2
SETELAH kondisi Rosa sudah lebih baik, Chand membawa Rosa keluar dari sana. Keduanya berjalan pelan bersisian dengan Chand yang menggenggam jemari Rosa.
"Aku tidak tahu kalau orang yang kau maksud adalah sepupuku." Chand menolehkan kepala sedikit menunduk, menatap dari atas wanita yang sedang berjalan dengan raut wajah dingin.
"Aku tidak akan merusak perusahaan keluarga kalian. Targetku hanya keluarga Park dan saudaramu."
Chand menghela napas. Langkahnya berhenti, pria itu membawa Rosa menghadap kepadanya dengan kedua tangan ia letakkan di pundak sahabatnya, "Rosa, kau tahu kan bukan itu maksud perkataanku tadi?"
Sejujurnya, walaupun Chand benar-benar tidak mengira bahwa lelaki jahat yang membuat kehidupan sekolah Rosa yang pernah diceritakan wanita itu adalah anak dari paman Yohannes Young, tetapi Chand benar-benar tidak mempermasalahkan soal itu. Hanya jika saja Chand mengetahui lebih awal—atau ia mengenal Rosa lebih awal—maka mungkin saja dia bisa membalaskan perbuatan sepupunya itu dengan menonjok wajah itu sampai babak belur.
Rosa tersenyum kecil, "Terima kasih karena selalu disisiku. Dan untuk tadi juga sudah menyelamatkanku dengan menelepon."
"Menelepon?" kening Chand mengernyit. Pasalnya, ia sama sekali tidak pernah menelepon Rosa, dia malah ingin menanyakan siapa orang yang menelepon wanita itu tadi, namun ia lupa karena mendapati wajah syok dan nelangsa wanita itu.
"Kau tidak meneleponku dengan nomor Korea?"
Chand menggeleng. "Aku baru mendarat tadi sore kan? Lagipula aku sudah mengirimimu pesan menggunakan nomor baruku. Kau tidak menyimpannya?"
Dengan segera Rosa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia memang belum sempat menyimpan nomor Chand karena ibu tiba-tiba datang mengantarkan gaun satin yang dipakainya sekarang. Rosa mendongak kaku, menatap Chand tepat di manik mata saat ia telah berhasil mencocokan nomor. Dan nyatanya kedua nomor itu memang berbeda.
"Jika ini bukan kau, lalu sia...pa?" Rosa panik, ia mencoba menghubungi nomor itu dan tidak diangkat. "Chand, hanya kau dan informanku yang tahu nomor ini."
"Mungkin hanya orang salah sambung?"
Rosa menggeleng, "Tidak. Dia mengirimi pesan kalau dia sudah ada di depan ketika aku di dalam toilet tadi. Tidak mungkin orang salah sambung kan?"
"Aku mencarimu sejak tadi, Risa. Ternyata kau disini, dengan sia--Chand?"
Suara berat seseorang menghentikan perbincangan Rosa dan Chand. Keduanya lantas menoleh ke sumber suara dan mendapati Jefri berdiri tak jauh dari mereka.
Chand segera melepaskan melepaskan tangannya dari bahu Rosa dan mundur satu langkah, lalu memupuk kebohongan saat mendapati mata tajam Jefri nyalang memerhatikan, "Tunanganmu tadi hampir jatuh."
Raut wajah kaku Jefri perlahan mengendur, pria itu melangkah mendekati Rosa, menyisir rambut halus di sekitaran pelipis tunangannya dengan sayang. "Aku cemas karena kau tidak kembali-kembali. Kau sakit?"
Rosa menggeleng kaku.
"Aku duluan ya kalau begitu." sela Chand menepuk pelan bahu Jefri. Yang ditepuk bahunya mengangguk singkat.
Rosa melirik Chand melalui ekor mata yang sedang mengangguk sekali kepadanya sambil membuat kode dengan membawa jari kelingking dan ibu jari ke arah telinga dan bicara tanpa suara, "Aku akan menelepon nanti."
