Truyen3h.Co

AFTER

09

authoriya

"Kau yakin tidak di gigit serangga?" Jo, menyipitkan kedua matanya sambil memerhatikan bibir Suzy yang bengkak. Tubuhnya mencondong kedepan sambil bersedekap.

Setelah selesai melakukan presentasi design untuk majalah yang akan terbit di minggu depan yang lumayan menguras otaknya, Jo menjemput Suzy di sekolahnya. Berniat mengajak wanita itu untuk sekadar minum-minum cantik di kedai kopi kenamaan di Seoul.

Namun, Jo seketika berubah menjadi berisik sekali saat melihat wajah Suzy yang tidak seperti biasanya. No, tepatnya pada bibir wanita itu.

Memerah dan sedikit membengkak.

"Aku tidak kenapa-kenapa, Jo." Jawab Suzy berusaha santai. Kemudian meminum green tea latte nya.

Jo mengernyit. "Kau gugup ya?"

"Ha?"

Jo mengedikan bahunya lalu bersandar santai di kursi. Kedua tangannya bersilang didepan dada sambil memerhatikan Suzy. "Kau akan selalu memainkan jarimu pada cup green tea mu kalau kau merasa terintimidasi atau sedang berbohong."

Tak! Penuturan Jo Kwon langsung menohok Suzy. Inilah yang paling tidak enak ketika kau mempunyai teman yang begitu memahami kebohongan tidak akan berguna jika dengannya.

Suzy masih diam. Masih bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang terjadi sampai bibirnya bengkak seperti ini. She knows, ini semua ide Jo. Tapi, tetap saja Suzy bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Jo apa yang terjadi dengan bibirnya itu. Suzy tau Jo pasti akan senang dan menjerit iri ketika tau siapa yang berulah sampai membuat bibirnya bengkak seperti ini. Yeah, he became a satan jika itu soal asmara Suzy.

Sejong...

Suzy seketika merasa bersalah karena menghianati lelaki itu. Tapi bagaimanapun ia yakin jika semua akan indah pada waktunya. Dia dan Sejong akan memiliki akhir yang baik.

"Suez?" Suara Jo kembali mengambil fokus Suzy. "Aku bisa menunggu sampai kau mau jujur padaku. Tenang saja, aku memiliki banyak sekali waktu kosong hari ini." Lanjutnya dengan santai.

Suzy menghitung satu sampai tiga didalam hati sebelum bersuara, "Aku mengikuti ucapanmu."

Jo mengernyit tidak mengerti selama lima detik. Namun, kedua matanya membulat ketika memahami apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.

"Oh my god! Oh my god! Oh my god! Kau...bibirmu... Yya! Aku iri padamu jalang!" Seru Jo keras tanpa berniat untuk menahannya. Membuat beberapa pengunjung sampai melihati ke arah meja mereka.

Suzy menggerutu kesal. Pertama, karena dipanggil jalang. Kedua, karena suara Jo yang tidak tau tempat dan kondisi. Ketiga, yaampun... Lelaki itu bahkan langsung menodongnya dengan omongan seperti itu. Sungguh cepat tanggap. Suzy menggeleng-geleng.

"Oh my god, apa rasanya?" Jo kembali bersuara. Namun, kali ini dengan sedikit rendah.

"Yya, apa kau harus sekali menanyakan hal itu?" Gerutu Suzy.

Jo Kwon mengangguk semangat.

"Tidak ada."

"Kau bohong." Jo mendengus.

Tentu saja lelaki itu tidak percaya apa yang diucapkan Suzy padanya. Jo sangat yakin jika Kim Myungsoo itu adalah tipe pencium yang handal. Jo membayangkan bagaimana jika bibir kenyal itu menciumnya. Pasti rasanya sangat...

"Aw!" Jo mengusap kepalanya pelan saat mendapati biji kacang polong mengenainya. Ia langsung menatap Suzy dengan kesal.

"Hentikan pikiranmu itu, Jo." Ucap Suzy dengan pandangan malas. Saat tadi ia melihat apa raut wajah Jo yang berubah dengan pandangan tidak fokus, Suzy langsung yakin kalau sahabatnya itu sedang berfantasi yang tidak-tidak. Makanya ia langsung melembar biji kacang polong itu kepada Jo.

Jo cengengesan. Lalu kembali berucap, "Aku tidak percaya jika Myungsoo setuju menjadi kekasih pura-pura mu..."

"Aku juga."

