15
AKU membuka mata sambil mencoba beradaptasi pada semburat cahaya dari balik sela gorden kamar yang masih tertutup. Senyumku mengembang entah kenapa aku merasa bahagia sekali pagi ini.
Jujur saja, aku sudah lama sekali tidak merasakan tidur pulas. Banyak sekali yang kupikirkan meskipun nyatanya tidak membebani, tapi aku tetap merasakan beban itu. Kedua mataku membeliak ketika merasakan ada sebuah tangan yang menarikku, lalu sebuah kepala menyelusup di antara bahu dan leherku. Dari embusan napasnya yang teratur, aku tahu kalau yang menarikku itu adalah manusia dan masih tertidur.
Tiba-tiba pikiranku langsung membell kejadian tadi malam sebelum tidur. Oh my god!
Aku berusaha menoleh dan menemukan Myungsoo di sana. Oh okay, kau akhirnya tidur dengan sahabatku sendiri. Keren sekali, Suzy.
Saat aku mengatakan kalau aku tidur dengan sahabatku sendiri itu adalah secara harfiah. Kami tidur bersama. Tanpa ada makna konotasi lainnya. Murni tidur.
Padahal aku ingin ada adegan lain.
Diam, berhenti berpikiran tidak manusiawi seperti itu! aku meruntuk kepada gadis batinku.
"Kau sudah bangun?" suara berat khas orang masih mengantuk terdengar begitu seksi di telingaku.
Apa Myungsoo memang seperti ini ketika bangun tidur?
Aku mengangguk tanpa sadar, berusaha melepas rangkulan Myungsoo di perutku, namun Myungsoo malah semakin mengeratkan rangkulannya dan menarikku semakin menempel kepadanya. Wajahku bersemu merah ketika merasakan sesuatu bergerak di belakangku. Sialan Myungsoo, aku berusaha berpikiran yang normal dan positif, tapi reaksi adik-nya itu membuatku berakhir ke arah negatif. Aku kan tidak mungkin menerkamnya duluan, tapi kenapa dia tidak menerkamku coba?
Aku membalikkan tubuhku dan langsung merasakan sesuatu itu menusuk perut bagian bawahku. Nyaris ke daerah terlarang.
Kutatap Myungsoo yang matanya masih terpejam, tapi aku tahu kalau dia sudah terjaga. Itu buktinya.
"Kau tidak mau melakukan sesuatu pada itu?" tanyaku, jariku terulur mengelus otot tangan Myungsoo.
Myungsoo membuka mata dan langsung mengunciku ke dalam tatapannya. Ditatap seperti itu membuatku jadi ingin menghabiskan seharian di atas ranjang tanpa bekerja.
"Dia akan membaik setelah mandi." Ujar Myungsoo.
"Umm, kau boleh kalau mau—" perkataanku terputus karena ponsel Myungsoo—punyaku tidak menggunakan nada dering—berbunyi.
Siapa yang menelepon seseorang sepagi ini? Kuputar bola mata.
Kubawa tubuhku untuk bangkit dari posisi tidur mengikuti Myungsoo. Myungsoo menatap panggilan itu dengan wajah datar, lalu menyibak selimut dan turun dari ranjang. "Sebentar." Katanya kepadaku.
Kuanggukan kepala dan memasang telinga setajam-tajamnya.
"Ya, Eunha?"
Ewwwwwwwwww!
Malas mendengar obrolan mereka selanjutnya, aku membawa telapak kakiku menyentuh ubin lantai kemudian melangkah menuju kamar mandi. Itu lebih baik daripada emosi memikirkan wanita yang tidak punya jam di rumahnya. Ugh!
Aku mendengar suara ketukan di pintu kamar mandiku, plus suara Myungsoo. Dia berpamit untuk pulang karena harus ke Firma. Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya, ew, aku tahu Myungsoo pasti berbohong karena dia tadi kan habis menerima panggilan dari si Eunha itu. Mereka pasti ingin ketemuan. Tapi, buat apa? Dan sepagi ini?
Sebenarnya aku ingin sekali membuka pintu dan menarik Myungsoo masuk ke dalam kamar mandi, tapi mengingat kemungkinan aku akan ditolak, kuurungkan niatku. Karena itu aku membiarkan waktu berlalu sampai sekitar sepuluh menit dan kumatikan shower, memakai jubah mandiku, lalu keluar.
Sepi.
"Dia bahkan tetap pergi tanpa repot-repot menungguku selesai mandi!" aku menggerutu.
Dasar Eunha si beban negara!
Kulangkahkan kaki keluar kamar untuk menyapa Dezy dan memberinya makan. Dezy selalu lapar pagi-pagi begini. Tapi, dahiku langsung mengerut ketika melihat siapa yang sedang mengobrol dengan Dezy. Err, mungkin tidak mengobrol, lebih tepatnya sedang memerhatikan Dezy yang sedang makan dengan sopan. Kukatakan sopan karena biasanya jika bersamaku Dezy suka lari-larian sambil makan.
Seperti menyadari ada langkah kaki yang mendekat, Myungsoo menoleh dan tersenyum.
"Kupikir kau sudah pulang." Kataku, melangkah menuju dapur untuk mengambil minum.
Myungsoo berdiri, kemudian menatapku. "Jadi, kau dengar aku berpamitan?"
Upsie.
"Kau berpamitan?" tanyaku dengan wajah polos. Aku berbakat kalau soal pura-pura tak mengerti begini.