Mengangguk tak kentara, Rosa kemudian membubuhkan pandangan kepada pria di depannya kembali dan memberikan jawaban, "Aku menunggu sampai toiletnya kosong."
"Kau seperti Rosa saja..." gumam Jefri dengan kening berkerut.
Rosa tersentak, tanpa sadar menahan napas sambil menatap Jefri horor. "Apa maksudmu!?"
Jefri tersenyum manis, mengacak pelan puncak kepala Rosa, "Saudaramu itu kan tidak pernah percaya diri di depan orang banyak. Tetapi jelas berbeda denganmu sayang..."
Rosa mengepal tangan, tanpa sadar mengembuskan napas lega. Dia tidak boleh berlama-lama disini karena bisa saja Jefri mengendus hal mencurigakan. "Ayo kita kembali, mereka mungkin sudah bertanya-tanya." ajak Rosa bersamaan dengan melangkahkan kakinya.
"Tidak mau," Jefri buru-buru mencekal lengan tunangannya sampai membuat wanita itu menaikkan alisnya bingung. Untuk sesaat Jefri hanya memandangi Rosa lamat-lamat. Tapi, ketika Rosa hendak melanjutkan langkah, tiba-tiba suara Jefri mengalun menawarkan sebuah ajakan yang lebih menjurus kesebuah perintah. "Ikut aku, aku ingin mengajakmu melihat sesuatu."
Dan tanpa menunggu jawaban, pria berlengkung mata tajam itu sudah membawa Rosa keluar dari dalam sana menuju mobilnya yang terparkir ditempat pertama tanpa memberitahu kemana tujuan mereka.
***
Rosa terpaku. Pandangannya jatuh pada pemandangan indah memanjakan mata di depannya. Ia kira, semua orang hanya membual soal suasana Namsan Seoul Tower yang nampak berkali-kali lipat lebih indah ketika malam hari, tetapi hari ini semua prasangkanua seolah di hempas jatuh ke dasar sungai.
Ini lebih dari indah!
Tanpa ia sadari kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Cantik..." gumam Rosa pelan.
Jefri terpana melihat senyum wanita di sampingnya, senyuman yang membuatnya luruh dan menjadikan wanita ini sebagai cinta pertamanya sampai sekarang. "Mm, Cantik..."
Meski jaraknya lumayan jauh dan menyita prasangkanya sejak perjalanan menuju kesini—Rosa sempat kira kalau ia akan di culik—namun pemandangan yang dibentangkan di depan matanya sekarang adalah yang terbaik. Sejak dulu, Rosa memang menyukai hal-hal berbau alam selain memasak--atau tepatnya semenjak dunianya berubah menjadi kelam. Menurut Rosa, hanya alam yang mampu menerima manusia apa adanya tanpa mencela seperti kebanyakan manusia.
Kepala Rosa menunduk, menatap jas yang kini menaungi tubuhnya. Memberikan kehangatan yang nyaman, kehangatan yang tak berwujud namun mampu ia rasakan. Tangannya memegang ujung jaket, lalu kepalanya mendongak. Menatap si pemilik bola mata kelam yang juga balas menatapnya.
"Angin bulan Desember sangat dingin, aku tidak ingin kau sakit." ucap Jefri menjawab tatapan Rosa.
Rosa tersenyum masam. Risa memang beruntung memiliki bajingan sialan ini, kalau saja semuanya tidak seperti ini—mungkin sekarang ia akan ikut berbahagia bersama Risa dan Jefri. Kalau saja...
Tidak menjawab perhatian Jefri, Rosa memilih berjalan pergi menatap sekitar. Langkahnya pelan, menapaki lantai kayu yang disusun rapi dengan teratur. Beberapa penjual makanan ringan dan gembok nampak berjajar menawari dagangan mereka kepada pasangan muda-mudi yang datang malam ini. Lalu, pandangannya beralih ke sisi kiri dimana terdapat bangku panjang kayu berjajar yang kini isi hampir dipenuhi oleh beberapa pasangan.
