Truyen3h.Co

AFTER

14

authoriya

Jalanan sudah semakin sepi, pun dengan beberapa street foods yang sudah mulai tutup, termasuk kedai makanan yang kini hanya tinggal menunggu satu pelanggan untuk pergi saja. Sang pemilik kedai bahkan sudah berkali-kali bilang kalau sudah akan ditutup, namun pelanggan itu nampaknya tidak memerdulikan.

"Ahjumma, aku minta sebotol soju lagi!" Ujar si pelanggan itu sambil menggoyang-goyangkan gelas soju nya.

Wanita paruh baya yang di panggil Ahjumma itu menghela napas, berjalan menghampiri si wanita dengan kedua tangan yang masih memegang sekotak daging mentah, "Nona, kedai kami sudah tutup. Apa kau tidak berniat menelpon kekasihmu agar ia menyusulmu?" Tanyanya.

Mendengar hal itu, Suzy lantas menaruh dengan lemah gelas soju yang di pegangnya ke atas meja. Ia mendesah, "Soju. Aku... ingin... soju..."

"Nona, kau harus segera menelpon seseorang untuk menjem--" kata-kata Ahjumma itu terhenti saat melihat seseorang masuk kedalam tenda, "Maaf, kami sudah tutup." Ucapnya pada lelaki berkemeja putih dengan lengan tergulung hingga ke siku.

"Aku kemari untuk menyusul kekasihku." Lelaki itu tersenyum. Lalu, mendekat. Setelah menaruh beberapa lembar uang di atas meja, ia pamit mengatakan terima kasih, dan membawa serta Suzy dalam rangkulannya.

"Aigoo, anak muda jaman sekarang hanya bisa bertengkar saja." Ahjumma itu geleng-geleng sambir memerhatikan sepasang pria dan wanita itu keluar dari tenda kedai nya. Satu tangannya yang tidak memegang apapun, mengambil uang yang berada diatas meja itu, lalu meminta sang suami untuk membantunya membersihkan tempat yang tadi di duduki oleh Suzy.

***

Sinar rembulan berpadu dengan cahaya lampu jalanan menghasilkan cahaya yang terang temaram pada malam yang semakin mengelam. Myungsoo memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan karena suara tangisan di sampingnya yang tak kunjung mereda.

"K-kenapa kau menghentikan mobilnya?" Ucap Suzy sambil sesegukan. Kedua pipi Suzy basah akibat air mata yang terus mengalir, dan sekarang matanya terasa berat akibat sembab.

"Apa yang terjadi?" Alih-alih menjawab, Myungsoo malah bertanya tentang apa yang membuat wanita itu sampai menangis seperti ini.

Sebenarnya, bukan kesengajaan mengapa bisa Myungsoo menyusul Suzy di kedai itu. Lelaki itu baru saja akan pulang dari kantor, dan ketika mobilnya melintasi jalanan itu ia melihat mobil Suzy yang terparkir di pinggir jalan. Myungsoo menyuruh supirnya untuk menunggu dan keluar mengecek keadaan mobil itu, namun tidak ada orang. Ketika ia akan menghubungi si pemilik mobil, Myungsoo mendengar suara Suzy dari dalam kedai di pinggir jalan yang tidak jauh dari mobil itu terparkir.

Suzy terdiam. Kedua mata sembab itu sibuk memandangi kuku-kuku tangannya sendiri, membuat Myungsoo kembali bertanya, "Jiyong memarahimu?" Tebaknya.

Dan, Suzy menggeleng sebagai jawaban.

"Jadi, Kenapa kau menangis seperti ini, Suzy?"

Suzy masih terdiam menunduk, ia mengigit bibirnya untuk meredam tangis yang mungkin akan mengucur kembali, namun ia butuh seseorang untuk bercerita. Jadi, akhirnya kepala yang menunduk itu perlahan mendongak, dan kedua mata sembab itu langsung bertatapan dengan mata tajam Myungsoo. Pandangan mata sembab di tambah sinar dari lampu mobil yang remang-remang itu sungguh mengganggunya, namun ditahan Myungsoo agar dirinya tidak langsung memeluk wanita yang saat ini sedang bersamanya itu. Dengan mengepalkan kesepuluh jemarinya meredam rasa, Myungsoo kembali bersuara, "Katakan padaku, Suzy."

