Truyen3h.Co

BLUE JEANS

4

authoriya


SUZY : Kau dimana?

MYUNGSOO : Aku tidak bisa menjemputmu. Kau tahu aku kan masuk pagi.

S : Kenapa tidak bilang dari tadi?!

S : Tapi kan kau sudah keluar dari tadi!

M : Siapa yang mematikan ponselnya coba?

S : Jadi, salahku?

Hening. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Tidak ada balasan

Aku menunggu, keningku mengerut sekarang. Kalau aku pakai fondation murahan jelas sudah menjadi kriss. Crack dimana-mana.

Kuembuskan napas perlahan. Menyebalkan. Aku kembali mengetikan pesan.

S : P

M : asadaaf

Dasar aneh.

S : Kenapa kau tidak membalas? Jadi salahku?

M : Tidak mungkin salahku.

S : Menyebalkan! Kau jangan tegur aku jika bertemu di kampus.

M: Ok.

Woaaah, aku tak habis pikir. OK katanya? Benar-benar tidak masuk akal! Kumasukan ponselku ke dalam tas kemudian melangkah keluar kamar. Aku menuruni undakan tangga dengan kesal. Sialan, kalau dia bilang dari semalam aku tidak akan bersantai-santai dan menghabiskan 40 menit berhargaku di dalam kamar mandi. Kalau tahu aku harus menyetir mobil sendiri aku kan bisa well prepare.

Saking lamanya aku diboncengi Myungsoo, aku sepertinya lupa caranya menyetir mobil. Huh!

"Nona, sudah mau berangkat?" tanya bibi kepala ART di rumahku. Aku menatapnya jadi semakin kesal.

"Menurut bibi saja?"

Kepala ART itu menggaruk kepalanya, mungkin banyak ketombe. Atau kutu? Ew.

"Tapi, tuan muda Myungsoo belum datang..."

"Jangan sebut nama itu di depanku, Bi. Aku sedang tidak kenal dengan dia."

"Kalian bertengkar lagi?"

"Tidak." Kataku. Kepala ART dirumah ini kenapa kepo sekali urusan orang. Duh! "Kenapa bibi masih mengikutiku?" aku menghentikan langkah menatap heran pada wanita paruh baya di sampingku.

"Tidak, aku ingin menemani nona sampai depan. Nona mau menyetir sendiri?"

"Menurut bibi bagaimana?"

Wajah kepala ART-ku itu nampa terlihat panik. Aku jadi heran, memangnya kenapa coba? Jangan bilang dia tidak percaya kalau aku bisa menyetir. Huh!

Memangnya aku adalah dia?

Tidak mungkin orang kaya tidak bisa menyetir mobil hey...

"Bibi panggilkan sopir ya?"

"Aku sudah hampir telat."

"Pak Lee ada di depan sepertinya."

Aku menatap Kepala ART itu dengan horor. "Tidak mau. Bibi, dia bau badan. Aku bisa pingsan sebelum sampai kampus."

Aku tidak bohong soal ini, Pak Lee itu supir baru di rumah kami. Dia biasanya yang selalu siap sedia menemani bibi Kepala ART kalau hendak pergi berbelanja keperluan dapur. Kapan pun, dimana pun. Aku pernah sekali diantar oleh beliau karena Myungsoo tidak sekolah—saat masih SMA—dia ikut olimpiade sains.

Dan aku berakhir di UKS selama jam pelajaran pertama. Hidungku begitu sensitif kalau soal bau-bauan. Karena itu, kriteria utamaku dalam mencari pasangan adalah yang harum. Jenis keharuman yang menenangkan dan tidak bikin pusing. Sejauh ini laki-laki yang harumnya menenangkan itu mendiang Ayahku dan Myungsoo.

Mantan-mantanku juga wangi. Tapi wanginya... umm apa ya? Jenis wangi toko gitu. Bukan wangi yang seperti ayah atau Myungsoo. Aku sulit menjelaskannya, dan aku juga tidak berniat menjelaskan lebih rinci.

