19
"Aku ikut ke pesta pernikahan itu ya, Suzy?" Jo menyandarkan punggungnya pada dinding, kedua manik matanya terarah pada wanita yang sedang memilih gaun disalah satu butik ternama di kawasan Seoul.
"Yya, kau kira masuk kedalam gedung pernikahan miliyuner seperti masuk ke taman bermain, heh?" Ucap Suzy dengan suara menggerutu. Tangannya bergerak mengambil satu kaun bewarna merah muda yang terlihat manis.
Jo menegakkan tubuhnya, lalu berjalan kearah Suzy, "No, Suez! Itu model bulan kemarin." Ucapnya sambil menaruh kembali baju yang dipegang Suzy ke gantungan. Tangannya bergerak mengambil satu dress tulip berwarna coklat susu, "Ini saja. Model tulip sedang in dikalangan fashionista."
Suzy memandangi dress yang diberikan Jo kepadanya itu dalam-dalam. Soal selera, Jo memang patut diacungi jempol karena laki-laki itu begitu paham model pakaian yang disukai oleh Suzy. Elegan, namun tidak murahan, itulah prinsip Suzy dalam berbusana. Namun, jika Lisa yang turun tangan memilihkan pakaian untuknya, bisa dipastikan busana yang dikenakannya melenceng dari kaidah-kaidah perbusanaan ala Bae Suzy.
"Arraso, aku akan mencobanya dulu." Suzy hendak mengambil dress itu dari tangan Jo, namun dengan gerakan cepat Jo menjauhkannya. Suzy menaikkan alis, "Why?"
"Ajak aku kepesta pernikahan itu ne, ne, ne? Aku ingin mencari priaku disana, Suzy... Kau tahu kan pernikahan seorang miliyuner adalah tempat yang tepat untuk mencari jodoh. Call?"
"Aku akan mengusahakanmu supaya bisa ikut,"
Jo tersenyum semringah, "Aye! Jincaa?"
"Hanya jika kau mau memacari wanita, Jo."
Wajah Jo menekuk, lalu menggerutu, "Itu tidak adil, Suez! Kau kan tahu jika aku sudah berusaha keras waktu itu. Tapi, jiwa dan ragaku ini menolak wanita-wanita itu..."
Tentu saja Suzy tahu dengan pasti karena Jo selalu menceritakan semuamya kepada Suzy. Sebelum Jo mengetahui orientasi seksualnya ini, Jo memang mengencani beberapa wanita-wanita nan cantik. Bukan hal yang sulit untuk mendapatkan hati wanita-wanita itu karena fisik Jo yang tampan dan karir nya yang cermelang membuat mata para wanita berbinar bagaikan puppy. Namun, Jo hanya sebatas berpegangan tangan saat mengencani semua wanita-wanita itu. Tidak pernah melakukan hal lebih. Suzy ingat Jo pernah mengatakan kepadanya jika lelaki itu mengalami demam tinggi dan gejala mual-mual sehabis melakukan ciuman dengan Sun Hang, seorang model yang merupakan mantan kekasih Jo. Dan sejak saat itu, Jo lebih memilih mengikuti apa yang hatinya ucapkan tanpa memerdulikan komentar pedas orang-orang diluar sana.
Setelah ke kasir dan membayar sejumlah uang untuk dress coklat susu itu, Suzy menenteng paperbag baru itu untuk bersatu dengan paperbag lainnya yang tadi di pegang Jo. Ada dua paperbag ditangan Suzy dengan merek toko yang berbeda; satu berisi dress untuk Hana dan satunya lagi adalah miliknya.
Keduanya berjalan bersisian dengan Jo yang terus merengek untuk ikut pergi ke pesta yang akan dihadirinya nanti malam. Bahkan, tangan Jo sampai menarik-narik tangan kanan Suzy sambil mengatakan, "Ya, Suzy, uh? Uh? Ne?" Itu berulang kali. Membuat kepala wanita itu migrain seketika.
"Suzy? Jo?" Satu suara yang membuat langkah kaki keduanya terhenti. Suzy dan Jo saling pandanh untuk sesaat, kemudian dengan kompak keduanya menghadap depan, menatap lurus-lurus si empunya suara.
