2
"Yya, Kim Myungsoo... Apa kau pernah memimpikan membangun rumah tangga nanti di masa depan?"
"Denganmu?"
"Aih, tentu saja bukan, bodoh! Tapi, dengan wanita yang kau cintai."
"Kau, bagaimana?"
"Aku tidak tertarik dengan pernikahan atau semacamnya."
"Hmm..."
"Jadi?"
"Apa?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku juga belum memikirkan hal semacam itu, kita bahkan masih SMA, Suzy."
***
Myungsoo duduk menyelonjorkan kakinya kedepan. Diraihnya botol minum yang tergeletak di atas bangku panjang berwarna biru langit, lalu menegak isinya sampai setengah.
Bulir-bulir keringat di dahi dan sekujur tubuhnya menambah kesan seksi pada pria itu, bahkan tak sedikit perempuan yang berteriak karena pesona yang menguar darinya. Termasuk, pada beberapa perempuan yang hanya bisa mengigit jari memerhatikan Myungsoo dan klub volli jurusan dari balik jaring-jaring pembatas di sisi tribun. Teriakan-teriakan yang selalu di dengar Myungsoo selama ini, dan teriakan itu di tunjukan untuknya. Atau beberapa teman tim-nya. Walaupun jelas lebih besar untuk Myungsoo.
Myungsoo menoleh, ketika merasakan satu tangan menepuk bahunya dan mendapati Minhyuk berdiri menjulang di depannya. Pria itu mengikuti Myungsoo duduk dan memberikan satu paperbag kepadanya. Keningnya mengernyit, lalu ia melihat ke dalam paperbag itu dan menemukan sekotak coklat merk toko terkenal di Seoul yang terbungkus rapi lengkap dengan pita dan kartu ucapan di atasnya. Kemudian, Myungsoo menatap Minhyuk dengan pandangan bertanya.
"Dari mereka," Minhyuk menunjuk menggunakan dagunya ke arah kerumunan perempuan yang berdiri di pinggir lapangan. Yang sekarang berteriak histeris ketika Myungsoo ikut menatap mereka. "Yya, bagaimana bisa setiap kita latihan kau selalu dapat hadiah-hadiah ini? Wah aku benar-benar tak bisa bicara..."
Myungsoo mengalihkan pandangannya dari perempuan-perempuan itu, lalu menaruh paperbag itu di atas bangku tempat dimana ia mengambil botol minumnya tadi, dan beujar santai. "Kau bisa mengambilnya kalau kau mau."
"Dan membuat Soojung memberengut kesal karena mengira aku mendapatkan hadiah itu dari perempuan lain?" Minhyuk menggeleng, "Tidak, terima kasih. Aku masih sayang dengan tubuhku." Lanjutnya sambil terkekeh.
Myungsoo juga ikut terkekeh. Mengambil botol minumnya kembali, lalu menegak isinya hingga tandas. Matanya menilik ke arah sekotak coklat menggiurkan itu, mungkin akan lumer ketika ia memakannya. Namun, sayang sekali karena Myungsoo tidak menyukai makanan manis itu. Entah dari mana perempuan-perempuan itu mendapatkan informasi-informasi itu, mungkin ketika melihat dengan mata telanjang mereka saat beberapa kali Myungsoo terpaksa harus menghabiskan minuman rasa coklat yang di belikan Suzy untuknya, atau melihat dari beberapa kali Myungsoo memakan roti berselai coklat yang lagi-lagi diberikan Suzy untuknya. Sehingga, untuk sepasang mata yang menyaksikan itu, langsung mengambil kesimpulan kalau Myungsoo adalah pecandu coklat.
"Kau tidak pergi menemui Soojung?" Tanya Myungsoo, setelah menatap jam di ponselnya, "Kurasa kelas Mrs. Shim sudah selesai."
Minhyuk menepuk dahi karena pria itu hampir melupakan kalau ia sudah berjanji dengan perempuan bernama Soojung untuk mengantarnya pulang. Dengan cepat Minhyuk memasukkan peralatan ke dalam tas ranselnya, "Dia bisa membunuhku jika tidak melihat wajahku lima menit lagi."
"Ya benar, jadi cepatlah kau kesana."
"Kau tidak menemui Suzy?" Pertanyaan Minhyuk itu di barengi dengan ponsel Myungsoo yang berdering. Myungsoo tersenyum dan menunjukan layar ponselnya kepada Minhyuk, membuat pria itu mengerti, "Oh okay, sepertinya tuan puteri-mu sudah memanggil. Mungkin saja mereka berdua sedang menggerutu disana." imbuh Minhyuk.
Setelah mengancingkan tas ranselnya, Minhyuk kemudian menaruh satu talinya di bahu, "Kesana bersama, atau aku duluan?"
