34
Singapore
"Lani mau ikut Mommy saja! Shireo!" Lani mengeratkan pelukannya di pinggang Suzy. Wajahnya yang bersimbah air mata sungguh mengasihani siapa saja yang melihat.
"Katanya, Lani ingin bertemu dengan Kakek dan Nenek?" Jungkook berlutut. Menyejajarkan posisi dengan gadis kecil itu.
"Nenek Song-yi dan Kakek Kim kan sudah meninggal. Lani ingin di Singapore bersama Mommy Suzy, Gin, Mari, dan kakak-kakak di rumah Gin saja. Ayah, uh, uh?" Gin terisak, kepalanya mendongak menatap Jungkook yang berada di sebelahnya.
Lima menit yang lalu, Jungkook mengatakan kepada putri kecilnya kalau Jungkook akan mengajak Lani bertemu dengan kedua orang tua pria itu, yang adalah merupakan kakek-nenek Lani. Namun, dugaan Jungkook meleset jauh, ia mengira kalau Lani akan langsung mengiyakan ajakannya, ternyata dia malah menangis kejer seperti sekarang ini. Jungkook menarik napas, melirik tiga orang lainnya yang juga berada disana. Ia tidak mengerti apa yang harus diperbuatnya kembali supaya Lani mau ikut dengannya. Well, walaupun sebenarnya ini memang kesalahan Jungkook sejak awal.
"Mommy janji, nanti jika sudah waktunya, maka Mommy dan paman tampan Lani akan mengunjungi Lani di Rusia, uh?" Suzy menakupkan kedua pipi Lani, "Di Rusia, akan ada Kakek dan Nenek Lani yang merupakan orangtua Ayah Jungkook disana, apa Lani tidak mau bertemu dengan mereka?"
Lani menggelengkan kepala. "Lani ingin disini saja... Kalau disana, Jungkook tidak punya Mommy. Tapi kalau disini, Lani memiliki Gin, dan paman tampan sekarang."
Suzy mendesah, membawa Lani kedalam pelukannya. Tidak menyangka jika gadis kecil ini bisa sedekat itu dengannya, memilih ikut dengan dirinya dibandingkan Ayahnya sendiri. Tangannya mengelus puncak kepala Lani dengan lembut, sementara ia mengarahkan pandangannya kepada Myungsoo. Melemparkan suatu isyarat kalbu yang hanya dapat diartikan oleh kedua orang itu saja.
Myungsoo tentu saja akan menolak tegas kalau saja Suzy tidak melemparkan tatapan seperti sekarang. Wajah yang di pasang polos, sendu, dan tak berdaya. Sialan, mengapa Suzy jadi semakin menggodanya?
Myungsoo mendesah, berdiri dari tempatnya, kemudian mengambil tempat di sebelah Suzy. Kedua tangannya terulur menarik Lani agar berpindah ke dalam pangkuannya. Mengusap wajah imut yang kini penuh dengan air mata itu pelan, lalu mengecup puncak kepala gadis kecil itu.
"Kalau kau bersedia, setelah kami menikah," Myungsoo mengarahkan pandangan kepada Jungkook, sedangkan satu tangannya mengambil kelima jemari Suzy yang berada di atas paha perempuan itu dan menggenggamnya, "Aku ingin meminta izin supaya bisa mengasuh Lani."
"Tapi aku ingin Lani bertemu orang tuaku... Aku ingin mengakui Lani ke dunia."
"Aku tidak bilang untuk mengambil Lani darimu. Kau boleh membawanya kepada orang tuamu, tapi izinkan Lani tumbuh berkembang bersama Suzy dan aku. Bagaimana?"
"Lani ingin sama-sama Mommy... Ayah? Lani tidak mau tinggal di Rusia..."
Jungkook mengela napas, lalu berdiri. Dia sama sekali tidak marah, hanya saja memang semua ini kesalahannya karena tidak menjaga Lani sejak kecil. Membiarkan anaknya hidup bersama orang lain, hingga akhirnya malah merasa nyaman dengan mereka dibandingkan dengan Ayahnya sendiri. Dirinya.
"Tapi, Lani ikut Ayah selama satu minggu mengunjungi nenek dan kakek di Rusia, ya? Ayah janji, setelahnya Lani akan kembali ke Singapore lagi. Ya?" Jungkook melepaskan tatapan memohonnya kepada Lani.
