Truyen3h.Co

AFTER

25

authoriya

"Ibu?"

Suzy, yang sedang membawa nampan ditangannya menoleh, menatap Hana yang berdiri dengan rambut acak-acakan pasca bangun tidur. Hana mengusap-usap matanya menggunakan tangan kecilnya sambil menatap Suzy dengan pandangan bertanya.

"Where's daddy?" Tanya Hana. Menatap sekeliling dan tidak mendapati Myungsoo dimanapun. Biasanya, saat pagi begini Hana akan melihat Myungsoo duduk di kuris makan sambil membaca koran, atau menatap tab yang berisi pekerjaan lelaki itu. Namun sekarang kursi yang biasa diduduki Myungsoo, kosong.

"Ayahmu harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali, sayang. Jadi, sarapanmu biar Ibu yang menemani saja ya? Mm?"

Hana mengeluh, "Bahkan, Ayah tetap bekerja walaupun dua hari lagi adalah Hari Natal. Sepertinya pekerjaannya lebih penting di bandingkan Aku dan Ibu."

Suzy tersenyum lembut, kedua tangannya bergerak mengusap puncak kepala Hana pelan, "Apa yang dilakukan Ayahmu itu untuk kebahagiaan Hana nantinya..."

"Aku iri dengan Ae Ra yang bilang kalau dia dan keluarganya akan merayakan malam natal di Paris." Hana memanyunkan bibirnya, kemudian menatap Suzy, "Apakah kita akan liburan juga, Ibu?"

Suzy tersenyum getir sambil mengusap puncak kepala gadis kecil itu sebagai jawabannya.

Sudah hampir dua minggu paska Hana keluar dari rumah sakit dan saat ini kondisi Hana sudah membaik dari sebelumnya. Bagi anak seusia Hana, uang bukanlah hal yang menjadi prioritas pertama mereka, tetapi keberadaan keluarga nya lah yang terpenting. Merayakan Natal bersama di suatu tempat seperti yang Hana katakan juga terdengar begitu bagus, namun bagaimana iya harus mengatakannya? Ketika semua nya ada dan bisa dipenuhi, tetapi waktu Myungsoo lah yang tidak dapat diluangi...

Panggilan telepon yang di terima Myungsoo tadi pagi sudah cukup menjelaskan kalau lelaki itu tidak dapat merayakan hari raya Natal bersama-sama. Ada masalah di Madrid yang harus diselesaikan—dan Suzy fikir itu masalah yang cukup rumit karena sampai menyenabkan sang CEO turun tangan.

***

"Apa tidak bisa kalau asistenmu saja yang kesana?" Tanya Suzy dengan nada merajuk sambil mengusap-usap perutnya. Pertanyaan ini sudah dilontarkan empat kali sejak dua jam yang lalu. Myungsoo menghela nafasnya, tangannya bergerak menyentuh kedua sisi pundak Suzy dengan lembut sambil menatap mata itu, "Aku janji sebelum perayaan malam natal, tubuhku sudah kembali di Seoul bersama kalian. Hmm?"

Suzy mengerucutkan bibirnya, "Putri kita dan calon adiknya," tangannya bergerak mengelus otomatis perutnya yang berisi, "Ingin Ayahnya tidak kemana-mana dan menemani mereka menhias rumah dan lampu natal..."

Myungsoo menaikkan alisnya, lalu berujar dengan nada menggoda, "Jadi, hanya anak-anakku saja yang tidak ingin aku pergi?"

Suzy, yang bingung lantas menatap lelaki itu dengan pandangan bertanya nya.

Myungsoo berjalan selangkah, menggerakkan jemarinya untuk menyentuh dagu sang isteri, "Kau tidak?" Lalu mengusap bibir bawah Suzy dengan gerakan seduktif.

