16
"DASAR rubah kecil yang licik!" Hayang tiba-tiba menyerangku dengan kalimat pamungkasnya yang sudah dia ulang selama hampir sepuluh menit perjalanan menuju ke kantorku.
Sebenarnya siapa yang licik coba? Jelas sekali dia, tiba-tiba masuk ke rumah orang tanpa mengetuk apalagi membunyikan bell. Padahal dia tahu kalau aku ada di rumah, tapi dia tetap saja menyelonong masuk dan memergoki aktifitasku bersama Myungsoo di atas meja.
Aku menoleh ke Hayang sambil menggerutu. "Hei, berhenti mengataiku licik. Aku bahkan tidak licik."
"Kau bilang akan mempersembahkan tubuhnya padaku!" suara Hayang meninggi dengan nada kesal, kepalanya menoleh menatapku bersamaan dengan mobil yang berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah. "Tapi, kau malah duluan menyantapnya!"
Loh loh loh...
"Kapan pernah aku mengatakan akan "mempersembahkan" tubuh Myungsoo untukmu?" tanyaku sambil membuat tanda kutip menggunakan jari.
Omongan Hayang ini benar-benar tidak beres. Aku jadi takut bergaul dengannya lama-lama, memang paling benar bergaul dengan Myungsoo di atas ran—STOP! Aduh, kenapa aku selalu berpikiran yang aneh-aneh sih sekarang? Apa aku sudah terlalu tua dan butuh belaian ya?
"Kau bilang mau mengenalkannya padaku!" ujar Hayang.
"Kan sudah,"
"Bukan kenalan yang seperti itu!" dia kembali menggerutu.
Haduh...
"Myungsoo tidak akan mau kau elus-elus. Ew!"
"Tapi, kau sudah janji!"
Memang iya? Keningku mengerut sambil berpikir.
"Kau selalu lupa, dasar nenek tua!" sembur Hayang mengataiku. Sialan itu orang! "Waktu pertama kali kalian bertemu di jalan." Hayang mengingatkan.
Ah... benar.
"Sudah ingat?" tanya Hayang sedikit mencibir.
Aku berdeham. "Ya tapi itu tidak berjalan sesuai rencana. Jadi batal perjanjiannya!"
"Dasar menyebalkan!"
"Itu nama tengahku." Jawabku santai sambil menikmati wajah Hayang yang super kesal karena perdebatan kami.
Lagipula, aku memang tidak bisa mengabulkan karena Myungsoo jelas akan langsung kena mental kalau aku sampai memintanya untuk "mau" dipegang-pegang oleh Hayang. Aku tidak bisa memikirkannya kalau sampai Myungsoo malah jadi ikutan sebal kepadaku dan kami akhirnya menjauh. Walaupun aku yakin Myungsoo tidak akan bisa jauh-jauh dariku, tapi si benalu itu nyatanya masih terus ada di dekat Myungsoo. Aku tidak tahu wajahnya sekarang bagaimana—meskipun jelas pasti masih kalah jauh—tapi kalau ingat dia itu suka centil dengan cara berbeda, aku mesti lebih hati-hati. Tidak akan aku biarkan Myungsoo jatuh ke tangan siapapun, kalaupun harus iya, umm ke Hayang saja aku akan sedikit lebih rela.
***
Aku harus menjaga sikapku karena beberapa kali mendapatkan "teguran" dari staff dengan mengatakan kalau aku hari ini murah senyum. Aku tidak paham maksud murah senyum yang mereka katakan sampai—sekarang—akhirnya aku tanpa sengaja menatap wajahku di depan cermin kecil di atas meja kerja di ruanganku.
Aku shock.
Aku persis seperti orang gila karena bisa-bisanya senyum-senyum sendiri begini. Kalau benar aku yang sekarang—yang kulihat di depan cermin—adalah aku yang sama yang dilihat oleh para pegawaiku, rasanya normal kalau mereka sampai menganggapku setengah gila.
Aish!
Kutatap jam di dinding ruang kerja. Pukul 12 lewat 2 menit.
Aku langsung merogoh ponsel dari dalam laci meja kerjaku hendak mengontak Hayang, tapi kuurungkan karena Hayang keburu mengirim pesan.
Hayang: SUZ, AKU TIDAK BISA MAKSI BERSAMAMU!
Aku langsung mendial nomornya dan membawa ponselku ke telinga. Menunggu tersambung.
"Kenapa?" tanyaku setelah Hayang mengangkat panggilanku.
"Atasanku mengajak makan siang bersama."
"Tumben sekali."
"Itu lah. Aku juga heran. Jangan-jangan dia di vonis sakit parah?"
"Kau tidak boleh bicara sembarangan." Tegurku.
