Truyen3h.Co

AFTER

10

authoriya

Ini memalukan!

Bisa-bisanya ia kepergok seorang anak kecil sedang berada dipangkuan laki-laki yang notabane nya adalah ayah dari anak kecil tersebut? Suzy merutuk dirinya.

"Saem sakit?" Tanya Hana polos.

Suzy mengerjapkan mata. "Ha-aa?"

Apa maksudnya Hana bertanya seperti itu kepadanya? Dari sekian banyak pertanyaan, kenapa gadis kecil itu malah bertanya apakah dirinya sakit begitu? Suzy mengernyit. Namun, karena tidak mendapatkan clue apapun, wanita itu lalu menggeleng pelan sambil melirik Myungsoo yang bisa-bisa nya duduk santai tanpa rasa malu sedikitpun.

"Tidak..." Suara Suzy serak, lalu ia berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kenapa kau bertanya begitu, Hana?"

Hana memandangi Suzy dengan seksama sebelum bergumam, "Ayah selalu menggendong dan memangku Hana ketika sedang sakit..."

Oh my god.

Suzy mengusap tengkuknya, "A-ah... Tidak, saem—"

"Appa tadi sedang minum, Hana." Myungsoo mendahului. Mengucapkan kalimatnya dengan santai, "Appa haus, dan saem mu memberikan sesuatu untuk menghilangkan haus."

Suzy terbelalak.

Ini gila. Myungsoo gila. Dengan gerakan secepat kilat wanita itu menolehkan kepalanya kearah Myungsoo yang...oh my god! Dia tersenyum?

"Aku tidak mengerti Appa..." gumam Hana.

Suzy geleng-geleng kepala, lalu dengan cepat berkata, "Bukan! Saem tadi tidak sengaja tersandung saat hendak mengambilkan air minum untuk Ayah Hana."

Suara Suzy agak naik saat mengatakan kebohongan itu. Benar-benar alasan yang aneh, tapi siapa juga yang bisa berfikir secara rasional saat ditempatkan diposisi ini, heh?

Kemudian, dering ponsel Suzy yang kembali berbunyi membuat Hana segera berjalan mendekat dan memberikan ponsel milik Suzy yang sejak tadi di pegangnya kepada si pemiliknya. Suzy menerima ponsel itu, lalu matanya melihat siapa yang memanggil.

Jantung Suzy berpacu kembali dengan ritme yang berbeda dibarengi dengan senyuman kecil diwajahnya. Senyuman yang membuat Myungsoo mengernyit tidak senang. Ia tahu siapa si penelpon itu dan ia tidak menyukai kenyataan bahwa Suzy senang karena ditelepon oleh orang itu.

"Oh, sayang!" Respon Suzy saat setelah wanita itu menggeser ikon hijau dilayar ponselnya.

Mendengar itu, Myungsoo mengetatkan rahangnya. Suzy adalah miliknya. Dan, senyuman itu hanya diperuntukan untuknya.

***

"Lelaki Amerika mu akan kemari?" Jo bertumpu dagu sambil memerhatikan Suzy yang masih fokus dengan buku-buku di depannya.

Keduanya berada di Salon langganan mereka sejak satu setengah jam yang lalu. Lebih tepatnya, Jo menemani Suzy mencuci rambut dan medi pedi. Yeah, walaupun Jo juga melakukan medi pedi pada kuku nya yang menyebabkan sebagian pelanggan baru disana melihatinya dengan sorot tertawa. Sedangkan para karyawan di salon itu sudah begitu kenal dengan Suzy dan Jo karena kedua orang itu merupakan pelanggan tetap disana.

Suzy mengangguk sambil bergumam, "Mm-Hm,"

Jo memusatkan matanya pada kuku-kuku tangannya yang sedang ditangani oleh karyawan salon dan bersuara dengan mendesah kecewa, "Sungguh timing yang tidak tepat..."

"Apa maksudmu?" Suzy mengerutkan keningnya.

"Yeah, kau dan lelaki manly itu kan baru saja menjalin hubungan panas—"

"Yya, Jo Kwon!" Suzy berseru cepat sebelum Jo lebih jauh membuka mulutnya. Sedikit kesal karena lelaki itu bahkan mengatakan hubungan panas...

Hubungan panas apanya. Ck!

Jo menyeringai, "Oke, oke... Maksudku, kenapa Sejong kemari disaat seperti ini coba?"

"Mwoya... Aku senang kekasihku ke Seoul, Jo. Kau aneh sekali, biasanya juga kau bersemangat jika bertemu Sejong." Suzy mencebik.

"Ck, aura Sejong sudah menghilang sejak aku mendengar suara CEO tampan itu setiap malam dari tape recorder ku."

