Truyen3h.Co

Feudatory

1

authoriya

Proses edit karena aku gak puas dengan beberapa alur dan ending cerita ini. Sori spam.

****

"Oppa, ayo kita putus."

Adalah suara pertama yang dikeluarkan Suzy kepada pria yang baru saja mendudukan dirinya di bangku kafe. Belum juga lelaki itu sempat menyapa, suara Suzy malah lebih dulu terdengar; Datar dan tanpa emosi.

Membuat sang pria yang dipanggil dengan sebutan 'Oppa' itu membelalakan matanya.

"A-apa?"

Suzy mengambil secangkir teh miliknya di atas meja, lalu menyesapnya. Menunggu cairan kuning kental itu mengalir di kerongkongannya sebelum ia kembali melanjutkan, "Aku tidak bisa bersamamu lagi, Oppa."

"Kenapa, Suzy? Bukankah hubungan kita baik-baik saja?" Si pria itu menatap Suzy dengan pandangan bertanya. Jauh dalam ingatannya, ia dan Suzy tidak memiliki masalah apapun, bahkan semalam saat mereka sedang on the phone pun tidak ada masalah.

"Aku merasa kita sudah tidak memiliki kecocokan lagi, Joon oppa."

Kim Joon, berbeda dari respon yang diberikan sebelumnya, kali ini ada sebuah suara kekehan bernada meremehkan yang keluar dari mulutnya. Ketidakmengertian akan keputusan sepihak dari perempuan di depannya ini membukakan pemikirannya. Jika benar dugaannya, semua gosip tentang perempuan didepannya ini kemungkinan benar.

"Aku yang ke berapa?" Joon bertanya.

"Apa maksudmu?"

"Yang kau berikan kalimat seperti ini, aku orang yang ke berapa?"

Ada senyuman kecil yang terukir di wajah Suzy saat mendengar pertanyaan itu, ia sedikit tidak menduga jika Joon akan sepaham itu padanya. Dengan menggeser kursinya sedikit kebelakang, Suzy berdiri berikut tas jinjing yang menggantung di lengan kanannya, "Sejujurnya aku tidak tahu jawabannya. Tapi, aku berterimakasih atas semua perhatianmu padaku, Kim Joon."

Kemudian perempuan itu melenggang pergi dan berlalu meninggalkan si pria yang masih duduk di tempatnya.

***

Seorang pria menggerutu kesal di balik kemudi nya dengan kedua mata tajam yang terfokus pada jalanan di depannya. Ini jam dua pagi, dan seorang bartender menelponnya bahwa perempuan nya sudah mabuk dan jatuh tertidur di meja bar. Myungsoo menghela napas, kalau perempuan itu sudah mabuk-mabukan begini pasti dia habis putus dari kekasih-kekasihnya itu. Dengan cekatan, Myungsoo membelokkan mobilnya masuk ke dalam pub, setelah memarkirkan mobilnya tanpa menunggu lama lagi dia langsung keluar dan berjalan kearea dalam.

Myungsoo berjalan menapaki panasnya lantai klub itu dengan tergesa. Tubuhnya spontan menyingkir dan menolak secara halus saat ada beberapa wanita berpakaian seksi mencoba merayunya. Tidak perlu menunggu lama untuk mencari letak bar nya berada karena Myungsoo sudah hafal keseluruhan tempat ini. Tidak, tapi karena Myungsoo 'terpaksa' hafal atas keseluruhan tempat ini. Yang lebih pasti, karena perempuan itu selalu kesini dan berakhir tertidur dengan segelas wine di genggaman.

Dan... See?

Myungsoo tersenyum ketika melihat Johan melambaikan tangan agar Myungsoo menemukannya. Myungsoo berjalan cepat hingga akhirnya dia hanya berjarak dua langkah dari perempuan yang sedang menempelkan satu pipinya di meja bar dengan seuntai rambut menutupi hampir keseluruhan wajahnya.

"Kursi ini sudah seperti tempat tidurnya saja, kenapa dia selalu tertidur disini..." Myungsoo bergumam, kemudian menatap Johan yang sedang mengelap gelasnya, "Terima kasih, Johan, karena menjaganya untukku."

Johan mengangguk, "It's okay. Dia pelanggan setia disini dan kau temanku, kawan."

Myungsoo menatap perempuan dengan pakaian hitam berpotongan mini itu sekali lagi, lalu membuka jaketnya dan memakaikannya pada perempuan itu.

Dia Suzy. Anak dari keluarga Bae yang merupakan rekan kerja sekaligus sahabat dari keluarganya. Myungsoo dan Suzy mengenal satu lain hampir lima belas tahun terakhir, selain karena rumah mereka yang bersebelahan, memang sejak dulu mereka selalu berada di sekolah yang sama, bahkan hingga sekarang ketika di Universitas, mereka selalu bersama dan mengambil kelas yang sama berikut jurusan yang sama.

Myungsoo bergerak mendekat, tangannya melingkar di bahu dan bawah lutut Suzy lalu mengangkatnya, membawanya keluar dan masuk kedalam mobilnya.

***

Suzy terbangun dengan sakit yang menusuk kepalanya. Sambil memegang keningnya, ia memerhatikan wallpaper pada dinding kamar itu.

Tepat, ini bukan kamarnya.