"Pinky promise?" Lani mengulurkan jari kelingking kanannya kearah Jungkook.
"Ayah berjanji." Jungkook melingkarkan jemari kelingking mereka berdua.
***
Myungsoo menatap Suzy dengan punggung bersandar di dinding, sedangkan perempuan itu sedang di poles cantik oleh makeup artist keturunan Low yang terkenal disini.
"Dia pacarmu?" Tanya Felicia Low menggunakan bahasa mandarin kepada Suzy dengan kedua tangan yang tetap cekatan memoleskan lipstick nude di bibir perempuan cantik itu.
Suzy merupakan klien VIP-nya dari 7 tahun belakangan ini. Sehingga, Felicia Low berani bertanya pertanyaan pribadi seperti yang barusan tanpa canggung.
Suzy melirik Myungsoo melalui pantulan kaca cermin, "Bukan." Jawabnya menggunakan bahasa mandarin juga.
Felicia menaikkan alisnya. "Kupikir kekasihmu, Suzy. Dia sepertinya sangat menyukaimu," bisik Felicia.
"Benarkah?" Suzy menyunggingkan sudut bibirnya.
"Mm, aku bisa melihat dari tatapannya yang seolah menjelaskan kalau pria itu rela melakukan apa saja demi kau. Oh my god, dia mengingatkanku dengan suamiku dulu."
"Dia adalah calon suamiku, Felicia. Kau bisa menyapanya nanti."
Kedua alis Myungsoo terangkat ketika melihat Suzy yang terus melemparkan pandangan kepadanya, lalu kembali berbicara mandarin dengan perempuan yang merias wajah Suzy itu. Tidak salah lagi, kedua perempuan itu pasti sedang membicarakannya, batin Myungsoo.
"Serius?" Felicia berteriak histeris, tangannya berhenti menata bagian rambut Suzy, kepalanya menoleh kebelakang, menatap Myungsoo secara langsung. Lalu, kembali kepada Suzy lagi. "Astaga! Selamat, Suzy. Aku sangat menantikan berita ini sejak dulu!"
"Terima kasih, Felicia." Suzy tersenyum.
Felicia membalas tersenyum. Perempuan dengan rambut di cepol asal serta bandana merah muda yang melingkar di kepala nya itu kembali memerhatikan klien nya melalui pantulan cermin. Tubuhnya menunduk, mensejajarkan kepalanya dengan kepala milik Suzy, "Dari semua klien-ku di Singapore, kau yang paling mudah kutangani karena kau memang sudah cantik pada dasarnya." Felicia berkata jujur.
"Semoga acaramu berjalan lancar, ya." Felicia menepuk pundak Suzy kemudian pamit. Tubuh sintal itu berbalik, ketika bersinggungan dengan Myungsoo, Felicia berbisik, "You are so lucky to have her."
Myungsoo tersenyum. Mengantar Felicia sampai ke depan pintu Apartemen Suzy, setelah Felicia hilang di balik pintu itu, Myungsoo segera melangkah menuju kamar Suzy kembali dan mendapati Gaun sutra berwarna biru dongker sudah membalut sempurna dan pas dibagian tubuh Suzy.
"Melihatmu menatapku begitu, aku tidak salah ketika membayar gaun ini mahal-mahal." Suzy tersenyum bangga sambil melihat tatapan Myungsoo yang tak terbaca. Tangannya sibuk memasangkan anting diamond-nya.
Membawa kakinya melangkah mendekati Suzy dengan tatapan penuh cintanya, Myungsoo melangkah lebar-lebar. Kemudian, keduan tangannya mendorong Suzy hingga menyentuh kayu mahoni lemari berukiran burung flamingo besar.
Myungsoo menarik pinggul Suzy mendekat. Tatapan pasrah karena sudah ditaklukan oleh Dewi Afrodit di depannya ini tak ditutup-tutupinya. Pupil mata Myungsoo menggelap, dan Suzy tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
"Jangan berpikir untuk menciumku dan merusak make-up ku." Suzy mengancam tepat disaat jarak antara bibirnya dan bibir pria itu tiga senti lagi.
"Kenapa kau memakai gaun berpotongan rendah begini?" Myungsoo mengusap punggung Suzy yang terbuka, memberikan gelenyar aneh hingga membuat perempuan itu menggigil.
