Truyen3h.Co

Feudatory

35-selesai

authoriya

"I remember once how I told you I didn't believe in soulmates. I will never forget your reaction; Shocked and a little hurt that I didn't think we were. But, as time went by, your love made me believe"

***

"Aku dan Ibumu sepakat untuk datang bersama kesini karena mendengar kau akan menikah seminggu lagi. Bagaimana bisa?" Suara pertama yang didengar Suzy sejak tiga menit terlewatkan begitu saja.

"Siapa yang memberitahu kalian soal ini?"

"Siapa orang yang tidak tahu?" Suara Ibu Suzy menyela, menatap anaknya yang duduk di depannya, lengkap dengan pakaian santai berwarna merah muda. Sedangkan, seorang anak kecil yang ia ketahui adalah anak dari teman putrinya tersebut, nampak menyenderkan kepala pada sofa yang sama dengan yang di duduki Suzy, sedang memainkan mainannya dengan senang. "Namamu menjadi pembahasan di majalah bisnis di Jepang dan Korea. Dan aku yakin di seluruh negara bagian Asia."

Suzy mengumpat. Ketika Myungsoo mengatakan akan merahasiakan pernikahan mereka sesuai keinginannya, Suzy seharusnya lebih teliti lagi karena tidak mungkin mereka bisa merahasiakan hal itu. Fakta bahwa mereka berdua adalah orang yang sama-sama tersohor karena warisan perusahaan keluarga yang sudah memiliku cabang dimana-mana itu tidak akan bisa disembunyikan. Segalanya, apapun, pasti akan tercium dalam media.

"Lani, bagaimana kalau Lani main boneka di kamar saja? Mommy ingin bicara dengan nenek dan kakek sebentar." Suzy mengusap puncak kepala gadis kecil itu, berbicara dengan nada lembut, jauh berbeda dengan apa yang dilakukannya kepada kedua orangtua nya.

Lani mengangguk sambil tersenyum. Kakinya bergerak turun menyentuh lantai. Mata bundar itu menatap Ayah dan Ibu Suzy dengan dahi berkerut sedikit, "Grandma, Grandpa... Jangan membuat Mommy sedih, ya? Lani selalu melihat mommy bersedih tiap kali membicarakan nama grandma dan grandpa..." Kemudian, gadis kecil itu berlari menuju kamar Suzy.

Ibu sedikit terkejut, tidak menyangka akan di begitukan oleh seorang anak kecil. Ditatapnya Lani hingga menghilang dibalik daun pintu coklat itu, lalu kembali memusatkan pandangannya kepada sang anak, "Bagaimana bisa anak kecil yang tidak memiliki Ibu berani menyuruh-nyuruhku." Ibu terkekeh sinis.

"Eomma!"

"Kau seharusnya tak usah ikut campur. Lihat saja, anak tanpa orang tua begitu ketika masih kecil sudah berani berbicara seperti itu kepada yang lebih--"

"Dan kau sendiri berpikir kalau kau sudah baik membesarkanku selama ini?" Suzy menyela. Menatap Ibunya dengan pandangan sinis kentara, "Apa Ibu dan Ayah yakin kalau kalian sudah benar-benar menjadi orang tua yang baik?"

"Suzy!" Ayah menaikkan suaranya.

Masih dengan kekehan sinisnya, Suzy melirik Ayahnya dengan pandangan yang sama ketika ia melirik Ibunya. "Dengar, aku bahkan merasa tidak memiliki orangtua disaat aku memilikinya. Jadi, apa bedanya? Kalian hanya mementingkan ego. Berteriak, pura-pura baik-baik saja, menyupply uang sebanyak mungkin padahal aku tidak membutuhkan uang-uang itu." Suzy menarik napasnya, urat-uratnya tegang, matanya berair namun sebisa mungkin tidak akan ia biarkan satu tetespun air matanya turun, "Aku hanya menginginkan keluarga yang utuh. Yang saling menanyakan kabar, yang bisa diajak bicara."

"Tapi kami melakukannya demi kau, nak."

Suzy tersenyum miring, "Itulah kalimat yang dikatakan oleh orangtua seperti kalian," Memejamkan matanya sesaat, suzy kemudian membuang napasnya lamat-lamat, "Aku akan menikah dengan Myungsoo. Kalian tidak perlu repot untuk hadir."

"Bagaimana bisa kau menikah tanpa berdiskusi dengan kami terlebih dahulu?" Ibu mengernyitkan dahi. Kedua tangannya yang memegang tas jinjing hitam itu mengencang, "Aku dan Ayahmu begitu malu ketika mengetahui hal ini malah dari majalah bisnis. Aigoo..."

"Memang kalian berdiskusi dulu denganku ketika kalian memutuskan untuk berpisah?"

"Itu adalah hal yang berbeda, Nak," Ibu mengerutkan hidungnya, "Tapi kalau soal ini, kau adalah anak kami satu-satunya. Dan ini adalah sebuah hal penting."

