5
“KALAU bukan karena kekasihmu ini, aku tidak akan mau berdamai.” Tunjuk salah satu dari dua om-om preman itu.
Aku menatapnya tidak suka. Dia jelas tak punya manner, bagaimana bisa dia menunjuk orang lain di depan wajah seperti yang sekarang dia lakukan? Heh! Aku hendak membalas tapi genggaman tangan Myungsoo mengerat kepadaku. Sepertinya dia tahu kalau emosiku sudah sampai di ubun-ubun.
“Nah kau lihat kan,” kata om-om preman itu kepada pak polisi di depan kami. Om itu menepuk meja sambil menggelengkan kepala. Lalu, menatapku. “Aish, dia benar-benar angkuh.”
“Mwoya, ahjussi, aku angkuh bagaimana? Padahal aku sejak tadi hanya diam-diam saja.” Kataku tak terima. Kenapa aku jadi serba salah seperti ini coba? Bukannya wanita itu selalu benar? Heol!
Suara bising di dalam kantor polisi ini sama sekali tidak membantu, aku menatap sebentar ke arah lain dan menemukan ibu-ibu hamil sedang menangis karena anjingnya hilang. Aku bilang, anjingnya hilang. Oh my god...
Dia menangis seperti sudah kehilangan suaminya. Benar-benar aneh.
Tapi aku baru menyadari sesuatu hari ini, kalau memang beberapa hal aneh sering terjadi di kehidupan. Kalau dipikir-pikir, rasanya aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan datang ke kantor polisi karena hal seperti ini. Seumur hidupku, berkunjung ke kantor polisi sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku.
“Maafkan Suzy, dia memang seperti itu memandang orang, tapi bukan berarti dia tidak hormat atau tidak sopan. Mata bundarnya memang sering membuat orang salah paham.” Ujar Myungsoo.
Salah paham... tapi aku tidak protes. Aku diam saja. Posisiku disini sedang tidak bagus.
Kedua om-om preman itu mengesah. Lalu mengibaskan tangannya, bersamaan dengan salah seorang dari mereka yang mengetuk palu final.
“Baiklah, berdamai saja.” Katanya pada pak polisi.
“Baiklah, aku akan menulis pernyataan dulu silahkan kalian isi nantinya.”
Oh my god aku tidak jadi masuk penjara.
Aku menatap Myungsoo dari samping dan tersenyum. Tuh kan apa kubilang, ucapan Myungsoo itu selalu benar. Aku akan selalu memercayainya.
***
Kuperhatikan Myungsoo dengan lekat dari belakang. Aku menunggu Myungsoo yang sedang menelepon kenalannya untuk membawa Lexi-ku kembali ke rumah. Sebenarnya aku tidak suka kalau ada yang naik mobilku sembarangan, tapi karena Myungsoo nampak marah—ini kali pertama aku melihatnya seperti itu—akhirnya aku menurut.
Meskipun agak berat hati juga. Huft.
Myungsoo membalikkan tubuhnya dan aku langsung memandang ke arah lain. Aku ingin pura-pura marah, tapi Myungsoo sedang marah sungguhan padaku.
“Pak Hyun akan datang sebentar lagi. Kau tidak ada kelas kan?” tanya Myungsoo. Suaranya sudah tidak bernada marah lagi dan tatapannya tidak menyeramkan lagi.
Kuanggukan kepala. “Aku hanya ada satu mata kuliah hari ini, tapi jelas sudah tidak ada gunanya lagi.” Kataku.
Aku serius. Dosen mata kuliah hari ini benar-benar super menyeramkan, telat masuk lima detik saja kau tidak akan diperbolehkan ikut ke kelasnya. Apalagi aku yang sudah telat satu jam ini, yang ada namaku langsung di blacklist. Jujur saja, lebih baik absen satu kali daripada kedapatan terlambat masuk ke kelas.
