Truyen3h.Co

ZIZYIA

4. Plot twist

authoriya

        MYUNGSOO mengikuti punggung yang melangkah semakin menjauh itu dari balik kaca mobil hitamnya. Setelah memastikan kalau wanita itu benar-benar masuk ke dalam rumah sakit, dia kemudian menghadap ke depan dan berkata kepada supirnya. “Jalan.” Yang kemudian langsung dituruti dan dalam hitungan detik mobil itu sudah melesat pergi dari tempatnya berhenti.

Jaehyun memerhatikan kembali melalui rearview mirror, bibirny jelas sudah ingin bergerak menyuarakan pertanyaan-pertanyaan dan ledekan, namun ditahannya mati-matian karena saat ini mereka tidak sedang berdua. Dia harus menunjukan sikap hormat kepada Myungsoo di depan bawahan yang lain sebagai contoh. Karena itu, meledek Jendral Zizyia yang juga merupakan sahabatnya itu jelas tidak diperbolehkan dilakukan di depan umum.

Myungsoo yang tentu saja menyadari kalau sang Letnan sejak tadi melihat ke arahnya bolak-balik langsung menangkap basah. Kedua matanya menyipit datar dengan pandangan bertanya, tapi sang Letnan hanya tersenyum kemudian kembali menatap jalanan.

Ini jelas karena wanita tadi... pikir Myungsoo.

Dia sendiri tidak ada maksud lain ketika menawarkan diri untuk mengantar Suzy. Dia hanya menunjukan respect karena wanita itu berani melawan perasaan egoismenya sebagai manusia dan memilih untuk menolong dirinya sebagai bentuk kemanusiaan. Karena itu, tawaran mengantar untuk pulang ini jelas tidak sepadan dengan pertolongan Suzy padanya tadi. Yah, meskipun dia tadi sempat ada perasaan ragu dan tidak percaya. Wajar saja karena Myungsoo sejak kecil dididik untuk tidak terlalu memercayai orang—walaupun orang itu adalah keluarga terdekatnya—ayah dan ibu Myungsoo selalu mengajarinya untuk jangan mudah menaruh kepercayaan pada manusia karena layaknya seekor bunglon, sikap dan sifat manusia sangat bisa berubah-ubah sesuai dengan dimana dia ditempatkan.

Lalu lintas nampak tidak sepadat biasanya padahal ini bukan akhir pekan. Peraturan baru dibuat agar setiap rumah hanya boleh memiliki maksimal tiga mobil dengan pengaturan syarat dan ketentuan berlaku. Anak sekolahan dilarang membawa kendaraan ke sekolah—hal itu juga sepertinya yang membantu mengurangi kemacetan lalu lintas.

Keheningan tercipta di dalam mobil yang melaju cepat itu. Terik matahari diluar memang begitu menggerahkan, Myungsoo menatap sepintas-sepintas beberapa orang yang dilewati tanpa benar-benar fokus. Pikirannya mengembara mengenang pada janji yang tiba-tiba diingatnya. Pada banyak pikiran dan tugas yang harus diembannya, Myungsoo bahkan lupa menempatkan dirinya sendiri di posisi pertama. Dan untuk kali pertama dalam beberapa tahun terakhir yang menenggelamkan, Myungsoo berhasil menarik kepalanya keluar dan bernapas.

Tiba-tiba dia memikirkan, jika harus menikah demi kenegaraan, setidaknya wanita itu harus orang yang dia pilih sendiri. Laki-laki dengan seragam hitam itu menggeser sedikit kepalanya, menatap Jaehyun—orang kepercayaannya—lalu berkata. “Cari tahu latar belakang Dokter tadi.”

Jaehyun langsung menoleh. “Ya? Siapa?”

“Suzy.”

Jaehyun melirik sopir mereka sebentar sebelum kembali menatap sang Jendral. Dia tahu maksud dan tujuan pencarian ini berujung, tapi dia harus menjelaskan sekali lagi. Kalau saja Myungsoo melupakan, pernikahan seorang Jendral tidak boleh asal-asalan.

“Jendral,”

Myungsoo menatap.

Jaehyun menghela napas. “Ini tidak ada hubungannya dengan pencarian seorang ibu negara kan?”

“Kenapa kau sampai berpikiran seperti itu?”

Mendengar jawaban itu Jaehyun menghela napas lega. Dia menggeleng pelan, lalu mengiakan permintaan sang Jendral yang sebelumnya. “Aku akan mencarikannya.”

Myungsoo mengangguk. Pandangannya kembali menatap keluar kaca sebelum suara sang Letnan kembali terdengar, membuatnya lagi-lagi menoleh.

“Soal pembicaraan kalian yang tadi—“ Jaehyun melirik ke samping. Lalu kembali menatap Myungsoo. “Tidak, nanti saja.”kata Jaehyun pada akhirnya.

“Kalau ini soal permintaanku pada Dokter tadi, aku tidak sedang main-main. Aku ingin dia yang mengurus lukaku sampai sembuh.”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan khusus.”

“Tapi kita punya dokter Ji yang lebih jelas dan berpengalaman. Jendral, dokter wanita itu jelas bukan dokter spesialis. Dia seorang dokter anak, Jendral.” Ucap Jaehyun mengingat apa yang dikatakan si dokter tadi.

“Dokter tetap dokter.”

