14
"DIA benar-benar tipeku..." Hayang menangkupkan kedua tangannya ke depan dada seperti sedang berdoa. Sorot matanya menatap punggung Myungsoo dengan penuh kecintaan. Dia jelas sengaja agar aku memergokinya.
Maaf Hayang, yang ini tidak dulu. Kau boleh melewatkan karena Myungsoo itu punyaku. Dia sahabatku satu-satunya—bahkan sebelum Hayang muncul—meskipun sempat pergi, tapi Myungsoo kembali. Dia menepati janjinya untuk kembali kepadaku. Err, bisa dibilang tidak seratus persen pergi, karena Myungsoo memberiku Dezy si anjing gendut. Dezy menemaniku dan mendengarkan omelanku, curhatanku setiap hari, tapi sayang Dezy tidak bisa memberikan saran.
Kuikuti arah pandang Hayang lalu termenung sebentar. Sejak kapan punggung Myungsoo berubah sekokoh itu ya?
"Kau yakin dia belum menikah?" tanya Hayang tiba-tiba.
Aku mengangguk yakin.
"Kau yakin dia masih menyukaimu?"
Aku mengangguk lagi.
"Tahu darimana?"
Kupalingkan pandangan menatap Hayang. Lalu, menjawab. "Dia tidak akan di sini kalau dia tidak menyukaiku."
"Aku tidak menyukaimu, tapi aku ada di sini. See?" Hayang mengedikkan bahu menatapku dengan satu alis terangkat.
Oh yeah, tentu saja berbeda. Hayang memang tidak menyukaiku—sebagai wanita—tapi dia dan aku bersahabat. Dia bahkan lebih menyukai tinggal di sini, denganku, daripada di rumah kakaknya. Aku berani jamin soal yang satu ini. Tapi kalau masalah Myungsoo, well, aku tidak mungkin memberitahu Hayang soal tragedi ular yang menggeliat dan membesar itu—aku tidak rela kalau Myungsoo jadi bahan fantasinya—tadi.
"Kau ingin bertaruh?"
Hayang menatapku, menantang.
Aku tersenyum kemudian berdiri. Dengan gerakan mulut tanpa suara aku bicara pada Hayang, "Lihat, akan kubuktikan." Lalu melangkah ke arah Myungsoo sambil membuka dua kancing baju bagian atasku.
Tanganku mengelus punggung Myungsoo dengan gerakan lembut ketika aku sudah berada dalam jarak sentuhnya. Bisa kurasakan Myungsoo yang terkejut karena punggungnya mendadak kaku dan dia menoleh menatapku. Aku tersenyum, lalu mencium pipinya.
"Suzy..."
"Kau masih lama?" tanyaku.
"Sebentar lagi."
Aku memberikan Myungsoo pandangan mengundangku, aku yakin dia pasti tidak akan tahan dan langsung HAP!
Myungsoo menatapku, lalu membungkuk. Tuh kan, apa aku bilang! Siapa laki-laki yang menolak pesonaku. Tidak ad—aku menatap dua piring yang berada di kedua telapak tanganku dengan pandangan bingung. Myungsoo menjauhkan kepalanya dan kembali menegakkan tubuh. "Sudah jadi, ayo kita makan..." katanya kemudian melangkah mendahuluiku.
Woah aku terhina.
Hayang sibuk menahan tawa di kursinya. Sialan, awas saja!
Dengan wajah cemberut yang tidak kututupi, aku mengikuti langkah Myungsoo dari belakang. Dasar, orang aneh. Beberapa saat lalu kau seperti ingin memakanku, dan sekarang kau malah bertingkah seperti tidak punya perasaan apa-apa terhadapku!
Aku meletakkan piringku dan milik Hayang dengan sedikit ketus, lalu mengambil duduk di sebelah Hayang. Menyebalkan!
"Uwah, enak sekali!" Hayang mendadak over mengatakan kalimatnya. Semua makanan juga dia bilang enak. Huh!
Aku mencicipi.
Benar, ini enak. Skill memasak Myungsoo semakin oke saja. Rasa ini masih sama seperti yang pernah kumakan dulu, tapi entah kenapa malah bertambah enak. Bakat calon ibu mertuaku memang menurun dengan sempurna kepada Myungsoo.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Myungsoo kepadaku.
Aku mengangguk-anggukkan kepala. "Masih sama seperti dulu."
"Kau dulu sering memasak untuk Suz?"