“Aku akan mengantarmu pulang...” yah, aku benar-benar malas di rumah. Rumah itu sepi karena ibuku pasti ada di kantor, walaupun beliau ada di rumah juga aku tetap jarang bertemu dengannya. Tapi setidaknya aku tahu kalau ‘ada orang’. Tidak mungkin aku mau mengganggu ibunya Myungsoo karena meskipun beliau ada di rumah, wanita itu punya segudang kegiatan. Aku tidak mau ikut ke acara kerohanian. Membuat ngantuk! Dan Myungsoo... “atau kau mau ikut aku?”
Tumben aku diajak.
“Kemana?” kedua mataku berbinar, aku menatapnya dengan antusias.
“Klub photografiku akan hunting ke Changdeokgung hari ini.,” Myungsoo menatap jam tangannya. “Kalau kau mau kita bisa ke kampus sebentar lalu pergi. Di sana akan panas, kau mungkin—“
“Aku ikut.” Kataku.
Myungsoo menaikkan alisnya. Aku menatapnya. “Apa? Kau tidak serius mengajakku ikut?” tanyaku sambil memicingkan mata.
Myungsoo menggeleng. “Aku tidak menyangka kau mau ikut. Kau kan takut panas.”
“Kupikir sudah waktunya aku jadi manusia.” Kataku sambil mengedikkan bahu. “Ayo kita menunggu di mobilmu saja, aku mulai pegal berdiri.”
***
Kulipat kedua tangan ke depan dada dengan punggung bersandar pada dinding koridor depan klub Myungsoo. Ada beberapa orang berlalu lalang di sini, keluar masuk dan menyapaku dengan sok akrab. Beberapanya lagi melihatiku dengan pandangan “tegur, tidak” mereka. Aku sudah lama tahu kalau aku ini populer, tapi melihat kepopuleranku secara langsung rasanya benar-benar tidak nyaman.
Iya, tidak nyaman. Aku tidak nyaman dengan orang yang sok akrab denganku. Ugh!
Myungsoo kemana coba? Lama sekali di dalam sana. Katanya hanya sebentar mengambil beberapa barang, tapi ini sudah lebih dari tiga menit—aku menghitungnya—dan dia tidak keluar-keluar. Jangan-jangan dia lupa lagi kalau membawaku? Ugh! Lihat saja nanti.
Kalau tahu akan selama ini, aku kan bisa minta menunggu di dalam mobil saja tanpa harus ikut ke sini. Niatku ingin cuci mata karena beberapa orang selalu mengatakan kalau anak klub photografi itu good looking semua. Aku langsung ingin tertawa saat ada yang mengatakan Myungsoo adalah salah satu yang populer dari klub itu. Bahkan, katanya dia di gadang-gadang sebagai penerus Seonho sunbae yang sudah graduated enam bulan setelah kami resmi jadi mahasiswa. Sangat disayangkan, padahal wajah Seonho sunbae itu adalah tipe idealku sekali. Dia murah senyum dan... ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku menyukainya. Pokoknya dia itu tipe laki-laki baik yang pasti jika kudekati akan langsung menerkamku. Sayang sahabatku yang cupu satu itu tidak mau mengindahkan permintaanku untuk dikenalkan. Well, bukannya aku tidak bisa berkenalan sendiri—oh my god, what do you think? I am Suzy, right?—tapi kalau dikenalkan kan lebih terlihat natural. Aku tidak mau dipikir orang-orang sebagai wanita ular. No way!
Ya begitulah cerita masa lalu. Karena kriteriaku tinggi aku jadi sulit—
“Suzy?” sapaan seseorang membuatku kembali ke dunia nyata. Aku menoleh dan menemukan wajah laki-laki yang tidak asing sedang tersenyum kepadaku. Jinu. “Kau di sini?”
Pertanyaan yang aneh.
Aku mengangguk. “Ya, kebetulan aku tidak di sana.” Tunjukku penggunakan dagu ke arah depan.
Jinu tertawa dan beberapa orang di sekitar kami—aku baru sadar kalau anak klub sudah pada keluar semua—juga ikut tertawa. Pandanganku tak sengaja terkunci pada Myungsoo yang juga sedang memandangku. Aku menaikkan alis, bertanya, tapi dia malah mengalihkan pandangannya. Aneh.