Kemudian, air mata itu kembali turun seiring dengan suara Suzy yang bergetar kala menceritakan apa yang terjadi dengan kisah cintanya itu, "Sejong... Ia memutuskan hubungan kami. Apa yang harus kulakukan... Dia mengatakan kalau aku bukan lagi prioritasnya... Katanya... Katanya tempatku telah di gantikan... Aku... Ternyata hanya aku yang berjuang, Myungsoo-ah... Eottokae..." Isak tangis menjadi musik dalam penjelasan itu. Suzy kembali mengingat apa yang dikatakan Sejong kepadanya tadi dan itu membuatnya semakin tidak bisa menahan kesedihannya.

Dan pandangan itu, pemandangan Suzy menangis karena pria lain membuat Myungsoo mengetatkan rahangnya. Dengan satuan detik yang bahkan tidak sempat merekamnya, Myungsoo menarik tubuh Suzy, meluruhkannya kedalam pelukan. Membiarkan suara tangis itu tenggelam dalam dada bidangnya.

"Jangan menangis." Ucap Myungsoo sambil membelai puncak kepala Suzy.

Lama keduanya berpelukan, padahal isak tangis itu sudah mereda sejak lima menit yang lalu. Kedua tubuh itu masih melekat seolah menemukan rasa nyaman nya sendiri. Suzy menghembuskan napasnya pelan, kedua matanya terpejam dan hatinya sudah mulai tenang. Ketenangan yang tidak di mengertinya, apakah karena rasa frustasi akibat di putuskan tiba-tiba akhirnya tersalurkan, atau karena pelukan dan irama detak jantung Myungsoo yang membuatnya tenang?

"Biarkan aku menggantikan posisi Sejong di hatimu."

Kata-kata yang keluar dari mulut Myungsoo membuat Suzy menguraikan pelukan mereka. Namun, tangan Myungsoo yang berada di pinggang wanita itu tidak membiarkan Suzy memberi jarak terlalu jauh untuk mereka.

Suzy menatap mata lelaki yang hanya bejarak sejengkal darinya itu dengan kedua alis yang berkerut tidak mengerti. Membuat Myungsoo kembali mengulangi perkataannya dengan penekanan,

"Aku akan menggantikan posisi Sejong. Jadi, jangan menangis lagi karena lelaki itu. Paham?"

Kedua mata tajam Myungsoo menenggelamkan Suzy ke dalamnya.
Suzy tidak memberikan respon apapun, pada saat ini hatinya telah terluka, dan ucapan Myungsoo serupa angin yang mungkin hanya di katakan karena laki-laki itu kasihan terhadapnya.

***



"Oh my god! Oh my god! Oh my god!" Jo mengulang mantra andalannya sebanyak tiga kali. "Aku tidak menyangka Sejong melakukan hal itu pada sahabatku!"

Kedua tangan Jo sampai menggebrak meja kafe dan menyebabkan beberapa pengunjung menoleh kaget kearah mereka. Kedua matanya kemudian mengarah kepada Suzy yang memasang wajah lemas dengan mata sembab dan rambutnya terurai tanpa 'tindakan' . Suzy sudah seperti zombie jika saja wanita itu tidak menggunakan lipstick hari ini.

"Jo..."

"Aku harus menemui lelaki Amerika itu secara langsung!" Jo menggebu. Dia menyukai Sejong, tentu saja, terlepas dari wajahnya yang tampan, Sejong juga memiliki hati yang baik. Tetapi, apa yang dilakukan Sejong kepada sahabatnya itu sangat membuatnya sebal.

"Jo, sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi." Suzy melipat kedua tangannya diatas meja. Menatap Jo dengan pandangan 'aku-baik-baik-saja'-nya.