"Tidak," balas Myungsoo. "Hanya beberapa kali ketika Suzy tidak mau makan. Dia selalu diet, tapi tidak pernah menolak masakanku." Lanjut Myungsoo dengan nada... err, sedikit bangga?
Dia pasti sedang di atas awan.
"Benar, Suz memang pemilih. Aku kesal sekali jika sudah membahas "Makan siang apa hari ini?" bersamanya. Terkadang aku merasa akan pingsan terlebih dahulu sebelum dia memutuskan akan memesan makanan apa. Ugh!"
Hayang hiperbola. Aku tidak begitu dan dia tidak sampai akan pingsan segala. Aku selalu menurut tiap kali dia mengajak untuk pesan makanan di resto tempat 'teman dekat'-nya bekerja. Aku hanya sedikit kebingungan memilih menu makanan yang menggugah selera makanku. Terkadang aku hanya makan tiga sampai empat suap, tidak pernah lebih dari itu.
"Dia bahkan tidak pernah menghabiskan makanannya." Gerutu Hayang. Aku tersenyum, aku ini pemilih sejak dulu. "Tapi dia menghabiskan masakanmu. Keren!" lanjutnya.
Tanganku berhenti diudara. Aku langsung tersadar dan menatap ke arah piringku yang hampir—damn, HAMPIR BERSIH!
Aku memakan itu semua?
Kutatap Myungsoo yang kini memandangku dengan senyumannya. Dia seperti sedang memandang anaknya yang berhasil menghabiskan makanannya. Lalu, pandanganku ke arah Hayang yang tak kalah takjubnya denganku. Dia jelas kegirangan karena berat badanku mungkin akan naik sebentar lagi. Dasar teman tidak suportif!
***
Kami—maksudku Myungsoo dan aku sedang duduk-duduk santai di balkon dengan selimut dan coklat hangat—untukku—kalau Myungsoo kopi dalam genggaman. Tapi, Myungsoo lagi ke dalam karena mengangkat telepon. Aku tidak perlu banyak bertanya karena nanti Myungsoo kepedean.
Omong-omong, Hayang sudah pulang satu jam yang lalu karena ada urusan. Aku tidak bertanya karen aku tahu urusan Hayang tidak jauh-jauh dari pria-pria pujaannya. Haduh.
Kurasakan embusan angin malam sepoi-sepoi mengibaskan rambut tipisku. Ini adalah kali pertama aku duduk di balkon apartemenku selama aku pindah ke sini dan ternyata indah juga. Aku tidak pernah membuka balkon ini karena takut Dezy melompat, tahu sendiri Dezy kan suka nekat dia mana tahu yang mana yang berbahaya atau yang tidak. Walaupun Dezy tidak pernah kabur—sepertinya anjingku ini belum siap jadi gelandangan—saat aku bawa jalan-jalan.
Ah ya, aku baru ingat kalau Dezy pernah mencoba 'lari' ketika melihat anak anjing milik tetangga apartemenku. Aku tidak tahu dia di lantai mana karena kami tidak sengaja berpapasan di jalur jogging. Kalian tahu kan kalau aku tidak suka mengobrol dengan orang asing?
Myungsoo masuk dengan Dezy dalam dekapannya. Aku menatap Dezy yang seperti sedang kegirangan. Well, Dezy sepertinya masih ingat kalau Myungsoo adalah ayahnya.
Atau jangan-jangan Dezy menganggap Myungsoo adalah kekasihnya? Wah, ini harus segera di koreksi.
"Dezy, yang menggendongmu adalah ayahmu." Ujarku pada Dezy.
"Guk! Guk!" jawab Dezy sambil menjilati tangan Myungsoo.
Dasar anjing centil, aku saja tidak pernah menjilati jari itu, dia malah mencuri start. Kurasa Dezy kebanyakan bergaul dengan Hayang hingga sifat bar-barny menurun dengan sempurna. Tidak sopan.
"Dia berat sekali." Ujar Myungsoo sambil mengelus-elus Dezy.
Biasanya aku yang dia elus!
"Dezy obesitas. Dia hanya makan dan bermain dan tidur. Dia tidak pernah membantuku beres-beres rumah padahal aku sudah memberinya tumpangan gratis. Bahkan biaya makannya lebih mahal daripada makananku satu minggu." Aku mengadu. Dezy nampak Guk! Guk! Seperti sedang menggerutu, tapi aku jadi semakin senang.
Ha! Memang enak! Myungsoo pasti akan memarahinya karena merepotkanku.
