24
SUZY menaikkan sebelah alis ketika membuka ruang kerja dan menemukan seseorang tengah duduk di sofa santai-nya. Dia melangkah masuk dan berhenti dalam jarak sentuh untuk menyapa orang itu.
"Sepertinya baru saja kau meneleponku dan bilang kalau kau tidak ingin kembali ke sini cepat-cepat. Aku malas satu Negara dan menghirup udara yang sama dengan orang itu." katanya sambil mengikuti dialog perkataan sahabatnya tadi malam via telepon.
Soojung mendongkak. Memamerkan senyumannya yang lebar—Suzy mau tak mau bernapas lega karena melihat Soojung nampak lebih baik dari terakhir mereka bertemu—lalu menjawab. "Kau tahu ceritamu belum selesai."
"Jadi, kau buru-buru pulang karena ceritaku belum selesai?" tanya Suzy. Dia jelas tidak percaya soal alasan yang satu ini.
"Kau pikir aku kurang kerjaan?" Soojung balik bertanya.
Suzy menggeleng dengan yakin.
"Betul." Soojung menganggukkan kepala. "Semalam aku mendapatkan surel dari seseorang tentang tiket pesawat Bisnis Class. Lalu, dia mengirimkan sebuah surat permohonan agar aku pulang dan mengurusi acaranya. Karena tidak pernah ada klien yang seperti itu, aku langsung tersentuh."
"Wow, dari kalangan mana kah itu?"
"Jetset." Soojung menaik-turunkan alisnya. "Tebak, siapa dia?"
"Kim Jongin?"
"Mwoya... kenapa kau bisa langsung tahu?" Soojung berdecak, sedikit kecewa karena sahabatnya itu bisa langsung menebak. Padahal, banyak kandidat lain yang bisa menjadi kemungkinan.
Suzy terkekeh. Melangkah menuju kursinya dan meletakkan tas ke gantungan yang berada di pojok ruangan dekat dengan mejanya. "Sejujurnya, dia bertanya padaku bagaimana cara meluluhkanmu." ucap Suzy sambil berjalan menuju lemari besar dan mengambil satu dokumen dari dalam sana. Dia berbalik, melangkah ke arah Soojung kemudian memberikan dokumen yang diambilnya itu kepada wanita yang mengenakan setelan blazer dengan rok span hitam senada. "Kubilang kalau kau menyukai hal-hal spesial. Tapi aku tidak mengira kalau dia akan melakukan itu."
"Benar. Aneh kan?"
Suzy mengangguk. "Calon pengantin Jongin mungkin akan cemburu kalau tahu laki-laki itu sampai mengontak CEO TJS-nya langsung."
"Siapa yang peduli soal itu," Soojung mengedikkan bahu. "dia akan ke sini nanti siang. Aku penasaran seperti apa wajah calon pengantinnya itu."
"Biasanya kau tiba-tiba menjadi agen FBI kalau soal mencari orang. Tumben sekali..."
"Kebanyakan orang kaya lama tidak pernah masuk ke majalah bisnis apalagi artikel berita online, teman. Kau tahu hal-hal seperti itu bagi mereka tidaklah penting."
"Karena itu kau dan Jongin putus."
"Tepat." Soojung mengangguk. "Aku butuh publikasi, tetapi keluarganya sangat membenci itu. Kami tidak cocok, lalu aku menemukan Minhyuk. Aku sudah merasa kami benar-benar pasangan yang serasi sebelum semuanya terkuak."
Suzy menepuk pelan pundak Soojung menyemangati.
***
"Naeun, aku sedang sibuk."
"Oh ayolah, memang benar ya kata bibi Sunny kalau kau sudah punya kekasih?" Naeun menatap Myungsoo, mengulang pertanyaannya yang barusan. Dia jelas penasaran karena laki-laki yang amat sangat dingin kepada seluruh wanita—kecuali dirinya, mungkin?—tiba-tiba terdengar kabar kalau sedang mengencani seseorang. Dia jelas penasaran akan secantik apa orang itu sampai-sampai Myungsoo bisa mengajak wanita itu berkencan. Mendiang Ibunya Ella bahkan sangat cantik, namun Myungsoo sama sekali tidak menunjukan ketertarikan pada wanita itu hingga ajalnya menjemput. Makanya, Naeun sekarang sangat amat penasaran.
Myungsoo diam memilih untuk tidak menjawab. Dia membenarkan posisi kacamatanya sesekali dengan masih tekun membolak-balik lembar demi lembar dokumen yang sedang ia baca.
"Bukannya kau lebih baik mempelajari tugas-tugas sekretaris? Kau akan mulai magang menjadi sekretarisku sementara waktu mulai hari senin besok." ujar Myungsoo. Naeun memang akan menjadi sekretaris magang di Watermart, menemani sekaligus belajar langsung dengan sekretaris asli Myungsoo selama tiga bulan karena katanya Naeun perlu terjun langsung di industri ini sebelum dia mulai syuting projek Drama pertamanya di akhir tahun nanti. Tentu saja, berkat bantuan Son Isanim segalanya menjadi mudah.
"Aku sudah paham. Tenang saja."
"Aku tidak akan memperlakukanmu berbeda hanya karena kita saling kenal. Aku tidak suka kesalahan, kau tahu?"
"Iya, Iya." Naeun memutar bola matanya. "Jadi, kau benar punya kekasih baru?" tanyanya lagi.
Dan Myungsoo kembali lebih memilih diam tidak menjawab, membuat Naeun menghela napas. Bahkan ketika dia terus membuka diri kepada laki-laki ini, menceritakan apapun kepadanya supaya Myungsoo juga melakukan hal yang sama, tapi ternyata tidak.