Setelah perdebatan dengan Kepala ART itu aku sudah berada di dalam mobil merah milikku. Ini mobil kesayanganku yang kubeli sendiri tanpa bantuan siapa pun. Aku mengumpulkan uang dengan santai—kudengar orang-orang kalau mengumpulkan uang secara mati-matian—dan cepat. Uangnya terkumpul dalam waktu satu bulan—aku puasa belanja skincare, untung Myungsoo mau membelikanku. Ibuku adalah tipe orang tua yang mendukung keputusanku untuk membeli mobil ini sendiri, saking mendukungnya ibu sama sekali tidak ada niatan menawari sponsor tambahan. Aku hampir berpikir ibu orang yang pelit kalau saja aku tidak membaca artikel bagaimana Bos perusahaan ikan kaleng memberikan santunan tiap bulan untuk anak-anak di panti asuhan.

Mulia sekali.

TIN!! "Hei bisa menyetir tidak?!" teriak seseorang dari dalam mobil yang mulai menyalip mobilku. "Dasar bodoh!"

Woah, aku benar-benar terpaku. Baru ini ada orang yang mengataiku bodoh! Dia pasti tidak tahu siapa aku!

Lihat saja akan kusalip kembali mobilnya. Aku langsung injak gas dan mencari mobil jelek yang menyalipku tadi. Berani sekali mobil itu menyalip Lexi-ku yang paling kusayang!

"Di mana dia..." aku bergumam sambil mencari-cari mobil tadi. Bisa-bisanya mobil jelek itu sudah hilang dari pandanganku...

Karena fokus mencari mobil sialan itu aku tidak sadar kalau mobil di depanku berhenti. Kuinjak rem dengan cepat hingga membuat tubuhku maju ke depan. Dari suaranya sepertinya aku membuat masalah sekarang. Oh my god!

Kubuka mataku yang tadi refleks terpejam karena kejadian tadi, dan mulai mengintip. Seseorang turun dari dalam mobil yang kutabrak itu... oh my god, jangan bilang mereka preman?

Aku shook berat. Ada dua orang yang turun dari dalam mobil itu. Keduanya sama-sama berbadan besar dan memiliki tato di leher—aku bisa melihatnya walau dari dalam mobil. Oh my god, oh my god, oh my god!

Salah seorang dari mereka menggerakkan jari telunjuknya dengan kode menyuruhku untuk turun. Oke, oke, tenang. Biasanya orang-orang akan meluluh jika melihat kecantikanku. Aku mencoba memenangkan diriku.

Ini situasi yang hanya ada di drama. Masalahnya, kalau di drama, tokoh utama wanitanya akan menabrak mobil calon jodohnya, bukan mobil preman. Atau... jika preman, aku berharap ada bos mafia tampan yang akan turun dari dalam mobil itu sambil melepaskan kacamatanya. Lalu kami jatuh cinta dan hidup bahagia.

Tapi masalahnya... tidak ada tuh yang seperti itu! Ugh!

"Turun!" bentak salah seorang itu sambil memukul Lexi-ku.

Wah, berani-beraninya dia! Aku saja tidak pernah memukul Lexi!

Aku langsung membuka pintu dan turun. Enak saja. Kalau dipikir-pikir dia juga yang salah karena berhenti mendadak. Kenapa aku jadi yang disalahkan?

Mobil-mobil lain nampak tetap melanjutkan perjalanan mereka tanpa repot-repot turun menengahi. Disaat seperti ini aku membutuhkan orang dengan tingkat kekepoan dan kebawelan seperti Myungsoo dan Kepala ART-ku. Bagaimana kalau aku ditusuk dan tidak ada yang memerhatikan?

Nyaliku langsung menciut. Aku belum masuk forbes 30 under 30. Kalau aku meninggal siapa yang akan mewarisi harta keluargaku yang tidak habis-habis itu? Huah, ibu!

"Kau memelototi kami?"

"Siapa yang melotot." Aku menatap dua orang preman itu dengan jengkel.

"Lalu itu apa?"

"Aku sedang meratapi nasib."

Kedua orang itu saling pandang sepertinya mereka bingung. Kutatap penampilan om-om preman itu sambil menyortir. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan jelas kalau itu barang asli. Aku bisa langsung membedakan barang asli dan palsu hanya dalam sekali tatap, omong-omong.

