15
Nuansa serba putih memenuhi setiap mata yang berada di hotel itu. Dekorasi minimalis bergaya klasik yang begitu jauh dari yang di bayangkan ketika melihat kekayaan kedua keluarga itu semakin membuat takjub setiap orang yang melihat. Ditambah, rangkaian bunga-bunga mawar dan aster begitu indah terpasang pada tiang-tiang bambu yang di satukan oleh kain satin putih berpita emas, juga lampu hias yang menggantung dengan cantik semakin memperindah suasana disana. Gemuruh tepuk tangan serta sorak-sorai hadirin yang ikut berbahagia semakin menambah kehangatan suasana di bagian taman salah satu hotel di Seoul kala si pria mencium si wanita di depan semua tamu yang datang.
Jo menangis terharu. Dipeluknya Suzy dalam balutan gaun pengantin erat-erat, "Aku tidak bisa percaya bahwa temanku sudah menikah!"
Suzy tampak cantik dalam balutan gaun berwarna Ivory berpotongan lace dengan ujung belakang yang menjuntai hingga menyapu karpet. Alih-alih menggunakan veil di kepalanya, Suzy lebih memilih menggunakan flower crown sebagai penglengkap hiasannya.
Melihat Suzy yang di peluk oleh lelaki lain meskipun itu adalah seorang Jo Kwon, ayal membuat Myungsoo dengan cepat mengulurkan tangannya hendak memisahkan Jo supaya menjauh dari Suzy. Dengan sisa-sisa air mata yang merembes ke pipinya, Jo menatap jemari Myungsoo yang berada di lengannya dengan berbinar. Di lupakannya sejenak kesedihannya--tentang Suzy yang menikah dan membiarkannya menjomblo sendirian--karena tidak menyangka bahwa hari ini adalah hari dimana mimpinya menjadi nyata. Lelaki hot itu memegang tangannya!
Tapi, awan mendung di wajah Jo langsung kembali saat Myungsoo menyingkirkan jemari kokoh milik lelaki itu dari lengannya.
Suzy mendengus, memerhatikan ekspresi Jo, lalu menjawab, "Aku juga tidak menyangka berakhir disini, Jo," Kemudian melirik Myungsoo yang kini menarik pinggulnya mendekat kearah lelaki itu, "Bersama dengannya pula. Aigoo..."
-37 Grill & Bar, two month ago-
"Menikah denganku, ya?" Satu suara yang akan membuat Suzy terperangah lebar jika saja sistem pengendalian dirinya jelek. Suzy, menatap dengan horor wajah lelaki disampingnya. Begitu juga dengan kedua orang yang duduk didepan mereka, sukses dibuat si lelaki terkejut setengah mati.
Steak di piring milik Suzy bahkan masih setengah, dan red wine miliknya sama sekali belum tersentuh. Keinginannya untuk mencoba red wine yang disajikan bersama menu makanannya ini hilang sudah, pun dengan selera makannya.
Suzy menatap dengan kikuk kedua orang yang masih terperangah di depannya itu dengan ringisan. Seharusnya, ia tadi mengatakan tentang pembatalan perjanjian mereka agar Myungsoo tidak asal bicara begini. Lalu, dengan segera memberikan kode kepada Myungsoo agar lelaki itu mengatakan sesuatu. Namun Myungsoo bergeming, dan tatapan laki-laki itu mengisyaratkan kalau yang dikatakannya tidak main-main.
"Kau serius melamar adikku?" Jiyong nampaknya mulai sadar. Di tatapnya Myungsoo sungguh-sungguh. Perasaan senang membuncah karena kolega bisnisnya melamar sang adik. Terlepas dari dia seorang duda, yang jelas, Jiyong tahu jika Myungsoo lelaki baik dan memiliki jenis lahan penghasilan yang sama dengan keluarga Bae.
"Tentu saja."
"Yya, Kim Myungsoo!" Suzy menyela. "Jangan bercanda didepan kakakku."
"Memangnya aku terlihat sedang bercanda?" Kening Myungsoo mengernyit tidak suka.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?"
