Truyen3h.Co

AFTER

18

authoriya


Suzy mencengkram rambut Myungsoo keras-keras saat bibir basah lelaki itu merajai kedua---

•••••••••••••••••••••••••••••••••••

Sorry, content has deleted

•••••••••••••••••••••••••••••••••


Oh, tuhan! Mereka sedang berada di kantor, bagaimana jika seseorang memergoki keduanya sedang melakukan hal intim di dalam sini? Yeah, meskipun mereka sudah halal, tetap saja canggung rasanya jika sampai tertangkap basah oleh mata orang lain.

Tapi, Suzy menikmati ini...

Bersama Myungsoo setiap hari adalah pengalaman baru baginya. Lelaki itu selalu memiliki fantasi-fantasi liar dan mengajarkan Suzy kalau melakukan hal begitu bukan hanya bisa di lakukan atas ranjang saja. Myungsoo pernah mengajaknya melakukan hal itu di dapur penginapan saat mereka di Santorini ketika sedang melakukan makan malam, di jacuzzi, di dalam kamar mandi, dan sekarang di kantor lelaki itu.

"Myungsoo-ah, kau harus makan siang." Ucap Suzy dengan napas terengah akibat perlakuan Myungsoo kepadanya. Sambil tetap berada diposisinya, Myungsoo bergumam, "Aku sedang menikmati makan siangku, Suzy."

"Aniyo. Bukan itu, tetapi makan siang yang sesungguhnya. Aku sudah membawakannya untukmu." Suzy memang datang ke Bluzt.co bukan tanpa alasan, dirinya ingin memberikan makan siang untuk suaminya. Sebenarnya, ini adalah saran Jo tadi ketika ia dan Jo bertemu untuk makan siang bersama. Tadinya, Suzy akan makan siang dengan Myungsoo, namun Myungsoo tiba-tiba bilang jika ia tidak bisa menemani Suzy lunch karena pekerjaan yang belum selesai. Dan Jo mengoloknya sebagai Istri yang tidak peka karena tidak memiliki inisiatif untuk mengantarkan makan siang untuk suami. Makanya, Suzy berada disini sekarang. Namun, sepertinya Myungsoo salah penafsiran tentang makan siangnya.

Myungsoo mendongak, menjauhkan sepenuhnya bibir panas itu dari kedua dada Suzy. Tangannya masih berada di paha wanita itu, bergerak naik semakin atas hingga menyentuh daerah terlarang itu membuat Suzy langsung hilang fokus. "Aku ingin berada didalam..."

"Umm... Kau harus makan siang, Sekertarismu di luar mengatakan kalau kau ada meeting jam 13.30 ."

"Aku sedang menikmati makananku, Suzy." Myungsoo memberi kecupan kecil di bibir Suzy, "Aku ingin berada disini..." Jemari Myungsoo menekan pusat daerah terlarang itu dari luar, membuat kedua paha Suzy bergerak menutup.

Suzy menggeleng, "Dia tidak mengizinkan masuk jika kau tidak mau makan siang. Makan siang yang sesungguhnya, Myungsoo."

Kedua manik mata tajam Myungsoo nampak berkabut, menatap manik mata Suzy yang tak kalah sama dengan miliknya, "Aku akan makan asal jika kau mengizinkan adik kecil ini bermain denganmu dulu."

Dan satu ciuman dari Suzy menjawab permintaan Myungsoo.

***

Suzy menatap pantulan dirinya pada dinding lift sambil jemarinya bergerak menyisir rambut hitamnya agar terlihat sedikit rapih. Kemudian, melangkah keluar lift saat bunyi ding! terdengar. Pipinya merona, namun bukan jenis dari hasil polesan blush on miliknya. Melainkan karena hal lain. Ia menggeleng pelan, menghapus bayangan erotis akibat perlakuan Myungsoo kepadanya.

"Aw!" Pekik Suzy ketika merasakan bagian belakangnya menghantam lantai dingin. Ia jatuh. Suzy segera mengambil barang bawaannya yang ikut terserak di lantai karena terjatuh tadi, namun kedua matanya melihat ada tangan lain yang lebih cepat mengambil barang-barangnya itu.

Jam itu...

"Gwenchana?"

Jantungnya langsung berdetak dengan kencang. Suara itu... Suara yang amat sangat dikenalnya dan suara yang selalu dirindukan Suzy ketika dulu.

Dengan detak jantung yang masih berdebar, Suzy mendongak. Kedua pupil mata cokelat lelaki yang memegang barang-barang Suzy barusan terlihat membesar, menandakan jika si pemilik merasakan keterkejutan di dalamnya. Sepertinya dia tidak menyangka jika wanita yang ditabraknya itu merupakan sang mantan kekasih. Setelah menguasai dirinya kembali, Sejong menegakkan tubuhnya dengan sebelah tangannya terulur didepan Suzy, mencoba memberi pertolongan kepada wanita itu.

