Truyen3h.Co

Girlfriend Rent

25

authoriya

"APA aku berlebihan ya?" Suzy bergumam sambil memandangi beberapa menu makanan yang tersaji di meja makan apartemennya.

Hidangan ini jelas diperuntukan untuk seseorang yang katanya akan mampir ke Apartemennya selepas pulang kerja. Dan karena tadi Myungsoo bilang kalau dia belum makan—walaupun mungkin saja dia sebenarnya sudah makan—karena itu Suzy berinisiatif untuk membelikan makanan. Dia bisa masak, tentu saja. Namun jelas tidak sempat. Pekerjaan memasak itu butuh waktu dan effort, sedangkan dia tidak memiliki kedua hal itu. Jadi, yang paling benar memang melakukan pesan antar saja.

Suzy menggeleng, "Tidak, ini tidak berlebihan." Gumamnya lagi. Dia harus meyakini kalau ini bukan sesuatu hal yang berlebih. Lagipula ini untuk dua orang, jadi tidak terlalu banyak dan Myungsoo tidak akan berpikiran yang macam-macam... iya kan? Batinnya kembali bertanya.

"Aih," Suzy menghela napas panjang. Kepalanya menunduk menatapi pakaian yang sekarang ia kenakan lalu tertawa. "Apa yang kupakai ini coba... aku benar-benar sudah sinting sepertinya."

Gaun terusan sepanjang lutut berwarna hijau mint dengan potongan tangan sedikit menggelembung sepanjang siku memang bukan hal yang terlalu wah, tapi ini malam hari. Normalnya orang-orang akan mengenakan setelan piyama mereka di situasi seperti ini bukannya malah berdandan seperti hendak pergi makan malam. Sebelum Myungsoo datang dan memergokinya mengenakan pakaian tidak tahu tempat ini dia harus pergi ke kamar dan mengganti baju. Karena itu Suzy segera melesatkan langkahnya cepat menuju kamar; mengganti pakaian dan menghapus makeup-nya.

Jarinya berhenti saat ponselnya berdering dan nama Myungsoo menari-nari di layarnya. Suzy segera membuang kapas yang ia gunakan untuk membersihkan makeup-nya tadi ke tempat sampah, lalu mengangkat panggilan itu.

"Ya, Myungsoo?" jawab Suzy sambil memerhatikan penampilannya di depan meja rias di kamarnya sebelum melangkah keluar. Dia bisa yakin kalau Myungsoo sudah di gedung apartemennya—atau mungkin sudah berada di depan unitnya.

"Suzy, maaf, sepertinya aku tidak bisa datang."

Langkah Suzy berhenti tepat di depan pintu kamarnya, ada perasaan jatuh yang terasa di dalam dirinya yang kini hanya memunculkan kekecewaan yang panjang.

"Oh, kenapa?"

"Kupikir acara ini akan berlangsung cepat atau aku bisa pamit pulang setelah beberapa menit tinggal. Tapi sepertinya tidak mungkin." Myungsoo menghela napas diujung sana. Kalau bisa memilih jelas dia ingin menghabiskan waktu di apartemen Suzy bersama Suzy. Tapi, pertemuan ini juga penting.

"O-oh, tidak apa-apa, Myungsoo."

"Aku minta maaf. Aku ingin sekali menemuimu."

"Myungsoo, kau sedang apa?" Suzy bisa mendengar samar suara wanita diujung sambungan itu dan perasaan yang tak disukainya tiba-tiba menyeruak.

Apa itu Naeun? Tapi kenapa dia ada di sana?

Benar. Dia ponakan dari seseorang di Perusahaan Myungsoo. Dan dia sekertaris jadi-jadian Myungsoo sekarang.

Pemikiran macam-macam yang tak bisa dihentikan itu muncul membombardirnya membuat Suzy jadi overthinking. Ia segera menggelengkan kepalanya pelan dan berkata menjawab Myungsoo tadi. "Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali kan?"

Entahlah... apakah ada lain kali untuk kita?

"Aku janji aku akan segera menemuimu."

Aku janji hanya ada kau di hidupku Suzy... tiba-tiba ingatannya tentang ucapan Jimin dahulu kala keluar. Sebuah janji yang bahkan tidak dapat laki-laki itu tepati. Suzy tersenyum getir, kenapa dia malah menyamakan ucapan Myungsoo dan Jimin coba? Mereka jelas dua orang yang berbeda walaupun dia tidak tahu apakah mereka setipe atau tidak.

"Mm, aku tidak ingin menahanmu lama-lama. Kau pasti sibuk sekarang. Selamat malam, Myungsoo."

"Selamat malam, Suzy."