"Duluan saja, Aku akan mengganti pakaianku dulu. Suzy bisa mengomel sepanjang perjalanan kalau melihat keringat pada bajuku ini."
"Benar, tuan puteri-mu begitu cerewet," Minhyuk mengangguk membenarkan ketika mengingat apa bagaimana Suzy yang tingkahnya tidak jauh beda dengan kekasihnya itu, namun karena teringat sesuatu ia kembali menambahkan, "Tapi, teman..."
Myungsoo menatap pria yang merupakan teman sekaligus kekasih dari sahabat Suzy itu dengan kedua alis terangkat.
"Kau harusnya mencari tuan puteri-mu yang sesungguhnya, jangan hanya mendedikasikan hidupmu pada teman masa kecilmu itu." Setelah menepuk bahu Myungsoo pelan, Minhyuk membawa tubuhnya pergi dari lapangan itu.
Meninggalkan Myungsoo yang tertegun sendiri disana.
***
Myungsoo berjalan dengan tas ransel yang menggantung di salah satu bahu serta paperbag di tangan kirinya, wajahnya sudah fresh dan tubuhnya sudah menguarkan aroma maskulin karena parfum yang di pakainya. Beruntunglah di ruang ganti pakaian selalu disediakan shower untuk membilas diri dari keringat karena olahraga. Karena kalau tidak, Myungsoo tidak mengerti lagi akan sepanjang apa omelan Suzy kepadanya.
Kakinya terus berjalan, tidak tergesa-gesa tapi juga tidak terburu-buru. Myungsoo menyusuri lorong koridor yang akan menyambungkan gedung olahraga dan gedung parkiran dengan diam. Dibiarkannya ponsel yang terasa terus bergetar dari dalam tas ransel di gendongannya itu karena Myungsoo tahu siapa si penelpon.
Suzy begitu tidak sabaran kepada siapapun, apapun yang diinginkannya harus terpenuhi dan Myungsoo tidak akan membiarkan Suzy selalu semena-mena. Sesekali, perempuan itu harus belajar bagaimana caranya menunggu dan bersabar.
"S-sunbae!"
Satu suara dari arah belakang memanggilnya, membuat Myungsoo menghentikan langkah yang hampir mencapai tempat dimana mobil miliknya terparkir.
Dua perempuan dengan salah satunya sedang memegang diktat, sedangkan salah satunya lagi nampak memegang paperbag berwarna merah muda. Keduanya nampak saling menyikut dan tersenyum malu-malu, lalu berjalan mendekati Myungsoo.
"Ya?" Myungsoo yang nampak bingung, namun tak urung menyunggingkan senyum sopannya.
"Ini," kedua tangan milik perempuan yang memegang paperbag merah muda itu terulur, memberikan paperbag itu kepada Myungsoo, "Untuk sunbae..."
Myungsoo menatap paperbag itu sesaat, lalu meraihnya. Ia tersenyum, "Terima kasih, ya--"
"Rose, namanya Rose, sunbae." Celetuk perempuan di sebelahnya. Perempuan itu nampak lebih aktraktif dibandingkan Rose, terlihat dari cara bicaranya, "Dia ingin mengajak sunbae minum teh di kedai--"
"Yya, jangan membuatku malu!" Rose berbisik kepada teman disebelahnya.
Melihat hal itu Myungsoo hanya bisa menggaruk tengkuknya bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, well meskipun ini bukan ajakan pertama untuknya. Sudah beberapa perempuan yang mengajaknya untuk keluar bersama, namun berakhir dengan berbagai alasan klise yang berujung penolakan.
"Waeyo?" Si teman Rose nampak kesal karena Rose menyikutnya pelan tadi, kemudian dengan senyuman lebarnya ia menatap Myungsoo kembali, "Apakah sunbae bisa?"
"Er," Myungsoo tersenyum tak enak, matanya tanpa sengaja melirik ke sisi kiri dan mendapati Suzy yang sedang berdiri menatapnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tidak ada yang salah dari tatapan Suzy, hanya saja ketika senyuman di bibir perempuan itu terbit, Myungsoo langsung mengambil keputusannya. Ia menatap kembali kepada dua perempuan yang berdiri menunggu jawabannya itu dengan raut menyesal, "Maaf, aku harus segera pergi. Tapi, terima kasih hadiahnya." Ucapnya sambil mengayunkan paperbag di tangannya itu. Setelah tersenyum, Myungsoo lantas pergi menuju mobilnya.
Kedua perempuan itu menatap kepergian Myungsoo dengan bahu merosot, "Apa gadis itu kekasihnya?"
"Bukan, dia sahabatnya." Gumam Rose dengan raut sedihnya.
