26 - epilog
Duh, kalian berisik banget sik? :))
Aku sedih loh dibilang jehong:( kenapasiyy aku kok dibilang jehong? Kemarin kan belum ending. Kata siapa udah ending? Aku aja belum bikin author's note kok :p
***
"Suzy!?" Myungsoo menguncang pelan tubuh penuh bulih keringat yang terbaring di sampingnya. "Suzy, bangun!" Mata tajamnya terus menatap khawatir sang isteri. Pasalnya, ini sudah jam dua malam berarti hari sudah hampir pagi. Lelaki itu begitu lelah ketika asisten Baek menelponnya untuk rapat direksi disaat badai salju di luar sana sedang menggila. Bahkan, beberapa jalan terpaksa ditutup karena salju menutupi sebagian besar jalan raya.
Myungsoo menatap kedua kelopak mata yang mulai terbuka perlahan itu, dan tangannya otomatis menahan diri ketika tanpa di duga Suzy beringsut memeluknya. Dengan erat.
"Kau bermimpi buruk?" Tanya Myungsoo. Tangannya mengusap rambut Suzy dengan lembut, berharap itu akan memberikan efek tenang untuknya.
Suzy mengangguk. Kedua tangannya yang melingkar dileher Myungsoo semakin mengerat. Mimpi itu terasa nyata. Bahkan, dia bisa merasakan bekas airmata nya yang mengering di kedua pipi. Mimpi buruk yang pertama kali dialaminya dan Suzy tidak ingin mendapatkan mimpi buruk itu.
"Tenanglah, sayang... Itu hanya mimpi." Myungsoo mencoba melepaskan pelukan, lelaki itu ingin melihat keadaan wanitanya. Namun, Suzy semakin mengeratkan pelukan mereka. "Tidak!" Kepalanya menggeleng-geleng.
Myungsoo menghela nafas, "It just a dream, baby."
"But, it feels real." Air mata kembali turun dari pelupuk mata Suzy. Myungsoo dapat merasakan kaus yang dikenakannya sedikit basah.
"Tapi itu hanya mimpi, Suzy. Ayo kita kembali tidur, huh?"
Myungsoo merasakan gelengan kepala Suzy. Kemudian menghela nafasnya sekali lagi, "Apa yang kau mimpikan?"
Ada jeda beberapa saat sebelum Suzy menjawab pertanyaan Myungsoo dengan nada sedih dan juga jemarinya meremas kaus yang dipakai suaminya, "You died."
Myungsoo menaikan kedua alisnya. Sedikit terkejut karena Suzy memimpikannya. Tapi, jenis mimpi yang sedikit mengerikan juga, pikirnya.
"Kenapa bisa?" Tanya Myungsoo.
Suzy kembali mengeratkan pelukannya sambil berujar, "Kecelakaan pesawat." Suzy terisak, "Mulai sekarang, aku melarangmu berpergian keluar negeri untuk alasan apapun!" Lanjutnya.
Myungsoo tersenyum kecil, tangannya kembali mengelus kepala Suzy dengan lembut, "Baiklah, baiklah. Sekarang kita kembali tidur, Oke?"
"Jika aku tidur, mimpi itu akan datang lagi." Ucap Suzy pelan.
"Tidak, aku akan memelukmu sepanjang kau terlelap supaya mimpi itu berganti dengan yang indah-indah. Call?"
"Aku bisa tidur dengan posisi seperti ini." Jawab Suzy lagi, sepertinya wanita itu tetap enggan untuk kembali berbaring tidur.
Myungsoo menghela nafas, ntah sudah berapa kali. Ia mencoba bersabar dengan isterinya yang tiba-tiba seperti ini, "Kita bisa saja tidur dengan posisi seperti ini, tapi ketika kau bangun nanti tubuhmu akan sakit semua, Suzy."
Suzy menguarkan pelukan mereka, kemudian menatap Myungsoo, "Kau tidak akan meninggalkanku, kan?"
Myungsoo tersenyum, tangannya mengusap sisa-sisa airmata di pipi Suzy dengan lembut, "Aku tidak akan meninggalkanmu. Ayo, kita harus tidur." Kemudian Myungsoo menghela Suzy supaya berbaring dengan tangannya sebagai bantal untuk wanita yang sudah menjadi isterinya itu.
***
Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang saat suara ketukan pintu terus saja terdengar berikut dengan suara kepala pelayan di rumah mereka. Suzy menggerutu kesal, kedua kelopak matanya sama sekali tidak mau berkompromi. Kepalanya pusing, mungkin saja efek semalam. Dengan menghela nafas kesal, Suzy menjawab saat suara kepala pelayan itu kembali terdengar, "Ya, kau aku akan segera turun. Tolong bibi katakan padanya Jo untuk menunggu." Ucap Suzy dengan suara serak.