Setelah sambungan telepon itu terputus, Suzy segera menjauhkan ponselnya dari telinga namun tetap dalam genggaman. Pandangannya terpusat pada meja makan yang tak jauh dari tempatnya berdiri, menatap kearah makanan itu beberapa saat sebelum menarik napas panjang sambil tertawa getir.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Suzy?" ucapnya pada diri sendiri sebelum melangkah ke arah meja makan itu untuk membereskan makanan-makanan yang sudah mulai mendingin di sana.

***

"Suzy," bisikan Soojung yang terdengar membuat Suzy langsung kembali ke realita. Dia mengerjap kemudian berusaha kembali fokus pada apa yang kini sedang terjadi. Tapi... tadi sampai di mana? Tiba-tiba suara Soojung kembali terdengar. "Klien kita bertanya apakah kau bisa memberikan gambaran kasar tentang konsep yang dia impikan itu?"

Senyuman formal dan fokus mulai kembali dibangunnya, ia mengangguk dengan pasti. "Tentu saja, aku akan memberikan kepadamu sketsa kasarnya segera."

Klien wanita itu tersenyum menatap laki-laki yang sejak tadi hanya diam di sampingnya. Laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Lalu, kembali menatap Suzy dan Soojung. "Aku tidak sabar. Temanku sangat merekomendasikan TJS, aku percaya TJS bisa mewujudkan acara impianku." Kemudian ia menatap ke arah calon tunangannya sambil mengelus lengan laki-laki itu. "Ya kan sayang?"

Laki-laki itu mengangguk tersenyum kecil. "Ya."

Suzy dan Soojung menatap ke pergian klien mereka itu dengan senyuman diwajah yang baru hilang saat pintu lift tertutup.

Soojung menghela napas lega, lalu kembali menjatuhkan diri di sofa ruang temu dengan kepala menengadah menatap langit-langit ruangan. "Geez, bagaimana Kim Jongin bisa berakhir dengan wanita seperti itu?"

"Benar. Aku padahal support dia denganmu."

"Hentikan." Soojung memutar bola matanya. "Kami terhalang restu, orang tuanya tidak akan mau denganku. Kasta kami berbeda, kau kan tahu."

Suzy geleng-geleng. Kenapa Soojung selalu membahas soal yang satu ini? padahal dia bahkan sudah sesukses sekarang dan siapa juga yang tidak mau meminang Soojung? Wanita mandiri secara keseluruhan, dia jelas bisa dibanggakan. Tapi, selera orang kaya memang tidak ada yang bisa menebak. Karena itu, Suzy tidak mau silang pendapat untuk hal yang satu ini. Omongan Soojung ada benarnya.

"Tapi, bukankah kau merasakan wajah Jongin seperti tertekan begitu?"

"Dia memang tidak banyak tersenyum kan sejak dulu." Jawab Soojung santai. Ia menegakkan tubuhnya lalu mengambil iPad miliknya membuka catatan yang tadi ia catat.

"Kau benar. Tapi waktu denganmu aku masih melihatnya tersenyum."

"Mm, dia sekarang semakin kaku."

Suzy mengangguk setuju.

"Nah ini," Soojung menunjukan catatan yang tadi kepada Suzy. "Dia ingin konsep seperti ini, kau bisa langsung buatkan gambarannya?"

"Besok akan ku emailkan kepadamu." Suzy menyanggupi.

"Kau kenapa melamun? Aku tidak pernah melihatmu seperti tadi saat ada klien." Tanya Soojung khawatir. Menurutnya, Suzy itu tipe wanita yang bisa mengendalikan dirinya dan tidak mudah terdistraksi.

"Umm?"

"Myungsoo jadi ke apartemenmu?"

Suzy mendesah. "Tidak."

"Tidak?"

Suzy mengangguk. "Dia ada urusan."

"Dan kau sudah menunggunya."

Suzy menatap Soojung, dan Soojung langsung menyimpulkan. "Yeah, temanku sudah masuk fase budak cinta lagi ternyata. Aku senang dengan fakta ini, tapi kenapa dia tidak jadi ke Apartemenmu? Kupikir udara dingin semalam tidak akan kerasa di apartemenmu." Kata Soojung seraya menyunggingkan senyuman menggoda.

"Kami tidak akan seperti itu." kata Suzy.

"Tapi pegang-pegang dikit kan tak masalah. Kita open-minded tahu."

"Kita open-minded bukan open-our-shirt."

Soojung tertawa.

"Sudah ah, lebih baik kita kembali bekerja, Jung." ucap Suzy seraya berdiri, wanita itu mengambil iPad dan buku sketsa miliknya sebelum pergi dari ruangan temu TJS.

Soojung melakukan hal yang sama. "Yya, tunggu aku."

"Cepatlah." ucap Suzy seraya melangkah keluar ruangan

Soojung berlari kecil menyusul Suzy. "Kau harus maju duluan kalau dia tidak maju-maju, Suzy."

"Molla, molla."

"Aku memberikan saran serius sekarang. Ingat ini, oke?"

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co