Truyen3h.Co

AFTER

24

authoriya

"Sejong-ah, gomawo!" Suzy langsung menghampiri Sejong yang baru saja keluar dari bilik tempatnya mendonor. Ada perasaan lega yang menghampirinya ketika melihat Sejong mau menolong gadis kecil kesayangannya itu yang memang benar-benar membutuhkan bantuan. Siapa yang mengira jika Sejong juga ternyata sedang berada di rumah sakit yang sama dengan tempat Hana di rawat, Suzy bahkan sempat mengira jika lelaki itu sudah kembali ke Manhattan.

Sejong mengangguk pelan, kedua matanya memerhatikan wajah Suzy yang berantakan, juga sisa darah yang masih membekas ditelapak tangannya. Kedua bola mata yang selalu bersinar bahagia itu redup dan sembab, Sejong yakin jika Suzy telah menangis selama berjam-jam sebelumnya. Tangannya hendak bergerak mengusap sisa air mata diwajah Suzy otomatis berhenti ketika melihat beberapa pasang mata yang sejak tadi mengawasi. Sejong menekan keinginannya itu dengan merepalkan telapak tangannya. Beberapa pasang mata itu seolah berbicara jika akan melakukan sesuatu hal diluar nalar jika ia sampai menyentuh permata yang sedang berdiri dihadapannya.

Tanpa melihat dengan jelas pun, lelaki itu tahu mata-mata milik siapa saja yang sedang menatapnya itu. Disisi kanan, adalah Jiyong dan Lisa. Diikuti dengan kedua orang tua yang diyakininya adalah orang tua dari Myungsoo, dan juga Kim Myungsoo. Sedangkan yang berdiri sedikit agak menjarak dari mereka adalah para mengawal dari Jiyong dan juga asisten pribadi Myungsoo.

Hatinya mencelos, bahkan untuk membenci Suzy saja dirinya tidak mampu. Kenyataan yang membawa hubungan mereka kandas adalah pilihannya. Dan, jika Suzy akhirnya menikah dengan seseorang, itu adalah konsekuensi yang harus ia terima, bukan?

Sejong menghela napas, "Aku harus ke lantai dasar untuk mengurus sesuatu hal." Ucapnya, "Kau bisa memanggilku jika Hana membutuhkan darah lagi."

Suzy mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih kembali. Matanya kemudian menoleh kearah Myungsoo yang sedang menatap tajam kearahnya, Suzy memberikan kode agar Myungsoo mengucapkan kata terima kasih juga kepada Sejong. Bagaimanapun, Sejong telah berjasa dalam upaya menyelamatkan nyawa Hana, jadi bagaimana bisa lelaki itu malah berdiri mematung sambil menatap tajam dia dan Sejong?

Myungsoo mengerutkan keningnya, tampak enggan mengikuti apa yang diminta Suzy. Namun, tak urung mengikutinya saat melihat ekspresi kesal di wajah sembap Suzy.

Ia membawa kedua tangannya melipat didepan dada, "Aku berterima kasih karena kau memiliki golongan darah yang sama dengan Hana, Sejong-ssi."

Sejong memandang lelaki itu dengan banyak pertanyaan berkecamuk dikepalanya. Namun, itu bukanlah urusannya. Maka yang dilakukannya ialah mengangguk sambil tersenyum formal. Lalu, lelaki itu pamit, kakinya melangkah untuk berjalan meninggalkan koridor hingga kemudian tubuh Sejong hilang didalam lift.

***

"Oh my god, Anak cantik! Kau semakin terlihat kurus semenjak di rawat di Rumah Sakit sayang..." Jo melenggangkan kakinya mendekati ranjang di ujung ruangan sambil memeluk bare bears berukuran besar. Kedua matanya menatap kasihan sosok Hana yang terbaring di ranjang dengan infus ditangan serta perban yang melingkari kepalanya. Tangannya terulur memberikan boneka yang di pegangnya itu di sisi tubuh Hana, "Ini, Gege bawakan panda kesukaanmu. Nanti ketika kau sudah keluar dari tempat menyebalkan ini, Gege akan membelikan dua teman lainnya. Okey?"

Hana tersenyum senang, "Jinjja? Gomawo, Gege!"

Jo tersenyum. Matanya memindai ke sekeliling ruangan, dan kosong. Tidak ada satupun yang berada didalam kamar itu selain mereka bertiga; Hana, Suzy dan Diri sendiri. Kening Jo mengerut, bukankah ini hari sabtu yang berarti seluruh penduduk Korea Selatan sedang libur bekerja? Kenapa batang hidung CEO hot itu tidak kelihatan juga?

Kedua mata Jo melirik kearah Suzy dengan mulutnya yang bergerak bertanya—Dimana suamimu?—tanpa suara. Suzy melirik sebentar kearah Hana yanhmg sedang sibuk memainkan boneka pemberian Jo, lalu mengambil ponselnya dari atas meja kecil untuk mengetikkan sesuatu.