Suzy menatap tangan didepannya dengan tatapan nanar, namun ketika dirinya memilih mengikhlaskan masa lalu, dirinya harus berdamai dengan segala hal yang ada di masa lalunya, termasuk Sejong yang meninggalkannya demi wanita lain. Setelah meyakini diri jika semuanya baik-baik saja, Suzy menyambut uluran tangan itu.

"Maaf, Suzy. Aku terburu-buru." Sejong berdeham sekali. Tangannya bergerak memberikan barang-barang yang dipegangnya itu kepada sang pemiliknya.

"Y-ya... Aku juga tidak kenapa-kenapa." Tangan Suzy bergerak menaruh kembali tasnya kepundak. Melirik Sejong sekali lagi melalui ekor mata.
Sungguh kebetulan yang tak terduga. Sudah lebih dari tiga bulan Suzy tidak bertemu dengan Sejong. Terakhir pertemuannya dengan Sejong pada saat lelaki itu mencampakannya karena wanita lain. Dan sebulan setelahnya ia menikah dengan Myungsoo, suaminya.

Suzy mengamati wajah Sejong yang tampak berbeda sejak terakhir mereka bertemu, biasanya lelaki itu tidak pernah membiarkan bulu-bulu halus tumbuh disekitaran dagu nya, namun sekarang Sejong tampak berbeda dengan five o'clock shadows nya. Suzy menelan ludah dengan susah payah. Melihat Sejong membuatnya terasa sakit dan Suzy harus segera pergi dari sini.

"Aku har--" ucapannya terhenti. Matanya langsung menoleh kesamping ketika merasakan satu rangkulan possesif di pinggangnya. Kemudian, kedua mata bulatnya bersinggungan dengan bola mata hitam milik Myungsoo.

"Kau meninggalkan ponselmu di ruanganku." Bisik Myungsoo. Lelaki itu tersenyum menggoda, membuat Suzy seketika merona saat bayangan itu kembali muncul di benaknya. Dan wajah merona itu tidak luput dari kedua mata Sejong. Lelaki itu menahan nafas serta kedua tangan yang merepal saat melihat ada tangan lain yang merangkul pinggang Suzy. Pinggang yang pernah menjadi miliknya. Suzy mengambil ponselnya dari tangan Myungsoo dengan gugup. "Aku pasti lupa memasukkannya kedalam tas tadi." Gumamnya. Matanya tanpa sengaja melirik kearah Sejong dan mendapati wajah tanpa ekspresi yang menatap kearahnya dengan pandangan tajam, kemudian kembali bergumam, "Uhh... Myungsoo, aku harus segera pergi menyusul Hana."

Myungsoo mengangguk, lalu tanpa diduga lelaki itu memberi kecupan hangat di pipi kiri Suzy, "Arraso. Hati-hati saat mengemudi, oke?"

Suzy menahan napasnya. Sebenarnya ini perlakuan biasa saja. Toh, mereka memang sudah menikah, bahkan ketika berpacaranpun banyak yang melakukan lebih dari sekadar kecupan. Tapi, yang membuat gugup adalah ketika menyadari jika disana ada Sejong--lelaki yang bagaimanapun pernah berbagi cerita dengannya--dan menyadari bahwa tatapan yang ditunjukan Sejong saat melihat dirinya dan Myungsoo. Jadi, yang dilakukan Suzy hanya mengangguk, kemudian melambaikan tangannya sesaat. Kedua mata bulatnya beralih tatap kepada Sejong, dengan canggung Suzy tersenyum sambil menundukan kepala pamit.

***

"Ibu, bisakah Ibu memindahkan Ricard dari kelasku?" Hana mendongak menatap Suzy yang sedang mengelus kepalanya dengan lembut, kedua tangan gadis kecil itu melingkar memeluk seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan Ibu itu.
S

uzy menundukkan kepalanya untuk menatap Hana, ia mendapati wajah cemberut gadis kecil itu yang ditunjukan kepadanya. Suzy menaikan kedua alisnya, "Apa Ricard melakukan hal yang salah kepada Hana?"

Hana mengangguk, "Dia selalu menggangguku, Ibu. Aku kesal saat dia mengambil krayon dan mencoret buku gambarku dengan tulisannya yang jelek itu."

Seulas senyum terbit di wajah Suzy, sedangkan satu tangannya masih mengusap pelan puncak kepala gadis kecil itu dengan lembut, "Mungkin Ricard ingin mengajak Hana bermain, namun ia tidak tahu bagaimana caranya..."

"Shireo!" Kening Hana berkerut, "Aku tidak butuh teman, aku hanya perlu sekolah dan menjadi anak yang cerdas supaya bisa masuk ke sekolah dasar. "

Suzy menarik napas. Gadis kecilnya begitu ambisius. Tapi, Suzy tidak setuju jika itu menurun dari Myungsoo, because he's not. Myungsoo sama sekali jauh dari kesan ambisius menurut Suzy, lelaki itu mirip seperti kakaknya suka memaksa dan percaya diri. Suzy berfikir dalam hati, dari siapa Hana mendapatkan sikap ambisiusnya ini?

"Ibu akan memberitahu Ricard untuk tidak menganggu Hana lagi ya, tapi ini sudah malam jadi Hana harus tidur. Oke?"

