Truyen3h.Co

AFTER

17-b

authoriya

Matahari bersinar begitu terangnya pagi ini di Santorini. Seolah-olah semalaman kemarin tidak pernah terjadi hujan deras sedikitpun. Santorini memang terkenal dengan cuaca cerahnya sepanjang musim karena matahari terus bersinar dengan teriknya, pada saat musim hujan tiba, biasanya suhu di pagi dan siang hari tetap saja terik namun ketika malam hari hujan deras bisa tiba-tiba muncul. Seperti semalam.

Suzy membuka matanya saat merasakan sinar matahari menyusup dari sela-sela gorden menyinari setengah wajahnya, dan mendapati sebelah ranjangnya sudah kosong. Ia duduk, lalu mengikat cepol rambut panjangnya itu dengan asal. Matanya melirik kearah dinding melihat jam.

Sekarang jam sembilan pagi. Dan Suzy bahkan merasa jika ia baru saja tertidur pulas. Keningnya mengernyit, ketika Myungsoo mengatakan tidak akan lepas kendali lagi, Suzy tidak mengira jika yang dimaksud lelaki itu adalah tentang keseluruhannya. Dan Suzy tidak menyangka jika Myungsoo tega membiarkannya gusar karena sulit tertidur sedangkan lelaki itu malah enak-enaknya mendengkur pulas.

Suzy menatap Myungsoo yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang masih menggantung di pundaknya, tangannya bergerak mengusap-usap rambutnya dengan handuk itu, lalu ketika pandangan mereka bertemu, Myungsoo dengan santainya berbicara, "Kau sudah bangun?"

Suzy mendengus. Lelaki itu bahkan tampak segar dan tampan. Sedangkan, Suzy bisa melihat meskipun tanpa cermin didepannya kalau mata bagian bawahnya sudah seperti sedang membawa tas ransel berisi buah semangka. Ntah sejak kapan, namun Suzy sudah terbiasa tidur dalam pelukan Myungsoo dan juga mendapatkan kecupan sebelum tidurnya. Namun, ketika Suzy bergerak akan memeluk Myungsoo semalam, lelaki itu malah menolaknya, "Aku tidak boleh lepas kendali, Suzy. Jadi kau juga jangan memancingku." Katanya semalam. Mata tajam itu menatap Suzy dengan tatapan mengingatkan.

"Mandilah, setelah itu kita akan mencari sarapan diluar." Ucap Myungsoo sambil menatap Suzy sekilas. Tangannya bergerak membuka lemari yang sudah diisi dengan pakaian-pakaian mereka. Lalu mengambil satu pasang kemeja dan celana levis bewarna hitam dari dalam lemari. Kedua mata Myungsoo kembali melirik Suzy, saat merasakan ada mata yang sedang menatapnya. "Waeyo, Suzy?" Tanya Myungsoo saat mendapati istrinya sedang menatapnya dengan memicingkan matanya.

"Tidak." Jawab Suzy ketus. Kemudian bangkit dari ranjang dan melenggang masuk kedalam kamar mandi.

***

Elia Eatery.

Suzy membaca plang nama restoran yang akan mereka masuki. Wanita itu nampak cantik dengan setelan floral jumpsuit outfits sependek paha berkerah V-neck dengan lengan tangan pendek melekat sempurna di tubuhnya. Satu tangannya berada di genggaman Myungsoo dengan nyaman.

Nyaman...

Suzy jadi ingat, tidak ada seorangpun selain keluarganya yang membuatnya nyaman bergandengan tangan seperti ini. Jika di ingat-ingat, bahkan dengan Sejong pun Suzy bahkan hampir tidak pernah melakukan semacam ini. Tangannya selalu bergelayut di lengan Sejong tiap kali mereka berjalan bersama.

"Kau masih suka sayuran, kan?" Tanya Myungsoo. Kepalanya menoleh menatap Suzy yang masih menatap plang nama resto yang akan mereka masuki ini. Suzy memalingkan pandangannya untuk bertemu dengan mata tajam Myungsoo, sedikit kaget karena Myungsoo bahkan masih mengingat apa yang disukai nya, namun tak urung mengangguk, "Mm-Hm."

Myungsoo mengangguk sekali. Lalu, menghela Suzy untuk masuk kedalam resto. Di Santorini, selain menu seafood, kita juga akan menemukan berbagai menu vegetarian di dalamnya. Namun karena ini masih pagi, jadi vegetarian foods adalah pilihan yang terbaik.

