Truyen3h.Co

BLUE JEANS

11

authoriya

             



AKU masih bertanya-tanya apakah orang disampingku ini benar-benar Myungsoo—sahabatku dulu—atau bukan?

Karena pria ini benar-benar aneh banget loh. Dia tadi menciumku—atau mengecupku? Tapi mampu membuatku kepikiran. Sama seperti yang dia lakukan waktu itu dengan menyatakan cinta padaku dan membuatku jadi tidak berselera menjalin cinta dengan pria-pria lain karena tiba-tiba mereka jadi tidak menarik.

Padahal kalau di pikir-pikir, Myungsoo juga tidak menarik-menarik amat, dulu, sekarang dia...let just say, dia berbeda. Ada sesuatu di Myungsoo yang membuatku terus-terusan ingin menatapnya. Aku curiga dia memakai susuk, tapi karena tahu dia tinggal di Negara Maju yang mengesankan, kecurigaanku itu jelas tak masuk akal.

Kecuali Myungsoo sudah menjadi pemuja roh, tapi itu juga sangat tidak mungkin. Myungsoo sedang ada bersamaku, menyetir mobilku sambil menyetel lagu kesukaanku. Padahal dulu dia sama sekali tidak membiarkanku menyetel lagu dari blink-182 karena katanya kebisingannya menjadi double. Maksudnya double di sini adalah karena mendengar suara musik dengan volume keras bersamaan dengan suaraku yang merdu.

Tapi sekarang, lihatlah, dia otomatis menyalakan musik tanpa menggerutu.

"Kau pindah aliran ya?" karena tidak kuat untuk tak berkomentar, aku langsung bicara.

"Apa?" Myungsoo menatapku sebentar sebelum fokus ke jalanan.

Mobil berbelok ke kanan. Aku kembali menatapnya. "Kenapa kau berbeda sekali?"

"Apanya?"

"Selera lagumu. Kau tidak protes-protes sekarang." Hmm atau karena aku tidak ikutan bernyanyi ya makanya dia aman-aman saja?

"Aku masih menyukai musik yang sama, hanya saja jenisnya sekarang yang bertambah," ucapnya. Mobil masuk ke area tujuan kami, kemudian Myungsoo dengan cepat menemukan tempat parkir. Mobil berhenti, tapi mesin masih menyala. Dia melepaskan sabuk pengamannya, lalu sedikit serong menatapku. Sebelum dia melakukan hal-hal diluar dugaan, aku buru-buru melepaskan milikku juga. Myungsoo tersenyum memandangi kecantikanku. "Agar aku tidak melupakan kebiasaan dan hal-hal favoritmu, aku mencoba mengingatnya dengan menjadikan itu menjadi kebiasaanku juga. Mungkin karena itu aku jadi terbiasa mendengarkan lagu-lagu ini."

Wajahku memanas. Sejujurnya kalau boleh jujur tanpa bilang-bilang padanya—alias ini akan menjadi rahasia yang mungkin akan kusimpan selamanya—aku juga melakukan hal yang sama dengan Myungsoo. Bedanya, aku mengunduh lagu-lagu kesukaan Myungsoo di HP-ku. Biasanya aku mendengarkan lagu-lagu itu ketika sedang siap-siap di kamar, atau ketika aku mau beranjak tidur. Well, harus kuakui, lagu kesukaan Myungsoo memang bisa membuat otakku lebih rileks. Tapi, aku tentu tidak akan bilang ke Myungsoo, sahabatku ini pasti akan besar kepala.

Hm... sepertinya dia memang masih menyukaiku. Pesonaku memang memabukan kalau boleh jujur.

"Seleraku memang keren," responsku. Aku akan pura-pura tidak peka supaya Myungsoo lebih berani mengekspresikan diri(?)-nya.

"Lumayan," katanya sambil mematikan musik dan mesin mobil. Dia menatapku. "Ayo. Sepertinya sudah ramai."

"Mm, ayo." Jawabku.

