Truyen3h.Co

ZIZYIA

2. Pertemuan

authoriya

EMBUSAN angin menerpa wajah wanita dengan pakaian serba hitam itu. Tangannya memegang ponsel ditelinga, sementara rasa was-was melingkupi. Di depan sudah ramai orang, banyak keluarga yang melepas kepergian anak laki-laki mereka untuk melaksanakan kewajiban kemiliteran. Biasanya, para keluarga diizinkan datang untuk menyaksikan langsung pendadaran dan pidato dari sang Jendral. Tentu saja antusiasmenya sangat besar mengingat tidak sembarang orang bisa melihat secara langsung pemimpin negara mereka.

Suzy mengembuskan napas, kepalanya menunduk menatap ponselnya sebelum menekan nomor ayahnya lagi. Nada dering tanda bahwa panggilan itu terhubung terdengar, namun sampai di dering ketiga, panggilannya belum juga diangkat.

"Kemana ayah?" Suzy mengembuskan napas. Saat makan malam bersama semalam mereka sudah berjanji akan datang ke markas kemiliteran. Ayah Suzy bekerja membuka toko ikan segar yang bisa langsung di makan ditempat, toko itu sangat laris bahkan setelah terjadinya perang Nuklir beberapa tahun silam. Sementara Suzy adalah dokter anak yang bekerja tak jauh dari pusat kota. Membutuhkan waktu tiga puluh menit dari Rumah Sakit tempat Suzy bekerja ke sini. Namun hanya membutuhkan waktu lima belas menit dari ruko milik keluarganya.

Pandangan Suzy terarah ke depan, memerhatikan orang-orang yang mulai masuk. Suara yang terdengar lewat mic pun samar memasuki indera pendengaran Suzy. Dia lantas menghela napas. Diperhatikannya sekali lagi ponsel miliknya yang masih juga tidak ada balasan dari sang ayah, akhirnya Suzy memasukkan ponsel itu ke dalam tas-nya. Ia memeluk erat sebuket bunga ditangannya sebelum akhirnya melangkah buru-buru memasuki area pendadaran. Kalau dia sampai terlambat dia tidak akan bisa melihat adiknya sampai dua tahun ke depan, jadi meskipun dia masih heran kenapa ayahnya tak kunjung datang, Suzy akhirnya memutuskan untuk pergi duluan.

Lagipula, Taeyong pasti akan marah jika tahu kalau keluarganya tak ada yang datang.

Suzy bernapas lega karena dia berhasil masuk sebelum gerbang tinggi di depannya ditutup. Proses Wajib Militer ini memang begitu tertutup dan tidak bisa disaksikan secara umum, mengingat akan ada orang penting yang hadir, keamanan pun jelas di perketat. Suzy menatap barikade-barikade pengawal bersenjata yang dia lewati hingga akhirnya dia sampai di tempat pemeriksaan. Suzy memberikan tasnya untuk diperiksa oleh seorang petugas wanita, lalu membiarkan dirinya di periksa menggunakan alat. Dia mengerti, ada Jendral Zizyia yang hadir di sini, pemeriksaan ini dilakukan jelas demi keselamatan sang Jendral.

"Dilarang membawa bunga." Ujar si petugas wanita.

Suzy mengernyit. "Tapi ini tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memberikan bunga ini kepada adikku sebagai bentuk penyemangat."

Masih tanpa senyuman, petugas wanita itu kembali bicara. "Bukan hanya kau yang ingin memberi keluargamu." Katanya seraya melirik ke samping. Suzy membawa pandangannya mengikuti arah lirikan si petugas dan menemukan banyak sekali tumpukan bunga-bahkan box cokelat dan beberapa camilan-di sana. Suara petugas itu kembali terdengar. "Tidak ada yang boleh membawa apapun ke area steril. Demi menghindari kesenjangan sosial."