"Aniyo." Suzy menggigit bibirnya, ketika merasakan jemari tangan Myungsoo yang lainnya sudah bergerak mengusap punggungnya yang dilapisi kamisol bewarna hitam, dengan sekuat tenaga Suzy melanjutkan perkataannya yang tertunda, "Aku tidak mau merindukan seseorang yang tega pergi walaupun dia tahu jika sekarang sudah memasuki hari natal."

"Aku merindukanmu..." Myungsoo menggantikan jemari yang berada di bibir Suzy dengan bibirnya. Mengecupnya dengan pelan, "May I?"

Suzy menggeleng, namun menikmati perlakuan Myungsoo padanya.

"May I?" Myungsoo bertanya sekali lagi. Kemudian bibirnya kembali mengecup bibir Suzy.

Suzy memejamkan matanya. Demi tuhan, dirinya juga merindukan Myungsoo! Tapi, ingin agar pria itu tidak pergi... Tapi Suzy juga tahu, perusahaan Bluzt juga membutuhkan sang CEO. Suzy mendesah kesal, dibukanya kedua kelopak mata yang terpejam. Kemudian, kakinya berjinjit memberikan persetujuan dengan cara mencium Myungsoo.

***

Hari semakin sore saat Suzy dan Hana sampai di pekarangan rumah mereka. Ternyata, membeli pernak-pernik untuk hari raya natal sangat amat menghabiskan waktu. Buktinya kedua perempuan itu berangkat sudah sejak tengah hari dan baru sampai kembali di rumah empat jam kemudian. Tidak banyak yang dibeli, yang banyak adalah pilihannya. Semua yang dijual di supermarket itu begitu banyak dan indah-indah, membuat mereka ingin membeli semua itu. Yeah, andai saja pohon natal yang akan di hias ada sepuluh, mungkin mereka bisa membawa semuanya pulang.

"Ibu, Ayah tidak akan lupa membelikanku hadiah natal kan?" Hana berucap mendongak dengan tangan sambil memberikan hiasan serupa bintang-bintang kecil kepada Suzy.

Suzy menerima, lalu memasangkannya. "Tentu saja. Pesawat ayahmu mungkin sudah diatas langit sekarang, beberapa jam lagi dia akan sampai di rumah."

Hana bersorak senang. "Aku tidak sabar untuk itu, Ibu!"

Suzy tertawa, lehernya yang terlilit serupa tali berbahan plastik dengan rumbai bewarna merah sedangkan tangannya sibuk memasangkan bintang-bintang kecil di antara dedaunan pohon natal itu. Kemudian, tangannya mengambil ujung tali merah yang melilit di leher dan memasangkannya. Ia bergerak kembali mengambil ujung lampu hias bewarna-warni yang juga meliliti tubuh rampingnya, menyelaraskannya dengan tali merah itu dan melilitinya pada pohon natal mereka.

"Woah, bahkan sebelum lampunya menyala, pohon ini sudah nampak cantik..." Gumam Hana. Dia tidak pernah menghias pohon natal karena selama ini pohon-pohon itu dipesan oleh Myungsoo dan datang kerumah dengan kondisi sudah sempurna dan indah. Jadi, momen ini adalah kali pertama untuknya.

Suzy tersenyum, "Ibu perlu bintang yang paling besar sebagai finishing nya. Bisakah kau mengambilkannya untuk Ibu?"

Hana mengangguk. Kemudian tangan mungilnya memberikan bintang berukuran lumayan yang langsung diterima oleh Suzy. Kemudian memasangnya.

"Perfect." Gumamnya sambil mengamati pohon natalnya. Tepat pada saat itu, kepala asisten rumah tangganya datang dengan gagang telepon di tangannya, "Nyonya, ada telepon untuk anda."

Suzy mengernyit, "Dari?"

"Nyonya besar."

Tangannya bergerak mengambil gagang telepon itu. Kemudian meletakkannya di cuping kanan, "Hallo, Ibu?"