"Yya, buang pikiran kotormu, kita harus berada di The Ritz-Carlton 1 jam lagi."
"Aku hanya ingin menciummu tanpa merusak make up mu," bisik Myungsoo. Tangannya meraih remot AC yang tergeletak di sebelah lemari besar itu, lalu menaikan suhu dinginnya. Myungsoo kembali mencium Suzy.
"Yya, jangan memesumiku. Aku--" Suzy menggigit bibir bawahnya ketika Myungsoo membawa bibir panas itu menyusuri leher bagian belakangnya. "Gaunku terbuka, kau bisa membuatku masuk di laman gosip bukan karena launching produk baruku, tapi karena ulahmu, Myungsoo."
"Itu tujuanku supaya kau mengganti bajumu. Pakai pakaian yang tertutup, aku tidak ingin ada pria yang berpikiran kotor ketika melihatmu." Myungsoo menyusuri garis leher dan bahu Suzy. Mengigitnya pelan hingga membuat Suzy bersuara merintih.
"Aku memesan gaun ini langsung dari Roma. Sekarang hentikan perbuatanmu sebelum kau merusak riasanku, Myungsoo," ucap Suzy memegang ujung jas Myungsoo dengan erat.
"Ganti pakaianmu." ucap Myungsoo. Lalu, Myungsoo berbisik, "Atau aku--"
"Arraso, aku akan mengganti pakaianku."
Myungsoo menyeringai. Mendorong tubuhnya mundur ke belakang, "Aku mencintaimu." Ucapnya sambil mengusap pelan pipi Suzy, lalu membawa tubuhnya berbalik dan berjalan keluar.
***
Seoul
Myungsoo terus melingkarkan tangannya pada pinggang Suzy, membuat perempuan itu selayaknya seperti kembar siam dengannya. Berjalan berhimpit, membawa Suzy kepada kolega-kolega yang juga datang ke acara pernikahan Soojung dan Minhyuk. Dan, beberapa adalah teman di kampus mereka dulu.
"Kau tidak perlu melakukan ini padaku," Suzy mendesah, melirik rangkulan tangan Myungsoo di pinggangnya dengan sebal. Heels setinggi 9cm dengan ujung runcing membuatnya harus bersusah payah menjaga keseimbangan tiap kali Myungsoo dengan langkah lebarnya berjalan mengajaknya dari satu tempat, ke tempat lain.
"Aku perlu. Kau lihat tatapan orang-orang itu, aku tidak menyukainya." Ucap Myungsoo dingin sambil menatap pria muda dan pria tua yang mencuri pandang kearah Suzy. "Kau punyaku."
"Kau janji untuk menjaga rahasia ini, aku tidak mau kau menjadi bahan gosip orang karena bersamaku, padahal kau baru saja berduka."
"Aku tidak peduli, Suzy," Myungsoo menunduk menatap Suzy, "yang terpenting adalah aku bersamamu."
Suzy tersenyum kecil. Apa ini... bahkan perkataan remeh yang sering dikatakan mantan-mantannya dulu, menjadi menyenangkan untuk di dengar ketika Myungsoo yang mengatakannya, uh?
"Suzy!" Soojung melambaikan tangan dengan histeris ketika kedua matanya menemukan keberadaan Suzy di pestanya. Ketika yang di sapa itu menoleh, Soojung dengan gerakan atraktif memanggil Suzy untuk segera menghampirinya.
Suzy memutar bola mata, "Well, Soojung is calling. Ayo," ajaknya kepada Myungsoo.
"Lady in red. Kau seksi sekali memakai baju merah ini, oh ya ampun!" Soojung berseru untuk memuji sahabatnya dengan tulus, "Bibirku pegal sekali harus senyum sejak tadi. Oh my god!"
"Pantas saja bodyguard-mu tidak melepaskan tangannya darimu. Dia takut kau ditikam orang lain." Minhyuk menyeringai melirik Myungsoo.
"Dia memang kekanak-kanakan."
"Aku hanya berjaga-jaga." Myungsoo membela diri.
"Ya, tentu--"
"Omo! Kim Myungsoo?" Satu suara dari belakang mereka membuat kedua orang itu menoleh, sedangkan Soojung dan Minhyuk segera melongokan kepala mereka ke depan.