Tubuhnya baru akan bangkit dari tidurnya saat Myungsoo menariknya kembali dalam pelukan, membuat wajah Suzy selaras dengan dada bidangnya. Kemudian bergumam parau, "Tidurlah kembali. ini masih terlalu pagi, Suzy."
Ritme detak jantung Myungsoo membuat hatinya tenang. Suzy tersenyum, mendongakkan kepalanya dan mendapati dagu Myungsoo di bibirnya, "Ini sudah jam sebelas siang, Myungsoo."
Myungsoo mengeratkan pelukannya, lalu menoleh kebawah membuat jarak diantara bibirnya dan Suzy hanya seujung jari. Lelaki itu kemudian memberikan kecupan pagi untuk sang isteri, "Ini masih terlalu pagi untukku. Ayo tidur lagi..."
"Ada Jo menungguku di bawah."
Terdengar suara gerutuan Myungsoo ketika mendengar Suzy menyebutkan nama Jo, "Kenapa dia selalu menggangguku."
"Jo tidak mengganggumu, sayang. Dia ingin bertemu denganku karena kami ada janji untuk kesalon hari ini."
Myungsoo mendesah, "Dia menggangguku dengan menyabotase dirimu. Kau milikku, Suzy."
Suzy mengangkat alisnya, "Aku memang milikmu. Tapi, Jo adalah satu-satu teman yang kumiliki dan kami memang selalu pergi ke salon bersama, Myungsoo-ah."
"Nanti malam adalah malam natal. Semua toko tutup hari ini."
"Karena nanti malam adalah malam natal, aku ingin tampil cantik untukmu." Balas Suzy.
"Kau selalu cantik setiap hari, Suzy. Tidak usah berusaha."
Suzy menghela nafasnya. Perdebatan ini tidak akan ada habisnya jika Myungsoo tidak diberikan sesuatu untuk menutup mulutnya dan mengiyakan dirinya untuk pergi bersama Jo Kwon. Karenanya, dengan gerakan impulsif Suzy sudah membawa tubuhnya bangun dengan siku tangan yang menahannya, jari telunjuknya bergerak turun dari dahi ke garis hidung kemudian berhenti di bibir Myungsoo. Suzy bisa melihat keterkejutan di mata Myungsoo, bahkan saat ini kedua bola mata itu menatapnya dengan agak menggelap. Dengan perlahan, Suzy menunduk, kemudian bibirnya menggantikan jari telunjuk yang semula di bibir lelaki itu. Menciumnya dengan perlahan, namun sedikit menggigit kecil bibir bawah milik Myungsoo hanya untuk menggodanya. Tangannya yang kosong, dibawanya untuk mengusap dada bidang Myungsoo, membuat lelaki itu langsung menahannya.
"Apa yang hendak kaulakukan..." Myungsoo mengeluh dengan nafas terengah.
"Menciummu." Suzy melepaskan genggaman tangan Myungsoo pada tangannya, lalu membawa tangan itu turun sampai ke area sensitifnya, membuat Myungsoo mengerang. Suzy melanjutkan, "Aku akan memberikan sesuatu yang spesial untukmu nanti malam, jika kau mengizinkanku pergi dengan Jo, bagaimana?"
"Let's do it, now."
Suzy menggeleng, "Kubilang, nanti malam. Di hari jadi kita yang ke seratus. Bagaimana?"
Myungsoo menahan nafas, matanya terpejam sesaat. Dirinya membutuhkan itu sekarang karena Suzy memancingnya, namun isterinya itu tetap pada pendiriannya. "Hanya satu jam."
Suzy menatap bingung.
"Hanya satu jam waktumu untuk, Jo. Oke?"
Mulutnya mencebik, "Tidak mungkin pergi ke salon hanya satu jam, Myungsoo. Empat jam, ya?"
"Tidak. Lama sekali!"
Suzy memutar bola matanya dengan jengkel. "Jika kau tidak memberikan izin, aku tidak mengizinkanmu menyentuhku."
Myungsoo mengerutkan keningnya tidak setuju, "Tapi--" belum selesai lelaki itu meneruskan ketidak setujuannya, suara Suzy kembali mendistraksi, "Ya atau Tidak?"
Myungsoo memandang dingin Suzy. Suzy memang akan selalu memenangkan perdebatan diantara mereka dengan cara-cara nya. Dengan menghela nafas kesal, Myungsoo mengangguk, "Baiklah. Tidak boleh lebih dari empat jam, Suzy."
Suzy tersenyum lebar, kemudian memeluk Myungsoo, "Aku mencintaimu, Sayang!"
***
Jo Kwon, hampir tidak bisa menahan air liurnya agar tidak jatuh keluar dari mulutnya saat menatap Suzy menuruni undakan demi undakan tangga dengan Myungsoo berjalan disisi sahabatnya itu. Jo tidak pernah tahu, jika isi terbaik CEO hot yang dulu di gilai nya itu adalah ketika lelaki itu baru bangun tidur dengan celana boxer, kaus putih tipis dan rambut berantakannya. Oh tuhan!