Tak lama berselang, Jo merasakan ponselnya bergetar.

Satu pesan dari Suzy.

Aku akan menceritakan sesuatu padamu nanti,

saat kita sudah berada diluar.

***

"Daebak!" Kedua pupil mata Jo membulat sempurna dengan mulut terbuka kaget, "Apa aku kini sedang berada di salah satu drama SBS; atau KBS; atau MBC?" Jo menoleh kearah Suzy.

"Mwo?" Suzy bertanya dengan nada bingung. Tentu saja, seusai cerita yang mengalir dari mulutnya dengan perasaan sedih yang masih terasa ketika membayangkan kembali kejadian menyakitkan saat Hana terbaring kaku di atas salju, bagaimana bisa sahabatnya itu malah bertanya hal yang tidak masuk akal?

"Ceritamu barusan. Daebak! Aku masih tidak bisa percaya jika dalam dunia nyata hal itu dapat terjadi juga, Suez! Aku yakin stasiun televisi yang menayangkannya adalah KBS, mereka sangat jago dengan cerita bersedih-sedih begini." Jo mengangguk-angguk.

"Yya, bisakah kau fokus saja dengan ceritaku tadi, huh? Bukan malah membandingkan dengan drama yang sering kautonton itu." Suzy menggerutu. Melihat hal itu, Jo memamerkan giginya dengan tatapan bersalah, "Sorry..."

Suzy mendengus.

"Jadi, Kim Myungsoo sama sekali belum datang menjenguk Hana?"

Suzy menggeleng. "Aku sudah menyuruhnya, tapi dia bilang kalau dia belum siap bertemu Hana lagi." Ia mengeluh, "Jo, apa menurutmu Myungsoo kecewa karena Hana bukan anaknya dan Naeun?"

Jo merapatkan jaketnya saat udara dingin mulai menusuk tubuh, "Aniyo. Aku rasa dia hanya shock karena anak yang dia besarkan selama ini ternyata anak orang lain."

"Aku tidak peduli Hana anak siapapun, aku sudah terlanjur sayang padanya."

Jo mengangguk-angguk, "Yah, Kau memang selalu sayang kepada semua anak-anak kecil, Suez. Dimana mertua mu? Mereka juga tidak datang?"

"Ayah dan Ibu akan datang pada waktu pagi hari, menggantikanku."

"Keduanya tidak terkejut?"

Suzy menoleh menatap Jo, "Awalnya, iya. Namun terlepas dari itu, Hana adalah cucu pertama yang mereka punya. Mereka tidak sampai hati jika harus membuang Hana hanya karena masalah ini, Jo."

"Aku setuju. Ini bukan drama Autumn in my heart-nya Song Hye Kyo..." Ucap Jo. Lelaki itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar, keduanya masih berjalan di koridor-koridor taman yang terletak di bagian belakang rumah sakit. Sepanjang koridor di hiasi dengan bunga-bunga nan indah dengan berbagai warna. Koridor ini dibuat dengan tujuan walaupun musim hujan atau salju tiba, pasien rumah sakit disini masih bisa menikmati pemandangan di luar tanpa harus stuck didalam kamar mereka saja. Jika dilihat lebih jauh, akhir dari koridor ini akan membawa mereka kepada air mancur berbentuk lingkaran yang cukup besar. Namun, karena sekarang adalah musim salju, sehingga kita tidak dapat melihat air mancur itu.

"Oh!" Seru Jo, kakinya lantas berhenti berjalan.

Suzy otomatis ikut menghentikan lajunya juga, lalu bertanya dengan nada heran, "Ada apa, Jo?"

"Bukankah itu mantan lelaki Amerikamu, Suzy?" Jo menunjuk kedepan.

Mata Suzy mengikuti jari telunjuk Jo itu, lalu menemukan lelaki yang dimaksud oleh Jo. Mantan lelaki Amerika nya, Yang Sejong. Sedang menunduk didepan gadis berkursi roda yang memakai pakaian sama seperti yang dikenakan Hana dan semua pasien dirumah sakit ini. Lelaki itu nampak sedang membuat crown dari ranting bunga, lalu memakaikannya ke kepala gadis di kursi roda itu.

"Siapa anak kecil itu?" Jo menoleh bingung. "Kenapa Sejong ada disini, Suez?"

"Aku juga tidak mengetahuinya."

"Hm, ini aneh..." Jo mengusap-usap dagunya dengan nada bingung. "Baiklah, ayo!"

Suzy memiringkan kepalanya, "Ayo kemana?"

"Tentu saja menuntaskan rasa penasaran kita, woman. Kajja!" Kemudian Jo menarik pergelangan tangan Suzy agar wanita itu mengikutinya.