Suzy menatap perempuan bergaun biru muda itu dengan bingung, sedangkan yang kemudian dirasanya adalah tangan Myungsoo yang terlepas dari pinggangnya ketika pria itu menyapa si perempuan berbaju biru.
"Seulgi?" Myungsoo menyapa perempuan itu. Lalu menjulurkan tangannya, "Apa kabar? Aku tidak pernah melihatmu berlibur ke tempat Minhyuk lagi."
Perempuan bernama Seulgi itu mengedikkan bahu, "Aku sedang sibuk dengan Modelingku. Kau apa kabar? Apa pesanku masuk? Kau tidak pernah membalasnya," Seulgi mengerutkan kening, "Aku mendengar beritanya. Aku turut berbela sungkawa ya, Myungsoo..."
Myungsoo berdeham, melirik Suzy yang kini menaikkan kedua alisnya ketika telinganya mendengar kata-kata aneh semacam 'msmbalas pesan' , lantas meringis, "Aku sibuk. Omong-omong, terima kasih." Lanjut Myungsoo.
Suzy berdecih malas, membawa pandangannya kepada Soojung untuk meminta penjelasan lebih rinci soal perempuan bernama Seulgi ini.
"Sepupu Minhyuk. Dia beberapa kali ke Korea untuk liburan." Bisik Soojung.
Kedua mata Seulgi memandang Suzy dari atas hingga ke bawah. Mengulangi. Membuat Suzy berdecak kesal. Baru juga dia ingin bersuara, Myungsoo telah kembali melingkarkan tangan pria itu pada pinggangnya dan bersuara, "Dia Suzy. Calon istriku."
Suzy baru akan tersenyum mengejek, ketika yang dilihat bukannya tatapan terkejut atau semacamnya--seperti tatapan seorang pengagum yang dihempaskan--malah tatapan dengan senyuman lebar, "Jadi ini dia?"
Suzy mengerutkan dahi. Perempuan ini mengenalnya?
"Ya, ini dia."
"Wah, aku tidak menyangka kehilangan membawa berkat untukmu. Selamat!"
Seulgi maju dan tiba-tiba memeluk Myungsoo dengan erat, membuat kedua mata Suzy membeliak tak percaya. Ditatapnya perempuan itu dengan pandangan kesalnya. Ia kemudian melepaskan rangkulan Myungsoo di pinggangnya dengan cara menyentak kasar, lalu memelototi pria itu dengan sebal.
***
"Dia sepupu Minhyuk." Myungsoo mendesah lagi. Memandang Suzy yang tetap diam, bahkan ketika mereka telah sampai di apartemen Myungsoo.
Suzy mengabaikan, memilih mencari tempat duduk di sofa dan menghidupkan tv LED yang menggantung di dinding dengan remot yang diambilnya dari atas meja sofa. menaikkan satu kakinya menumpu ke kaki lainnya, suzy mulai melakukan channel surfing.
"Jangan dekat-dekat denganku," Suzy menggeser tubuhnya menjauh ketika Myungsoo mengambil posisi di dekatnya."Aku jijik sama masz, aku jijik!"
||EM, SALAH DIALOG YA||
Diulangi...
"Jangan dekat-dekat denganku!" Suzy menggeser tubuhnya menjauh ketika Myungsoo mengambil posisi di dekatnya. Keningnya berkerut memandangi layar televisi tanpa benar-benar memusatkan fokusnya kesana.
"Seulgi juga sudah memiliki pacar di London sana."
"Tidak bertanya."
"Aku memberitahu, kupikir kau butuh untuk tahu," Myungsoo menggenggam kedua tangan Suzy, "Hei, dengar, aku mana mungkin tergoda perempuan lain disaat hati dan jantungku hanya berdetak padamu, Suzy."
"Kau memeluknya!" Suzy memandang Myungsoo dengan kesal.
"Dia yang memelukku."
"Dan kau bisa melepaskannya. Tapi kau malah menikmatinya."
"Aku tidak menikmatinya, Suzy," Myungsoo mengelus pipi perempuan itu pelan, lalu tersenyum saat menyadari sesuatu, "Apa kau sedang cemburu sekarang?"
Perkataan itu sontak membuat Suzy tercenung lama.
Apakah benar bahwa dia sedang cemburu? Dan, apakah cemburu itu seperti ini?
***
Tue, 04/06/19
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co