"Kendalikan dirimu, Jo." Suzy mendengus ketika menyadari tatapan terpesona yang ditunjukan Jo secara terang-terangan kepada suaminya itu. Kemudian, Suzy menoleh kesamping, "Aku pergi dulu, ya."
Myungsoo mengangguk. Mencondongkan tubuhnya kedepan untuk mengecup pipi wanitanya. Setelah itu, kepalanya menatap Jo, nampak bingung oleh ekspresi sahabat Suzy yang satu itu. "Jo Kwon-ssi?"
Jo tersadar, buru-buru memperbaiki mimik wajahnya, "Ya?"
"Tolong jaga isteriku." Myungsoo tersenyum ramah. Yang langsung diberikan anggukan cepat oleh Jo.
Keduanya lalu berjalan memasuki mobil Jo yang terparkir di carport, memasang safetybelt nya dan Jo mulai menghidupkan mesin mobil putih miliknya. "Kau begitu di berkati dengan melihat pemandangan merpati pagi setiap harinya, Suez! Aku iri!" Ujar Jo dengan nada sebal.
Suzy memutar bola matanya, "Kau harus move on dari merpati pagi ku, Jo. Aku tidak mengizinkan suamiku berada dalam fantasi mu."
Jo mencebik, "Kau pelit sekali!"
Kemudian, mobil itu melaju menuju jalan raya untuk berbaur bersama dengan mobil-mobil lainnya.
***
Kemerlip lampu natal yang terpasang disekeliling rumah membuatnya nampak semakin indah. Ditambah bulir salju yang turun tidak selebat kemarin memberikan kesan cantik. Suasana yang lebih hangat terasa begitu kental di bagian dalamnya. Seluruh pegawai rumah tangga, kedua orang tua Myungsoo ikut meramaikan malam natal di rumah itu. Duduk di atas karpet bulu bewarna hitam, semuanya nampak begitu bahagia. Tanpa terkecuali.
"Ayah! Apa aku boleh membuka kado-kadoku sekarang?" Hana bertanya dengan nada memohon. Gadis kecil nampak begitu cantik dengan gaun merah yang dikenakannya malam ini dengan rambut diikat satu kebelakang.
Myungsoo mengerutkan kening, "Besok, Hana."
Hana memanyunkan bibirnya, kemudian menoleh kearah Suzy dan merengek, "Ibu..."
"Kalau Hana membuka hadiah-hadiahnya, besok Hana tidak bisa melakukan kegiatan membuka kado lagi..."
Tangan kecilnya menggenggam tangan Suzy dan Myungsoo, "Ayolah Ayah, Ibu... Satu saja, ya? Aku akan memilih dari bungkusan terkecil."
Myungsoo menghela nafas, meskipun kenyataannya Hana bukan darah dagingnya, namun ntah kenapa segala sikap keras kepala dan pemaksanya begitu melekan ke gadis kecil ini.
"Baiklah, satu saja."
"Yeay!"
***
"Dimana kadoku yang kau janjikan?" Myungsoo memeluk tubuh Suzy dari belakang. Menghirup wangi cherry blossom yang terkuar dari tubuh wanitanya.
Malam sudah semakim larut, jam sudah menunjukan waktu tengah malam dan mereka semua sudah kembali ke dalam kamarnya masing-masing. Begitu juga dengan Myungsoo dan Suzy.
Suzy menoleh, menatap suaminya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. "Kita harus istirahat. Besok pagi kita akan ke gereja, Myungsoo."
Myungsoo mengerutkan keningnya, tangannya yang berada dipinggang Suzy tiba-tiba berjalan naik dengan gerakan seduktif, membuat tubuh Suzy meremang. "Aku juga ingin hadiah natalku malam ini."
Tangan Myungsoo kembali naik sampai kebahu, kemudian menurunkan lengan gaun merah yang di kenakan Suzy hingga merosot, menampilkan bahu telanjangnya. Lalu, Myungsoo mengecup bahu itu lembut.
"Myungsoo..." Suzy merepalkan kesepuluh jemarinya. Kedua manik mata mereka kembali bertemu, "Aku ingin hadiahku, Suzy. Bolehkah?"
Dan pada saat Suzy mengangguk, Myungsoo segera mencium bibir ranum Suzy dengan terburu-buru. Memabukkan.
Ntah sudah berapa lama ciuman Myungsoo kepada Suzy itu, yang jelas saat kedua bibir itu menjauh, Myungsoo bisa melihat hasil karyanya yang luar biasa di bibir Suzy. Kemudian, sebelum melanjutkan apa yang belum dimulai itu, di antara tatapan panas bercampur tatapan sayangnya yang ditunjukkan untuk Suzy, Myungsoo kembali bersuara.
"Aku sangat mencintaimu, Suzy."
Lalu, Myungsoo kembali membungkam bibir ranum yang memabukkan milik Suzy itu.
Selesai
***
Di tayangkan ulang karena sudah di
-REVISI-
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co