"Baiklah." Suzy akhirnya mengangguk dan menyerahkan buket bunganya. Meskipun tujuannya bagus, dengan mengatur segala hal seperti ini jelas membuat negara mereka menjadi kaku dan denial terhadap perubahan. Dia jadi rindu masa-masa sebelum perang saat Zizyia masih di pimpin oleh Jendral yang lama-ayah dari Jendral yang sekarang. Tapi harus diakui kalau Jendral yang sekarang bisa membawa Zizyia lebih baik lagi. Lihat saja, biasanya kabar berita kehilangan, penculikan, perampokan hampir setiap hari. Saat ini bahkan sebulan sekali pun jarang.

Suzy melangkah masuk ke tempat steril. Tempat duduk sudah disusun rapi untuk para tamu undangan, sementara di bagian depan berbaris rapi laki-laki dengan seragam kemiliteran yang sama. Suzy memerhatikan sekeliling mencari kursi mana yang bisa ia tempati. Semua yang duduk di sana berbaju hitam nampak begitu antusias menikmati acara.

"Kakak Ipar!" seseorang melambaikan tangannya dengan tak sabar, mencoba mencari perhatian pada pemilik nama yang barusan ia panggil.

Suzy menoleh ke sumber suara dan tersenyum ketika melihat Jisoo dalam jarak pandangnya. Jisoo adalah kekasih dari adiknya, Taeyong. Gadis manis itu pusing setengah mati akan nasib hubungannya dan Taeyong saat laki-laki itu akan melaksanakan wamil. Konon katanya, setiap hubungan romantis yang sedang terjalin akan kandas tak bersisa ketika pasangannya akan wamil. Entahlah, Suzy juga tidak memahami. Namun dari cerita Jisoo dia bisa mengambil kesimpulan kalau wamil adalah momok bagi setiap pasangan.

Padahal Suzy juga sudah menenangkan, dia jelas mengatakan kalau Taeyong tidak akan berselingkuh. Kecuali dia berubah haluan, dan itu rasanya tidak mungkin.

"Aku menunggumu dari tadi." Ucap Jisoo dengan senyum yang sampai ke mata. Inilah salah satu yang membuat Suzy menyukai Jisoo karena gadis itu selalu menebarkan energi positif pada siapapun yang bertemu dengannya. Taeyong yang super keras kepala dan kadang membuat Suzy kesal karena sering bolos sekolah dulu sekarang dia bahkan tahu apa yang ingin dia lakukan.

"Maaf. Aku menelepon ayah tapi panggilannya tidak diangkat."

"Mungkin toko sedang ramai, unnie kan tahu kalau paman tidak enakan menyuruh orang untuk menggantikannya."

"Tapi, kami sudah berjanji akan datang."

Jisoo nampak menenangkan ketika mendengar ada nada khawatir yang keluar dari mulut calon kakak iparnya. Dielusnya punggung Suzy pelan. "Nanti kita langsung ke toko ya ketika acara di sini sudah selesai? Paman pasti punya alasan."

Suzy mengangguk.

Keduanya kemudian beralih fokus ke depan ketika mendengar gemuruh tepuk tangan terdengar. Suzy menatap lurus pada laki-laki dengan jubah hitam yang melangkah naik ke atas podium. Jantungnya berdebar tanpa sadar. Ini adalah kali pertamanya melihat secara langsung Jendral pemimpin Zizyia.

"Uwah, Jendral Myungsoo nampak tampan dilihat secara langsung."

Suzy menyetujui dalam hati. Baginya, pria ini adalah definisi mutlak dari ketampanan seorang laki-laki. Mengingat bagaimana wajah ibu dan ayahnya tidak heran kalau Myungsoo memiliki garis wajah yang tak terbantahkan. Tatapan dingin yang dikeluarkannya itu seolah menambah ketegasan siapa pria itu.

"Aku akan menjodohkannya dengan unnie kalau saja dia orang biasa..." gumam Jisoo masih dengan pandangan terpesonanya.

Suzy terkekeh kecil. "Meskipun dia orang biasa dia tetap tidak akan mengenal kita, Sooya."

"Benar. Dunia kita berbeda dengan dunianya. Aku bahkan sangsi kalau dia pernah makan toppoki."

Suzy meringis. "Taeyong pun tidak pernah makan toppoki."

