Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

19

authoriya

"KAU yakin memilih putus dengan Minhyuk?"

Soojung mengangguk.

Suzy menghela napas, kedua matanya masih menatap ke arah sahabatnya itu sambil mengusap pundak Soojung pelan. Dia tahu, apapun keputusan yang dibuat Soojung pasti sudah dipikirkannya baik-baik. Mereka sedang berada di rumah Soojung—tepatnya di kamar wanita itu. Setelah tadi sore mengantar Ella pulang ke rumah—walaupun ada proses panjang sebelum gadis kecil itu 'mau pulang' (sebelumnya Ella bersikeras ingin tidur di apartemen Suzy)—dengan dalih kalau Myungsoo hari ini pulang malam dan gadis kecil itu tidak mau di rumah hanya bersama bibi ART saja.

Tidak asyik, katanya.

Tapi, akhirnya Ella menurut karena Suzy mengatakan kalau hari ini 'ibunya' harus menginap di rumah aunty Soojung. Ella jadi overthinking, takut Suzy bertemu dengan Bian-Bian yang waktu itu ada di videocall. Jangan sampai kasih sayang Suzy terbagi ke anak laki-laki itu karena Ella tidak akan ikhlas.

"Aku akan mendukung apapun pilihanmu, Jung. Kau tahu itu kan?" kata Suzy sekali lagi.

Soojung menoleh dan mengangguk. "Aku akan ke Jepang untuk self-healing sekalian mengantar Bian. TJS kupercayakan padamu, oke?"

"Tenang saja, aku akan mengurus semuanya."

"Kau memang bisa kuandalkan dalam hal apapun." Soojung memeluk Suzy. "Kau tahu, kalau kau lebih dulu menikah, jangan berubah oke?"

"Hei, mana mungkin aku lebih dulu menikah."

"Mungkin saja," Soojung semakin mengeratkan pelukannya. Bersamaan dengan itu, ponsel milik Suzy berdering. Ia langsung melepaskan pelukannya, ikut penasaran pada siapa yang menelepon sahabatnya itu malam-malam. Setelah melihat siapa si penelepon, senyuman di wajah Soojung terbit. "nah, itu buktinya."

"Tidak mungkin."

"Ayolah, laki-laki mana yang menelepon seorang wanita jam sepuluh malam." Kata Soojung. "Cepat angkat."

Suzy menggeleng. Berdiri dari tempatnya duduk sambil menggeser ikon pada layar. Setelah ponsel berada di telinganya, ia berkata. "Ya, Myungsoo?"

"Suzy, bisa kau kemari?"

"Kemari?" kening Suzy berkerut dan saling tatap dengan Soojung yang kini menaik-turunkan alisnya.

"Ke rumahku. Ella sakit dan dokter kepercayaanku sedang diluar kota. Dia terus-terusan memanggil namamu."

Kedua mata Suzy membeliak. Tiba-tiba, jantungnya jadi berpacu dengan cepat. "Bagaimana keadaannya?"

"Dia sangat panas."

Suzy bisa mendengar suara Myungsoo nampak bergetar. Ia tahu, laki-laki itu pasti sedang khawatir berat. Dengan cepat Suzy mengambil tasnya, sambil memberikan petunjuk pada Soojung. Soojung yang mengerti langsung mengangguk, keduanya kemudian melangkah keluar.

"Myungsoo, kau bisa melakukan sesuatu?"

"Apa itu?"

"Kita harus mengompres Ella. Pastikan air yang digunakan tidak dingin ataupun panas. Oke?"

"Baik. tunggu, aku akan mengambil air dulu."

"Ya. pastikan kau sering menggantinya ketika kainnya sudah tidak basah lagi. Aku akan segera ke rumahmu, sekitar sepuluh menit mungkin. Karena dari rumah Soojung ke tempatmu jaraknya lebih dekat."

"Aku menunggumu."

"Ya. Kalau begitu, aku bersiap dulu."

"Mm," gumam Myungsoo. Suzy bisa mendengar suara grasak-grusuk diujung sambungan. Dia pasti sedang mengisi air ke dalam baskom. Saat hendak mematikan sambungan telepon, tiba-tiba suara Myungsoo kembali terdengar. "Suzy?"

"Ya?"

"Hati-hati dijalan."

Ada perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuh Suzy saat mendengar kata-kata Myungsoo barusan. Dia tersenyum, setelah melambaikan tangan kepada Soojung, Suzy lekas masuk ke dalam mobil sambil berkata pada Myungsoo ditelepon. "Ya, Myungsoo, terima kasih."

***

Sepertinya Myungsoo sudah memberitahu kepada satpam di rumahnya kalau ia akan datang karena pada saat mobilnya sampai di depan pagar tinggi hitam rumah kediaman Myungsoo, pintu gerbang otomatis terbuka. Tanpa perlu mendapatkan 'introgasi' dulu dari sang penjaga. Si satpam langsung mempersilakan Suzy untuk masuk, membawa mobilnya untuk diparkir di area carport. Tidak sampai di situ saja, ternyata Myungsoo sudah menunggunya di depan pintu. Laki-laki itu memakai piyama hitam dan membuat otak Suzy langsung traveling.

Ini tidak benar! batinnya.