Suzy memutar bola matanya. Begitu Jo Kwon sekali, eh?

"Lagipula kau dan CEO itu harus membangun chemistry—yeah walaupun aku tahu kalian pasti sudah melakukannya dengan baik..." Jo mengedipkan matanya, "Tapi tetap saja mata Jiyong oppa sangat jeli jika menyangkut dirimu, Suzy. Bisa-bisa kebohongan ini akan terbongkar jika kau tidak hati-hati." Ujar Jo.

Suzy tercenung.

Apa yang dikatakan Jo benar. Jiyong memang berada jauh di New York, tapi tidak menutup kemungkinan mata-mata yang dikirimkan Jiyong bisa saja banyak, apalagi setelah lelaki itu mengetahui kalau Suzy masih berhubungan dengan Sejong.

"Yya, jangan mengerutkan dahimu, lady. Biaya perawatan semakin mahal." Ucapan Jo langsung membuat Suzy tersadar kalau sejak tadi ia sedang mengerutkan dahinya.

Suzy berdecak.

"So, what should I do untuk mengatasi masalah ku ini, Jo?"

"Lebih baik kau bertemu dengan lelaki Amerikamu di apartemen nya dan jangan di luar. Aku bisa menemanimu kalau kau ma—"

"No, thanks."

Jo cemberut. "Aku tidak akan mengganggu kalian berdua."

"Tidak, Jo." Ucap Suzy.

Hell, tentu saja Suzy menolak jika Jo menemaninya datang ke apartemen milik Sejong nanti. Jo bisa saja menganggunya dan Sejong untuk bermesraan...

Tunggu.

Apa?

Suzy menggelengkan kepalanya mencoba menghapus pikiran kotor yang sempat terlintas di benaknya. Mwoya... Apa-apaan itu? rutuk Suzy.

Seumur-umur dia tidak pernah memiliki pemikiran kotor seperti sekarang. Dalam hatinya lalu mengutuk Myungsoo dengan sumpah serapah. Ini semua karena lelaki itu. Karena Myungsoo yang...

Pipi Suzy spontan memerah,

"Kenapa pipimu memerah, Suez?" Kening Jo berkerut. Ekspresi Suzy belakangan ini sungguh aneh, menurutnya.

"A-aniyo, gwenchana."

***

"Kau mau pergi ke airport sekarang?" Tanya Jo.

Keduanya telah selesai dan keluar dari urusan salon-menyalon mereka baru saja.

Suzy mengangguk dengan wajah senang. Membuat Jo memutar bola matanya, ekspresi yang sama yang selalu dikeluarkan Suzy ketika akan bertemu dengan lelaki Amerika nya itu.

Kemudian, mata Jo kembali melayang pada pakaian yang dikenakan Suzy hari ini. Keningnya mengernyit.

Ia menggeluti dunia permajalahan sudah sejak lama, dan ia paham fashion apa yang sedang trend belakangan ini di korea selatan bahkan di dunia pun karena memang majalahnya selalu menyelipkan rubik tentang fashion wanita didalamnya di edisi mingguan. Dan, Jo tahu kalau Suzy bukan tipikal orang yang buta akan fashion karena keluarga Suzy juga memiliki bisnis yang begitu sukses dibidang itu. Tapi...

Jo Memerhatikan Suzy lamat-lamat dengan kedua tangan bersedekap di dada. Mata Jo menscan wanita didepannya dari atas sampai bawah dan berulang dan tentu saja hal itu membuat Suzy menaikan alisnya, "Waeyo?" Tanya Suzy heran.

"Kau akan menjemput lelaki Amerika itu seperti ini?"

Suzy mengikuti arah mata Jo dan memerhatikan pakaiannya sekilas, lalu mengangguk, "Mm-Hm, kenapa memang?"

"Aku bertanya-tanya, apakah di New York sedang trend memakai baju rajut berlengan panjang hingga leher seperti ini?" Jo bertanya dengan nada penasaran.

Pasalnya hari ini pakaian yang dikenakan Suzy begitu tidak sekali. Bagaimana bisa Suzy memadukan celana Jeans nya dengan baju rajut berlengan panjang bewarna coklat susu dengan aksen leher yang tertutup penuh di Seoul yang panas ini? Dan Jo menyadari kalau ini adalah kali kedua Suzy memakai pakaian ala musim dingin seperti sekarang.

Suzy seketika menyadari apa maksud Jo bicara seperti itu. Sesungguhnya pakaian ini sangat tidak cocok dikenakan mengingat sekarang adalah summer session dan langit di korea selatan sedang cerah-cerahnya.

Tapi, Suzy tidak bisa memilih...