"Kalau dia kasus yang beda, unnie." Jisoo memutar bola matanya, lalu mengesah. "Dia bahkan lebih memilih kumusuhi satu minggu daripada makan makanan super lezat itu. Aneh sekali bagaimana bisa orang korea tidak suka toppoki?"

"Entahlah, padahal keluarga kami sangat menyukai makanan itu."

"Dia memang aneh."

"AAAH!"

Suzy langsung melotot kaget ketika mendengar teriakan dan suara tembakan yang bersamaan itu. Matanya memandang ke depan dan menemukan barikade pengawal langsung mengambil barisan. Beberapa lainnya nampak berlari dan langsung mengejar si penembak. Suzy dan Jisoo langsung berpegangan tangan menatap ngeri. Namun, perasaan Suzy langsung mengambil alih. Ditatapnya kedua mata ke depan lagi dan menemukan kalau Jendral Zizyia lah yang menjadi sasaran. Dia melotot kaget, lalu menguraikan genggaman tangannya.

"Unnie!"

"Aku harus menolong."

"Mereka pasti memiliki dokter pribadi."

Suzy mendesah. Rasa kemanusiaannya tak bisa dibendung, dia praktis tahu kalau orang-orang itu jelas memiliki dokter VIP. Meskipun dia juga bukan dokter bedah, setidaknya Suzy bisa membantu menghentikan pendarahan sampai dokter VIP itu datang. Kedua mata Suzy memandang pada salah seorang asisten sang Jendral yang kelihatannya sangat gusar dengan ponselnya.

Suzy menyipitkan mata mencoba mencari tahu melalui gerakan mulutnya.

Apa? Bagaimana bisa kau sedang ke luar kota di saat seperti ini? Seminar? Hei, Jendral kena tembakan! Kemari dalam waktu sepuluh menit kalau tidak akan kupastikan kepalamu sampai di depan mata istrimu! Cepat!

Suzy bergedik ngeri, menggelengkan kepalanya dengan tak percaya. Dia menatap kembali Jisoo yang nampak ketakutan-sama seperti warga lainnya-kini mereka sudah di giring ke pinggiran, berdiri menunggu kejelasan.

"Sooya, aku harus menolong."

"Tapi-"

"Kita mungkin akan kehilangan Jendral lagi."

"Unnie..."

"Aku akan mencoba mengatakan pada mereka."

Jisoo menatap kepergian calon kakak iparnya itu dengan perasaan campur aduk. Dia jelas ingin Suzy menolong, tapi kalau Suzy sampai ditolak-atau lebih ekstremnya Suzy sampai salah pengobatan-bisa-bisa Suzy langsung dipenggal. Jisoo bergedik ngeri, dia langsung merepalkan tangannya menjadi satu dan memejamkan mata. Berdoa agar calon kakak iparnya itu bisa menyelamatkan.

**

Sulit menerobos pasukan barikade yang kuat. Suzy nyaris kehilangan nyali saat senapan dengan spek tinggi itu mengarah kepadanya. Tapi sebagai dokter nyalinya jelas sudah dilatih, dia tak gentar dan kembali mengatakan. "Jendral akan kehabisan darah kalau tidak segera ditangani."

"Dokter VIP akan segera datang." Ujar si asisten dengan datar.

"Kau tahu kalau kejadian ini akan fatal jika Jendral tidak segera dihentikan pendarahannya?"

Si asisten diam.

"Mana lisensimu?"

Suzy menahan kesabaran. "Kalian harus belajar percaya dengan orang lain seperti masyarakat Zizyia yang percaya kepada kalian."

"Itu hal yang berbeda."

"Tidak ada perbedaan dalam memberikan sebuah kepercayaan."

"Letnan, darahnya semakin banyak keluar!" lapor seseorang.

Asisten yang dipanggil Letnan itu terlihat semakin bimbang. Ditatapnya wanita yang mengaku sebagai dokter dan sang Jendral itu secara bergantian, kemudian dia mengusap wajahnya frustasi. Menarik napas sekali, dia memberikan aba-aba kepada para pengawal untuk menurunkan senjata mereka. Sang Letnan berkata. "Kau akan bertanggung jawab atas keselamatan Jendral sampai dokter VIP datang."