“Jendral, bagaimana—“

“Aku ingin menunjukan kalau kita juga bisa percaya pada orang yang percaya pada kita. Dia tadi bilang kepadamu kalau orang pemerintahan harus mulai percaya kepada warga sipil seperti mereka percaya kepada kita, dan aku akan menunjukan itu kepadanya. Kalau kita percaya pada mereka yang percaya.”

Kalimat panjang itu bukan sebuah keputusan yang bisa diganggu-gugat. Itu adalah hal yang mesti dituruti dan dilakukan. Tidak ada perdebatan yang harus diperpanjang karena Myungsoo langsung memangkas akarnya. Jaehyun mengangguk setuju. Ponselnya bergetar dari dalam saku seragamnya, dan dia langsung mengambilnya.

“Mereka sudah menangkap orang-orang itu.” Jaehyun menginfokan kepada Myungsoo.

Rahang Myungsoo mengeras, tatapannya berubah menajam. Dengan suara berat yang bisa merobek sampai ke dalam, Myungsoo memberikan perintahnya sebagai sebuah respons. “Kita ke sana sekarang.”

***

“Sehat-sehat ya, anak baik.” Suzy mengusap puncak kepala seorang anak laki-laki kecil yang baru saja diobat dengan keluhan diare. Ibunya tadi mengatakan kalau sang anak sempat salah makan, beruntung karena sang ibu melakukan pertolongan pertama dengan memberikan larutan gula garam.

Anak laki-laki itu mengangguk, bibirnya sudah tidak sepucat tadi saat datang.

“Dia mengeluh tidak ingin ke dokter karena takut di suntik.”

Suzy tersenyum. Bertanya pada si anak kecil. “Tapi, Jun tidak disuntik kan?”

Anak itu menggeleng. “Tidak.”

“Jadi, apa Jun masih takut ke dokter?”

Dia menggeleng lagi, tapi kali ini ditambah sebuah senyuman. “Tidak. Aku mau ke dokter tapi dokternya harus bu dokter.”

Suzy tersenyum kecil. Ini merupakan salah satu alasan kenapa dia suka pekerjaannya, karena Suzy bisa bertemu dengan anak-anak kecil. Yah, meskipun pertemuan mereka jelas menyedihkan karena setiap anak yang datang ke sini pasti memiliki keluhan.

Ditatapnya anak laki-laki kecil itu dengan binar di kedua mata. Jauh dari kesan wibawa yang kadang membuat anak-anak takut ke dokter, Suzy memilih mengambil pendekatan ‘teman’ kepada pasiennya. Karena itu mungkin banyak anak-anak yang akhirnya tidak takut untuk datang berobat dan menyukai obat-obat resep yang diberikan kepada mereka. Masih dengan ramah, Suzy kembali berkata pada si anak laki-laki itu. “Kuharap kita tidak sering bertemu di rumah sakit ya.”

Si ibu tertawa kecil mengusap puncak kepala anaknya. “Semoga saja ya, dok. Karena itu Jun, kau harus minum obatmu dengan benar. Oke?”

“Iya, bu.”

“Kalau begitu sekali lagi terima kasih, Dok. Kami permisi.”

“Ya. Hati-hati dijalan.”

“Ya.”

Suzy tersenyum, menatap jam yang melingkar di tangannya sebentar, kemudian memerhatikan dokumen pasien hari ini. Tadi adalah pasien terakhir untuk hari ini. Suzy mendesah lega, berdiri dan melepaskan jas putih, lalu menggantungnya di tempat biasa. Suzy mengambil ponselnya saat pintu diketuk dan terbuka.

“Jadi?” ujar seorang wanita dengan pakaian perawat, berdiri di antara kosen dan daun pintu yang setengah terbuka.

Suzy menaikan alis. “Jadi?”

“Jadi?” Suzy membeo menatap teman dekatnya di Rumah sakit ini.

Soojung—nama si perawat itu—mengedikkan bahu santai, tapi dari sorot kedua matanya ia jelas menuntut penjelasan. Kedua mata itu tadi menangkap sesuatu tanpa sengaja. “Aku melihatnya, lho.”

“Melihat apa?”

“Kita sahabat kan?”

“M-hm,” Suzy mengangguk. Pandangannya tertuju pada ponsel yang memiliki belasan panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Juga, satu pesan dari orang yang sama. “Kenapa dia?” gumam Suzy seraya membuka pesan itu.

“Baiklah karena kau berbelit-belit aku akan langsung ke intinya. Bagaimana bisa kau keluar dari mobil Jendral?”

“Tunggu, Jung—“ Suzy melotot kaget. Jantungnya berdebar keras membaca huruf demi huruf di layar ponselnya. Ketika selesai, dia langsung mengambil tasnya dan bergegas. “Jung, aku harus pergi.”

“Apa? Kenapa?”

“Ayahku...” kedua mata Suzy memerah suaranya sedikit bergetar. Dia menarik napas pelan lalu mengembuskannya. “Aku harus pergi. Bye!”

“Hei, Suzy! Apa yang terjadi?” Soojung memutar badannya dan menatap punggung Suzy yang menghilang begitu cepat di ujung koridor. Pembicaraan mereka jelas mengandung banyak pertanyaan, ditaatapnya koridor yang lengang itu dengan pandangannya bingung, lalu segera menutup pintu ruangan Suzy dan bergegas ke mejanya.

***

 something fishy ga si sahabat?🤨

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co