12
AKU selalu terbawa emosi khusus tiap kali datang ke makam ayah. Kalau dulu aku bisa menahan tangisku tiap kali ke makam ayah dan lebih memilih untuk menceritakan kegiatan sehari-hariku dan keluh-kesahku. Tapi, berbeda dengan sekarang, aku tidak lagi bisa menahan tangisanku—bukan jenis tangisan yang meraung-raung dan terisak. Namun, lebih ke diam, air mata itu mengalir turun membasahi pipiku sementara aku merasakan sesak seolah paru-paruku tak bisa lagi menerima pasokan udara. Biasanya, Hayang dan supirku adalah orang yang kubiarkan melihat aku seada-adanya, melihat kerapuhanku, tapi kali ini berbeda.
Jika biasanya aku akan menangis sambil menundukkan kepala, kali ini ada tangan yang menepuk pundakku seolah-olah sedang mengatakan—"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Kau boleh menangis sepuasmu di depanku, kau boleh selalu menjadi dirimu sendiri di depanku."—itu kepadaku.
Tangisku pecah, aku hancur, dan sekali lagi; di depan pria yang sama.
Sepanjang aku menangis Myungsoo sama sekali tidak menyuruhku untuk berhenti. Dia praktis diam seperti robot di sebelahku sementara tangannya mem-puk-puk-an bahuku. Aku tidak mengerti, tapi aku rindu diperlakukan seperti ini. Hanya Myungsoo satu-satu laki-laki yang memperlakukanku seperti itu.
Dia memahamiku lebih dari aku memahami diriku sendiri.
Dia membuatku ada.
Aku lupa bawa tisu karena biasanya Hayang yang selalu membawa tisu—Hayang takut sekali berkeringat—dan sekarang aku tidak bersama Hayang. Aku berani bertaruh kalau ingusku sudah hampir sampai di bibir, tapi Myungsoo langsung menyodorkan jas miliknya kepadaku, dengan cepat aku langsung mengelap ingusku di sana. Lagi-lagi, Myungsoo menyelamatkanku.
Entahlah kenapa dengan Myungsoo aku tidak bisa berakting normal dan mandiri, aku merasa aku selalu menjadi 'aneh' tiap dengannya. Itu seperti bukan diriku—aku tidak akan mengakui kalau aku ini jorok atau random atau ceroboh karena aku adalah Suzy. Si wanita forbes 30 under 30, dan pernah ada di NYTS. Catat itu.
Kulepaskan jas Myungsoo setelah selesai dengan kegiatanku, lalu aku mendongak untuk menatapnya. Tidak kusangka kalau Myungsoo sedang menatapku juga, jemarinya mengusap sisa air mata di pipiku dan tersenyum lembut. "Kau sudah merasa lebih baik?"
Aku menganggukkan kepala. "Riasanku jadi hancur."
Setelah menangis dengan terbawa emosi begini aku selalu berakhir dengan tersadar kalau riasanku pasti bergeser. Padahal aku selalu mencoba untuk tidak bersedih supaya riasanku awet, tapi tetap saja tidak berhasil.
"Tidak. Kau masih sama seperti biasa," katanya. Ucapan yang selalu Myungsoo katakan padaku saat dulu dan ternyata awet sampai sekarang. Aku jadi kesal, tapi langsung bungkam ketika mendengar tambahan kata untuk kalimatnya yang tadi. "tetap cantik. Dari dulu sampai sekarang. Dengan atau tanpa riasan bagiku kau sama saja."
Oh my god.
Oh my god.
Oh my god.
Pernapasanku mulai tak normal lagi sekarang! Help!
Seolah tahu apa yang sedang terjadi kepadaku, Myungsoo tersenyum—dasar psikopat!—dan mengusap puncak kepalaku. "Itu yang sejak dulu selalu kupikirkan, maaf baru sekarang menyampaikannya."
"Kau sengaja ya?"
"Apa?"
"Kau pasti sengaja mengatakan ini sekarang, kau jelas sudah tahu kalau efekmu padaku semakin kuat." Kataku.