"Aku tidak mengira dia senang denganmu," Myungsoo tersenyum kepadaku, lalu mengangkat Dezy hingga mereka tatap-tatapan. "Kau tumbuh dengan besar dan lucu, Dezy. Ibumu mengasuhmu dengan baik."
Tunggu-tunggu... "Ibumu?"
Myungsoo mengangguk. "Ya. Katamu aku adalah ayah Dezy, maka kau adalah Ibunya."
"Bagaimana bisa?"
"Memangnya kau ingin jadi ahjummanya?" Myungsoo malah balik bertanya. Sialan.
"Wajahku mana cocok dipanggil itu."
"Benar. Kau cocoknya kupanggil istriku."
"Apa?" aku menoleh hendak memperjelas apa yang barusan kudengar, tapi Myungsoo malah menggeleng dan enggan membahasnya lagi.
Dia ini kenapa jadi suka mancing-mancing sih? Pergaulan di Amerika sana benar-benar membuatnya berubah jadi lebih agresif dan aktif.
"Bagaimana kau bisa kenal dengan Hayang?"
"Ceritanya lucu sekali," Aku mulai mengingat. "ada pameran lukisan yang kudatangi, dan ternyata Hayang adalah "teman dekat" dari rekan bisnis yang mengajakku datang bersama. Aku ingat sekali Hayang saat itu hampir menjambakku kalau saja "teman dekat"-nya itu tidak cepat memberikan penjelasan. Aku berpikir akan menendangnya kalau dia sampai menjambakku karena aku sudah susah payah mengatur rambutku selama hampir satu jam!"
"Lalu?" Myungsoo menyimak dengan seksama. Satu hal yang kusukai dari Myungsoo, dia selalu senang mendengarkanku bercerita. Dia adalah pendengar yang baik.
"Lalu, dia minta maaf."
"Lagipula kenapa orang itu malah mengajakmu—jangan bilang?" Myungsoo menatapku tak percaya.
Aku mengangguk. "Keluarganya ingin kami menikah tanpa tahu kalau putra mereka alergi dengan wanita."
"Wow."
"Tapi mereka putus tidak lama dari itu." Aku memberikan spoiler untuk akhir cerita itu. "Dan Hayang sepertinya sedang merencanakan untuk merebutmu dariku."
"Kalau begitu kau harus ikat aku terus di sisimu agar aku tidak diambil orang."
Aku tertawa. "Hayang bukan sainganku."
"Benar, sejujurnya aku tadi hampir pingsan mendengar perkataannya." Myungsoo mengeluh.
Kusunggingkan senyuman lagi. "Aku tahu, makanya aku cepat-cepat bertindak." Jawabku. Aku merasa menggigil ketika embusan angin kembali menerpa, kuletakkan gelas coklat panasku ke atas meja di antara kursiku dan Myungsoo, lalu mengeratkan selimutku dan bertanya. "Paman dan Bibi apa kabar?" tanyaku pada Myungsoo yang masih asyik bermain-main dengan Dezy.
"Baik," dia mengangguk. "Kemarin ibu menelepon dan selalu menanyakanmu. Kubilang aku belum bertemu."
Aku tersenyum. Ibu dan Ayah Myungsoo itu sudah kuanggap seperti orangtua keduaku, aku sangat menyayangi mereka karena mereka begitu baik juga kepadaku. Mengingat masa-masa kecil membuatku sedih. Ingatan itu—meskipun semakin samar dan buram, nyatanya tetap menetap di kepalaku. Masuk ke dalam laci otak yang tak akan pernah bisa dilupakan.
"Kau akan di sini atau kembali kesana?"
Myungsoo diam. Dia menatapku. Duh, aku tidak suka momen ini, sepertinya Myungsoo akan mengatakan hal-hal yang membuatku sedih.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Suzy." Myungsoo bicara dengan nada menghangatkan. Dezy berlari pergi masuk ke dalam rumah sepertinya dia tahu kalau dia Cuma menjadi obat nyamuk di sini. Jemari Myungsoo yang bebas meraih tanganku. "Jika aku mengatakan kalimat yang sama seperti waktu itu, apakah aku akan mendapat jawabannya sekarang?"
"Kalimat apa?"
"Ajakan untuk menua bersama dan membangun keluarga cendana."
"Keluarga cendana?" aku mengerutkan dahi.
"Karena kau tidak suka kehidupan biasa saja seperti keluarga cemara, aku akan memastikan memberikanmu kehidupan seperti keluarga cendana."
Aku tersenyum kemudian menarik kerah baju Myungsoo dan menciumnya.
***
just the two of us.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co