"Oppa!" Suzy menoleh kearah Jiyong dengan sekuat tenaga. Yang tentu saja hanya ditanggapi Jiyong dengan kedua alis terangkat.
"Jika boleh mendahuluimu dan Lisa, secepatnya."
Jiyong menatap Myungsoo dengan tatapan menilai. Saat ini, ia tahu kalau Myungso sedang tidak bergurau sedikitpun kepadanya, karena Jiyong bisa melihat ada keseriusan di bola mata hitam itu.
"Tentu saja." Dan anggukan Jiyong menjadi persetujuan final dari apa yang diinginkan Myungsoo.
"Oppa!" Dua suara wanita yang berbeda karakter itu bersuara secara bersamaan. Nampak kaget karena jawaban yang tak terduga dari pria itu.
"Oppa, kita yang bertunangan, mengapa jadi mereka yang menikah duluan." Lisa cemberut.
***
"Apa yang sedang kau lamunkan, hm?"
Suzy tersentak ketika merasakan hembusan napas yang menggelitik telinganya. Kepalanya menoleh dan bibirnya langsung bertubrukan dengan bibir suaminya, Myungsoo.
"Oh my god!" Jo mengeluarkan mantranya kembali ketika melihat adegan didepannya. Dengan gerakan cepat Suzy langsung menjauhkan dirinya dari Myungsoo.
"Yya, semua orang sedang menonton kita. Kau tidak boleh main cium begini." Suzy menggerutu. Bibirnya manyun ke depan yang kemudian di kecup kembali oleh Myungsoo, "Gwenchana. Mereka akan maklum karena kita pegantin baru."
"Kau akan memberi tontonan yang tidak baik untuk Hana."
"Dia harus belajar sejak dini, Suzy." Ucap Myungsoo dengan santai.
Suzy terperangah.
***
Suzy menutup pintu kamar Hana dengan pelan supaya gadis kecil itu tidak terbangun dari tidurnya. Jam besar yang berada ruang depan baru saja berbunyi, yang berarti sekarang sudah menunjukan pukul dua belas tengah malam. Tubuhnya begitu pegal, apalagi kedua tangannya yang sibuk menyalami ratusan undangan vip yang tidak dikenalnya karena kebanyakan adalah rekan bisnis Kim Myungsoo; Suaminya.
Dunianya sungguh di buat jungkir balik dengan takdir. Kisah cintanya yang indah bersama Sejong, malah berakhir dengan seorang Kim Myungsoo.
Suzy tidak tahu apakah takdir ini akan membawanya ke tempat yang lebih indah, atau bahkan sebaliknya. Apakah pilihannya menerima pinangan Myungsoo adalah hal yang baik atau bahkan sebaliknya. Yang jelas yang ia yakini bahwa hari ini, dunianya sudah tidak lagi sama.
"Kau akan terus berdiri di depan pintu seperti ini?" Suara rendah itu terdengar seperti semilir angin malam yang membuat Suzy menggigil. Kemudian, ia merasakan lengan kekar melingkari pinggangnya.
"Aku ingin dessert." Bisik Myungsoo kembali. Kali ini, bibirnya menyecap bagian samping leher Suzy.
"Ngg... Aku akan mengambilkannya," Suzy berdeham. Lalu mencoba melepaskan belitan lengan itu, namun Myungsoo bergeming, malah semakin mengeratkan pelukannya dan berujar, "Aniyo. Dessert-ku ada disini."
"M--maksudmu?"
"Kau. You're my favorite dessert." Bisik Myungsoo.
Suzy membalikkan badannya untuk menatap lelaki yang sedang memeluknya ini. Sebelum semuanya terlalu jauh, ia harus berbicara kepada Myungsoo. Dirinya belum siap. Setidaknya, ia harus meyakinkan dirinya kalau Myungsoo pantas memilikinya sepenuhnya, barulah ia akan memberikan hal yang paling berharga untuk lelaki itu.
