Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

14

authoriya



            INI pasti akal-akalan Yeom Ah saja!

Suzy menarik napas, menahan pikirannya agar tetap positive thinking dan tidak terlalu kesal. Baiklah, sepertinya kata kesal tidak cocok di sini karena memang sebenarnya Suzy sama sekali tidak keberatan kalau Ella dititipkan padanya. Iya, dia tidak keberatan jika Yeom Ah bahkan menyelesaikan acara makan siang mereka secara mendadak dan mengatakan kalau ia ada arisan hari ini. Acara arisan bulanan yang Suzy tahu bahwa itu pasti merupakan acara pamer kekayaan. Acara itu dimulai pukul tiga sore, dan Yeom Ah sangat amat lupa. Alhasil, Yeom Ah meminta tolong—lebih ke arah memaksa—agar Ella bersama Suzy. Karena Ella masih kecil, dan Suzy yakin kalau anak itu pasti bosan sebosan-bosannya jika ikut, akhirnya Suzy menyetujui.

Tapi...ini sudah pukul berapa coba?

Suzy mendesah. Langkahnya berhenti dan menoleh ke arah jam dinding yang menggantung tepat di atas rak TV.

Pukul 8.50 malam.

Ella sudah tidur di dalam kamar Suzy sejak sekitar tiga puluh menit yang lalu—setelah selesai menghabiskan segelas susu dan kelelahan menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang super banyak. Gadis kecil itu jelas suka sekali bicara seperti neneknya. No debat.

Wanita dengan gaun tidur satin bermotif floral itu mengambil ponselnya, membuka pesan yang belum juga dibaca oleh Myungsoo. Perasaannya langsung campur aduk, mengira-ngira apakah ia membuat kesalahan pada laki-laki itu atau bagaimana, kenapa Myungsoo tidak juga membalas pesannya. Bukan hanya yang ini, bahkan pesannya satu minggu yang lalu pun!

Ini parah sekali sih... Suzy kesal. setidaknya, kalau laki-laki itu marah atau sudah tidak mau menemuinya, dia masih mau membalas karena ini kan menyangkut anaknya. Atau... kenapa dia tidak menyuruh orang kepercayaannya untuk menjemput Ella ke sini. Kasihan sekali, gadis kecil itu bahkan masih mengenakan pakaian tadi siang. Kalau tahu akan lama seperti ini, Suzy kan pasti akan membelikan gadis kecil itu pakaian ganti...

Suzy menggigit bibir bawahnya, berpikir untuk menelepon Myungsoo—atau Yeom Ah saja ya? iya, jika pesannya saja tidak dibalas, panggilan teleponnya otomatis tidak akan diangkat. Kalau seperti itu, menghubungi nenek Ella adalah hal yang paling benar. Wanita itu kemudian membuka log panggilannya dan menemukan nomor teratas yang tadi menghubunginya, ntah dari mana Yeom Ah bisa mendapatkan nomor ponselnya. Tapi, mengingat seberapa kaya keluarga Watermart tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan nomor ponsel orang sepertinya.

Panggilan terhubung dengan dering tutt yang memenuhi telinganya kini. Suzy menunggu dengan sabar seraya melangkah mondar-mandir dari ujung ke ujung. Dia semakin gelisah kala panggilan itu berakhir dengan suara operator dan kemudian mati. Suzy menghela napas, sekali lagi menghubungi.

"Hallo?"

"Hallo Ny. Kim." Suzy tidak bisa untuk tidak menghela napas lega saat panggilan keduanya itu diangkat dalam dering kedua.

"Suzy? Ya, ada apa?"

"Itu... Ella."

"Iya." Suara Yeom Ah terdengar mengantuk.

Jangan-jangan wanita setengah baya ini sudah tidur dan dia mengganggu. Tiba-tiba perasaan tak enak mulai melingkupi Suzy.

"Dia masih dirumahku."

"Oh... Myungsoo belum menjemput?"

Kenapa Yeom Ah sesantai ini menanggapi kalimatnya coba? Suzy mengerutkan dahi.

"Sejujurnya dia bahkan tidak membalas pesanku, Ny. Kim."

"Tadi aku sudah bilang pada asistennya kalau Ella sedang bersamamu. Mereka sepertinya memang sedang hectic hari ini. Coba kau telepon Myungsoo lagi."

Suzy mendesah. "Dia mungkin tidak akan mengangkat teleponku. Pesanku saja tidak dibalas."