"Melihat kau tidak berkencan lama dan tidak dekat dengan laki-laki manapun kecuali Hayang," Myungsoo menganggukkan kepala. "Aku percaya diri kalau kau mulai menganggapku sebagai pria sekarang."
Aku selalu menganggapnya sebagai pria, tidak pernah sekalipun aku menganggap Myungsoo seperti Hayang. Letak salahnya dimana?
"Aku kan selalu menganggapmu sebagai laki-laki," ucapku menatap mata Myungsoo. "Aku tidak pernah mengganggapmu setengah laki-laki. Aku tahu kau laki-laki tulen walaupun dulu kau selalu mendorongku tiap kali kucium. Tapi sejujurnya aku yakin kau suka perempuan."
"Bukan itu maksudku..."
"Huh?" dahiku mengerut. Maksudnya bagaimana?
Myungsoo membuang napas sedikit keras, lalu menatap ke makam ayahku. Dia membungkukkan tubuhnya sebentar sambil berbicara, "Paman, aku ingin memohon izin untuk mengambil tanggung jawab atas putri kesayanganmu. Semoga paman bisa merestui kami."
Hah?
Aku langsung menatap ke arah makam, aku takut sekali kalau tiba-tiba ayahku bangkit dari sana. Jujur saja, meskipun aku tidak percaya mistis, tapi bisa saja hal itu kejadian. Aku memang sering bicara—tidak lebih tepatnya bercerita—di makam ayahku, tapi aku tidak pernah meminta izin seperti apa yang dilakukan Myungsoo sekarang. Menurutku aneh saja, lagipula Ayah jelas tidak akan menjawab. Mengobrol dengan ayah hanya kulakukan dengan komunikasi satu arah, atau di dalam mimpi. Jika sekarang ketika aku sudah rajin pergi ibadah, aku selalu mendapatkan ajaran cara terbaik mengobrol dengan mereka yang sudah pergi adalah melalui perantara vertikal. Lurus langsung menembus langit melalui doa yang kita panjatkan.
Wow, aku terlihat sangat alim sekali sekarang. Seperti bukan diriku.
"Apa ayahku menjawab?" tanyaku pada Myungsoo. Aku penasaran sekarang.
Myungsoo menatapku, lalu mengangguk. Dan aku mulai merinding.
"Kau serius?"
"Aku ingin makan siang, apa tempat kita yang dulu masih ada?" tanyanya, alih-alih menjawab pertanyaanku.
Aku mengerutkan dahi. "Tempat yang dulu?"
"Juseyo cafe."
Ah...
"Aku tidak makan fast food lagi sekarang. Mungkin saja masih ada." Jawabku jujur. Aku sudah meninggalkan kebiasaan itu karena memang sebelumnya juga Myungsoo yang lebih menyukai makanan-makanan itu, dan ketika rekanku kesana tidak ada lagi, aku berhenti ke tempat itu. Rasanya menyedihkan mengunjungi tempat itu sendirian. Aku tidak mau jadi orang yang menyedihkan.
"Lalu, kau makan siang dimana?" tanyanya.
"Tidak sempat keluar, aku biasanya makan di kantin kantor atau dibawakan Hayang dari restoran bintang lima langganannya." Jelasku pada Myungsoo. Kata Hayang makanan di sana sehat dan bergizi, tapi menurutku dia kesana karena chef-nya berpenampilan menarik.
Setelah berpamitan dengan ayah, kami langsung melangkah menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat kami. Suasana di sini benar-benar asri dan menenangkan. Pepohonan besar mengiringi di sepanjang jalan setapak yang dibuat, lalu ada danau kecil di sebelah kanan—cukup seram, pikiranku langsung berpikir yang tidak-tidak—jalan setapak. "Menurutmu di dalam danau itu ada penunggunya tidak?" aku sedikit mendongak menatap Myungsoo di sebelahku.
"Mungkin saja. Kita harus percaya kalau kita hidup berdampingan dengan dunia lain."