***
Suara merdu milik Taeyeon sedang mengalun damai melingkupi mobil itu. Myungsoo sibuk memerhatikan jalanan Seoul yang lumayan padat sore ini. Melalui kaca spion, Myungsoo menatap Suzy yang sejak tadi tak bersuara, "Kenapa cemberut? Mrs. Shim mengomelimu lagi karena memakai rok di kelasnya?" Tebak Myungsoo.
"Ha?" Suzy menoleh, tetapi kemudian ia menggeleng, "Tidak. Perempuan tua itu mungkin sudah sadar akan trend fashion sehingga berhenti memarahi kami berdua."
Kami berdua yang dimaksud Suzy adalah Soojung dan perempuan itu sendiri. Keduanya adalah maniak rok, dan larangan memakai rok ke salah satu kelas itu sama saja menekan hak asasi manusia. Tentu saja mereka tidak menyukai hal itu, karena--lagi-lagi-- menurut mereka berdua memakai celana ataupun rok itu sama saja, yang terpenting adalah keinginan tulus untuk belajar. Sehingga, mungkin apa yang dikatakan Suzy kali ini bisa di benarkan, bahwa Mrs. Shim sudah tidak ingin mengopeni kedua mahasiswinya itu.
"Aku heran, apa fungsinya mengambil mata kuliah ini? Maksudku, kenapa juga pada mata kuliah ini perempuan dan laki-laki harus di pisah?" Pikir Suzy.
"Bukankah sudah dijelaskan pada awal pertemuan?" Myungsoo menaikkan alisnya.
Sambil mendesah, Suzy kembali menyandarkan tubuhnya pada badan jok, "Aku hanya tidak habis pikir. Kelasku begitu penuh dengan suara-suara perempuan menjengkelkan, Myungsoo. Oh my god, mataku tidak di berkati selama empat jam!"
"Kau berlebihan sekali..."
Mendengar dirinya dikatai lebay, Suzy langsung protes kesal, "Yya, kau..." Suzy mendesah, mengurungkan niatnya untuk mencabik mulut Myungsoo yang sedang menyetir itu. Kemudian tubuhnya menoleh kebelakang, menatap dua paperbag yang tergeletak di jok belakang itu dengan penasaran. Suzy mengambil kedua-duanya sekaligus, "Dari anak-anak tadi?"
"Mm," Myungsoo mengangguk.
Dengan cekatan, Suzy langsung membuka kedua paperbag itu secara bergantian, matanya berbinar-binar kala melihat apa yang ada dari dalam paperbag itu.
Coklat!
"Wah, enak sekali jadi dirimu, selalu mendapatkan coklat-coklat dengan kualitas bintang lima." Suzy mencebikkan bibir kesal.
Mantan-mantan kekasihnya dulu hanya tahu cara memberikan boneka dan bunga saja, tidak pernah seorang pun dari mereka membelikannya coklat. Satupun.
Satupun kecuali pria yang sedang menyetir di sebelahnya ini. Tapi, Myungsoo bukan bagian dari mantan-mantannya karena pria itu berbeda dari mereka semua. Dengan ekspresi sedihnya, Suzy lantas memasukkan kembali coklat-coklat itu ke dalam paperbag.
"Ambil untukmu saja."
"Jinjaa?" Raut wajah semringah langsung hadir menggantikan ekspresi sedih Suzy beberapa detik yang lalu.
Myungsoo mengangguk dengan senyuman kecil.
Kemudian, tanpa aba-aba sebelumnya, tubuh Suzy lantas mencondong kearah Myungsoo yang sedang menyetir dan menciumnya tepat di pipi dan hampir menyentuh bibir Myungsoo, membuat Myungsoo langsung mengeremkan mobilnya secara mendadak.
"Aih, kau kenapa?!" Suzy berseru kencang ketika kepalanya hampir terbentur dashboard kalau saja pengendalian dirinya tidak cepat. Kedua matanya menatap Myungsoo dengan jengkel, "Kim Myungsoo, aku hampir saja--"
"Jangan mencium pria sembarangan, Suzy!"
"Kau kan bukan 'pria sembarangan'..." Jawab Suzy setengah malas. Keningnya masih berkerut kesal karena kejadian barusan.
Myungsoo menghela napasnya, jantungnya masih berdetak kencang akibat ciuman Suzy barusan. Meskipun ini bukan pertama kalinya Suzy menciumnya, namun yang kemarin-kemarin adalah sebuah kecupan di sekitar pipi, tidak seperti hari ini. Tidak seperti sekarang.
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Myungsoo lalu kembali menginjak pedal gasnya dan membawa mobilnya kembali menyusuri jalan raya.
***
Thu 3/14/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co