Jo memiringkan kepalanya nampak berpikir, "Apa dia mengajukan syarat tertentu kepadamu, Suzy?"

Iya.

"Tidak." Dustanya. Suzy tidak mungkin mengatakan syarat aneh Myungsoo itu pada Jo.

Lelaki itu kembali mengernyit, "Ini aneh..."

"Hm, dia memang aneh."

"Ah!" Seru Jo sambil menjentikan jarinya. "Aku yakin, Suez! Aku yakin!" Lanjutnya, kedua tangannya kini bergerak memukul pelan meja didepannya. Menunjukan ekspresi menggebu-gebu khas Jo Kwon.

Suzy memandang lelaki itu dengan pandangan bertanya.

"Dia pasti tertarik padamu!"

Suzy ternganga mendengarnya. Selain setengah satan, pikiran Jo ternyata semakin mengaco saja. Myungsoo yang sekarang, tidak mungkin tertarik padanya. Tidak mung—

Bibirmu masih terasa sama... Aku akan mengajarimu cara memuaskanku, nanti...

Omo! Suzy langsung menggeleng keras. Mencoba menghilangkan bayang-bayang ucapan Myungsoo saat itu.

"Tidak, Jo. Dia tidak tertarik padaku, dia hanya menolong seorang teman lamanya." Ucap Suzy lugas. Sebenarnya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan ucapannya itu.

***

Suzy berjalan keluar ruangannya dengan menjinjing tas bewarna putih ganding. Tubuh tinggi nan langsingnya dibalut dengan celana panjang hitam dengan setelan blazer yang senada. Kaki jenjang itu berjalan dengan santai. Hari ini bukan jadwal kesenian, sehingga Suzy tidak di wajibkan masuk kedalam kelas. Namun, karena beberapa dokumen untuk perencanaan proyek perluasan sekolah tahun lalu yang tertinggal di meja kerja nya, Suzy terpaksa harus mengambilnya terlebih dahulu.

"Saem!" Seruan itu membuat langkah Suzy terhenti dan mendapati Hana yang berlari kecil kearahnya.

"Kau sudah sehat?" Pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulutnya saat Hana sudah berada dalam jangkauan. Tangan Suzy bergerak menyentuh kening gadis kecil itu. Suhu tubuhnya sudah normal, tidak seperti malam itu.

Hana mengangguk. "Aku merindukan Saem..."

Suzy tidak mengerti perasaan apa yang menjalar padanya saat mendengar ucapan polos Hana kepadanya ini. Yang jelas, hatinya terasa menghangat. Tangan Suzy otomatis bergerak meraih tubuh kecil itu lalu memeluknya. "Hana harus menjaga kesehatan Hana supaya tidak sakit lagi. Ya?"

Gadis kecil itu mengangguk dalam pelukan Suzy. Lalu, menguraikan pelukan itu saat mengatakan, "Appa bilang saem yang membantu menjagaku. Apa benar?"

Suzy mengelus puncak kepala Hana, "Iya, sayang," Suzy mengangguk. Lalu meneruskan kalimatnya, "Saem dan Appa sedih kalau Hana sakit. Jadi, Hana harus sehat dan menjaga makan, arrachi?"

Hana mengangguk sambil tersenyum.

Gadis kecil itu begitu senang bersama Suzy. Ada perasaan nyaman yang tidak bisa dijelaskan jika Hana sedang bersama Suzy, mungkin karena Suzy paham bagaimana memperlakukan anak kecil karena Suzy seorang guru atau mungkin karena pribadi Suzy yang penyayang yang membuat gadis kecil itu senang jika bersama Suzy.

Kemudian, Suzy mendongak, menatap kesekitar sebelum matanya kembali terarah pada sosok gadis kecil didepannya. "Pak Lee belum datang?"

Hana menggeleng, "Appa yang akan menjemput hari ini. Appa berjanji akan membelikan teddy bear untuk Hana." Ucapnya riang, bahkan sorot mata gadis kecil itupun terlihat sama senangnya karena memikirkan boneka kesukaannya.

"Baiklah, saem akan menemani Hana sampai—"

Kalimat Suzy terhenti kala dering ponsel miliknya berbunyi. Suzy, dengan segera mengarahkan tangannya merogoh ponsel pintar itu dari dalam tas dan mengernyit mendapati id caller si pemanggil.

