Truyen3h.Co

Young Parents |CHENLE YIREN| [✓]

Pergi

nanayyyg_

Tak terasa kehamilan Yiren sudah masuk bulan ke delapan, kini perutnya semakin membesar membuatnya semakin sulit untuk melakukan beberapa aktivitas.

Sedangkan,

Di sisi lain kini Chenle justru tengah sibuk dengan kuliahnya yang baru memasuki semester satu. Menjadi seorang suami dan seorang mahasiswa tak mudah bagi Chenle, dimana ia harus fokus mengerjakan tugas dan belajar namun, juga tak boleh lupa dengan kewajiban dan tanggung jawabnya  sebagai seorang suami.

Sudah sekitar tiga jam lamanya Yiren tak henti memperhatikan Chenle yang sibuk dengan laptopnya dari tadi, satu menit pun rasanya tak ada untuk Chenle memperthatikan Yiren. "Le... Jalan keluar yuk, aku bosen banget."

"Nanti aja ya, aku lagi kerjain tugas, dikit lagi selesai."

Yiren membuang nafasnya berat. "Le, kamu udah bilang kaya gitu lima kali, aku nungguin kamu lho ini."

"Ren. Bisa gak sih diem dulu! Aku lagi sibuk, tolong ngertiin aku sebentar."

"Kok jadi kamu yang marah? Justru seharusnya aku yang bilang gitu le, tolong kamu ngertiin aku, aku cuma mau ajak kamu keluar sebentar. Aku gak tega liat kamu pusing terus-menerus kerjain tugas, kamu juga butuh waktu istirahat."

"Tapi kamu tau kan tugas aku numpuk banget, kamu juga jangan egois lah, kamu bisa jalan sendiri kan? Gak perlu aku temenin." Balas Chenle berdiri di depan Yiren.

"Tapi kamu tau kan aku lagi hamil besar le, nanti ka—"

"Ren jangan manja,  kamu juga ngapain sih dari tadi? Cuma diem di rumah doang kan? Sedangkan aku pusing kuliahan, terus ngurusin semua kebutuhan kamu, aku pusing Ren, aku capek!"

Perlahan Yiren menatap mata Chenle tajam "Kamu capek sama aku le?" Pertanyaan Yiren membuat lelaki itu terdiam. "Hahaha yaudah deh, aku keluar sendiri aja, maaf aku egois. Kerjain aja tugas kamu dulu, aku bisa pergi sendiri." Yiren keluar dengan membanting pintu keras.

Benar adannya Yiren pergi keluar rumah sendirian, dia hanya berjalan santai pergi ke taman yang tak jauh dari perumahan ini. Taman itu terlihat sangat sepi dan sunyi, secara  perlahan Yiren mendudukkan dirinya di bangku taman yang kosong. "dia capek ya sama gw?" Yiren sedikit terkekeh dengan pernyataan itu.

"Gw juga mau kaya Lo Chenle, gw juga mau kaya anak-anak lainnya yang sibuk kuliah, mikirin tugas numpuk, dan punya banyak temen di kampus. Lo kira selama ini gw cuma diam dan duduk bahagia? Hell no, gw diam tapi otak gw terus bekerja, memikirkan masa depan gw nanti."

"Di umur yang semuda ini gw udah jadi seorang ibu, sedangkan teman gw yang lain berlomba untuk gapai cita-cita mereka, bukan cuma Lo doang yang capek le, jujur gw juga capek kaya gini. Gw kira setelah kita nikah semuanya akan berjalan lancar, tapi ternyata gak semudah itu Tuhan biarin kita bahagia. " Perlahan Yiren meneteskan air matanya.

"Gw capek ... Gw pengen kaya mereka ..." Yiren menikmati tangisan dan keluh kesahnya seorang diri, gadis itu terus mengelus perutnya dan meminta maaf dengan perkataan nya akan kata lelah menjadi seorang ibu. "Maaf ... Aku gak akan bilang kaya gitu lagi,"

Young Parents

Chenle menaruh laptop miliknya di meja dekat kasur. Perlahan ia menyalakan handphone untuk mencari istrinya yang seingatnya tadi keluar seorang diri dengan rasa amarah.

Sedikit rasa menyesal ada di benaknya, mengingat kata kasar yang ia yakin pasti membuat hati Yiren sakit

Drttt drrt

Baru saja  ia menyalakan handphone nya, dering panggilan telfon masuk dengan sangat nyaring. "Nomor nya Yiren?" Gumamnya membaca nama kontak itu.

"Halo? Kamu dima—"

"Selamat sore, apakah ini kerabat dari nyonya Yirena?"

"Iya saya suaminya."

"Maaf sebelumnya untuk memberitahu info ini,  istri bapak menjadi korban tabrak lari, dan sekarang ini kami benar-benar membutuhkan surat izin operasi dari kerabat terdekat, karena kondisi nyonya Yiren dan kandungan nya sudah sangat kritis" dalam beberapa detik Hati Chenle rasanya runtuh, nyawanya seakan melayang tak bisa menerima fakta tentang berita ini.

Dengan sisah kesadarannya Chenle segera pergi ke rumah sakit, persetan saat mengingat kata kasarnya tadi. Chenle merutuki dirinya, bagaimana bisa dia lebih mementingkan tugasnya dibandingkan istrinya yang tengah hamil besar. 

Sepanjang jalan pikiran negatif terus mengelilingi otaknya saat ini, "Gw goblok banget anjing!" Dia memukul stir mobil itu dengan keras. "Plis Yiren, bertahan, tunggu aku Ren ... "

Young Parents 

Lelaki itu berlari melangkahkan kaki nya, menuju ke ruangan dimana sang istrinya berada. "D-dok istri saya ... "

"Pak Chendra?"