***
Jo menancapkan garpunya keras-keras pada daging Steak didepannya. Menggunakan tangan satunya, Jo mengiris daging itu menjadi potongan kecil, dengan mata yang tertuju lurus-lurus pada lelaki jangkung nan tampan yang duduk bersebrangan dengannya. Dimasukkannya potongan daging steak itu kedalam mulut dengan wajah cemberut. Lelaki itu tersenyum simpul, kemudian tangannya bergerak menggeser gelas minuman agar mendekat dengan Jo, sambil bersuara dengan nada bercanda, "Aku tidak tahu jika kau begitu merindukanku, Jo Kwon."
"Oh my god. Excuse me?" Jo berkata dengan nada mengejek. Jo kembali menusuk potongan steaknya yang kedua, lalu memasukkannya kedalam mulut, matanya masih menatap lurus-lurus lelaki itu, "Kau membuntuti kami sampai kesini, Sejong-ssi?" Matanya memicing.
"Tidak, Aku tidak membuntuti kalian. Aku kesini ingin membeli kado untuk adikku." Ucap Sejong jujur.
Jo mengernyit, "Adik? Sejak kapan kau punya adik? Adik-adikan, maksudmu?"
Untuk beberapa detik Sejong nampak hilang konsentrasi. Kemudian lelaki itu berkelit, dan pandangannya beralih kepada wanita yang sejak tadi sibuk memandangi dan mengaduk-aduk makanan yang dipesannya itu, namun tidak satupun yang berhasil melewati bibir mungil itu, "Apa kabarmu, Zy?"
Tangan Suzy berhenti mengaduk makanan di piringnya. Zy? Suzy tersenyum masam, sudah lama sekali Sejong tidak memanggilnya dengan panggilan itu. Terakhir kali lelaki itu memanggil Suzy dengan ujung namanya itu pada saat sekolah dulu. Namun, sejak mereka berpacaran panggilan itu berganti dengan panggilan-panggilan sayang dari Sejong. Dan kini, lelaki itu menanyakan kabarnya dan menganggilnya dengan "Zy" ?
Are you serious, Yang Sejong?
"Mwoya, mengapa kau jadi sok peduli dengan Suzy?"
"Aku hanya menanyakan kabarnya, Jo." Tukas Sejong.
Jo memutar bola matanya, "Dan kau pikir Suzy baik-baik saja setelah dengan mudahnya kau campakkan begitu?"
Jo termangu. Kedua manik matanya yang semula menatap Suzy lurus-lurus, nampak bingung dibarengi dengan kernyitan di dahinya, "Suzy bahkan sudah menikah, Jo."
"Tetap saja walaupun begitu kau per—"
"Aku baik. Sangat baik." Suzy memotong perkataan Jo dengan telak. Kedua mata yang tadi sibuk memandangi piring itu menatap Sejong dengan sinarnya. Membuat Sejong mengepalkan kesepuluh jemarinya, namun seulas senyum muncul dibibirnya, "Glad to hear that you are fine, Zy."
***
Keheningan nan khidmat terasa begitu kental terasa di dalam gedung yang berada di kawasan distrik Incheon ini. Bunga-bunga nan indah tersusun rapih disepanjang jalan dilapisi karpet bewarna merah menyebarkan aroma wangi yang begitu menenangkan pikiran.
Deja vu!
Suzy merasakan hatinya menghangat saat melihat sepasang pria dan wanita yang kini sedang berdiri diatas altar pernikahan dengan senyuman bahagia di kedua wajah mereka. Ia pernah berada di atas sana dengan seseorang yang kini sedang menggenggam erat tangannya.
Seseorang yang memberikan satu kehidupan lain yang sedang berjuang didalam perutnya...
Tapi, Suzy masih memilih menyimpan kabar bahagia yang baru diketahuinya tadi pagi itu karena ia ingin memberikan kejutan untuk Myungsoo. Suzy ingin menyampaikan kabar kehamilannya di hari jadi pernikahan mereka yang ke 100 hari, seminggu lagi.
Setelah ikrar sehidup semati diutarakan, kemudian sesi makan-makan dan sekarang para tamu undangan sedang sibuk bercengkrama dengan kerabat masing-masing. Termasuk Myungsoo, lelaki itu sibuk mengajak Suzy dan Hana untuk mengekorinya. Menyapa tiap-tiap rekan bisnis lelaki itu yang hadir di pesta pernikahan itu. Kakinya sungguh pegal karena hak setinggi 12cm setipis stick pocky sama sekali tidak membantu dan malah membuat kakinya semakin sakit.