Aku dan Myungsoo kemudian turun dari mobil, lalu melangkah menuju pintu masuk. Diluar, ada Ibu Yun—aku biasa menyapa—sedang bertugas menyapa setiap-tiap orang yang datang. Dia menatapku kemudian tersenyum. Saat langkah kami sudah berada dalam jarak dengar, Ibu Yun bicara kepadaku. "Kukira kau tidak datang kemari hari ini."

Aku tersenyum.

Ibu Yun menatap ke arah Myungsoo seraya mengulas senyum, lalu kembali menatapku. "Hayang tidak datang?"

"Tidak." aku menggeleng. Hayang itu jadi terkenal semenjak berteman denganku. Si tulang lunak itu mesti berterima kasih kepadaku.

"Dia sakit?" Ibu Yun nampak khawatir.

Aku tidak mungkin mengatakan kalau Hayang sedang tepar karena semalam mabuk parah karena bisa-bisa beliau langsung berdoa dan menyuruh Hayang—mungkin juga aku—membuat pengakuan dosa dan memohon ampun. Jadi, aku akan berbohong saja. "Mm, Hayang sedang tidak enak badan, mungkin kecapekan habis perjalanan jauh."

"Aah..." Ibu Yun mengangguk paham.

Aku kemudian pamit dan mengajak Myungsoo untuk masuk ke dalam.

"Temanmu dikenal dimana-mana ya." Suara Myungsoo terdengar.

Aku sedikit mendongak menatapnya. "Karena Hayang sering datang kesini bersamaku."

Myungsoo mengangguk-angguk. Ekspresi wajahnya datar seperti Myungsoo yang dulu. Aku mulai yakin kalau dia Myungsoo yang sama.

"Aku merasa posisiku tidak aman."

"Uh?" tanyaku. Kemudian duduk di kursi panjang nomor dua dari depan, Myungsoo ikut duduk disebelahku.

Tapi, setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara kami karena pendeta mulai maju ke depan dan suara yang tadinya lumayan terdengar berubah hening seketika. Telapak tangan Myungsoo memegang puncak kepalaku pelan kemudian menggerakkan kepalaku hingga menghadap ke depan. "Nanti kita bicarakan lagi. Sebentar lagi mulai." Bisik Myungsoo namun masih bisa kudengar.

Aku menurut.

***

"Setelah ini kita akan ke makam ayah?"

Kegiatanku memasang safety belt terhenti, aku langsung membubuhkan pandanganku kepadanya. "Bagaimana kau tahu kalau kita akan ke sana?"

"Ibumu yang cerita." Katanya singkat sambil memasang safety belt-nya, lalu menghidupkan mesin mobil. Myungsoo membuka jendela di sebelah kami berdua agar udara dari luar masuk sambil menunggu mesin panas.

Woah, aku jadi penasaran apa yang sudah ibu ceritakan pada Myungsoo. Kutebak pasti banyak sekali.

"Kau minap di rumahku ya?"

Myungsoo mengangguk.

"KENAPA BISA?" aku melotot terkejut.

Kupikir dia datang pagi-pagi buta ke rumah. Bibi Lee juga tidak ada cerita kalau pria ini menginap di rumah...

Myungsoo malah mengangkat alisnya memandangiku dengan ekspresi wajah yang seperti sedang melihat orang aneh. Yang aneh kan dia, pertanyaanku jelas tidak aneh. Dia menekan tombol di sebelahnya membuat kaca mobil naik kemudian menghidupkan pendingin. "Tentu saja bisa."

"Ibu tidak bilang kalau kau akan menginap kepadaku."

"Ibumu bilang kau bahkan membalas pesannya kadang-kadang. Menghubungimu itu sangat susah katanya."

"Tidak."

"Benarkah?"

Kuanggukan kepala. "Tentu saja."

"Kalau begitu mulai sekarang kau harus membalas dan menjawab telepon ibumu dan aku sesegera mungkin. Pesanku yang dulu bahkan tidak kau balas sampai sekarang." Katanya.

Jantungku tiba-tiba berkhianat lagi. Oh my god! "Ayo jalan. Biasanya jalanan akan macet jika weekend begini." Kataku mengalihkan pembicaraan.

Ugh, sial. Kenapa dia membahas soal itu mendadak begini sih? Aku kan belum siap dengan jawabanku.

——~

Happy New Year!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co