"We need to talk." Suzy mendorong Myungsoo sedikit sehingga membuat jarak diantara keduanya. Kemudian tungkai jenjangnya berjalan masuk kedalam kamar tidur Myungsoo.
Myungsoo sedikit menggerutu karena pelukan itu di lepas, namun ia tetap mengikuti.
Ini adalah kali pertama Suzy memasuki ruang tidur Myungsoo. Desain kamar itu begitu maskulin dengan warna coklat tua dan hitam yang mendominasi. Ada satu couch bewarna hitam yang menghadap kearah jendela besar dikamar itu, Suzy duduk disana.
"Lebih baik kita melakukan kegiatan bermanfaat di ranjang daripada harus duduk disini, Suzy."
"We need to talk."
"Besok saja bicaranya, lebih baik kita--"
"Aku belum siap."
"What!?"
Suzy menarik napas, matanya menatap Myungsoo lurus-lurus, "Dengar, pernikahan ini... Semua yang terjadi pada kita... Semuanya, masih terlalu sulit untukku mengerti, Myungsoo. A-aku, masih belum--"
"Aku mencintaimu, Suzy. Dan aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
"Aku tahu," Suzy mendesah, kemudian menunduk memandangi jemarinya yang saling bertautan, "Tapi, aku butuh waktu."
Myungsoo mendesah, mengusap wajahnya menggunakan tangan kanannya sebentar, "Arraso."
"Kau marah ya?" Suzy menggigit bibir bawahnya sambil menatap Myungsoo. Lelaki itu menjawab dengan gelengan, "Aniyo. Gwenchana, aku bisa puas hanya dengan menciummu saja untuk beberapa waktu ke depan. Ayo, sekarang kita harus tidur..." Ajaknya, kemudian menghela Suzy kearah ranjang dengan berat hati.
Sepertinya, malam pertama mereka akan di lewati begitu saja. Tapi, bagaimanapun Myungsoo mengerti, karenanya ia tidak akan memaksa sampai saat nanti, saat dimana Suzy akan menyerahkan keseluruhan diri wanita itu kepadanya. Myungsoo akan menunggu waktu itu.
***
Majalah yang tergeletak di atas meja serta suara pembawa acara gosip yang menyapa dari balik layar televisi itu memiliki satu berita yang sama. Hari ini adalah hari minggu, yang berarti kalau hari ini merupakan hari libur dari rutinitas bekerjanya yang semakin melelahkan. Kumis dan jambang yang biasanya tidak di biarkan mampir di wajah, sama sekali belum di sentuhnya sepagian ini. Matanya menatap ke layar televisi yang memaparkan senyuman secerah sinar matahari milik seseorang yang dulu adalah miliknya itu membuatnya sakit. Abu-abu itu kini terasa kian jelas; bahwa ini semua adalah rencana. Bahwa mungkin saja; tangisan wanita itu hanyalan sebuah sandiwara yang apik yang telah berhasil di bawakannya. Bahwa ternyata; hanya dirinya lah yang menderita.
Raut wajah itu, tidak ada ke kelaman disana. Senyuman terus saja mengiringi sepanjang acara pernikahan mereka. Matanya lalu beralih kepada lelaki yang berdiri memakai tuxedo hitam di sebelah si wanita dengan tangan terkepal.
Ia telah kalah telak.
***
Di tempat yang berbeda, mata indah berhiasan softlens berwarna abu-abu itu menatap tablet yang baru saja di serahkan oleh sang asisten pribadinya. Matanya menatap foto berikut artikel yang terlampir di bawah foto itu. Pandangan mata itu datar, tidak ada yang bisa membaca perasaan apa yang sedang melingkupinya sekarang.
Tangannya bergerak mengembalikan kembali tablet itu kepada sang asisten. Lalu, menatap pantulan dirinya pada cermin panjang di depan sana.
"Katakan pada mereka untuk melakukan pemotretannya dengan cepat, dan jangan membuang-buang waktuku." Ucapnya bernada angkuh.
***
Di tayangkan kembali karena sudah di
- REVISI-
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co