ia tahu pasti sehabis ini Haikal dapat pukulan dari Arzeno. "Jait aja mulutnya Zen."

Untung saja kesabaran Arzeno masih banyak, ia tak mau membuang energi untuk meladeni tingkah Haikal. Dengan segera lelaki itu melangkah, menaruh donat pemberian Alya diatas meja, dan duduk di bangku samping Navan. "Skripsian Lo?"

Navan mengangguk. "Iyalah. Biar cepet lulus."

"Tapi abis skripsi masih ada koas kan Lo?"

"Iya. Terus kerja, abis itu lamaran, nikah, dan membentuk keluarga yang sakinah mawadah warahmah bersama Katharina."

Orang yang tadi sedang meminum bobanya seketika langsung merasa tersedak mendengar ucapan Navan. "Anjing keselek. Halu Lo sampe ke Bojong gede Van."

"Ya setidaknya bermimpi dulu, kalau gak kejadian gak apa."

Zeno memukul sedikit siku Navan. "Lo beneran suka Katharina?"

"Kenapa? Lo suka juga?"

Sontak lelaki yang ditanya membesarkan bola matanya. "Gak lah. Gila Lo."

"Zen. Saran gua, kalau Lo emang beneran suka sama dia, buru-buru bilang ke gua, jangan sampai Lo nyesel pas dibagian akhirnya." Perkataan Navan seakan memukul Zeno dengan begitu dalam.

Beberapa menit lelaki itu terdiam, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi didalam gejolak hatinya saat ini? Ia bahkan tak bisa memahami dirinya sendiri. "Gak, gua suka sama orang lain Van."

"Siapa?"

"Kepo."

"Anying! Kalau ngomong yang jelas! Jangan setengah-setengah." Kesal Navan, namun tak dipedulikan Arzeno.

Ia beralih memindahkan singgasananya di dekat Katharina berada. Dalam diam lelaki itu memperhatikan wajah lembut sang gadis yang tengah bercanda dengan Haikal dan Raihan, betapa lucunya ia tertawa sembari mengunyah sebuah donat rasa coklat.

Perlahan ia membuka jaket denim yang ia kenakan, memasangkan nya kepada gadis itu. "Jangan dilepas."

Sang gadis mendenguskan nafasnya. "Tak bisakah kamu memasangkan jaket ini dengan benar? Jaket ini bahkan menutupi wajahku Zeno!" Wajahnya berubah menjadi sedikit kesal sembaru bibirnya nya yang terpoutkan lucu.

"Bawel, benerin aja sendiri." Gumamnya kemudian pergi dengan sedikit senyuman. "Lucu."

-Statue Love-








Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co