"Kalian adalah orang tuaku, dan perceraian juga merupakan hal yang penting. Kalau saja kalian memang benar-benar menganggapku anak, maka sebelum melepaskan ego kalian pasti akan berbicara denganku dulu," Suzy bangkit. Pembicaraan ini sepenuhnya menyakitinya, membuat hatinya mengilu, dan Suzy sama sekali tidak menyukainya. Satu tangannya meraih ponsel miliknya dari atas meja, lalu bersuara dingin. "Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, sebaiknya kalian pulang. Aku akan menelpon Gin untuk mengantarkan kalian ke Bandara."

***

Sands Grand Ballroom yang di penuhi dengan kursi dilapisi kain berwarna coffee, yang juga memiliki kemiripan warna dengan kain pembungkus mejanya. Tersusun rapih dengan satu meja yang dilingkari 4 kursi, berikut dengan cutlery set yang terhidang rapih diatas meja itu. Melengkapinya, lampu temaram berwarna putih hangat nampak menerangi ballroom terbesar se-Asia Tenggara itu. Bangku-bangku yang kini sudah terisi penuh oleh para tamu undangan yang kini semua pasang mata itu tertuju pada tangga bagian belakang dengan lighting menyala, menyinari sesosok perempuan dengan balutan gaun berwarna putih dengan bahu off-shoulder.

Bisikan kagum kepada setiap pasang mata yang melihat itu, membuat sang make up artist mengharu di kursinya kini. Felicia memandang klien tercantiknya bersamaan dengan para undangan--degup jantung yang tak bisa dijelaskan ketika melihat tungkai berbalut stiletto itu mulai menuruni tangga, sedangkan senyuman tak lepas dari wajah si mempelai perempuan. Berjalan dengan dituntun oleh Soojung dan diiringi lagu 'Beautiful In White' oleh Westlife, dada Suzy rasanya ingin meledak sekarang.

"Semua orang sedang memujimu dalam hati mereka, aku yakin itu." Bisik Soojung.

Suzy tersenyum, tak membalas ucapan Soojung karena seluruh mata yang kini sedang memerhatikannya itu, tidak mungkin tidak menyadari kalau ia malah mengobrol. Keduanya berjalan, melangkah menuruni undakan tangga dengan tenang. Sedangkan Myungsoo, menunggu di tangga bagian bawah, dadanya tak kalah bergemuruh dengan Suzy. Kedua pandangan Myungsoo tak bisa terlepas dari perempuan itu, yang nampak 1000 persen bertambah cantik dari dua jam yang lalu.

Oh tuhan, she is mine! Batin Myungsoo

Tangan kanan Myungsoo terulur, menyambut Suzy dengan senyuman mengembang di wajahnya.

"Terima kasih telah mengantarkan pengantinku." Ucapnya kepada Soojung.

Soojung membalasnya dengan senyuman, kemudian melipir pergi sedangkan Myungsoo menatap penuh cinta kepada Suzy,

"You look so beautiful, i'm so lucky." Bisiknya pelan. Membuat tidak hanya wajah Suzy saja yang memerah, tetapi hampir seluruh wajah perempuan tamu undangan disana.

Myungsoo lantas membawa Suzy berjalan mengiringi karpet merah menuju altar.

Soojung mengusap ujung matanya mengunakan punggung tangan ketika janji suci pernikahan telah di ucapkan. Berteman dengan Suzy dan berbagi untuk hampir setiap cerita hidup membuat kedua perempuan itu saling paham apa yang terjadi. Makanya, ketika akhirnya sahabat perempuannya itu mau menikah, Soojung tidak bisa untuk tidak menyembunyikan rasa haru nya. Disebelahnya, Minhyuk dengan jas biru dongkernya nampak merangkul dan mengusap sayang bahu sang istri. "Kau bahkan tidak menangis ketika aku melamarmu. Aku tersakiti, yeobo." Bisiknya.

Soojung menyikut pelan tulang perut Minhyuk, "Yya, jangan cari masalah. Aku sedang terlibat dengan suasana penuh emosi ini."

"Maafkan, aku hanya becanda." Bisik Minhyuk sambil mencium sebelah pipi Soojung.

***



Suzy bergerak secara kepayahan sambil memegangi gaun yang semalaman ini di kenakannya. Kakinya sudah pegal karena memakai hak tinggi berjam-jam, sedangkan pipinya seolah mati rasa karena di paksa untuk terus menyunggingkan senyum ramah artifisial. Plus, karena Myungsoo yang sedikit iman itu yang terus saja menciuminya setiap lima menit sekali. Heol!

"Yya, bantu aku mengangkat gaun sialan ini!" Suzy menggerutu kesal melihat Myungsoo yang berjalan tanpa dosa didepannya, sedangkan ia dengan kesusahan mengangkat gaun itu masuk kedalam salah Presidential Suite di hotel yang sama.