"Cobalah..." ujar Yeom Ah kekeuh. Pandangan Yeom Ah nampak fokus pada patung yang berada diruang tengah rumahnya. Kemudian dia kembali berkata. "Myungsoo pasti akan mengangkat panggilanmu, Suzy. Aku akan memarahinya kalau sampai dia mengabaikanmu."

"Baiklah kalau begitu..."

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Suzy mengakhiri panggilan telepon itu. dia mencari nomor kontak Myungsoo dengan cepat, kembali mempertimbangkan akan menelepon atau tidak.

Sementara berkilo meter jauh di rumahnya, Yeom Ah sedang duduk dengan jaket bulu domba hangat yang membungkus tubuhnya. Ditatapnya lembaran-lembaran foto dari dalam amplop yang tadi diberikan oleh orang kepercayaannya, lalu membalik pada satu foto yang ia pegang. Sebuah catatan tentang kejadian yang terbidik difoto itu tampak ditulis tangan;

Jimin. Terapi pertama. 09.21 AM.

Yeom Ah kembali mengambil foto lainnya dan membalik foto itu untuk membaca catatan khususnya. Kali ini, nampak seorang wanita sedang keluar dari mobil dan masuk ke dalam Rumah Sakit.

Suzy berkunjung. 03.15  PM.

Jadi ini alasan anaknya tidak menghubungi Suzy?

Kedua mata Yeom Ah membeliak, dan langsung meletakkan foto-foto itu kembali ke dalam amplop cokelat seperti semula, kemudian dia menyembunyikannya ke dalam jaket bulu tebal yang dia pakai ketika suara bel pintu rumahnya terdengar. Seorang pelayan wanita segera melangkah untuk membukakan pintu, sementara dia langsung berdiri dan merubah sikap. Dengan kepalanya yang terus memutar otak, Yeom Ah bertekad akan membantu anak laki-lakinya untuk mendapatkan wanita cantik itu.

Menurut informannya, Myungsoo telah mengincar Suzy sudah sejak lama sekali. Kalau itu benar adanya, Yeom Ah tentu saja akan membantu Myungsoo untuk mendapatkan wanita itu. selain itu, cucu kesayangannya juga tampak sangat amat menyukai wanita itu. baiklah, kalau begitu, hal pertama yang harus dia lakukan adalah meyakinkan Ella supaya terus mendekati Suzy untuk ayahnya—tentu saja dia akan membantu melancarkan hal tersebut—sampai cita-cita mereka tercapai.

"Kau belum tidur, sayang?"

"Akhirnya pulang juga!" Yeom Ah semringah menatap suaminya. Langkahnya cepat mendekat, kemudian memeluk suaminya dengan hangat. "Aku menunggumu."

***

Suzy mengernyit jengkel ketika bel apartemennya terus-terusan berbunyi. Suara nyaring itu jelas mengganggu ketika suasana di kamarnya sudah hening sehening-heningnya.

"Eomma...siapa itu?" tanya Ella dengan menggumam antara sadar dan tidak sadar.

Suzy memaksakan matanya untuk terbuka—yang sungguh sulit karena dia sepertinya baru saja terlelap dan kini dipaksa bangun—dengan susah payah. Tubuhnya bangun sambil berpikir siapakah orang gila yang memencet bel unit orang tengah malam begini!

"Ibu cek dulu ya..."

"Mau kutemani?" tanya Ella. Suaranya serak dengan mata sedikit terbuka menatap Suzy melalui cahaya remang-remang di kamar.

Suzy menggeleng, mengelus puncak kepala Ella pelan. "Ella tidur saja."

Ella mengangguk, dan sedetik kemudian gadis kecil itu sudah kembali pulas.

Dengan langkah perlahan, Suzy berjalan keluar kamar. dia menekan layar intercom dan menemukan laki-laki yang sejak tadi sangat sulit dihubungi itu berada di depan pintu apartemennya. Woah!

"Suzy?" Myungsoo menatap ke arah intercom

"Tunggu dulu, bagaimana kau tahu unitku?"

"Dari Soojung." jawabnya.

Suzy langsung ber-oh. Dengan cepat dia membukakan pintu apartemennya dan pandangannya langsung dipenuhi wajah kusut Myungsoo. Suzy memandang sebentar, lalu mempersilakan Myungsoo untuk masuk ke dalam.

"Ella, di mana?" tanya Myungsoo setelah duduk.

Suzy tidak menjawab, memilih melangkah ke dapur untuk mengambilkan sesuatu. Tak lama, Suzy sudah masuk ke ruang tv dengan segelas cokelat hangat. "Minum dulu."