"Ibu, aku ingin buang air kecil." Hana berbisik pelan.
Suzy menatap Hana sebentar, setelah berbisik kepada Myungsoo untuk izin pergi ke toilet wanita itu langsung mengajak Hana bersamanya. Dalam hatinya bersyukur karena gadis kecilnya ingin ke toilet. Suzy sungguh bosan dengan pembahasan para lelaki-lelaki itu yang tidak dimengertinya, namun dirinya belum menemukan alasan yang tepat untuk 'kabur' dari sana.
"Masuklah, Ibu akan menunggu di depan pintu ini." Ucap Suzy kepada Hana. Hana mengangguk dan tak lama menghilang dibalik pintu.
***
Keduanya keluar dari dalam toilet dan Suzy menyadari jika gedung pernikahan itu semakin ramai saja. Myungsoo sudah tidak berada ditempatnya lagi dan kini Suzy kebingungan mencari sosok suaminya itu.
"Hana-ya, dimana ayahmu ya..." Gumam Suzy. Ia mendesah, kenapa pula suaminya itu harus pindah-pindah padahal ia tahu kalau sedang membawa Suzy dan Hana bersamanya. Dengan kerutan di dahinya, Suzy mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi Myungsoo. Jemari jempolnya baru saja hendak menekan tombol 1 saat suara Hana terdengar, "Ibu, itu appa disana!" Tunjuk Hana di arah jam sepuluh.
Suzy mengikuti arah telunjuk itu, dan mendapati punggung Myungsoo yang dilihatnya. Myungsoo sedang berdiri membelakangi Suzy dan Hana, nampak sedang mengobrol dengan seseorang namun Suzy tidak tahu siapa orang itu karena tertutup oleh punggung Myungsoo. Suzy mengajak Hana untuk menghampiri Myungsoo. Keduanya berjalan, dan ketika jarak mereka semakin dekat barulah Suzy bisa melihat siapa yang sedang mengobrol dengan suaminya. Seorang wanita cantik dengan gaun bewarna peach panjang menjuntai hingga kelantai. Tipikal wajah cantik yang bisa mengintimidasi siapapun yang melihatnya.
"Appa!" Seru Hana ketika jarak mereka tinggal lima langkah lagi. Membuat kedua orang didepannya lantas menoleh kearah mereka berdua. Suzy menyadari perbedaan dari raut wajah Myungsoo kini, rahang lelaki itu nampak mengetat seiring dengan langkah kaki Suzy yang kian mendekat. Kemudian, Suzy merasakan lengan kokoh Myungsoo bergerak merangkul pinggangnya dengan gerakan posesif, namun Suzy bisa merasakan ada ketegangan disana. Suzy membawa Hana menyandar di depannya dengan jemari tangan mereka yang masih bertautan. Dan, pandangan keseluruhan itu tidak luput dari sosok wanita yang tadi terlibat pimbicaran dengan Myungsoo.
Wanita cantik itu meremas clucth hitam nya ketika melihat pemandangan didepannya, matanya yang semula terlihat datar selama beberapa detik, kini berubah menjadi lebih 'manusiawi', wanita itu lalu tersenyum. Senyum yang ditunjukan kepada Suzy, namun jenis senyuman artifisial, "Suzy, benar?"
Suzy merasakan lengan yang merangkul pinggangnya kian mengetat saat suara wanita di depan mereka ini terdengar. Membuatnya mengerutkan kening dengan bingung.
"Ne. Aku Suzy." Balas Suzy.
Wanita itu kembali tersenyum. Satu senyumam yang sama dengan yang sebelumnya dan satu informasi yang keluar dari mulut wanita cantik itu membuat Suzy tahu alasan rangkulan Myungsoo di pinggangnya. Satu informasi yang juga membuat genggaman tangannya kepada Hana ikut mengerat...
Suzy memerhatikan tangan yang mengulur didepannya itu dengan degup jantung yang kencang...
"Aku Naeun. Son Naeun."
***
Di tayangkan ulang karena sudah di
-REVISI-
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co