17
Hal pertama yang ditangkap oleh pandangannya adalah sinar lampu yang sungguh amat menyilaukan pandangannya, begitu putih dan terang, membuat kepalanya seketika sakit.
Ia mengerjapkan matanya berulang kali, menyesuaikan pandangan dan juga kesadarannya, impuls otak mengirimkan informasi bahwa tubuhnya terasa begitu lelah—sakit—karna terlalu lama tertidur.
Ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya namun, tertahan karna merasakan sebuah beban yang menahan tangannya.
Matanya melirik sejenak, mendapati helaian rambut panjang—meringkuk—di atas tangan kanannya, yang tidak terinfus. Samar-samar, indera penciumannya menangkap aroma yang sangat familiar baginya, aroma sampo Sejeong, seutas senyum terukir di wajahnya.
Ah dia teringat mimpinya—atau mungkin alam bawah sadarnya, entah sudah berapa lama dia tertidur, pasti lama sekali, tapi semua kejadian itu terasa begitu cepat dan nyata.
Melihat Sejeong—kekasihnya—membuat dirinya merasa bersalah, dan payah, kekasih macam apa dirinya yang justru merepotkan gadis itu dan pasti membuatnya khawatir.
Doyoung menghela nafas sejenak, meskipun begitu ia bersyukur bahwa ia bisa hidup kembali—dirinya tidak menyerah—dan mendapati orang-orang yang begitu tulus menyayangimu dan mengkhawatirkanmu membuatnya merasa bahagia, meskipun ia salah sih.
Ia terlalu kalut, terlalu larut dalam apa yang dinamakan dengan kecemasan, kesedihan, dan kesendirian, melupakan bahwa ada orang-orang yang begitu menyanyanginya, dan tulus kepadanya.
Dan Sejeong adalah satu dari beberapa orang itu, meskipun begitu, itu telah menjadi tenaganya, alasannya untuk tetap hidup dan bertahan.
Tangannya bergerak untuk mengelus surai panjang tersebut, membuat Sejeong sedikit terusik kemudian menyamakan posisi tidurnya di atas tangannya, membuat Doylung terkekeh kecil.
"Terima kasih Sejeong"
🌼🌼🌼
🌼🌼🌼
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co