"Iya saya Chendra, suami nya. Gimana keadaan nya dok?" Tanya nya penuh ke khawatiran.

"Chendra..." Yona dan irene menghampiri Chendra dengan wajah yang sangat ketakutan. "Gimana keadaan Yiren?"

"Maaf sebelumnya  pak, tapi Nyonya Yiren ..."

"Kenapa?!"

"Keadaan nya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk nyonya Yiren dan anak nya di selamatkan, kemungkinan mereka berdua selamat sangat kecil pak, bapak harus pilih salah satu dari mereka yang ingin di selamatkan,"

"ENGGAK! GAK MUNGKIN!!!" kakinya lemas terjatuh.

"Chendra ..." Hatinya maminya ikut runtuh melihat anak semata wayangnya di hadapi dengan masalah sebesar ini. "Chendra ... Jangan kaya gini,"

Brakkk

Dengan hantaman kencang dia memukulkan kepalanya ke dinding rumah sakit. "Mi ... Ini salah Chendra mi ... "

Duaghhk

"Arghhhh!!!! Goblok! "

"Chendra, enggak sayang ... Dengerin bunda ya, ini semua takdir. Tuhan tahu yang terbaik untuk kedepan nya."

"Bun ... mi ..." Chenle menteskan air matanya di depan kedua wanita itu. "Mami... Ini salah Chendra .... Mi..."

"Bunda... Maafin Chendra Bun..."

"Bunda ... Yiren kesakitan karena Chendra... Bun ... " 

"Enggak sayang, kita gak boleh terlalu larut dalam kesedihan, sekarang nyawa mereka yang paling penting,"

"Bunda ... Chendra mau Yiren bunda ... "

Seorang suster keluar dari ruanhan operasi dengan sebuah nampan dari dlam sana. "Pak Chendra, nyonya Yiren sedikit sadar, dia panggil nama bapak dari tadi." Dengan segera Chenle memasuki ruangan itu.

Kakinya melemas melihat tubuh sang istri yang penuh akan darah, rasanya dunia miliknya kini sudah sangat hancur. "Ch-chenle..."

Chenle menggenggam erat tangan Yiren, mengelus rembut gadis itu lembut. "Le ... Sakit... Sakit banget ..." Maafkan Chenle yang tak bisa menahan air matanya didepan Yiren. Hatinya sakit melihat Yiren yang merintih kesakitan "Le ... Maafin aku,"

Lelaki itu menggeleng kan kepalanya "Aku yang seharusnya bilang itu ke kamu, maafin aku Yiren, aku yang salah, aku bodoh Ren..."

"Le... Selamatin anak kita ya ... "

"Maksud kamu apa?!"

Yiren mengarahkan tangan Chenle ke perut besarnya. "Anak ini harapan kita Chenle, karena dia kita jadi sempat bersatu..." Ucapnya menahan rasa sakit.

"T-tapi Ren... Aku mau kalian berdua selamat. Aku akui aku egois, aku mau kamu, aku mau anak kita!"

"Chenle ... Aku sayang kamu ... Aku bahagia ketemu kamu Chenle... Makasih untuk semuanya " Yiren terus menahan rasa sakitnya. "Chenle ... Bukan kah semua bidadari harus berada di surga?"

"Ren..."

"Sekarang sudah saatnya untuk aku terbang ke tempat itu Chendra... Biar kan aku bahagia disana ya?"

Yiren tersenyum mendengar penuturan sang suami yang penuh tangisan air mata "jaga anak kita ... Aku sayang kamu, " Yiren tersenyum menutup matanya.

Sekian detik lelaki itu terdiam membeku, menatap gadis nya di depan ini tak bersuara lagi, "Yiren... Kamu cantik, aku tau senyum kamu indah Ren... Ayo buka mata kamu ..."

Perlahan Chenle menggerakkan bahu istrinya. "Yiren, ayo bangun ... Kamu harus marahin aku, Yiren .... "

Tangis deras semakin terdengar sampai keluar ruangan, "Yiren!!!"

"Arghhhhhh Yiren!!!"

"Yiren! Bangun! Kita harus rawat anaj ini sama-sama..."

"Yiren!!!!!!"

Tolong Tuhan,  Chenle ingin menjadi manusia yang egois kali ini saja. Chenle memohon kembalikan istrinya, kembalikan Yiren yang telah datang mengisi kosongnya hidup ini, Yiren yang mengajarkan nya arti kehidupan dan kebahagiaan yang sesunggunya. Tolong kembalikan  dan berikan ia kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya.

Tuhan...

Chenle mencintai gadis itu.

"Yiren!!! Bangun!"

"Kamu bilang ke aku kalau kita harus rawat anak ini bersama. Kamu bilang kamu mau lihat dia merangkak, berjalan bahkan sampai besar nanti..."

"Yiren... Kamu janji untuk terus disisi aku, kamu harus bangun Ren, Yiren... Kamu kuat, a-aku janji akan bahagiain kamu."

Sore itu dipenuhi rasa hancur hati Chenle, rasanya terlalu cepat untuk semuanya hilang, Tuhan... Chenle hanya ingin bahagia, tapi kenapa se-sulit ini.

Chenle memeluk tubuh Yiren dengan erat. "Maafin aku... Maaf aku agois, "

"K-kamu setelah ini gak akan kesakitan lagi kan? Kamu ... Harus bahagia disana, aku janji akan jaga anak kita,"

"Aku sayang kamu Yiren." Kata orang tingkat tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan, apa sekarang sudah saatnya Chenle mengikhlaskan Yiren untuk bahagia disana?

Young Parents



Tersenyum semuanya:)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co