Tapi, itu bukan masalahnya kan sekarang? Oh my god, Suzy, fokus. Kau bahkan sudah diujung kematianmu.

"Ahjussi, aku sedang buru-buru ada kelas. Kalian bisa menghubungi pengacara keluargaku, oke?"

"Kau pikir kami tidak punya uang?"

Tentu saja punya.

"Aku bisa menambahkan isi saldo ATM kalian." Kataku. Biasanya orang lain akan langsung luluh kalau membicarakan soal uang. Uang memang tidak menyelesaikan masalah, tapi masalah apapun pasti perlu uang.

Dua om-om preman itu saling tatap. Bagus, aku tahu mereka jenis yang suka uang. Aku hampir tersenyum lega kalau bukan sebuah kalimat keluar dari mulut salah satunya.

"Kita ke kantor polisi."

"HAH?"

Keduanya mengangguk. "Ini juga sebagai pembelajaran untuk anak muda agar jangan ugal-ugalan."

Siapa pula yang ugal-ugalan...

"Yya, Ahjussi, kau bercanda kan?"

"Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?"

Sial, aku seperti mengenal kalimat itu.

"Tapi, aku ada kelas."

"Memangnya urusanku?" om preman itu menatap temannya seolah memberi kode. Kemudian menatapku. "Ayo dan jangan berusaha untuk kabur."

Mwoya... apa aku akan menjadi narapidana?

Oh my god!

Aku masih tidak percaya dengan apa yang kualami sekarang, kupasang sabuk pengaman dan menghidupkan mesin mobil. Sambil mengikuti mobil di depanku dari belakang, aku mendial nomor Myungsoo di HP-ku.

Tut...

Tut...

Tu—"Kau bilang tidak mau—"

"Sepertinya aku akan menjadi tersangka. Myungsoo-ah, bagaimana ini?" kataku menahan tangis.

Ini seperti kali kedua aku menangis setelah bertahun-tahun yang lalu.

"Maksudmu?"

"Kau harus menelepon Paman Kwon pengacara keluargaku. Aku sepertinya akan ditahan—huahhh!"

"Hei, tenanglah, aku tidak mengerti. Kau dimana sekarang?"

"Di jalan raya sedang menuju kantor polisi terdekat." Kataku sambil menyebutkan alamat yang tadi dikatakan oleh om-om preman itu.

"Oke, kau tenang dan fokus menyetir. Jangan menyebabkan sesuatu yang bisa membahayakan keselamatanmu, oke? Aku akan segera ke kantor polisi sekarang."

"Aku tidak mau masuk penjara..."

"Kau tidak akan masuk penjara. Percaya padaku. Tenanglah, oke?"

Aku mengangguk meski tahu Myungsoo tidak bisa melihat. Hatiku sedikit tenang sekarang. Sejak dulu, janji Myungsoo tidak pernah inkar. Perkataan Myungsoo selalu menjadi kebenaran. Dan aku percaya padanya.

"Aku tutup—"

"Jangan!" potongku cepat. Aku tidak mau keheningan. "Jangan ditutup. Menyetirlah dengan sambungan telepon tetap terhubung seperti ini."

"Baiklah,"

Kuembuskan napas lega.

"Kau mau kemana?"

Aku mendengar suara perempuan dari ujung sambungan. Sebelum kembali kudengar suara Myungsoo menjawab. "Aku ada urusan. Maaf ya kau harus kutinggal sendiri?"

"Ada masalah?"

"Mm, sedikit masalah."

"Arraso. Hati-hati dijalan."

"Ya, sekali lagi aku minta maaf harus meninggalkanmu sendiri."

"Tidak apa-apa. Kha..."

Lalu tidak ada lagi percakapan lain selain suara grasak-grusuk sampai akhirnya aku mendengar suara mesin mobil dihidupkan.

"Suzy?"

"Hm?"

"Aku ke sana sekarang."

"Oh, ya, err... hati-hati." Kataku tanpa sadar. Sialan, aku jadi mengikuti uca perempuan tadi.

Omong-omong, siapa perempuan itu?

***

Suzy keselek baca captionnya🍄

Btw guiz, aku pengin bikin AU deh tp ga ngerti gmna caranya🥲

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co