Kutatap Jinu kembali. “Kau masuk klub ini?”
“Ya.” Jinu mengangguk antusias. “Aku tidak tahu kalau temanmu mengajakmu ke sini.” Katanya sambil menatap Myungsoo sebentar.
Nah kan, ada orang lain yang sadar juga. Myungsoo itu sangat pelit tidak mengizinkanku main ke klubnya.
“Dia selalu tidak mau jika kami meminta dia mengajakmu. Beberapa kali tim kami kesulitan mencari model yang tepat, saat kami ingin mengajakmu katanya kau sibuk dan sedikit panik kalau difoto.”
Wah wah wah... aku di fitnah sobat.
Kutatap Myungsoo meminta penjelasan, namun dia sama sekali tidak menatapku. Woah, orang ini benar-benar. Kan kesannya aku penyakitan. Pantas saja mereka ramah kepadaku tadi, jangan-jangan mereka berpikir kalau hidupku tidak lama lagi. Sialan.
“Kajja, nanti terlalu sore.” Ajak Myungsoo kepada teman-temannya yang langsung diangguki. Myungsoo menoleh ke wanita di sebelahnya dan berkata. “Kau ikut aku saja agar tidak terlalu penuh.”
Ramah sekali.
Aku masih menatap Myungsoo yang kini melangkah ke arahku dengan wanita sedikit tomboy di belakangnya yang mengekor. Kedua mata tajam milik Myungsoo akhirnya menatapku juga—setelah mencoba tidak melakukan kontak mata—aku mengangkat alis. Aku butuh penjelasan. Tapi boro-boro memberikan penjelasan, dia malah memberiku tas kameranya. “Ayo.”
Aish, memangnya aku pembantunya apa?
“Jinu, aku duluan.”
“Kau tidak mau bersamaku saja? Aku bawa mobil.” Kata Jinu menawari.
Aku tersenyum. “Aku tidak bisa naik mobil orang asing.”
“Bukankah kita kenal?”
“Tapi tidak cukup dekat untuk berkendara bersama ‘kan?” kataku kemudian melambaikan tangan. “See you.”
Jinu tersenyum. Dia jelas sekarang sudah memandangkuu dengan kacamata yang berbeda. Well said, Suzy.
Sejujurnya aku memang tidak bisa naik kendaraan jika yang membawa orang asing. Aku selalu ingat mendiang ayahku yang mengalami kecelakaan waktu itu, dan aku jadi punya trauma tersendiri. Setidaknya, orang yang membawaku harus seseorang yang kupercaya dan keluargaku percaya.
Kutatap wanita yang melangkah di depanku dan sedang mengobrol dengan Myungsoo dengan pandangan menilai. Apa dia wanita yang ada di telepon tadi ya? Dari suaranya terdengar sama.
Mataku memandang lurus ke depan. Aku jelas tahu sorot mata itu, itu adalah sorot mata wanita saat melihat pria pujaannya.
Tiba-tiba aku merasa tak suka dengan orang ini.
Myungsoo membuka kunci mobil, kedua mataku membeliak ketika melihat si perempuan itu sudah membuka pintu penumpang di bagian depan dan hendak masuk. Woah, berani sekali dia menempati tempatku? Akan kutunjukan kepadanya.
Dengan langkah cepat namun tetap tenang, aku segera mendahuluinya masuk dan duduk di jok. Kepalaku sedikit mendongak dan mengulas senyum ramah menatapnya. “Terima kasih sudah membukakan pintunya.”
Aku hampir mencetak cengiranku keluar saat melihat ekspresi shooknya, dia jelas tidak menduga kalau aku akan seperti ini. Nah kan, aku menunjukkannya dengan sangat jelas. Kuharap dia bisa membaca situasinya kalau tidak ada orang yang bisa menempati kursi di sebelah Myungsoo kecuali atas izinku sendiri.
Aku ini penghuni permanennya.
***
Jgn lupa makan, minum, baca, dan vomment.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co