Menghilangkan pikiran anehnya, Suzy melangkah cepat menuju Myungsoo dan bertanya. "Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Jauh lebih baik setelah kulakukan saranmu tadi, terima kasih." Myungsoo menginfokan. Mengajak Suzy untuk masuk dan naik tangga menuju lantai 2.

Kalau dia kesini bukan dalam keadaan seperti ini, Suzy jelas akan mengagumi setiap interior yang ada di rumah ini. Rumah megah—lebih mewah daripada rumah Soojung apalagi apartemen dua kamar miliknya—yang didominasi warna putih gading dan coklat. Soojung jelas akan jelalatan saat melihat bagaimana pemilik rumah ini meletakkan benda-benda langka dan bernilai mahal dengan amat santai.

Contohnya guci yang diletakkan di dekat tangga lantai atas ini. Suzy tahu kalau itu adalah guci mahal karena istri Na oppa merupakan seorang kolektor.

Myungsoo membuka pintu salah satu kamar dan mempersilakan Suzy untuk masuk lebih dulu. Suzy bergegas masuk, melangkah tanpa diundang mendekat ke arah gadis kecil yang terbaring di ranjang tidurnya. Di meja nakas ada baskom berkas mengompres, sedangkan kainnya berada di dahi Ella.

Perasaan sedih langsung melingkupi Suzy. Dengan cepat ia mengganti kain kompres itu, memcelupkannya ke air sebelum kembali meletakkannya ke dahi Ella. Pada saat itu, kedua mata Ella terbuka pelan.

"Eomma?"

"Ya sayang..." Suzy menangkup salah satu pipi Ella dengan hangat. Pandangannya buram menahan tangis, padahal sampai sore tadi Ella masih sehat dan tidak kurang apapun. Apakah ini karena dirinya?

Ella tersenyum payah. "Aku senang eomma di sini..."

"Mm, aku di sini. Ella kembali tidur lagi, oke?"

"Tidak," kepalanya menggeleng pelan. "Kalau aku tidur nanti eomma pulang..."

Suzy gantian menggeleng, tangannya berpindah menggenggam ke sepuluh jemari Ella. "Aku akan di sini menemanimu. Jadi, Ella tidur ya? agar lekas sembuh."

"Janji?"

"Janji." Suzy mengangguk pelan.

Myungsoo yang melihat interaksi di depannya kini hanya diam. Ada perasaan senang sekaligus sedih yang menggema menjadi satu. Dia tak tahu jika Ella bisa sedekat itu dengan Suzy. Dan dia tak tahu jika perasaannya kepada wanita itu tumbuh semakin besar tiap hari. Myungsoo menghela napas, kemudian dengan langkah pelan tak mengganggu, pria itu keluar kamar dan turun menuju taman belakang.

Laki-laki itu masuk ke dalam lamunannya, duduk termenung di gazebo yang berada di tengah kolam ikan, bercahaya bulan dengan latar suara air mancur yang terdengar semakin menenggelamkan laki-laki itu ke dalam pikirannya.

"Kau disini rupanya." sapa Suzy beberapa saat kemudian.

Myungsoo langsung menoleh ke sumber suara. Sosok Suzy yang berdiri di bawah sinar rembulan benar-benar tidak membantu. Dengan terusan krem berbahan satin yang sedikit transparan, sinar bulan membantu dengan sukarela menjelaskan yang semula bias dibalik gaun tidur itu.

Suzy yang sadar kemana tatapan Myungsoo berlabuh, langsung mengikuti dan wajahnya langsung memerah.

Sialan, aku masih pakai gaun tidur! Runtuknya dalam hati.

Mencoba tetap tenang, ia melangkah mendekati Myungsoo dan mengambil tempat di sebelah laki-laki itu.

"Terima kasih sudah datang, Suzy." Myungsoo berkata dengan tulus.

Suzy mengangguk. "Ya... dan aku tadi sedikit buru-buru sehingga tidak sempat ganti pakaian yang layak."

"You look so damn good right now. Trust me."

"Oh?"

"Ya?"

Keduanya saling pandang. Mengunci satu sama lain dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Suzy tahu kemana akhirnya ini akan dibawa, namun ia membiarkan segalanya mengalir seadanya.

Membiarkan tangan kekar itu mengusap pahanya pelan... napasnya terasa sesak.

Membiarkan tubuh dengan dada bidang itu menghimpitnya, mendesaknya hingga kepojokan.

Tanpa sadar Suzy menggigit bibir bawahnya, desahan meluncur saat tangan itu mulai memasuki paha bagian dalamnya dan Suzy seketika merapatkan kakinya. Pandangannya buram menatap Myungsoo dengan jantung berdetak hebat.

Dia tahu laki-laki itu juga merasakan hal yang sama sekarang.

Seolah sadar dengan apa yang dilakukannya, Myungsoo langsung mundur dan membawa serta tangannya menjauh dari daerah terlarang Suzy.

Seketika rasa kehilangan melingkupi Suzy. Dia pasti sudah gila karena menginginkan adegan ini dilanjutkan.

"Maafkan ak—" belum juga Myungsoo selesai bicara, Suzy sudah naik ke atas pangkuan Myungsoo dan mencium bibir laki-laki itu.

"Let's get it on..." bisiknya seraya membawa jemarinya menggenggam rambut Myungsoo.

***



TBC

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co