20
Kening Ella mengernyit. Tiga puluh menit yang lalu, Myungsoo menjemputnya di apartemen Suzy. Meskipun sudah bersikeras agar diizinkan menginap, namun usaha Ella tidak membuahkan hasil. Ayahnya bilang kalau Suzy malam ini tidak menginap di apartemen, tetapi di rumah temannya. Ella juga tahu, dan dia tidak masalah. Bagi Ella, asalkan ada Suzy, dimanapun dia pasti bisa tidur. Belum lagi, gadis kecil itu jelas kepikiran karena teman yang dimaksud calon ibu barunya itu adalah aunty Soojung—yang mempunyai ponakan bernama Bian. Menurut penglihatan Ella, Bian itu sedikit cari perhatian pada Suzy. Dan Ella tidak suka itu.
Bagaimana kalau Suzy lebih sayang kepada Bian daripada kepada dirinya?
Itu tidak bisa dibiarkan!
Belum lagi, hal yang mengesalkan terjadi di rumah sakit tadi. seseorang tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai teman dekat calon ibu barunya—padahal Suzy mengatakan kalau pria itu hanya teman saja. Tak pakai dekat.
Huh! Begitu banyak rintangan untuk mendapatkan ibu baru...
Ella mendesah panjang sambil bertumpu dagu di atas meja makan. Dia sedang 'menemani' bibi ART yang bertugas di rumahnya yang kini sedang memasak makanan untuk makan malam. Ahjumma itu menoleh ke arah Ella dan menatap bingung. pasalnya, Ella bukan tipikal anak yang suka melamun apalagi menghela napas panjang seperti sedang banyak pikiran begitu. Sepanjang ia mengenal Ella, gadis kecil itu hanya suka melebarkan bibirnya mengeluarkan sebuah tawa.
"Nona Ella, ada masalah?"
Gadis kecil dengan rambut di cepol ke atas itu menoleh. Masih dengan bertumpu dagu. Bibirnya manyun dan berkata. "Aku sedang ada yang dipikirkan, bibi."
"Nona Ella bisa membaginya pada bibi kalau ingin. Siapa tahu bibi punya solusi."
"Tidak. Aku tidak suka membagi masalahku." Katanya diplomatis.
Bibi paruh baya itu tak kuasa menahan senyumnya. "Baiklah kalau begitu. Kau mau makan stawberry short cake?"
Ella menggeleng. Tepat pada saat itu sebuah ide muncul di kepalanya. "Tapi, di pastry ada es krim tidak?"
"Ada. Semua es krim kesukaan Nona Ella ada di lemari pendingin."
Wajah Ella langsung semringah. Ia turun dari bangkunya dengan tiba-tiba, membuat bibi ART itu langsung waspada. Terakhir kali Ella turun seperti itu, dia tak sengaja malah menjatuhkan dirinya mencium lantai marmer di bawahnya, membuat satu gigi bawahnya copot dan dia ompong. Saat itu, Ella mogok sekolah selama tiga hari.
"Tapi, ayah nona berpesan makan eskrim hanya boleh di hari minggu sebanyak satu. Kalau tidak nona akan jatuh sakit..."
"Mwoya... ayah kan tidak ada di sini. Dia tadi kembali ke kantornya dan pulang 40 menit lagi." jawabnya.
Wanita paruh baya itu menggeleng. "Bibi bisa dimarahi—"
"Tidak akan." Ella menggeleng cepat. Kedua matanya menatap lurus sambil mendongak. "Aku pastikan bibi tidak akan di marah ayah. Ini rahasia kita berdua, ok?"
Melihat Ella yang sepertinya sangat menginginkan es krim itu mau tak mau ia mengangguk. "Baiklah, aku akan ambilkan."
"Tidak usah," Ella menahan cepat. "aku saja. Bibi lanjut memasak saja."
"Nona Ella bisa?"
"Tentu saja. Aku kan sudah tinggi dan besar." katanya setengah kesal. kemudian dia berlari menuju ruang pastry.
Ella tahu kalau ini pasti akan menyusahkan dirinya sendiri. Dia tak suka sakit, tapi demi agar Suzy datang kemari... hanya ini satu-satunya cara. Dia tahu kalau dokter keluarganya sedang pergi—neneknya pernah menelepon dan ia mencuri dengar—sedangkan, ayah tidak akan pernah mengganggu para ART setelah jam 7 malam. Kemungkinan besar Ayahnya pasti akan menghubungi Suzy. Ya...
Senyuman di wajah Ella terbit, bertambah lebar saat melihat kumpulan es krim kesukaannya. Tangannya mengambil satu es krim rasa vanilla dan memakannya dengan perasaan senang.
Satu habis, buka setelahnya. Setelahnya habis, buka lainnya.
***
KEDUA mata Ella menatap lurus pada daun pintu di hadapannya yang tertutup. Atau lebih tepatnya, terkunci. Ayahnya tidak pernah mengunci pintu sampai hari ini, karena itu Ella benar-benar merasa aneh.
"Ayah?" panggilnya sekali lagi. Saat tadi belum ada jawaban.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari bibi di rumahnya, biasanya pagi hari dia sedang bersih-bersih di bawah. Tapi, saat dia melengok ke bawah, dia tidak menemukan bibi Yoo.
"Ayah tidak mungkin mati kan..." gumamnya. Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka dan Ella langsung berpaling. Kedua matanya membeliak dan senyumannya terbit saat melihat seseorang yang di sayanginya ada di sana.
Ella benar-benar tidak menyangka idenya berhasil. Dia mengira, semalam itu hanya mimpi saja...