Kurasakan bulu kudukku langsung merinding. "Kalau dia tiba-tiba muncul apa yang akan kau lakukan?"
"Dia siapa?" Myungsoo mengerutkan dahi.
"Sihan."
"Sihan?"
"Si hantu maksudku." Jelasku. Masa singkatan begitu saja dia tidak tahu sih. Itu kan singkatan umum yang kubuat agar tidak terkesan menyeramkan.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa," jawabnya.
Pasrah sekali—"aku hanya akan melindungimu karena kau takut hantu."
"Aku tidak takut."
Myungsoo menahan senyum. Cih, dia pasti tidak percaya. Aku ini sudah tidak takut lagi—"AYAH, SUARA APA ITU!" aku berteriak dan langsung melompat ke dalam pelukan Myungsoo. Sialan, membuat kaget saja. Kurasakan jantungku mulai berdebar keras dan cepat sekarang.
"Itu Sihan?"
"Itu cuma ranting jatuh, Suzy." Ucap Myungsoo.
Aku melirik sedikit, lalu kembali menatap ke arah dada Myungsoo yang dilapisi kemeja hitam. Dia tidak sedang berbohong kan?
"Kau sudah memeriksanya?"
"Aku melihat ranting itu jatuh sendiri."
"Bagaimana ranting itu bisa jatuh sedangkan tidak ada angin sekarang?" kataku. Tuh kan, Myungsoo pasti tidak berpikir jauh. Aku tahu dan aku bisa merasakan kalau Sihan mulai mencoba bermain-main, padahal sebelumnya tidak pernah dia mengganggu. Sepertinya karena ada Myungsoo di sini, biasalah, aku biasanya ditemani oleh Hayang yang tidak tampan itu, Sihan ini tahu saja mana produk unggulan. Huh!
"Bisa jadi karena ranting itu memang sudah rapuh dan jatuh sendiri."
"Bisa jadi juga karena ada Sihan yang sengaja menjatuhkan itu. Dia jelas ingin menarik perhatianmu!"
"Hah?"
Aku menggeleng, masih memejamkan mata, aku langsung menaikkan kakiku melingkari pinggul Myungsoo, tanganku melingkar erat mengelilingi leher Myungsoo. "Kau harus tanggung jawab! Gendong aku sampai mobil!"
"Suzy, kau tahu kan kalau kau tidak ringan?"
"Aku tidak berat."
"Tapi kau tidak lebih ringan daripada karung beras. Tahu?"
Bibirku maju sedikit. Aku menjauhkan kepalaku dan langsung bertatapan dengan mata tajam Myungsoo—aku bahkan bisa merasakan embusan napasnya sekarang. Jarak ini terlalu dekat dan intens, tapi aku begitu takut untuk jalan sendirian!
"Kau tidak mau menggendongku?" tanyaku sedikit mengeluarkan smirk, lalu membawa jariku memegang jakun Myungsoo seringan bulu. Aku melihat Myungsoo langsung menelan saliva, wajahnya kaku, dan tubuhnya kaku. Aku tersenyum. "Kau tidak mau menggendongku?"
"Jangan menyentuhnya." Kata Myungsoo dengan suara kaku.
"Kenapa?" tanyaku sekali lagi dengan suara pelan. Aku tiba-tiba jadi menikmati ekspresi Myungsoo yang tak biasa ini. Napasnya memburu, kedua matanya terpejam dan urat-urat wajahnya sedikit kelihatan. Kedua mataku membeliak ketika merasakan sesuatu dibawah sana nampak bergerak dan membesar. Mati lah aku!
"Aku akan menggendongmu, berhenti melakukan itu." Katanya.
Aku langsung menurut. Memilih pura-pura tidak tahu dan merasakan apa-apa aku kembali merangkul Myungsoo, meletakkan daguku di bahunya sambil memejamkan mata.
Apakah Myungsoo terangsang? Oh my god! Ini pertama kalinya aku merasakan secara langsung bukan melihatnya di video yang sering dikirimkan Hayang kepadaku!
Oh my god. Oh my god!
***
Ada yang...
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co