Kedua mata Jo menyipit sembari memerhatikan sahabatnya itu, ia akhirnya mendesah. "Mianhae, karena aku tidak ada di sampingmu kemarin..."

Suzy tersenyum kecil, "Tidak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja, Jo."

Lama mengamati, Jo tahu sebenarnya Suzy berkata seperti itu hanya untuk membuat dirinya tidak cemas. Dia sangat tahu seberapa besar rasa cinta Suzy kepada lelaki Amerika nya itu.

"Jadi, perjanjianmu dengan Myungsoo batal?"

Suzy tercenung. Tiba-tiba saja sekelebat ingatan yang semalam bermunculan di kepalanya. Dalam keadaan setengah mabuk, Myungsoo yang tiba-tiba datang entah dari mana kemudian mengatakan suatu hal yang baru di cernanya pagi ini. Suzy mendesah, ucapan itu terasa nyata dan pelukan Myungsoo juga terasa nyata, tapi kenapa ketika ia terbangun pagi tadi dirinya sudah berada di kamar? Apakah yang semalam itu mimpi? Apakah Suzy sebenarnya menangis di kamarnya sendirian?

"Suez?"

"Ha?" Suzy tersadar. Jo menghela napasnya lagi, tangan kanannya bergerak menumpukan dagunya, "Perjanjianmu dengan lelaki Hot itu, bagaimana?"

"Oh," gumam Suzy. Diraihnya segelas green tea yang sejak tadi tidak disentuhnya itu, cairan kental berasa khas itu langsung membasahi tenggorokannya yang kering, "Nanti setelah jamuan makan malam kami bersama kak Jiyong dan Lisa, aku akan memberitahu Myungsoo kalau perjanjian kemarin tidak perlu dilanjutkan lagi. Lagian, orang yang kupertahankan mati-matian itu sudah pergi..."

"Kau yakin, Suzy?"

Suzy mengangguk.

"Bagaimana jika niat Jiyong oppa menjodohkanmu dengan pria tua kembali lagi?" Tanya Jo, menatap Suzy lewat bulu mata lentiknya, "Daripada kau bersama pria tua, tetap berada di sisi Kim Myungsoo jauh jauh jauh lebih baik, Suzy."

"Oppa tidak akan menjodohkanku dengan pria tua, Jo. Dia berkata seperti itu karena aku masih berhubungan dengan Sejong, dan sekarang aku tidak."

"Ck! Aku bahkan belum bertemu secara langsung dengan Myungsoo. Tahan dia sampai aku bertemu dengannya, ya, ya, ya? Kau tidak takut menyesal kehilangan ciuman dahsyat nya, huh?"

Suzy memutar bola matanya. "Jo, aku tidak mungkin bersama Myungsoo."

"Oh, wae?" Jo menggerutu.

"Kami tidak saling menyukai."

"Tapi dia menciummu, Suez. Seperti ini," lalu, Jo menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri dengan bibirnya yang bergerak maju-maju.

"Yya!" Suzy memandang Jo dengan ekspresi jijik yang tidak di tutup-tutupi, namun tak urung tertawa, "Hentikan, Jo."

Jo ikut tertawa. "Teruslah tersenyum, Chingu-ya. Wanita sepertimu tidak pantas bersedih hanya karena seorang pria."

***

Matahari sudah turun ke peradabannya dan digantikan oleh bintang-bintang yang berpijar indah di langit yang mulai menghitam. Di dalam hunian apartemen miliknya, ntah sudah berapa kali Suzy menggerutu melihat gaun yang tergeletak diatas ranjang. Sedangkan dirinya masih menggunakan kimono mandi nya dengan handuk putih melingkar diatas kepala.

Dilihatnya jam yang menggantung di dinding kamarnya, kemudian matanya terarah pada meja rias yang berada di sudut kamarnya, memerhatikan wajahnya yang sudah cantik dengan riasan make up. Tetapi, rambut dan bajunya jauh dari kata rapih. Pakaian itu terlalu terbuka, tapi ia tidak punya pilihan lain selain memakainya. Pertama, ia malas berdebat dengan Lisa. Kedua, ia malas ditanya-tanya oleh Jiyong.