Keduanya memasuki restaurant tersebut dan langsung di sambut dengan hangat oleh waiteress yang memang sudah menunggu didepan. Sang waiteress membawa mereka ke salah satu table kosong. Myungsoo, menarik kursi dan menyuruh Suzy untuk duduk disana, sedangkan dia menarik satu kursi lagi untuknya.

Senyuman tercetak diwajah Myungsoo saat melihat wajah berseri-seri Suzy. Membawa Suzy ke Santorini ternyata adalah pilihan terbaik sepanjang hidupnya. Honestly, Myungsoo juga merasa senang datang kesini. Pemandangan yang disuguhkan begitu indah, dan resto ini begitu cozy sekali dengan view yang menghadap kelautan lepas. Begitu indah.

"Aku suka senyumanmu."

Suzy menoleh, memandang Myungsoo dengan tatapan bingungnya.

"Kau harus terus tersenyum, Suzy. Aku menyukai senyumanmu." Kata-kata itu diucapkan tanpa nada dan dengan ekspresi wajah datar khas Myungsoo. Namun, begitu menghangatkan hatinya. Suzy tersenyum dengan wajah menghangat, tidak tahu harus merespon apa perkataan Myungsoo barusan.

***

Semua orang tahu, jika Santorini termasuk penghasil wine terbaik di dunia. Dan Suzy membuktikannya dengan mata kepalanya sendiri. Setelah mendapatkan makan pagi mereka, Myungsoo langsung mengajaknya ke Venetsanos Winerey yaitu tempat perkebunan dan pabrik anggur. Dan Suzy, tidak bisa untuk tidak terkesima karena lelaki itu. Dari cara Myungsoo menuturkan macam-macam wine--yang bahkan namanya baru Suzy dengar hari ini--dan bagaimana cara mengolah anggur sehingga menjadi minuman enak. Kemudian pada sore harinya Myungsoo mengajak Suzy melihat sunset di Santorini Exclusive Odysseas Sailing Yacht.

Perjalan terbaik diantara semua yang dikunjungi Suzy sepanjang hari ini, menurutnya. Berlayar di Santorini adalah pilihan terbaik dari yang terbaik. Vaios yang ramah, dia memberitahu sejarah setiap pulau yang mereka lewati dan kunjungi, memperlihatkan pemandangan-pemandangan dan bangunan yang indah. Hidangan makanan yang lezat di Thirasia, yang mana jamuan makan malam itu disiapkan diatas kapal.

"Kau bahagia?" Suara Myungsoo pertama kali terdengar lagi sejak jamuan makan malam mereka berakhir. Keduanya kini sedang duduk bersebelahan dengan kedua bahu saling bersinggungan di kursi panjang sambil menikmati langit malam dan segelas white wine.

"Mm-Hm," Suzy mengangguk. Menyesap segelas white wine nya, lalu kembali menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip diatas langit.

"Naeun."

"Ne?" Suzy menatap Myungsoo dengan bingung karena tiba-tiba lelaki itu mengucapkan satu nama yang tidak diketahuinya.

"Ibu kandung Hana, namanya Naeun. Son Naeun."

Jantung Suzy berdetak cepat saat Myungsoo mengatakan hal itu padanya. Dari sekian banyak waktu yang terlewatkan, kenapa Myungsoo baru bercerita kepadanya sekarang? Dan dari sekian banyak waktu yang terlewatkan, kenapa dirinya tidak pernah menanyakan keberadaan Ibu kandung Hana kepada Myungsoo...

Suzy diam. Bingung mau merespon apa, jadi kediamannya diperuntukkan untuk menunggu jikalau ada kelanjutan dari kalimat Myungsoo barusan.

"Dia orang korea?" Itulah satu-satunya respon yang bisa dipikirkan Suzy.

Suzy mendengar suara helaan nafas berat milik Myungsoo, lelaki itu kembali menyesap white wine miliknya sebelum berbicara kembali, "Mm, Ayahnya keturunan korea, tapi tinggal lama di Italy. Dia adalah anak dari rekan kerja Ayahku dulu, dan kau tahu... Dunia bisnis juga merupakan ajang perjodohan dengan dalih menyatukan dua perusahaan." Myungsoo memandang langit-langit malam, lalu kembali melanjutkan, "Aku tidak bisa menolak permintaan Ayah dan menikahinya. Setahun setelah pernikahan kami, wanita itu mengandung anakku, Hana."