"Eomma!" teriaknya sambil memeluk pinggang Suzy. Melupakan fakta penting kenapa pagi-pagi sekali wanita itu keluar dari kamar ayahnya. "Aku kira tadi malam itu hanya mimpi karena aku tidak menemukan eomma saat bangun tidur tadi..."
Suzy langsung kikuk setengah mati. Niat hati ingin pergi diam-diam sebelum ada yang menyadari kalau dia menghabiskan malam di kamar pria panas yang masih tidur pulas di ranjang itu, tapi ternyata ada yang menangkap basah dirinya disini. Putrinya langsung malahan!
"Hei, selamat pagi sayang..." sapa Suzy sambil mengelus puncak kepala Ella.
Ella mendongak, memandang dengan manik mata yang berbinar. "Eomma menginap di kamar ayah?"
"Huh?" Suzy terbatuk. "Itu—"
"Ella, bisa tolong katakan pada bibi Yoo untuk menyiapkan kopi untuk ayah?" potong suara seseorang yang berasal dari belakang.
Kedua wanita berbeda generasi itu langsung menoleh, mendapati Myungsoo sudah berdiri di sisi ranjang dengan kimono handuk yang sudah membalut rapi di tubuhnya. Seketika pikiran Suzy langsung berkelana, kejadian semalam jelas masih pekat dalam ingatannya.
Sialan, dia tampan sekali ibu!
"Ya, ayah." Ucap Ella menurut. Pelukannya terlepas dari Suzy kemudian berbalik sambil bersenandung riang menuruni anakan tangga ke lantai bawah.
Pipi Suzy bersemu merah saat Myungsoo menariknya ke dalam. menghimpitnya di antara tembok dengan pintu yang sedikit tertutup. Embusan napas Myungsoo terasa hangat di wajahnya, tiba-tiba lutut Suzy langsung lemas seketika.
"Ada Ella..." ucapnya saat merasakan tangan Myungsoo sudah mengusap paha kanannya.
"Aku benar-benar senang kau ada di sini. Pagi ini."
Suzy tersenyum. Kedua matanya terpejam saat merasakan satu kecupan mendarat di bibirnya.
"Apa aku menyakitimu semalam?"
Suzy menggeleng. "Tidak. Tapi, kau tahu..." wajahnya kembali bersemu merah.
Myungsoo tersenyum. "Aku tahu..."
Bibir Suzy sedikit terbuka saat tangan Myungsoo mulai mengelus paha bagian dalamnya. Kedua kakinya otomatis merapat saat tangan itu mulai memasuki daerah terlarang. Napasnya tersengal, pandangannya buram. Dengan sisa kesadaran yang masih, kepala cantik itu menggeleng.
"Ada Ella..." katanya dengan suara serak.
"Dia di bawah." Jawab Myungsoo dengan suara yang sama seraknya. Bibir itu kemudian mendarat di antara leher dan bahu Suzy, memberikan kecupan basah di sana. menandai miliknya. "Aku tidak pernah tahu jika sabunku bisa terasa berbeda aromanya saat kau yang pakai."
Tangan Myungsoo keluar dari daerah terlarang, mengganti jalan menelusup masuk ke dalam kemeja miliknya yang dipakai Suzy dan nampak kebesaran. Tangannya menemukan satu gumpalan maha memabukkan tanpa sehelai benangpun menyangganya. Ia tersenyum, mengusap ujungnya seringan bulu dan meremasnya pelan.
"Ahh..."
"Kau tahu aku bahkan tidak berani membayangkan hal ini."
"Myungsoo..." Suzy menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya mencengkram bahu Myungsoo dan menariknya mendekat. Matanya menatap ke langit-langit kamar pria itu dengan tak fokus. Merasakan hal-hal yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Semuanya adalah yang pertama.
"Aku tidak percaya kau ada di kamarku sekarang."
"Apa yang harus kita lakukan jika Ella tiba-tiba datang."
"Dia tidak akan datang. Bibi Yoo biasanya langsung menyuruhnya mandi kalau tahu Ella sudah bangun." jelas Myungsoo. Tangannya membuka paksa kancing kemeja yang dikenakan Suzy. Kedua matanya menatap lapar pada dua bakpao yang kini terpampang nyata di depannya. Kemudian, dibawanya kedua mata itu kembali menatap ke mata Suzy.
Suzy menggigit bibir, napasnya terengah, dan pandangannya mengisyaratkan jika dia ingin sapaan selamat pagi mereka itu segera dituntaskan.
"Kenapa?" tanya Suzy.
"Kau ingin aku melakukan apa?"
"Lakukan apa yang membuatku melayang." Kata Suzy dan langsung menarik kepala Myungsoo mendekat ke arah payudaranya yang sudah membusung.
Tanpa interuksi apa-apa lagi, Myungsoo langsung mendorong pintu hingga tertutup, seraya menghisap salah satu payudara milik Suzy dengan kelaparan. Sedangkan Suzy sibuk menjambak rambut Myungsoo dengan desahannya yang mulai memenuhi ruangan.
***
"Kenapa nona Ella tidak naik ke atas? Nona bilang ingin di mandikan oleh calon ibu baru..." tanya bibi Yoo bingung setelah melihat Ella yang kembali ke dapur dan memilih merecokinya memasak.
Ella mengedikkan bahu, "Aku tidak ingin menganggu. Sepertinya ayah yang lebih butuh eomma sekarang. Karena aku baik hati, aku akan berbagi hari ini."
"Maksud nona?"
"Tidak." Ella menggeleng. Senyumannya mengembang penuh arti. "Bibi masak apa hari ini?"
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co