"Ya, Myungsoo?" Ucapnya ketika panggilan itu diangkat. "Mm, aku di sekolah. Ada apa?" Lanjutnya. Suzy melirik sekilas Hana yang sedang menatapnya itu sambil mendengarkan Myungsoo berbicara lewat saluran telepon. Setelah panggilan itu terputus, Suzy mengelus dengan lembut kembali puncak kepala gadis kecil didepannya.

"Ayahmu ada pertemuan mendadak, sayang. Jadi, ia belum bisa menepati janjinya pada Hana hari ini." Ucap Suzy hati-hati. Ia menatap Hana yang menguarkan ekspresi lesu saat mendengarkannya berbicara. Tapi mau bagaimana lagi, itulah yang dikatakan Myungsoo padanya tadi.

"Appa selalu saja ingkar janji." Ucap Hana lesu. Gadis kecil itu kerap kali merasakan hal seperti ini karena mungkin ini adalah konsekuensi dirinya sebagai anak seorang pengusaha yang mempunyau sederet meeting yang menunggu didepan.

Tapi, Hana tetap saja gadis kecil yang sama seperti gadis kecil pada umumnya. Dia membutuhkan figur orang tua yang bisa menemani dan mengajak anak itu jalan-jalan bersama. Dan Suzy paham hal itu. Karenanya, Ia langsung menambahkan, berharap agar kesedihan Hana sedikit berkurang, "Bagaimana kalau Hana menunggu appa di rumah saem saja? Saem memiliki puppy yang mungkin akan Hana sukai. Bagaimana?"

Hana menatap Suzy, "Bolehkah?"

Suzy mengangguk, "Tentu saja. Saem akan katakan pada Ayah Hana supaya jangan menyuruh pak Lee menjemput Hana."

Hana mengangguk.

Menurut yang Suzy dengar dari cerita gadis kecil ini saat kebersamaan mereka di Manhattan waktu itu, Hana sangat menyukai puppy. Dulu, ia memiliki peliharaan bernama Vinsky, namun puppy nya meninggal karena sakit dan sampai sekarang Myungsoo tidak membelikan peliharaan baru untuk Hana dengan alasan takut virus penyakit itu menular kepada Hana. Jadi, gadis kecil itu tentu saja senang saat diajak Suzy berkunjung untuk bermain dengan hewan peliharaan Suzy itu.

***

Myungsoo melirik alroji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya dan mendapati waktu sudah berada di pukul delapan malam. Ada janji yang lagi-lagi tidak bisa ditepatinya kepada Hana karena urusan pekerjaan. Jadwal kosong di agendanya tidak menutup kemungkinan akan terisi dengan tiba-tiba karena klien penting yang meminta jadwal di atur ulang.

Myungsoo menoleh saat panggilan dari asisten pribadinya terdengar. Lelaki itu mengatakan kepada atasannya bahwa mobil sudah siap dan Myungsoo sudah bisa masuk kedalamnya. Namun, pemikiran lain terlintas dibenak Myungsoo.

"Kau bisa menyuruh sopir untuk menjemputmu kan?"

"Ya?" Asisten Baek nampak bingung. Lelaki itu tidak mengerti arah pembicaraan Myungsoo barusan.

"Aku akan menyusul Hana sendiri. Kau bisa langsung pulang, Do Woon." Ujar Myungsoo. Tanpa babibu lelaki itu langsung mengambil kunci mobil dan masuk kedalam mobil hitam itu.

"Anda tidak apa-apa, Pak?"

"Kau pikir aku tidak bisa menyetir mobil?" Myungsoo mengerutkan keningnya kesal.

Mendengar itu, dengan buru-buru Asisten Baek menambahkan, "Bukan begitu. Maksudku mungkin kau lelah dan..."

"Aku akan menyetir sendiri, Do Woon. Kau bisa pulang kerumahmu."

Asisten Baek menghela napas pelan kemudian mengangguk. Membiarkan bos nya membawa mobil itu mengarungi jalanan kota Seoul yang padat menuju tempat tinggal Suzy.

***

Suzy membuka pintu apartemennya dan langsung mendapati Myungsoo dengan rambut acakan dan lengan kemeja putih yang sudah tergulung sampai ke siku. Dan, anehnya malah membuat lelaki itu tampak lebih tampan dari biasanya. Suzy mengerjapkan mata dua kali dan buru-buru menghilangkan pemikiran itu. Mana bisa dia memuji lelaki lain seperti ini. Bodoh!

Kedua matanya membulat saat melihat Myungsoo berjalan masuk melewatinya, bahkan ketika si pemilik rumah belum mempersilahkannya masuk.