Tangan Myungsoo kembali meraih gelas wine nya, lalu menyesapnya. "Tapi, dia tidak menginginkan Hana karena karir modelingnya sedang berada di puncak. Naeun hampir menggugurkan Hana, namun berhasil kularang. Dan lima bulan setelah Hana lahir, aku memintanya berhenti di karir modelingnya untuk mengurus Hana. Namun, dia lebih memilih meninggalkan kami daripada berhenti dari dunia modeling nya."

Suzy terpaku. Sorot sedih berbalut rahang yang mengeras itu berhasil tertangkap olehnya walaupun hanya sepersekian detik saja dilihatnya. Dia tahu jika yang diucapkan Myungsoo barusan adalah luka. Dan Suzy juga tahu, luka itu tao seharusnya di kuak kembali. Tangannya bergerak menggenggam jemari tangan Myungsoo, kemudian berkata, "Kau tidak perlu menceritakannya jika itu membuat sakit, Myungsoo..."

"Aku mencintaimu, Suzy." Kedua sorot mata tajam Myungsoo mengunci manik mata Suzy. Menenggelamkannya hingga kedasar, tidak disangkanya Myungsoo akan mengatakan hal itu kepadanya, "Karena itulah aku menceritakan masalaluku yang tidak di ketahui oleh orang luar kepadamu."

Suzy tercenung. Kedua bola mata itu saling mengunci tanpa suara sedikitpun, kemudian wajah Myungsoo menunduk dan satu ciuman hadir setelahnya. Ciuman yang menggambarkan segalanya. Ciuman yang menjelaskan segalanya. Ciuman yang baru saja akan dibalas Suzy, dan secepat itu juga Myungsoo menjauhkan kepalanya dari Suzy. Myungsoo menghela nafas, "Damn! I'm sorry, baby. I can't handle myself."

Suzy menelan saliva nya, "Ngg... It's okay... sebenarnya Aku--"

"Aku janji untuk tidak akan mengulanginya." Potong Myungsoo dengan cepat. Kemudian tubuhnya kembali menghadap kedepan, menatap lampu-lampu yang berasal dari rumah-rumah di Santorini. Tubuhnya berdiri ketika Kru memberitahu jika kapal sudah bersandar di Port, tangannya terulur kedepan Suzy, "Ayo, kita sudah sampai."

Suzy menerima uluran tangan Myungsoo dan tepat pada saat itu langit-langit yang semula bercahaya bintang itu berubah mengguyurkan hujan dengan derasnya. Myungsoo menarik Suzy mendekat, dengan satu tangannya berada diatas kepala wanita itu untuk meminimalisirkan air hujan mengenai kepala sang istri. Lalu, keduanya berlari menuju mobil yang terparkir di parking area yang jaraknya tidak jauh dari port namun tetap saja saat mereka masuk kedalam mobil, pakaian bagian depan mereka sudah basah kuyub.

Suzy mengusap-usap lengannya menggigil. Matanya melihati floral jumpsuit yang dipakainya sudah basah. Cuacanya benar-benar tidak terduga. Sepanjang hari matahari bersinar terik dan ketika malam datang mengapa tiba-tiba menjadi hujan deras seperti ini.

"Kau basah." Myungsoo melirik jumpsuit Suzy yang kini sudah mencetak apa yang tadinya tersembunyi didalam sana.

Sambil menoleh kearah Myungsoo, Suzy menjawab, "He'eh. Dan kau juga basah, Myungsoo."

Myungsoo membalikkan tubuhnya ke jok belakang, diraihnya coat bewarna hitam yang selalu berada di jok belakangnya itu dengan satu tangan, lalu diberikannya coat itu ke Suzy. "Pakailah supaya kau tidak kedinginan."

Suzy menatap coat itu dan Myungsoo secara bergantian, "Pakaianmu juga basah..."

"Tidak masalah. Cepat kenakan coat itu, Suzy."

Pipinya seketika memanas. Kemudian tanpa babibu, Suzy segera memakai coat hitam milik Myungsoo itu.