"Omong-omong, aku sedang dekat dengan seseorang." kata Naeun. Dia mengamati dengan seksama, jujur, di dalam hatinya saat ini Naeun berharap dia bisa menemukan satu ekspresi yang dibutuhkannya. Tidak apa-apa sebentar, tidak apa-apa hanya sekejap. Yang terpenting, dia tahu kalau Myungsoo menaruh minat pada tembakannya kali ini.
Myungsoo mendongak dan Naeun tersenyum penuh kemenangan.
"Bagus lah. Kau harus lebih sering menjalin komunikasi dengan laki-laki, Naeun. Pamanmu selalu mengeluh karena kau belum juga menikah-menikah."
"Aku sudah sering menjalin komunikasi dengan laki-laki."
"Oh ya?"
Naeun mengangguk. Berusaha bereksperi sambil lalu saat menjawab. "Kau. Kau kan laki-laki."
"Aku termasuk pengecualian 'kan?" Myungsoo menaikkan sebelah alisnya.
Naeun menatap sebentar. "Kalau kubilang tidak?"
"Aku duda beranak satu. Kau tidak suka anak kecil."
"Aku suka Ella." Kata Naeun dengan lantang. Dia optimis kalau Ella juga menyukainya—walaupun mungkin butuh waktu yang panjang untuk mereka akur. Jujur saja, bagi Naeun, Ella itu terlalu aktif dan sedikit menyebalkan. Dia terlalu banyak bertanya dan tidak bisa diam.
Myungsoo diam. Menatap wanita itu lurus-lurus dari kursinya. "Aku sudah punya kekasih."
Telak. Rasanya Naeun sedang didorong menuju jurang penuh duri tajam. Pertanyaan pertamanya telah dijawab, bahkan dengan suara kepemilikan yang tegas. Sepanjang dia mengenal Myungsoo, laki-laki itu bahkan tidak pernah berusara dengan nada seperti sekarang ini. Hatinya seperti dicabik-cabik. Dia jelas terluka, namun harga dirinya masih terlalu tinggi untuk mengakui kalau dia sepenuhnya ditolak.
"Hahaha," Naeun berusaha tertawa asyik. "Aku memang sengaja memancingmu agar menjawab pertanyaanku yang tadi. Ternyata berhasil!"
Myungsoo geleng-geleng.
"Tapi, walaupun kau sudah punya kekasih. Kau masih tetap memperkenalkan aku ke koneksi-koneksimu kan? Kau kan tahu kalau aku butuh banyak koneksi."
"Tentu saja. Son Isanim juga sering memperkenalkanmu dengan teman-temannya. Bahkan beberapa memintamu menjadi calon mantu mereka."
"Aku tidak suka." Naeun mendesah. "Tipeku adalah pria tidak banyak bicara dan pekerja keras. Tapi, anak-anak kenalan paman itu rata-rata suka memamerkan harta orangtua mereka."
"Lalu, teman dekatmu yang sekarang, tidak?"
"Siapa?"
"Kau bilang tadi sedang dekat dengan seseorang." Myungsoo menaikkan alis.
"Oh," Naeun tersenyum kecil. "Dia pengacara yang menangani perceraian kakak. Dia baik, perhatian, dan pekerja keras."
"Wah, tipe-mu sekali." Kata Myungsoo.
Naeun mengedikkan bahu. "Tapi aku belum menyukainya sebagai pria. Kau tau, aku senang mendapatkan perhatiannya, tapi aku belum menyukainya."
"Kau ingin aku mencarikan latar belakangnya?"
"Tidak," Naeun menggeleng. "aku sudah tahu."
"Sudah tahu?"
Naeun mengangguk. "Mantan kekasihnya adalah orang TJS."
"Oh ya?" Myungsoo nampak terkejut.
"Ya. Dia pernah menghadiri acara pernikahan sepupumu. Soojung."
"Minhyuk?"
"Kau kenal?"
"Tidak. Tapi, aku tahu dia." Jawab Myungsoo. Dia jelas terkejut, padahal menurut cerita Na dan beberapa kali disinggung Suzy, Soojung dan Minhyuk sudah berkencan lama dan mungkin tidak lama lagi mereka akan memutuskan ke jenjang pernikahan. Dia tidak menyangka kalau mereka malah putus dan laki-laki itu kini dekat dengan Naeun—yang bisa disebut temannya.
"Naeun, kau tidak—"
"Tidak!" Naeun menginterupsi dengan tegas. "Aku tidak tahu dia punya kekasih. Dia bilang kalau dia sendiri."
***
Myungsoo : Kau sedang apa?
Suzy : Akan meeting dengan klien baru.
Myungsoo : Sudah makan? Aku tadi tidak sempat menghubungimu. Pekerjaan menumpuk.
Suzy : Sudah. Kau jangan sampai lupa makan, Myungsoo.
Myungsoo : Ntahlah, hari ini benar-benar sibuk sekali.
Suzy : Aku pesankan makan ya?
Myungsoo : Tidak usah, kau meeting saja. Sampai bertemu nanti!
Suzy : Nanti? Kau mau ke rumahku?
Myungsoo : Ya. aku harus mencharge energiku.
***
Haii, i'm back. lama nggak nyentuh file cerita ini kayaknya. Sudah pada nagih dan sengaja vote ulang biar di notice kan? wkwkwk
kalian apa kabar? ada cerita seru apa nih? semoga sehat selalu ya^^
xx,
iak.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co