Bekas ciuman panas yang dilakukan Myungsoo ke tubuh bagian atasnya membuat Suzy harus rela mengenakan ini sampai bekas itu menghilang.

Suzy membasahi bibirnya, "Tidak." Jawabnya, "Hanya saja aku ntah kenapa sedang menyukai pakaian seperti ini, Jo."

Jo mencebik mendengarnya, "Yeah, atur saja semerdekamu, Suzy."

Suzy meringis. Kemudian matanya melirik Jam di ponselnya, "Sepertinya aku harus segera berangkat, Jo. Pesawat Sejong akan landing kurang dari satu jam lagi."

"Arraso. Kau yakin tidak mau kutemani?"

Suzy memutar bola matanya, "Kau masih harus bekerja, Jo."

"Aku bisa izin."

"Dan kau siap jika mereka batal mempromosikan karir mu?"

Ucapan Suzy membuat Jo berdecak sambil memutar bola matanya, "Katakan saja kalau kau tidak mau kuganggu, Suez."

Suzy tertawa.

***

Myungsoo mempelajari berkas-berkas yang ada didepannya dengan seksama sejak sepuluh menit yang lalu. Dengan kacamata bergagang tipis bertengger kokoh di wajahnya membuat lelaki itu nampak berbeda dari biasanya. Perawakan Myungsoo saat kerja seperti ini memang jauh dari kata 'nakal'. Lelaki itu bisa menempatkan dirinya ketika sedang bekerja atau tidak, itulah yang membuat rekan kerja dan beberapa pembisnis yang memang hanya mengenal Myungsoo saat berada di area kerja seperti agak segan dan menganggap jika lelaki itu adalah lelaki yang begitu serius dalam bekerja.

Myungsoo membalikan lembaran kertas yang dipegangnya. Untuk di berbagai sektor, pendapatan mereka mengalami inflasi jauh lebih tinggi setiap bulannya, namun hal itu masih belum memuaskan Myungsoo. Makanya, lelaki itu sedang berniat membangun sebuah museum 3d art trick di kawasan Seoul karena Myungsoo tahu jika saat ini spot-spot unik seperti itulah yang dibutuhkan dan di gandrungi remaja jaman sekarang untuk bergaya di sosial media mereka. Plus, bagunan itu juga yang akan menjadi kado untuk anaknya, Hana, karena ia akan menamai museum itu dengan memadukan nama Hana di dalamnya.

Matanya membaca dengan seksama lembaran-lembaran kertas itu sebelum menutup dan memberikan kembali kepada assistennya. Myungsoo melepas kacamatanya, menaruhnya diatas meja, "Kau sudah mendapat kabar kapan Jiyong kesini?"

Sang Asisten mengangguk, "Ne. Pihak cloudshion lima hari lagi akan terbang kemari, Pak."

Myungsoo mengangguk-angguk, "Pelukis itu, kapan dia berangkat?"

"Jika tidak ada halangan, sekarang mungkin Pak Sejong sudah menginjakkan kakinya di incheon airport."

Myungsoo tercenung. Rahangnya sedikit mengeras membayangkan wanitanya pasti saat ini sedang berada di bandara untuk menjemput Sejong. Membayangkan tubuh wanitanya berada dipelukan lelaki lain dan bibir ranum Suzy berada di...

"Kau bisa menyuruh Sejong untuk datang keperusahaan kita sekarang?"

Sang assisten sedikit mengernyit, "Jadwal meeting dengan pak Sejong akan dilaksanakan besok karena jam satu nanti anda masih ada meeting dengan pihak Choi corp."

Myungsoo menahan kesal, dan tak urung mengangguk sekilas. Untuk hari ini, ia akan membiarkan kedua insan itu bersama, batin Myungsoo.

"Baiklah kau bisa pergi." Ucap Myungsoo pada assisten pribadinya.

Sang asiten mengangguk, namun saat hendak berbalik, lelaki itu baru menyadari jika ia tadi berniat menunjukkan sesuatu kepada atasannya. Tangannya bergerak membuka lockscreen pada tablet yang di pegangnya, lalu memberikannya kepada Myungsoo.

"Di media sekarang sedang ramai artikel yang membahas tentang anda, pak." Ucapnya.

Myungsoo memerhatikan headline artikel-artikel yang serupa itu dengan seulas senyum yang membuat sang assisten terheran-heran.

"Aku sudah menyuruh pihak IT kita untuk memblokir semua artikel itu."

"Tidak. Kau tidak perlu menyuruh mereka melakukan itu. Aku tidak keberatan namaku ada di laman gosip seperti ini selagi itu tidak merugikan perusahaan kita." Ucap Myungsoo dengan sudut bibir terangkat.

***

Di tayangkan ulang karena sudah di
-REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co