Tercenung, Myungsoo menatap mug itu dengan pandangan tak terbaca. Namun, kemudian dia menerima dan mengucapkan terima kasih. Ini benar-benar membuatnya semakin sulit dan tentu saja semakin tak enak, dia bahkan sudah mengabaikan pesan-pesannya. Tapi, Suzy tetap baik, memberikannya cokelat hangat.

"Ella sudah tidur. Di kamarku." ucap Suzy kemudian.

Myungsoo mengangguk sambil menyesap cokelat hangat itu sekali. Dia tidak menyukai yang manis-manis, tapi entah kenapa cokelat hangat buatan Suzy rasanya begitu pas dan tidak membuat mual.

"Maaf, ini jelas ide ibuku dan membuatmu jadi kerepotan."

"Aku sama sekali tidak kerepotan, Myungsoo."

Suzy berdeham, mengalihkan pandangan ketika menyadari kalau tatapan Myungsoo tak beralih sedetik pun darinya. Suzy menunduk, memainkan kuku tangannya dengan minat yang berlebih.

"Maafkan aku..."

Suzy mendongak. Kedua pasang mata itu saling mengunci. Untuk sesaat yang tak terabaikan, Suzy merasa kalau tatapan Myungsoo kini berubah sendu dan sedikit sedih. Ada sebuah pertanyaan di mata itu, namun Suzy sama sekali tidak bisa membacanya.

Alhasil, yang dilakukan Suzy hanyalah bertanya dengan suara lirih. "Untuk apa?"

"Karena aku mengabaikan pesanmu dan tidak menepati janjiku untuk menghubungimu ketika sampai di rumah."

"Alasannya?"

Myungsoo terdiam. Tatapannya semakin mengunci, membuat Suzy tak bisa berpaling. Ia mengikuti nalurinya dan menggapai tangan Suzy untuk digenggam. Kepala Suzy menunduk menatap tangan lain yang melingkupi tangannya itu, namun tidak menolak. Wanita itu kembali mendongak dan malah memberinya pandangan dengan raut kebingungan yang—entah mengapa lagi-lagi menurut Myungsoo membuat Suzy malah terlihat cantik.

"Laki-laki di Rumah Sakit itu...kekasihmu?"

Suzy bisa merasakan tangan yang menggenggamnya semakin mengerat dan itu membuatnya kembali menunduk. Pada saat itu, Suzy baru menyadari kalau ada bekas luka di telapak tangan Myungsoo.

Suzy mengelus telapak tangan itu dengan sedih, lalu bertanya. "Ini bekas apa?"

Myungsoo yang mati-matian untuk menahan gejolak yang tiba-tiba membuatnya panas dan gelisah itu menunduk. Ditahannya napas sebentar, sebelum menjawab. "Pisau. Waktu itu Ella masih kecil dan baby sitter-nya tidak kompeten. Bermain ponsel saat sedang melakukan pekerjaannya menjaga Ella, sehingga tidak melihat kalau Ella sudah mengambil pisau. Untung saja aku segera melihat dan langsung kuambil paksa."

Suzy masih menatap bekas luka itu, sebelum akhirnya mendongak. "Pasti sakit sekali."

"Tidak seberapa dibandingkan jika Ella yang terkena pisau itu."

Ada senyuman kecil dengan hati menghangat saat mendengar jawaban itu keluar dari mulut Myungsoo. Ia tahu pasti kalau laki-laki ini sangat amat menyayangi Ella, terlepas dari cerita yang pernah didengarnya tentang masa lalu.

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," Myungsoo kembali bersuara. Berusaha mengendalikan diri akibat sentuhan Suzy barusan.

Suzy menatap dalam. "Dia Jimin."

"Kekasihmu?"

"Temanku." Jawab Suzy cepat. Dia bahkan tidak pernah bisa menjawab pertanyaan ini tanpa keraguan seperti sekarang. Entah apa yang membuatnya begitu yakin menjawab pertanyaan Myungsoo dengan lugas seperti sekarang.

Segala pikiran yang mengganggu Myungsoo selama berhari-hari itu seolah terangkat. Myungsoo tanpa sadar mengulas senyum dan sebelum dia menyadari perbuatannya, dia sudah menarik Suzy ke atas pangkuannya. Satu tangannya bergerak naik mengelus punggung dari luar. Dengan kepala yang semakin mendekat ke arah Suzy, kedua mata Myungsoo menatap bibir ranum yang sudah mengganggunya sejak pertemuan pertama mereka itu dengan lapar. Kemudian, pada detik berikutnya kedua bibir itu saling bertautan.

***
Jangan lupa apa...?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co