***

"Kau boleh bertanya apapun yang mengganggu pikiranmu dan aku akan mengusahakan untuk menjawab semua pertanyaanmu, Suzy." Itu adalah suara pertama Sejong setelah menjelasannya mengenai siapa gadis di kursi roda itu. Dan juga, adalah suara pertama Sejong ketika ia dan Suzy berjalan bersisian. Sejong meminta Jo agar mengajak adiknya jalan-jalan sebentar karena ia perlu bicara berdua dengan wanita yang kini berjalan di sebelahnya ini. Namun, sejak tadi Sejong sama sekali belum mendengar satu suara pun keluar dari mulut itu.

Koridor bagian selatan yang nantinya akan menghubungkan mereka ke parkiran nampak begitu sunyi. Hanya beberapa orang yang lalu lalang disana dan kini hanya suara dari ankle boots Suzylah yang terdengar. Tidak ada suara lainnya. Keduanya berjalan mengikuti koridor itu dalam diam.

"Suzy?" Sejong menyapa kembali. For god sake, Kediaman wanita adalah satu hal yang dibenci lelaki di belahan dunia manapun.

Terdengar suara helaan napas dari Suzy. Helaan napas yang menandakan dua hal;

Pertama, wanita itu sedang menahan kesal. Kedua, wanita itu sedang mencoba untuk tidak membunuhnya. Kedua opsi yang sama-sama tidak menguntungkan, namun Sejong paham pada akhirnya Suzy akan mengetahui alasannya dulu mengajak wanita itu putus.

"Jadi, kau berbohong dan ternyata kau tidak berselingkuh?" Wanita itu menatap Sejong dengan pandangan tidak percaya.

"Aku tidak berbohong, Suzy."

Suzy mendengus. "Kau bilang kalau kau sudah memiliki orang lain, makanya kau mengakhiri hubungan kita."

"Aku memang mengatakan seperti itu," Sejong membenarkan, "Namun, aku tidak pernah mengatakan jika itu adalah kekasih atau semacamnya. Kaulah yang berpikiran seperti itu, Suzy."

"Semua wanita juga akan berpikir sama sepertiku!" Suzy menggerutu kesal. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa selama ini dirinya salah sangka dan berakhir mengumpat dan menyumpahi Sejong karena berpikir kalau lelaki itu sudah mengkhianati cintanya...

"Mianhae..." Ucap Sejong tulus.

"Mengapa kau tidak mengatakan hal itu lebih awal dan malah memilih untuk mengakhiri hubungan kita?"

Sejong berhenti melangkah. Kedua tangannya mengepal disisi kanan dan kiri, sedangkan kelopak matanya menutup selama lima detik sebelum membukanya kembali, "Karena aku mencintaimu."

"Mwo?"

"Kau tahu, Suzy..." Sejong menatap langit, "Ada banyak cara bagaimana mengekspresikan rasa sayang kita kepada seseorang. Dengan memberi bunga, Ciuman, atau dengan memberikan hal terbaik demi seseorang yang kita cintai. Dalam kasus kita, ada banyak perbedaan yang coba kita abaikan agar kita bisa bersama. Tapi kau tahu?" Sejong menoleh, "Satu hal yang bisa kupelajari selama perpisahan kita terjadi. Bahwa, cara yang tertepat mengekspresikan perasaan kita untuk orang yang kita cintai bukan melulu harus berada disamping mereka. Namun, bagaimana cara kita mengikhlaskan dan pergi demi kebahagiaan yang didapat orang yang kita cintai itu. Pilihan itu mungkin saja terlihat mustahil pada awalnya, tapi siapa yang tahu bahwa pilihan itulah yang akan membuat kita berfikir 'Ah, ternyata aku membuat keputusan yang tepat.' "

"Tapi, pilihanmu tidak tepat, Sejong."

Sejong menoleh, alih-alih berkomentar lekaki itu malah menanyakan sesuatu hal kembali pada Suzy, "Apa kau bahagia, Suzy?"

Suzy terdiam.

"Apa kau bahagia menikah dengannya?"

"Ya." Ucapan yang meluncur dari mulutnya bahkan ketika otaknya belum mencernanya dengan seksama.

Sejong tersenyum, "Aku membuat keputusan yang tepat."

Suzy terpaku. Hatinya menghangat, sedangkan matanya mulai panas. Perkataan Sejong membuat sesuatu yang berusaha ditahannya sejak tadi itu akhirnya tumpah.

Suzy menangis!

Tanpa diduga, Suzy lalu melangkahkan kakinya mendekat kearah Sejong dan memeluknya. Diiringi salju-salju yang turun dan menutupi dedaunan, dengan setengah sesegukan, Suzy bersuara parau, "Maafkan aku, Sejong-ah. Dan juga, Terima kasih..."

***

Di tayangkan ulang karena sudah di
-REVISI-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co