Tapi, aku juga merasa begitu. Kalau di film-film kan selalu begitu tiap kali si tokoh terkena penyakit berstadium mereka akan berubah menjadi pribadi yang lain dan mulai menyesali perbuatan mereka. Aku tidak bilang kalau bosnya Hayang kejam ya, hanya saja lebih baik aku kemana-mana. Lagipula, sepanjang Hayang kerja di sana, bosnya mana pernah mengajak pegawai mereka untuk makan siang bersama. Kalau ada perayaan-perayaan saja dia jarang datang. Ckck.
"Aku malas sekali. Padahal aku sudah senang karena akan makan gratis hari ini."
"Tentu saja kau juga akan makan gratis walaupun tidak makan siang bersamaku." Aku menggerutu. Dia kan tidak mungkin membayar bill kalau ada bosnya. Normalnya, Bos yang akan membayar bill.
"Aish bukan itu," Hayang menggerutu. Aneh. Lalu, ia kembali bicara dan membuatku shock. "Pacarku bilang ada pesanan makan siang untuk di kirim ke kantormu. Yang pesan adalah Myungsoo. Woah, dia tidak pelit. Nilainya semakin plus-plus di mataku!" pekik Hayang.
Myungsoo?
"Kau yakin?"
"Mana mungkin dia berbohong."
"Tapi tidak ada yang—" ucapanku berhenti ketika pintu ruanganku di ketuk tiga kali. Aku langsung mempersilakan orang itu untuk masuk. Dia asisten pribadiku, ia mengatakan kalau ada foodtruck di depan perusaahaanku yang dipesan khusus untukku atas nama Myungsoo. Lalu, dia memberikan dua kotak lunch box meletakkannya di atas meja, katanya yang itu adalah milikku. Aku mengangguk dan mengatakan terima kasih, lalu dia pamit. Aku kembali membawa ponselku ketelinga dan berkata. "Dia mengirim food truck ke kantorku."
"WOAH KEREN!"
"Hayang, sudah dulu ya, aku perlu mengonfirmasi." Kataku lalu memutuskan sambungan tanpa mendengar Hayang menjawab terlebih dahulu. Aku segera mencari nomor Myungsoo dan langsung mendialnya.
Aku benar-benar keheranan sekarang.
"Aku menduga kalau makan siangmu sudah sampai." Ucap Myungsoo saat mengangkat panggilanku. Dari nada suaranya, aku bisa tahu dia sedang bicara sambil tersenyum sekarang.
"Tentu saja. Dan membuat heboh. Kau pikir aku aktris?"
"Memangnya hanya aktris yang boleh kukirim food truck?"
"Kau pernah mengirim Food Truck untuk aktris!?" kataku, nada suaraku meninggi. Wah, wah, wah.
"Tidak. Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Memangnya hanya aktris yang boleh kirim-kiriman foodtruck?"
Aku ber-oh tanpa suara. Kulangkahkan tungkaiku mendekat ke arah jendela dan menemukan food truck yang di maksud asistenku tadi—yang kini sedang ramai di kerubungi pegawai-pegawaiku. "Kenapa sampai mengirimkan foodtruck coba?"
"Aku tidak mengirimkan itu untukmu saja, tapi untuk para pegawaimu. Punyamu sudah dibedakan, apa sudah sampai ke tanganmu atau belum?"
Aku menatap lunch box itu dan menjawab. "Sudah. Dua sekaligus. Kau jelas ingin membuatku gendut."
Myungsoo terkekeh.
"Kau tidak ke kantorku?" tanyaku. Lalu, merasa kalau pertanyaanku agak terkesan aneh, aku langsung menambahkan. "Maksudku makan siang denganku."
"Aku akan makan malam denganmu nanti." Kata Myungsoo.
"Aku kan menawarkan makan siang, bukan makan malam."
"Aku tidak bisa," ujar Myungsoo.
"Jadi kau belum makan siang?"
"Sebentar lagi. Aku akan makan di luar bersama Eunha dan—"
"APA!?"
"Hah?"
"Dengan siapa?"
"Eunha dan temannya yang tadi pagi kubicarakan itu. Tadi kami belum sempat ketemu, dan siang ini akan bertemu."
Woah, woah, woah. Si ulat bulu itu benar-benar!
"Kau mau makan siang dengan Eunha?"
"Dan temannya." Myungsoo mengoreksi.
Persetan.
Aku langsung badmood. Menyebalkan.
"Aku akan meneleponmu nanti, oke? Aku harus pergi. Sampai jumpa!"
"Mm." Jawabku lalu memutuskan panggilan telepon kami.
Dasar Eunha si beban! Kenapa dia mengusili Myungsoo sih? Memang tidak ada firma lain di Seoul? Ck!
***
Maap ye lama, udh di draft tp trnyata blm di post ni chapter wkwkwk✌🏻
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co