Dengan kekuatan penuh yang coba dierahkannya, Suzy mencoba menapakkan kaki pada ubin lantai kamar itu, kepalanya menunduk melihat pakaian yang dikenakannya masih seperti pakaian yang semalam di ingatannya. Membuatnya menggerutu melihatnya, "Kenapa dia tidak menggantikan bajuku sih!"

Lalu, Suzy berjalan menuju lemari baju dan mengambil asal kemeja dari dalam sana dan melenggang ke kamar mandi.

Tiga puluh menit kemudian, Suzy sudah berganti pakaian dengan kemeja kebesaran milik Myungsoo. Tubuhnya sudah terasa segaran dan kepalanya sudah sedikit sembuhan. Suzy berjalan menuju pintu kamar itu dan membukanya, kedua manik matanya menatap ke sekeliling mencari keberadaan Myungsoo disana.

Bau masakan yang terasa menusuk indera penciumannya-lah yang membuat Suzy berjalan mendekat ke arah dapur Apartemen dan menemukan pria itu sedang dalam balutan apron dan terlihat serius dengan masakannya. Suzy tersenyum, melangkah menuntun kakinya mendekati pria itu, kemudian dengan gerakan impulsif Suzy langsung memeluk Myungsoo dari belakang. Membuat tubuh pria itu seketika menegang.

"Suzy, lepaskan tanganmu dariku," Myungsoo bergumam datar saat merasakan benda-benda aneh milik Suzy yang menekan punggungnya.

Sambil mencebik, Suzy langsung melepaskannya, "Kenapa kau tidak menggantikan pakaianku? Aku kan sudah bilang gantikan kalau aku berakhir mabuk!"

"Yya, bagaimana bisa kau menyuruh seorang pria menggantikan pakaianmu?" Myungsoo menatap tak percaya, lalu mengambil wajan yang berisi telur dadar gulung dan menaruhnya ke piring saji.

"Ck, memangnya kau pria?" Suzy mendengus, mengikuti Myungsoo yang berjalan menuju meja makan, kemudian mengambil sumpit dan menyumpitkan potongan telur gulung itu ke dalam mulutnya. Suzy mendesah kesenangan saat merasakan rasa telur yang mulai menjalari indera perasanya, dengan mulut penuh ia berucap. "Aku masih heran kenapa kau memilih mengambil jurusan politik daripada seni kuliner."

"Siapa yang menangis semalaman dan memintaku untuk mengikutinya mengambil jurusan politik, hm?" Myungsoo mengejek. Lalu, menaruh semangkuk nasi di depan Suzy. "Makanlah, dan ini teh hangat untukmu."

"Siapa memang?" Suzy mengangkat alis, senyumannya terukir lebar saat menatap hidangan makanan yang dibuatkan Myungsoo untuknya, tetapi langsung mengerucutkan bibir ketika tidak mendapati menu favoritnya. "Tapi, apa kau tidak memasak abalon?"

"Jangan banyak mengeluh dan makan saja."

"Ugh, ya, ya, ya."

Ada senyuman kecil yang terukir di wajah Myungsoo tiap kali Suzy menuruti perintahnya. Kemudian, Myungsoo ikut menyumpitkan telur gulung dan nasi ke dalam mulutnya. Keduanya memakan tanpa suara hingga mangkuk nasi itu tandas tak bersisa. Suzy mengambil gelas yang berada di tangan Myungsoo lalu meminumnya.

"Suzy, teh mu."

"Shireo, rasanya pahit. Kau selalu gagal membuat teh enak untukku."

"Aku bukannya gagal," Myungsoo meralat, "Tetapi, itu obat agar pusingmu hilang."

"Aku sudah tidak pusing."

Myungsoo menghela napas, mengalah karena ia tahu bahwa berdebat dengan perempuan cantik yang sedang memakai kemeja miliknya itu tidak akan pernah berhasil untuk dilakukan. Dengan nada sambil lalu, Myungsoo mencoba bertanya, "Jadi, kenapa seorang Kim Joon kau putuskan juga?"

"Aku hanya tidak ingin kalau aku sampai jatuh cinta karena perlakuan baiknya kepadaku." Jawabnya santai. Suzy menaruh gelasnya ke atas meja, lalu menatap Myungsoo, "Kau tahu aku dilarang untuk jatuh cinta, right?"

"Kau yang melarang dirimu sendiri, Suzy." Myungsoo mengedikkan bahunya.

"Mm, aku hanya tidak ingin--"

"Arra. Kau tidak perlu melanjutkannya. Aku akan mengantarmu pulang karena siang nanti aku ada janji bermain voli dengan temanku." Myungsoo bangkit. Mengambil piring-piring kotor itu dan meletakkannya di wastafel.

Suzy menghela napas, "Kau seharusnya berkencan, Myungsoo. Bukan malah menghabiskan waktumu dengan olahraga tak berguna itu."

Gerakan tangan Myungsoo berhenti. Pandangannya meredup dan bibirnya menipis. "Aku sibuk dan tidak sempat memikirkan hal semacam itu."

"Ya, ya, lakukanlah sesukamu. Aku akan mengambil tasku di kamar dulu." Ucap Suzy, lalu melenggangkan tungkai jenjangnya berjalan kearah kamar.

***

Thu 3/14/19

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co