Kutatap jam pada dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Well, ternyata ini tidak "pagi buta" seperti yang kupikirkan. Lalu, tatapanku kembali pada Myungsoo. "Aku akan mengirimi password apartemenku kepadamu."
Sudah lama aku tidak memberikan hal-hal seperti ini ke orang lain, bahkan ibu dan asistenku tidak ada yang tahu password ini. Well, kecuali Hayang. Tapi aku saja tidak bermaksud untuk memberitahunya, Hayang mengintip saat aku sedang menekan angka.
Myungsoo tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Aku harus pulang dan bersiap ke Firma."
"Tadi telepon dari siapa?" pertanyaan itu meluncur dengan cepat padahal aku hanya memikirkkannya. Wow, aku berhasil menghancurkan harga diriku pagi ini. Myungsoo pasti mulai berpikiran kalau aku bawel dan menyebalkan. Padahal aku sudah tahu kalau yang menelepon adalah wanita itu, jadi untuk apa aku harus bertanya lagi?
Aku tidak habis pikir dengan Suzy a.k.a diriku sendiri.
"Eunha. Ada temannya yang membutuhkan jasa konsultan hukum, jadi kami akan bertemu di kantorku."
"Bertemu berdua?"
"Tidak, bertiga." Jawab Myungsoo.
Karena tidak mungkin aku terus-terusan mengambul, aku akhirnya mengangguk dan berkata. "Okay, kalau gitu sampai jumpa nanti..." aku diam, lalu meralat. "maksudku sampai jumpa akhir pekan."
"Aku akan pulang ke sini, bagaimana kalau nanti kita ke supermarket?"
"Kau akan ke sini?"
Myungsoo mengangguk.
Tuhkan, kukatakan juga apa, Myungsoo itu tidak bisa jauh-jauh dariku. Aku menahan senyum agar tidak lepas dari bibirku. "Lalu, untuk apa kita ke supermarket? Kalau kau ingin mengajakku berkencan kita bisa menyewa satu teater lalu menonton film bersama."
"Aku lebih memilih netfilx and chill seharian bersamamu di sini daripada menyewa satu bioskop untuk menonton film."
Ya ampun... porno sekali! Aku tahu itu maksudnya apa! Hayang sering mengatakan itu sebagai perumpamaan melakukan itu...
"Kenapa wajahmu memerah?" Myungsoo mendekat ke arahku lalu menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang hangat. Kami saling bertatapan. Detak jantungku langsung tak karuan, sejak ciuman semalam dan pelukan dengan sedikit meraba-raba hingga akhirnya kami jatuh tertidur otakku jadi tidak bisa jernih lagi. Airnya perlu dibuang dan diganti air baru agar kembali suci. Ditambah, aku jadi selalu membayangkan soal ular dibawah sana. Ugh!
"T-tidak..." kataku gugup. Poor, Suzy.
"Aku akan meneleponmu nanti." Dia mengusap pipiku, lalu menciumku dengan cara yang mesra.
Aku sudah tidak tahan!
"Bukan begitu cara berciuman." Kataku, lalu menarik Myungsoo dan kembali kucium.
Aku tersenyum ketika Myungsoo balas menciumku. Kutarik leher Myungsoo semakin mendekat sementara kedua tangan Myungsoo menarik pinggulku hingga aku kembali merasakan sesuatu di bawah sana. Oh my god.
Napasku terengah. Myungsoo juga. "Aku harus—"
Sebelum Myungsoo sempat melanjutkan ucapannya—yang aku sudah tahu—aku menarik Myungsoo kembali ke dalam ciumanku. "Setidaknya kita harus memecahkan masalah ini dulu..." kataku melakukan petting.
Pendar kedua mata Myungsoo langsung berubah.
Aku tersenyum. "Aku bisa melakukan lebih baik daripada air dingin."
"Tidak," Myungsoo menggeleng. "Aku tidak akan melakukan itu kepadamu sampai kita menikah nanti."
"Kita tidak sampai melakukannya," kataku, meskipun ragu apakah kami bisa bertahan. Tapi, aku tetap melanjutkan sebuah solusiku. Ini demi kebaikan kami. Terutama agar aku tidak terus-terusan berpikir kotor. "Kita bisa saling mempelajari bagian-bagian itu tanpa kau perlu memasukkannya."
"Suzy..." suara Myungsoo semakin berat dan rendah.
Aku langsung menarik kepala Myungsoo ke arah leherku dan Myungsoo langsung bergerak menciumku.
Myungsoo mengangkatku untuk duduk di atas meja granit di dapur sementara ciumannya mulai turun ke dadaku, entah sejak kapan kimono mandi yang ku kenakan sudah terbuka di bagian dada membuat dua aset paling favorit milikku terlihat. Kepalaku terangkat ke atas ketika merasakan mulut Myungsoo sudah berada di sana. Mengulumnya dengan membabi buta, sementara satu tangannya lagi bergerak meremas pada bagian yang lain.
Ini bagian terbaik.
"Myungsoo..." aku merintih disela-sela tarikan napas yang mulai terengah. "Aku juga harus memuaskanmu."
Kepala Myungsoo mendongak, ini adalah wajah Myungsoo paling tampan yang pernah kulihat. Dan dia menggeleng. "Nanti, aku bahkan hampir gila karena tidak bisa menahan diri. Jika kau sampai menyentuhku di sana, aku tidak bisa jamin bisa menahannya lagi, Suzy."
Jujur aku juga sudah mulai tidak waras karena sentuhannya sekarang.
***
Suz, temen lo baca, Suz.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co