"Kau sudah melihat berita?" Suara wanita paruh baya itu terdengar berbeda dan kenapa tiba-tiba Ibu bertanya seperti itu?

Suzy menggeleng, meskipun ia tahu itu percuma karena itu tidak mungkin di wanita paruh baya diujung sambungan. Ia menambahkan, "Aku dan Hana sibuk menghias pohon natal sejak tadi Ibu, apa yang terjadi? Kenapa suaramu terdengar berbeda?"

Tangisan diujung sambungan itu membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Dan, ketika satu nama keluar dari mulut Ibu mertuanya itu dengan isakan semakin menjadi, dunia Suzy seketika berhenti.

***

Awan hitam menggumpal memeluk langit-langit Seoul dengan rinai hujan yang menirai jatuh ke permukaan tanah hingga menguarkan bau yang khas. Wanita itu masih berdiri. Termenung. Ia tak merasa apapun lagi, bahkan dirinya tidak peduli dengan fakta bahwa air hujan yang perlahan turun itu sekarang sudah membasahi seluruh tubuhnya, berbaur jadi satu dengan air matanya.

Kedua matanya memandang nanar, masih tak percaya bahwa ia akan berdiri di tempat ini. Tak percaya bahwa yang terukir pada pahatan kayu yang tertancap di sebuah gundukan serupa bukit kecil itu adalah nama seseorang yang dikenalnya. Yang dicintainya sepenuh hatinya.

Bahkan, ketika rinai hujan yang semakin deras itu membasahi seluruh pakaian hitam yang dikenakannya, dingin yang menggigit tubuh tak lagi dirasakan. Salju di pagi hari berubah menjadi guyuran air hujan di siang hari. Fakta yang aneh, tentu saja. Namun, mungkin ini cara Tuhan menyampaikan ucapan bela sungkawa kepadanya. Atau mungkin, semesta tahu apa yang dirasakannya.

"Kau basah kuyup, Suzy." Ucap seseorang yang sudah dikenalinya suara itu. Dan, Suzy merasakan rintik hujan tak lagi membasahi kepalanya. Suzy diam tak bergeming.

"Kita harus kembali. Keluargamu sudah menunggumu." Sejong melanjutkan ucapannya. Tangannya bergerak merogoh kantung jam hitamnya, "Mereka memberikan ini padaku, katanya ini berada di kantung Myungsoo." Diberikannya kotak blundru bewarna hitam ke tangan Suzy.

Dadanya bergemuruh hebat dan air mata itu kembali berlinang jatuh di pipinya ketika membuka kotak blundru hitam ditangannya.

Sebuah kalung dengan bandul serupa simbol gembok terlihat indah dengan warna peraknya. Dengan gemetar, Suzy mengambil cincin itu, menggenggamnya kuat seolah-olah cincin itu bisa mengirimkan semangat yang hilang dalam dirinya. Matanya mendapati satu kertas terlipat dibalik kalung tadi, Suzy membukanya...

Dear, Suzy.

Aku tidak tahu harus menulis apa disini karena ini pertama kalinya aku menulis surat untukmu. Pertama, aku ingin mengatakan terimakasih kepadamu karena mau menjadi isteriku. Menjadi Ibu untuk anak-anakku. Kau pasti berpkir, kenapa aku menulis surat ini untukmu daripada berbicara langsung denganmu. Tapi, ntahlah... Aku hanya ingin membuat momen romantis untukmu di hari natal ini. Kuberi kau kalung ini agar kau selalu ingat jika hati dan keseluruhan dirimu sudah di terkunci.

Hanya untukku.

Suzy merasakan hatinya terkoyak, jantungnya seperti berhenti saat ia selesai membaca surat itu. Dan pada detik yang menelangsakan jiwanya, keseluruhan diri Suzy tersungkur jatuh kebawah. Ia menangis sekencang-kencangnya dengan kedua tangan memeluk lututnya diatas tanah.

***

The end.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co