Hana mengangguk. Kemudian memejamkan matanya seiring dengan usapan lembut Suzy pada punggungnya yang menghantarkan gafis kecil itu hingga terlelap. Suzy menutup kamar Hana dengan pelan, kemudian berbalik dan, "Omo!" Ia memekik kecil karena terkejut tiba-tiba Myungsoo sudah ada di depannya dan memeluknya. Padahal sebelumnya saat Suzy membuka pintu kamar Hana tidak ada seorangpun didepan sana.

"Aku selalu kau telantarkan setiap malam..." ucap Myungsoo dengan tangan yang memeluk erat pinggang istrinya.

"Hana membutuhkanku, Myungsoo."

Myungsoo menjauhkan kepalanya dan menatap Suzy kemudian mengecup lembut bibir wanitanya."Aku juga membutuhkanmu."

Suzy memutar bola matanya malas. Tangannya bergerak untuk melepaskan rangkulan Myungsoo pada pinggangnya, namun Myungsoo menahan. "Katamu kau masih ada yang harus kau kerjakan. Aku juga harus mengecek beberapa dokumen sebelum menyetujuinya."

"Kau mau es krim?"

Suzy menaikkan alisnya, "Es krim?"

***

Suzy menyandarkan kepalanya di bahu Myungsoo. Matanya memandang keluar Jendela yang memberikan pemandangan malam yang luar biasa indah. Dari sini, mereka bisa melihat bintang-bintang yang bersinar diatas langit karena jendela kamar Myungsoo yang didesain begitu lebar dan tinggi. Suzy menyadari sesuatu, sepertinya lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu pastilah menyukai desain jendela yang lebar yang bisa memberikan pemandangan keluar namun orang luar tidak bisa melihat apa yang ada didalamnya. Desain yang serupa dengan ruang kerja lelaki itu di Bluzt co. "Dari seluruh pojok ruang rumahmu, Aku paling menyukai tempat ini." Ujar Suzy pelan.

Myungsoo tersenyum. Kemudian menyendokkan es krimnya lagi. Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Keduanya sibuk dengan fikirannya masing-masing. Terhanyut dalam isi kepala masing-masing.

Orang bilang, momen terbaik dari suatu hubungan adalah ketika kita nyaman dengan pasangan kita meskipun hanya diam dan tidak melakukan apapun.

Dan, Myungsoo membenarkan hal itu. Dia tidak pernah merasakan hening yang menenangkan seperti ini sebelumnya, dan Suzy memberikan hal itu kepadanya.

Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Besok malam akan ada undangan pernikahan putri dari salah satu rekan bisnisku." Myungsoo menunduk, mata tajamnya menatap kedua manik mata Suzy yang mendongak menatapnya, "Tadi siang aku lupa mau mengatakannya kepadamu karena makan siangku yang begitu nikmat..." Ada godaan yang tersirat dibalik kalimat itu, membuat Suzy memerah lalu memalingkan wajahnya dari Myungsoo.

"Arraso. Aku akan tampil cantik sehingga tidak mempermalukanmu."

"Kau selalu cantik, Suzy. Kau tidak pernah mempermalukanku sedikitpun." Myungsoo meralat dengan nada datar. Meskipun demikian, ucapan bernada datar itu bisa membuat hatinya menghangat. Ia dan Myungsoo memang menikah bukan karena cinta--menurut Suzy demikian--namun, semakin lama bersama lelaki disampingnya ini membuat Suzy mencoba membuka hatinya.

"Apa yang kau rasakan ketika bertemu mantan kekasihmu tadi?" Pertanyaan diluar konteks dan dugaan membuat Suzy memandang kearah Myungsoo kembali. Myungsoo berdeham sebelum kembaki bersuara,"Apa jantungmu masih berdetak untuknya?"

"Sedikit kaget." Suzy bergumam, "Namun selebihnya aku tidak merasakan hal apapun. Mungkin karena Dia yang meninggalkanku."

Myungsoo tersenyum tipis, "Yeah, kau harus mengingat itu, Suzy. Jika nanti seberapa keraspun dia mencoba kembali lagi kepadamu, kau harus mengingat hari dimana dia meninggalkanmu."

Suzy mengernyit, "Apa maksudmu?"

"Tidak." Myungsoo menaikkan kedua bahunya, lalu kembali menyuapkan es krim kedalam mulut, "Hanya berandai-andai jika dia memintamu kembali. Aku takut saja hatimu labil."

Suzy merengut, "Kau kira aku anak kecil yang labil dan tidak bisa menentukan yang mana yang baik untukku."

"Jadi, menurutmu aku yang baik untukmu, hm?" Myungsoo menyeringai.

Wajahnya memerah. "Tentu saja. Kau suamiku sekarang."

Myungsoo tersenyum, "Ya, aku suamimu. Jadi, kau tidak boleh pergi dariku atas alasan apapun, Suzy. Kau tidak akan tahu apa yang akan kulakukan untuk menahanmu tetap disisiku."

***
Di tayangkan kembali karena sudah selesai di
-REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co