Rosa mengernyit jijik saat mendapati satu pasangan yang tengah berciuman mesra di bangku paling pojok. Tanpa sadar suara dinginnya menggumam, "Ew! Dasar menjijikkan!"
"Kau mau?"
Rosa mendongak dengan kening berkerut. "Apa?"
Menggunakan dagu, Jefri menunjuk ke arah pasangan muda-mudi yang sedang berciuman disana, dan tertawa kencang ketika melihat kedua mata Rosa melotot tajam. Dibawanya tubuh itu dan mengurungnya ke dalam pelukan. Sambil mengelus belakang kepala Rosa pelan, Jefri berbisik. "Aku mencintaimu."
Rosa tersenyum sinis dengan pandangan lurus ke depan.
Lihat saja, tunggu sampai kau tahu kalau aku bukan Risa, dan sampai Risa tahu kalau kau menikahiku. Kalian berdua akan hancur bersamaan dengan kehancuran perusahaan keluarga Park... Batinnya.
"Kau sering mengatakan kalau kau mencintaiku sebelumnya. Kenapa hari ini tidak sama sekali?" Jefri menguraikan pelukan mereka bersama satu pertanyaan yang lolos dari mulutnya.
Keningnya mengerut dalam memandangi wanita cantik yang kini pipinya mulai berubah memerah karena terpaan angin malam.
"Kau tidak bosan apa mendengarnya terus?" Rosa mengangkat alis.
"Baiklah, tunggu sebentar," Jefri bernego, matanya menatap ke sekeliling dan berlari menuju satu pedagang gembok cinta dan membeli sepasang. Jefri kembali dengan napas sedikit terengah, namun senyuman lebar tak hilang dari wajahnya. Pria itu mengusap pelan tengkuknya sambil berkata, "Aku sudah lama ingin mengajakmu ke Namsam dan melakukan hal seperti ini."
Rosa menatap gembok berwarna putih dengan gradasi merah muda itu sesaat. Lalu menghela napas pelan, "Ayo kita lakukan."
Jefri tersenyum lebar. Memberikan satu gembok kepada Rosa, dan satu lagi untuknya. "Ini akan berbeda,"
"Ha?"
"Aku tidak akan melihat tulisanmu, dan kau tidak akan melihat tulisanku. Alih-alih menuliskan nama kita seperti kebanyakan orang, bagaimana kalau kita menulis harapan kita?"
Meskipun bingung, namun Rosa tetap mengangguk. Well, apapun itu agar ia bisa cepat pulang dari sini.
Membutuhkan beberapa waktu sampai akhirnya mereka berjalan ke salah satu sudut yang sudah dipenuhi banyak sekali gembok cinta milik orang-orang yang lebih dulu kesini, beberapa juga ada yang baru selesai memasangnya. Jefri mengambil gembok yang di pegang Rosa dan mengaitkannya dengan miliknya.
Setelah itu, Jefri membubuhkan tatapannya pada satu-satunya wanita yang ia berikan keseluruhan jiwanya itu. Jefri mengambil kedua tangan Rosa perlahan, "Apapun yang terjadi nanti. Kau harus tahu bahwa aku mencintaimu. Mencintai wanita yang sedang berdiri di depanku sekarang ini. Paham?"
Kalimat itu tidak membutuhkan jawaban. Kalimat yang Jefri keluarkan dari dalam lubuk hatinya, yang hanya diperuntukkan untuk wanita di depannya ini. Karena setelah kalimat itu meluncur, Jefri langsung meraih tengkuk wanita di depannya, dan menciumnya.
Dengan seluruh hati dan jiwanya.
----
"Aku ingin bahagia, tanpa alasan pun tak masalah."
"Semoga kau bahagia, dan maafkan aku."
----
***
-bersambung-
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co