"Mwoya... Main nyelonong saja dia seperti pencuri." Gerutu Suzy sambil mengikuti Myungsoo dari belakang.

Myungsoo langsung mendudukan dirinya di sofa yang menghadap Televisi diruangan dalam apartemen Suzy dengan kepala yang bersandar pada bagian kepala sofa dengan mata terpejam.

Suzy menghela napas,

"Aku akan mengambilkanmu air dulu." Ucapnya. Kemudian kakinya melangkah hendak mengitari sofa, namun dengan gerakan cepat tangan Myungsoo tiba-tiba saja menarik pergelangan tangan Suzy dan membuat wanita itu tidak bisa menjaga keseimbangannya sehingga terjatuh. Tepat dipangkuan Myungsoo. Plus, kedua kaki berada di sisi kiri dan kanan.

Suzy membulatkan matanya kaget. "Yya! Apa yang kau lakukan." Pekiknya tertahan.

Myungsoo melingkarkan kedua lengannya disekitar pinggang Suzy, seperti memeluk. Kemudian, tanpa di duga, kepala lelaki itu langsung menyusup dengan nyaman diantara bahu dan leher Suzy. "Aku butuh mengisi energi ku, Suzy."

Suzy menahan napas saat merasakan sensasi aneh di antara lehernya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan dengan Sejong sekalipun.

Jantung Suzy berpacu dengan cepat ketika menyadari Myungsoo menariknya lebih dekat sehingga membuat dadanya menekan tubuh Myungsoo.

Dan...

"Myungsoo!" Suzy rintih saat merasakan bibir lembab Myungsoo bergerak diantara leher dan bahu nya.

Oh, tuhan! Apa yang dipikirkan lelaki ini... Suzy membatin.

Tubuh Suzy seketika menegang saat merasakan kulit paha yang tidak terbalut hot pants nya bersentuhan dengan telapak tangan Myungsoo. Lelaki itu bahkan menggerakkan kedua tangannya seperti mengelus dibagian paha atas Suzy.

"Yya, Kim Myung—"

Myungsoo menciumnya.

Bibir Suzy yang sedikit terbuka itu sangat membantunya untuk menyelipkan bibirnya diantara bibir Suzy. Myungsoo melumatnya dengan bergantian dan seolah ia sudah mengenal betul bibir wanita yang berada di pangkuannya ini. Suzy masih diam, otaknya membeku dan tidak bisa berfikir apapun saat ini.

Myungsoo melepaskan ciumannya sebentar dan menatap Suzy, "Lakukan apa yang aku lakukan, Suzy. Aku akan mengajarimu cara berciuman dengan benar." Disusul dengan bibir Myungsoo yang kembali melumat milik Suzy.

Benar kata orang, satu sentuhan membawa kepada satu ciuman, dan satu ciuman membawa pada...

She's totally blank.

Matanya menatap nanar ke arah rambut Myungsoo yang sedang bermain-main permainan barunya.

Ini salah. Kau tidak seharusnya sampai seperti ini, Suzy. Batinnya berseru mengingatkan. Namun, setan dalam diri Suzy lebih menguasainya.

Dengan sisa kesadaran yang dimilikinya, Suzy menggeleng, "Kita tidak bisa meneruskan ini..." Ucapnya pelan.

"Aku tidak akan keluar batas sebelum kita menikah."

Suzy masih diam. Kendali dirinya entah kenapa begitu lemah jika dengan lelaki ini. Pun dengan otaknya yang sulit berpikir secara normal.

Myungsoo malas mengatakan hal ini apalagi dalam keadaan seperti ini, namun respon Suzy akan sedikit lebih cepat jika menyangkut orang ini, jadi dengan malas ia bersuara kembali, "Demi karir kekasihmu disana."

Sebenarnya jika dipikir lebih jauh lagi, Tidak ada hubungannya antara karir Sejong dan juga apa yang Myungsoo lakukan sekarang. Namun, ketika tangan Suzy dengan bergetar mendorong kepala Myungsoo kearah wanita itu kembali, Myungsoo bahkan tidak peduli apa hubungan karir lelaki sialan itu dan hawa napsunya.

Ketika segalanya berjalan dengan semestinya, dan ruangan itu semakin menguarkan hawa panas. Satu suara menyentakan mereka kembali akal sehat dan fokus mereka yang sempat menghilang sementara.

"Saem... Ponselmu terus saja bergetar dan membuatku terbangun."

***

Di tayangkan ulang karena sudah di
-REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co