***


Jarum pendek jam dinding kini berada di angka sepuluh dan Suzy dibiarkan begitu saja meringkuk di atas ranjang sendirian. sedangkan Myungsoo, lelaki itu malah sibuk menatap Tab nya dengan serius. Tadi lima menit setelah sampai di kamar penginapan, Myungsoo mendapatkan panggilan dari asistennya, ntah apa yang dibicarakan oleh sang asisten, tapi Suzy melihat tak lama berselang dari panggilan itu Myungsoo langsung menghidupkan layar Tab nya dan sampai sekarang. Duduk diatas sofa yang menghadap ke jendela besar berpemandangan laut Santorini yang indah. Mengabaikan Suzy selama satu jam lebih.

Suzy mendengus, sejak tadi dia grasak-grusuk tidak nyaman dan Myungsoo seolah tidak mendengar apapun dan tetap asyik pada layar Tab sialan nya itu. "Mengapa juga sang asistennya menelpon Myungsoo padahal sudah tahu jika bos-nya sedang honeymoon!" Batin Suzy menggerutu kesal.

Satu pemikiran yang sempat timbul dan tenggelam seiring nyali yang tak cukup itu langsung membulat matang. Suzy tahu, bahwa ada satu hal yang bisa mendistraksi kedua mata dan pikiran Myungsoo dari Tab itu. Ditariknya selimut sampai kebawah, gaun tidur bertalikan tali tipis yang diikatkan secara konvesional seperti pita bewarna merah langsung terlihat. Kemudian, ia menurunkan kakinya dari atas ranjang dan berjalan kearah lelaki berpiyama hitam yang sedang duduk diatas sofa dengan Tab ditangan itu. Suzy memeluk Myungsoo dari belakang.

"Suzy, apa yang kaulakukan!?" Tubuhnya menegang saat merasakan hempusan napas Suzy berada di leher sebelah kanannya.

"Kau tidak tidur?" Ucap Suzy masih dengan kepala terbenam di leher Myungsoo.

"Masih ada yang harus ku crosscheck, Suzy." Balasnya, "Oh tuhan, jangan membuatku hilang kendali, Suzy." Myungsoo mengetatkan rahangnya saat merasakan sesuatu yang lembab itu mengecup lehernya.

"Memangnya kenapa jika kau hilang kendali?"

Myungsoo menghela napas berat, "Jika aku hilang kendali, Kau akan berakhir menangis karena kupaksa  untuk bercinta denganku."

"Then, let's do it."

"What?!" Myungsoo setengah kaget. Kepalanya sampai menoleh, untuk melihat istrinya. Suzy mendongak, bibirnya diam membungkam, namun sorot mata wanita itulah yang menjadi jawabannya. Kemudian, Suzy menarik tubuhnya berdiri tegak. Kakinya berjalan dengan degup jantung yang tak main-main. Dibalik wajah tenang itu, dadanya berdebar keras. Ini adalah kali pertama Suzy melakukan hal seperti ini. Namun, karena Myungsoo yang 'menjaga jarak' darinya, sedangkan dirinya yang sudah terbiasa 'tanpa jarak' dengan lelaki itu membuat Suzy kesal setengah mati. Ia ingin tidur nyenyak dan Myungsoo harus membantunya.

Myungsoo memerhatikan tubuh suzy yang berbalut gaun tidur tipis, yang panjangnya lima senti diatas lutut itu dengan pandangan buram. Tab yang dipegangnya sudah tergeletak di sampingnya. Kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri, matanya menatap Suzy dengan mulut terbuka. Dan ketika Suzy duduk dipangkuannya, bagian bawah celananya langsung mengeras sempurna.

"I want you, inside me..."

"What?"

Suzy mengusap pipi Myungsoo perlahan, "Cintai aku, Myungsoo-ah. Keseluruhan diriku."

Dan pertahanan Myungsoo runtuh tak berbekas. Lelaki itu langsung melangkah lebar menabrak wanita yang setengah mati di cintainya itu.

••••••••••••••••••••••••••••••••
Sorry, content has deleted
•••••••••••••••••••••••••••••••

She's officially his.

"Apapun yang terjadi didepan kita nanti, Kau harus meletakkan kepercayaanmu padaku, Suzy. Kau harus selalu mengingat kalau aku mencintaimu." Ucapan Myungsoo mengalun hangat sambil mengecup puncak kepala Suzy. Kemudian keduanya terlelap dengan senyuman diwajah masing-masing setelah mata dan tubuh mereka mulai lelah.

***

Di tayangkan kembali karena selesai di
-REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co