Ding!!

Suara bell pintu apartemennha memutuskan lamunan Suzy. Masih menggunakan kimono mandinya, Suzy mengomel sambil berjalan keluar kamar, melihat siapakah tamu yang tidak tepat datang ini. Tidak mungkin kalau yang membunyikan bell adalah Jo, karena lelaki itu sudah tahu jika malam ini Suzy memiliki janji temu dengan sang kakak dan tunangannya. Tidak mungkin juga jika itu si lelaki Amerika, karena Suzy yakin lelaki iu bahkan sedang asyik berskype ria dengan kekasih barunya itu. Membayangkan hal itu membuat perutnya mulas, tidak percaya cinta nya selama bertahun-tahun di khianati begitu saja. Tanpa melihat kayar intercom, Suzy langsung membuka pintu apartemennya.

***



Myungsoo memerhatikan wanita yang berada di depannya dengan alis berkerut. Wajah Suzy sudah cantik dengan riasan, namun...

Dengan kedua tangan yang masuk kedalam kantung celananya, Myungsoo menggunakan mata hitam nan tajamnya itu untuk memandang Suzy dari atas kepala sampai kebawah, lalu di ulangi.

"Apa ini trend musim ini ?" Celetuk Myungsoo.

"Bukan. Aku belum ganti pakaian, ini semua karena Lisa." Suzy menggerutu, kemudian mempersilahkan Myungsoo untuk masuk. "Hana tidak ikut?"

"Dia masih bersama ibuku. Sepertinya wanita tua itu merindukan Hana." Kekeh Myungsoo.

Suzy menatap Myungsoo dengan pandangan takjub, "Yang sopan, Myungsoo. Mana boleh kau mengatakai Ibumu wanita tua."

"Dia memang sudah tua, Suzy."

"Tetap saja," Suzy menggerutu. Setelah mempersilahkan Myungsoo untuk duduk dan mengatakan kalau dia akan berganti pakaian dulu, Suzy langsung kembali memasuki kamarnya.

Myungsoo menumpukan sebelah tungkainya pada yang lain, senyumannya kian merekah saat menyadari kursi yang di dudukinya ini adalah kursi yang sama saat 'adegan sofa'-nya bersama berlangsung.

***



Pendar-pendar cahaya lilin yang menyala di sepanjang jalan saat memasuki restoran bergaya modern itu mampu menyejukkan hati Suzy. Lilin-lilin aromatherapy yang diletakan berjejer di kanan dan kiri jalan setapak yang nantinya akan menghubungkan bagian luar dan bagian dalam itu mampu menenangkan hati Suzy yang berdebar. Niatnya sudah bulat, mengatakan hal yang sebenarnya kepada sang kakak sekaligus meminta maaf kepada Myungsoo karena lelaki itu sudah di susahkannya.

Disusahkan...

Sepertinya kata-kata itu tidak pantas ia keluarkan jika mengingat Suzy lah yang di rugikan atas hubungan palsu mereka. Sebagai kekasih bayangan, Myungsoo terlau agresif terhadap Suzy. Ciuman lelaki itu dan...

Dengan gerakan secepat kilat, Suzy menoleh kepada lelaki yang berjalan bersisian dengannya ini, menyadari bahwa telapak tangan Myungsoo dengan santainya melingkar di pinggang Suzy.

"Kau tidak perlu merangkul pinggangku." Cibir Suzy.

"Aku bersumpah akan membuat buta mata siapapun yang berani melirik kearahmu, Suzy." Ucap Myungsoo datar.

Suzy mendesah. Mencoba tidak memerdulikan tangan yang berada di pinggangnya dan mencoba untuk tidak memerdulikan suasana yang menjadi panas akibat kulitnya dan Myungsoo yang saling bersinggungan.

***

Di tayangkan kembali karena sudah di
- REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co