Suzy mengangguk, kemudian langsung melangkah cepat menuju brankar.

Kedua manik mata itu menyeramkan. Suzy merasa seperti sedang berada di ruang kegelapan ketika manik mata mereka beradu pandang. Meski dalam keadaan yang genting seperti sekarang, bahkan darah yang mengalir di bahu bawah itu tidak membuatnya meringis kesakitan. Dua mata setajam elang itu masih bisa menatap nyalang pada lawan. Dengan sisa tenaga yang masih bersisa, Myungsoo menghentikan tangan yang akan memegang bahunya itu.

"Aku dokter."

"Aku tidak pernah membiarkan orang lain menyentuhku."

Keras kepala... batin Suzy. Masih dengan kesabarannya yang ada, ia kembali berkata. "Aku akan menghentikan pendarahannya sekarang, aku bukan menyentuhmu."

Myungsoo menggeram, tatapannya mengunci mata seindah bulan sabit di depannya. Paras Suzy memang cantik, Myungsoo menyetujui. Wanita itu tangguh dan jelas berani. Ada banyak kesempatan orang-orang untuk mengajukan diri merawatnya setelah mendengar berita, namun hanya wanita ini yang berani sampai sini. Tapi, bagaimana kalau dia dan si penembak memang sudah bersekongkol.

"Percayalah, kalau Jendral tetap keras kepala, nyawamu akan terancam."

Myungsoo menatap ke arah sang Letnan yang kini menunjukkan kekhawatiran. Kemudian dia mengesah dan menyandarkan punggungnya pada sandaran seraya melepaskan cekalan tangan Suzy.

Suzy mendesah lega kemudian mulai melakukan tugasnya. Walaupun merasa gugup, dia tetap melakukan tugasnya dengan baik hingga berhasil meredam darah yang merembes keluar. Dia mengeratkan plaster perban, dan menghela napas lega. Ditatapnya sebentar manik mata hitam yang sejak tadi mengunci pandangannya itu, lalu menoleh ke arah sang Letnan. "Aku berhasil mengambil peluru dan menghentikan darahnya keluar, tapi Jendral harus segera di tangani. Kapan dokter itu tiba?"

Letnan Jaehyun menoleh pada orang yang diminta untuk mengontak sang dokter. "Pesawat kita akan mulai mendarat di atas atap tiga menit lagi."

Suzy mengangguk. "Kalau begitu aku permis-" ucapannya terhenti ketika pasukan bersenjata itu kembali menodongkan senjata mereka ke arahnya. Dia menelan salivanya dengan gugup sambil menatap sekeliling.

"Kau tidak akan pergi sampai dokter VIP itu memeriksa kondisi Jendral." ucap Jaehyun.

Benar, aku bisa saja melakukan kesalahan... batin Suzy mulai meragukan kemampuannya tadi.

"Dokter VIP tiba!" ucap seseorang dari balik pintu.

Semuanya-dipimpin sang Letnan-langsung bergegas keluar. Suzy berdiri gugup, kemudian menatap sang Jendral yang kini memejamkan mata.

"Sial, seharusnya aku tidak usah sok baik. Kepalaku mungkin akan dipenggal kalau ternyata aku membuat kesalahan." Desahnya sambil mengusap wajah dengan suara sehalus angin.

Suara yang bisa dengan jelas didengar oleh Myungsoo, tentu saja. Laki-laki itu tidak pernah benar-benar tidur meskipun kedua matanya terpejam. Seluruh inderanya aktif, karena itu tidak akan ada yang bisa mencelakainya. Kecelakaan kali ini jelas diluar kuasanya. Yang pasti bukan dari orang luar--karena warga sipil yang masuk sudah diperiksa secara menyeluruh-Myungsoo tahu dengan pasti bahwa si penembak adalah salah satu pasukan negara.

***

Gimana gimana? Masih bingung ga?hahaha ya gitu deh lagi2 ini vedita bakal seperti air aja kagak ada outlinenya soalnya😂 yukk jgn lupa ramein fweens

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co