Myungsoo menekan kode pada pintu dan membukanya dua-dua. Kemudian, menunduk cepat dan membukakan heels bertali sulit yang melingkar sampai betis kaki Suzy. Sedikit tersentak, Suzy menunduk, membiarkan Myungsoo membukakan heelsnya.

"Aku ingin melepaskan heelsmu sejak tadi, tapi kau pasti marah karena tidak  tampil paripurna di depan para wartawan itu. Padahal, bahkan ujung dari sepatumu saja tidak terlihat karena tertutup gaun yang kau kenakan ini," Myungsoo berkata setelah kembali berdiri dengan menyingsingkan kedua stiletto Suzy ke rak yang telah disiapkan. Myungsoo lantas berjalan kebelakang Suzy dan mengangkat ekor gaun itu, "Ayo, aku sudah tidak sabar." Bisik Myungsoo tepat di telinga Suzy.

"Apa maksud--" kalimat Suzy semakin berhenti ketika menyadari apa maksud dari ucapan Myungsoo padanya. "Dasar mesum! Aku tidak mau malam ini!"

"Waeyo?"

"Aku lelah, Myungsoo." Suzy memiringkan kepala, "Setelah aku menyetujui untuk menikah denganmu, selanjutnya kau yang harus menyetujui ucapanku. Paham?"

"Yya, kau tidak bisa seperti itu, Suzy..." Myungsoo maju satu langkah, mendekatkan kepalanya dengan perempuan itu dengan pandangan nanar. "Mana bisa kau--"

"Kau bilang aku hanya perlu membutuhkanmu..."

"Tapi--"

"Aku bisa membuat pengaduan ke perlindungan wanita karena kau memaksaku padahal aku---"

"Arraso," Myungsoo menghela napas, menyela, "Kita bisa melakukannya nanti ketika kau sudah tidak lelah lagi."

Ucapan Myungsoo lantas membuat Suzy tersenyum dalam hatinya. See, dia akan selalu mengalah padaku, bukan?

***

Suzy terbangun dari tidur lelapnya karena suara ponselnya yang terus-terusan berdering di atas meja rias kamar hotel tersebut. Sinar matahari pagi mulai terlihat melalui gorden putih tipis yang melapisi jendela kamar itu tanpa malu-malu. Hendak membawa tubuhnya bangkit, Suzy malah merasakan sebuah lengan kokoh yang melingkari perutnya semakin mengencang, menariknya mendekat dengan si pemilik lengan. Keningnya mengernyit, dada-nya berdegup.

Siapa yang tidur diatas ranjangnya?! Oh my--

"Ini masih terlalu pagi untuk beranjak dari ranjang." Gumaman serak terdengar. Suzy mengenali kalau itu adalah suara milik Myungsoo.

Omona! Suzy bahkan lupa kalau dia sudah menikah sekarang. Dan, pagi ini... Well, ini bukan pagi pertamanya bersama Myungsoo--karena dulu ia sering menginap di apartemen Myungsoo dan karena beberapa kejadian belakangan ini yang--ugh, Lupakan! Suzy menggeleng pelan.

Tangannya mulai mencari lengan yang melingkar disekitar perutnya itu untuk melepaskannya. Namun, yang ada adalah lengan itu semakin menariknya kebelakang. Lalu, membawa Suzy berbalik menghadap kearahnya, mengencangkan pelukan dan menelusupkan kepadanya diantara lengkungan leher perempuan itu. "Aku rela bangkrut jika sepanjang hari bersamamu disini, Suzy."

"Dan aku akan membuangmu kalau kau sampai bangkrut." Suzy memutar bola matanya. Hell no, mau jadi apa jika punya suami miskin? Christian Loubotin, Gucci, Louis Vuitton, Victoria's Secret, Prada,Alexandre McQueen, Chanel, bahkan Christian Dior hanya ada dalam khayalannya saja.

"Dasar perempuanku yang realistis." Myungsoo terkekeh pelan.

"Karena itu, sana bangun dan bersiap!"

"Give me a morning kiss, first..."

Suzy berdecak, namun tak urung menuruti permintaan itu.

Dan seperti kata orang; one kiss can leads to another...

Melanjutkan apa yang sempat tertunda, menyelesaikan apa yang semestinya dilakukan. Membuat pagi di Singapore ini terasa berbeda dari pagi lainnya karena pagi ini tidak hanya status dan hati yang diserahkan Suzy kepada Myungsoo. Tetapi, keseluruhan dirinya.

Kehidupan yang baru akan dimulai, guncangan mungkin akan datang dan mencoba mengganggu cinta mereka berdua seperti sebelumnya. Namun, selama mereka memiliki mereka, rasanya semua tak akan menjadi masalah. Karena kata orang; True love is not about something you fall in, but grow in.

Selesai.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co